Liora merasa dunianya runtuh dalam semalam. Baginya, Raka adalah pelabuhan terakhir, dan Salsa adalah rumah tempatnya bercerita. Namun kini, kenyataan pahit menghantamnya tanpa ampun; dua orang yang paling ia percayai justru menusuknya dari belakang dengan cara yang paling hina. Kepercayaan yang ia jaga setinggi langit, kini hancur berkeping-keping di bawah kaki tunangan dan sahabatnya sendiri.
Liora tidak pernah menyangka bahwa prinsip yang ia pegang teguh untuk menjaga kehormatan di depan Raka, justru menjadi celah bagi Salsa untuk masuk dan mengambil alih segalanya. Bagai sebuah ironi, Liora memberikan kasih sayang yang tulus, namun dibalas dengan perselingkuhan yang dilakukan tepat di belakang punggungnya.
Apakah Liora akan tetap diam dan pura-pura tidak tau atau ia akan membalaskan dendamnya kepada kedua manusia yang telah mengkhianatinya...
Penasaran ayok ikuti kisah selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Dia...
Pagi hari menyambut wanita cantik yang kini masih bergelung dengan selimutnya. Cahaya matahari masih bersinar dengan malu-malu. Hingga ia merasakan elusan seseorang tepat di kepalanya dan membuat tidurnya terusik.
Perlahan matanya terbuka. Dan pandangan pertama yang ia lihat adalah seorang laki-laki yang kini sedang tersenyum bodoh di hadapannya.
"Pagi! Lio." sapa Lucas, yang sudah tersenyum manis menyambut kembarannya.
"Abang, ganggu aja, deh!" ketus Liora, lalu membelakangi Lucas dan melanjutkan tidurnya. Ia menarik selimut dalam-dalam, menikmati suasana pagi hari yang kini terasa berbeda dibandingkan saat ia masih di apartemen bersama Raka.
"Hei! Jangan tidur lagi. Bunda sama Ayah mau pergi, kamu yakin nggak mau ikut?" ucap Lucas, lalu menarik selimut yang Liora kenakan. Membuat Liora mendengus sebal.
"Nggak, deh! hari ini aku harus ke kantor. Proyek yang Paman berikan belum aku kerjakan." jawab Liora dengan suara parau, ia bangkit dari tempat tidur dan bersandar di sandaran kasur sambil menguap.
"Padahal! Bunda mau ajak kita ketemu sahabatnya." kata Lucas, lalu mendekat dan tidur di paha adiknya.
Liora tersentak kecil saat Lucas menjadikan pahanya sebagai bantalan. Meski begitu Liora tetap mengelus kepala Lucas dengan pelan.
"Gitu dong panggil 'Abang'. Jangan sok formal terus, kita ini saudara bukan rekan bisnis." sarkas Lucas, yang kini memejamkan matanya menikmati elusan Liora. Tiba-tiba suara Lucas mengalihkan perhatian Liora.
"Lio, bagaimana keadaan kamu sekarang?" tanya Lucas, kali ini suaranya terdengar serius.
"Aku baik-baik saja, nggak perlu terlalu mengkhawatirkan aku. Aku bisa menjaga diriku sendiri." balas Liora, dengan nada meyakinkan ia menatap Lucas dengan sorot mata yang teguh.
"Lalu, Apa yang akan kamu lakukan untuk mereka?" tanya Lucas, ia bangkit dan duduk menghadap Liora.
"Kita biarakan saja. Bukankah dengan mempermalukan mereka di depan media waktu itu sudah membuat mereka mendapatkan guncangan publik." kata Liora, ia menatap wajah Lucas tanpa keraguan.
Tiba-tiba suara pintu terbuka mengalihkan si kembar Lucas dan Liora. Ternyata wanita paruh baya yang masih cantik tengah tersenyum lembut dan melangkah menghampiri mereka.
"Sedang apa, anak-anak Bunda?" tanya Kiara, yang kini sudah berdiri di hadapan Liora dan Lucas.
"Abang baru saja membangunkan Adek, untuk bersiap-siap. Bukankah Bunda akan mengajak kita untuk menjenguk sahabat Bunda." jelas Lucas, yang kini beranjak dari tempat tidur dan mendekat ke arah Kiara.
Kiara mengagguk pelan lalu beralih menatap Liora dengan senyum lembut. "Adek, ikut ya! sekarang siap-siap dulu, Bunda akan kenalkan kamu dengan sahabat Bunda."
"Tapi, Bun! hari ini aku harus ke kantor Paman." tolak Liora dengan halus.
"Nggak apa-apa! Nanti Ayah yang akan bicara dengan Paman Bagaskara kalau hari ini kamu nggak akan magang dulu."
"Tapi, Bun—" sela Liora.
"Nggak ada tapi-tapian, sekarang bersiap lah Bunda dan Ayah tunggu di bawah." potong Kiara, dengan nada tegas tanpa bantahan. Lalu Kiara dan Lucas melangkah keluar dari kamar Liora.
"Selamat bersiap Lio!" ledek Lucas, lalu menghilang di balik pintu.
Jika di kediaman Prayudha suasana pagi hari sangat damai dengan interaksi Liora dan Lucas.
Sementara di tempat lain saat ini suasana jauh lebih berbeda.
Salsa sudah sehari semalam tidak mendapatkan makan ataupun minum dari ayahnya.
Penampilan yang kacau dan bau menyengat memenuhi indra penciumannya.
"Aku benci! Aku Benci!" kata itu terus berulang di mulut dan pikiran Salsa. Ia masih memeluk lututnya di pojokan.
Hingga suara pintu mengalihkan perhatiannya. Ia mendongak untuk melihat siapa kali ini yang menghampirinya.
Ia melihat bayangan sepatu pantofel mewah di bawah cahaya remang-remang. Tiba-tiba klik! lampu di ruangan itu hidup dan menampilkan laki-laki paruh baya yang kini berdiri menjulang tinggi di hadapannya— kali ini Bisma yang menghampirinya.
"Ay-aah." ucap Salsa, dengan suara bergetar.
Bisma menatap Salsa dengan tajam lalu perlahan Bisma mengeluarkan cambuk dan—
Ctaks! cambuk itu melayang dan hinggap di tubuh Salsa yang membuatnya meringis.
"Stttsss... Ay-aah aku minta maaf, aku tau aku salah!" isak Salsa. seakan tuli dengan rintihan Salsa Bisma sekali lagi melayangkan pukulannya.
Ctaks! suara cambuk itu menggema di dalam ruangan itu.
"Ini hukuman untuk anak pembangkang dan tidak tau terima kasih seperti kamu, Salsa. sekarang media sedang membicarakan kalian! mau di taruh di mana muka Ayahmu ini. Hah!"
Salsa hanya terdiam ia tidak bisa membalas meski hanya sekadar ucapan saja. kini tubuhnya seolah mati rasa atas perlakuan dari ayahnya.
Seketika bayangan wajah Kevandra terbesit dalam pikirannya, nada lembutnya, perlakuannya, andai saja ia tidak melakukan kesalahan pasti ia akan bahagia bersama Kevandra.
Sementara di tempat lain, kini Liora baru saja selesai bersiap ia menatap dirinya di depan cermin.
"Perjalanan ini baru saja dimulai." gumam Liora. Ia mengenakan riasan tipis lalu menyampirkan tasnya. Dan melangkah menuju di mana keluarganya menunggu.
langkah kaki yang tegas di pagi hari seakan menyambutnya, Liora menuju lift untuk ke lantai bawah. Ting! suara pintu lift terbuka ia masuk dengan langkah anggun.
Tidak membutuhkan waktu lama ia sudah berada di lantai bawah. Pandangannya langsung tertuju pada keluarganya yang kini sedang duduk di meja makan.
"Pagi, Sayang." suara dingin dan tegas menyambut Liora. Prayudha yang sedang duduk sambil memegang koran di pagi hari, di sampingnya kopi yang masih mengeluarkan uap panas.
Liora melangkah menuju ayahnya. "Pagi, Ayah." balas Liora, lalu mencium pipi kanan Prayudha.
Ia menggeser kursi dan duduk di samping Lucas.
"Mau sarapan apa Lio?" tanya Lucas, dengan nada perhatian terhadap Liora. Ia menaruh susu di samping Liora.
"Nasi goreng! sepertinya enak." kata Liora, dengan telaten Lucas mengambilkannya untuk Liora.
"Tentu saja enak, buatan Bunda tidak akan pernah mengecewakan." sahut Kiara. tersenyum lembut melihat putrinya yang kini sudah berada di tengah-tengah mereka kembali.
Prayudha mengangguk setuju dengan apa yang istrinya katakan. "Baiklah, sebaiknya kita sarapan lebih dulu, setelah ini kita akan ke tempat teman lama Bunda." putus Prayudha.
Kini mereka menikmati sarapan dengan tenang, hanya suara denting sendok yang terdengar.
Setelah sepuluh menit berlalu setelah sarapan, kini mereka bersiap menuju tempat yang akan mereka kunjungi.
"Sudah siap!" kata Prayudha, menatap istri dan kedua anaknya.
mereka mengangguk serempak tanda bahwa mereka sudah siap.
Mereka melangkah ke halaman rumah menuju mobil yang sudah terparkir di sana. lalu bergegas masuk ke dalam mobil.
Kini Prayudha mengendarai mobilnya membelah hiruk-pikuk kota di pagi hari. suasan tenang dan nyaman menyelimuti keluarganya. Tidak ada percakapan di antara mereka. Meski begitu tidak membuat suasana mencekam.
Hingga dua puluh menit berlalu akhirnya mobil yang di kendarai Prayudha terparkir di depan rumah sakit.
Tiba-tiba suara Liora memecah keheningan. "Bun, memang teman bunda sakit?" tanya Liora, dengan kening mengkerut.
"Iya, Sayang, Bunda baru dapat kabar semalam, makanya hari ini Bunda putuskan untuk menjenguknya." jelas Kiara, menatap Liora melalui kaca depan lalu ia membuka seat belt dan bergegas keluar dari mobil. "Ayok, Sayang." lanjutnya.
Kini Liora, Prayudha dan Lucas mengikuti langkah Kiara, mereka menyusuri koridor rumah sakit. Hingga tiba di depan pintu nomor 110 ruangan VIP.
Perlahan Kiara membuka pintu itu, Ceklek! suara pintu terbuka. seketika pandangan Liora menatap mata tajam dan dingin, untuk sesaat mereka menatap satu sama lain.
"Dia—" gumam Liora dalam hati.