NovelToon NovelToon
Mahar Penebus Dosa Ayah

Mahar Penebus Dosa Ayah

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Perjodohan / Nikahmuda / Balas Dendam
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Ayah, kenapa Nin dipakaikan baju pengantin? Nin kan besok mau ujian matematika..."

Kalimat polos Anindya (10 tahun) menjadi pisau yang menyayat hati Rahardian. Demi melunasi hutang nyawa dan harta pada keluarga kaya di kota, Rahardian terpaksa menjual masa depan putri tunggalnya.

Anindya dibawa pergi, meninggalkan bangku sekolah demi sebuah pernikahan dini yang tidak ia pahami.

Di rumah mewah Tuan Wijaya, Anindya bukanlah seorang menantu. Ia adalah pelayan, samsak kemarahan ibu mertua, dan mainan bagi suaminya yang sombong, Satria.

Namun, di balik tangisnya setiap malam, Anindya menyimpan sebuah janji. Ia akan terus belajar meski tanpa buku, dan ia akan bangkit meski kakinya dirantai tradisi.

Ini adalah kisah tentang seorang bocah yang dipaksa dewasa oleh keadaan, dan perjuangannya untuk kembali menjemput martabat yang telah digadaikan ayahnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Telinga di Balik Dinding

Bab 7: Telinga di Balik Dinding

Hari-hari berlalu seperti putaran roda gerobak yang berat di atas jalanan berbatu. Bagi Anindya, waktu bukan lagi dihitung dengan jam, melainkan dengan tumpukan cucian dan lantai yang harus disikat. Namun, ada satu waktu yang paling ia tunggu-tunggu setiap minggunya, yaitu hari Selasa dan Kamis sore. Itu adalah waktu di mana seorang guru les privat datang ke rumah Tuan Wijaya untuk mengajar Satria di ruang tengah yang luas.

Sore itu, mendung menggantung rendah di langit Sukasari, membawa hawa lembap yang membuat tulang terasa ngilu. Anindya sedang memegang kain pel, menggosok lantai lorong yang berbatasan langsung dengan ruang tengah. Ia sengaja memperlambat gerakannya. Ia tidak ingin suaranya mengganggu, tapi ia ingin berada sedekat mungkin dengan sumber suara di dalam sana.

Kriet...

Pintu ruang tengah sedikit terbuka. Anindya bisa mendengar suara berat Pak guru yang sedang menjelaskan sesuatu tentang "pecahan desimal".

"Satria, perhatikan. Jika angka di belakang koma adalah lima atau lebih, maka kita bulatkan ke atas. Mengerti?" Suara Pak Guru terdengar sabar, sangat kontras dengan suara bentakan Nyonya Lastri yang biasa didengar Anindya.

Anindya berhenti menggosok. Ia memeras kain pelnya dengan sangat perlahan agar tidak menimbulkan bunyi kecipak air. Ia menempelkan telinganya ke dinding kayu yang halus, mencoba menangkap setiap kata. Di dalam benaknya, ia membayangkan sebuah garis bilangan, mencoba memvisualisasikan apa yang sedang dijelaskan di dalam sana.

Pecahan desimal... Bulatkan ke atas... Anindya mengulang kalimat itu dalam hati, seperti merapalkan mantra suci.

"Ah, ini membosankan! Kenapa aku harus belajar ini? Aku kan punya kalkulator!" Suara Satria terdengar menggerutu, diikuti suara bantingan pensil ke atas meja kaca.

"Kalkulator tidak akan membantumu memahami logika, Satria. Coba kerjakan soal nomor empat ini," balas Pak Guru tenang.

Anindya memejamkan mata. Ia membayangkan soal nomor empat itu ada di depannya. Meskipun ia tidak melihat bukunya, ia mencoba menebak pola soal dari penjelasan sebelumnya. Ia merasa seolah-olah otaknya sedang haus, dan setiap kata dari Pak Guru adalah tetesan air yang sangat ia butuhkan.

Namun, keberaniannya mencuri dengar hampir saja membawanya dalam masalah.

"Anindya! Apa yang kau lakukan di situ? Kenapa lantainya masih basah?" Suara melengking Nyonya Lastri muncul dari arah tangga.

Anindya tersentak, hampir saja ia menjatuhkan embernya. Ia segera menunduk dan kembali menggosok lantai dengan gerakan yang dilebih-lebihkan. "Maaf, Bu. Ini... ada noda membandel yang sulit hilang," jawabnya cepat, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang.

Nyonya Lastri berjalan mendekat, matanya yang tajam menatap Anindya dengan curiga. "Jangan coba-coba menguping pembicaraan di dalam. Kau tidak akan mengerti apa-apa. Otakmu itu hanya diciptakan untuk mengerti cara memakai sabun, bukan cara berhitung. Paham?"

Anindya hanya mengangguk dalam-dalam. "Paham, Bu."

Setelah Nyonya Lastri pergi menuju dapur, Anindya tidak menyerah. Ia justru menemukan cara baru. Ia membawa embernya ke arah rak buku besar yang membatasi ruang tengah dengan lorong belakang. Di sana, ada sebuah celah kecil di antara tumpukan ensiklopedia tebal yang jarang disentuh. Melalui celah itu, ia bisa melihat pantulan papan tulis kecil yang digunakan Pak Guru di cermin besar yang tergantung di ruang tengah.

Meskipun tulisannya terbalik di cermin, Anindya berusaha keras membacanya. Ia memutar kepalanya di dalam pikiran, mencoba membalikkan huruf-huruf dan angka-angka itu.

0,75 + 0,25 \= 1,00.

Matanya berbinar. Ia mengerti! Ia tahu jawabannya sebelum Satria sempat menjawabnya dengan malas-malasan. Rasa bangga yang tak terlukiskan muncul di dadanya. Di rumah ini, ia mungkin dianggap sebagai pelayan yang tidak berharga, tapi di dalam kepalanya, ia adalah seorang siswa yang jauh lebih cerdas dari tuan mudanya.

Pekerjaan mengepel yang biasanya terasa membosankan dan melelahkan, kini terasa seperti misi rahasia yang mendebarkan. Setiap kali Pak Guru menuliskan angka baru, Anindya akan menghafalnya. Ia menyimpannya di dalam memori, lalu saat malam tiba di kamarnya yang gelap, ia akan menuliskannya kembali di buku biru rahasianya menggunakan lidi dan arang.

Sore itu, pelajaran berakhir dengan Satria yang menguap lebar dan langsung berlari menuju kamarnya untuk bermain game. Pak Guru mulai membereskan tasnya. Sebelum pergi, Pak Guru sempat menoleh ke arah lorong dan melihat Anindya yang sedang merapikan ember.

Pak Guru berhenti sejenak, menatap gadis kecil yang pakaiannya basah dan wajahnya kusam itu. Ada sesuatu di mata Anindya yang membuatnya terdiam—sebuah tatapan yang penuh rasa haus akan pengetahuan, tatapan yang tidak pernah ia lihat pada Satria.

"Kau... siapa namamu, Nak?" tanya Pak Guru pelan, saat Nyonya Lastri sedang tidak ada di dekat mereka.

Anindya tertegun. Ini pertama kalinya ada orang asing di rumah ini yang menanyakan namanya dengan nada manusiawi. "Anindya, Pak."

"Anindya... Kau rajin sekali bekerja," Pak Guru tersenyum tipis. Ia kemudian merogoh saku tasnya dan mengeluarkan sebuah pulpen bekas yang tintanya tinggal sedikit. "Ini, ambillah. Mungkin kau membutuhkannya untuk... menggambar atau apa pun."

Anindya menerima pulpen itu dengan tangan gemetar. Baginya, pulpen itu bukan sekadar alat tulis, itu adalah sebuah pengakuan. Sebuah tanda bahwa ia ada, dan ia terlihat. "Terima kasih, Pak. Terima kasih banyak."

"Sama-sama. Teruslah bermimpi, Anindya. Jangan biarkan tempat ini mematikan binar di matamu," bisik Pak Guru sebelum melangkah keluar menuju mobilnya.

Anindya menggenggam pulpen itu erat-erat, menyembunyikannya di balik lipatan kebayanya. Air matanya hampir jatuh. Di tengah kekejaman keluarga Wijaya, Tuhan mengirimkan malaikat kecil dalam wujud seorang guru yang memberikan sisa tinta padanya.

Malam itu, di kamarnya yang pengap, Anindya mengeluarkan buku birunya. Dengan pulpen pemberian Pak Guru, ia menuliskan namanya di halaman paling depan dengan tulisan yang sangat rapi.

ANINDYA.

Ia bukan lagi sekadar mahar. Ia bukan lagi sekadar pelayan. Ia adalah Anindya, seorang murid yang belajar di bawah bayang-bayang kesombongan. Ia mulai menuliskan semua pelajaran tentang desimal yang ia curi dengar sore tadi. Setiap garis angka yang ia buat dengan pulpen itu terasa seperti langkah pasti menuju kemerdekaannya.

Ia tahu, perjalanannya masih sangat panjang. Ia masih harus bangun jam lima pagi esok hari, masih harus menghadapi makian Nyonya Lastri, dan masih harus menahan rindu pada Ayahnya. Namun sekarang, ia punya senjata baru. Ia punya pulpen, ia punya buku, dan ia punya ilmu yang tak bisa dicuri oleh siapa pun darinya.

Anindya merebahkan tubuhnya di kasur tipis, memeluk boneka kainnya sambil menatap langit-langit. Di kepalanya, ia tidak lagi melihat atap kayu yang rapuh, melainkan deretan angka-angka yang menari-nari menuju masa depan. Ia tertidur dengan senyum yang belum pernah ia miliki sejak pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini—senyum seorang pemenang yang sedang menyamar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!