Qiara adalah anak yatim piatu yang selalu dimanfaatkan oleh pamannya. Hidupnya begitu menderita. Bahkan dirinya juga disuruh bekerja menjadi pelayan tiga badboy kembar yang akhirnya menjamah dirinya. Hidupnya penuh penderitaan, sejak ke dua orang tuanya meninggal. Dia harus bekerja mencukupi kebutuhannya. Namun akhirnya, ketiga kembar kaya raya itu jatuh cinta pada Qiara. Bahkan saling berebut untuk mendapatkan cintanya? Siapakah dari pada kembar yang bisa bersama dengan Qiara? Apakah Nolan? Apakah Natan? Apakah Noah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24.
"Iya, lo gak lihat? Dibandingkan kita, dia itu item... Dekil," sahut Natan dengan enteng sambil menatap mengejek.
Noah menghela nafas, frustasi dengan pandangan sempit saudaranya. "Ya, emang kita lebih putih karena keturunan luar. Tapi jangan sampe mikir kayak gitu, Kak," sergahnya, melindungi Qiara.
"Bukan putih banget itu juga bukan dekil," imbuh Noah.
"Apa lo bilang?" bentak Natan, tak terima.
Noah dengan tegas berkata, "Di bandingkan tukang bersih-bersih rumah kita sebelumnya saja, Qiara masih lebih bersih. Kakak, kenapa sih, memandangnya dengan penuh benci? Ingat, jangan-jangan nanti malah jadi cinta," tukasnya, berusaha menyadarkan Natan.
Mendengar kalimat yang baru saja terlontar dari bibir adiknya, ekspresi wajah Natan tiba-tiba berubah ketakutan.
"Astaga, benarkah jika terlalu membenci seseorang, nantinya bisa jadi cinta?" gumam Natan dalam hatinya.
Kesadarannya kini kembali penuh, dan Natan menyadari bahwa semenjak tadi bayangan Qiara terus menghantui pikirannya.
Bayang bayang wajah Qiara yang di rias mengingatkannya pada badut Ancol pun tak luput dari benaknya yang terganggu.
"Kenapa gue malah terus memikirkan gadis otak udang itu?" gumam Natan, sembari melirik ke arah Noah yang tampak asyik bertukar pesan.
Noah terlihat tak membahas soal Qiara sama sekali. Sebaliknya, dirinya lah yang malah membicarakan Qiara tiba-tiba.
"Tidak... Tidak... Gue tidak boleh terus begini. Gue harus segera menghilangkan bayangan wajah Qiara itu dari pikiran gue," gumam Natan lagi, rasa frustasi terasa di dalam dirinya.
Pikirannya benar-benar kacau akibat perasaannya terhadap Qiara. "Apa sebaiknya gue pacaran dengan Tania saja? Bagaimanapun, gue tidak boleh terus-terusan terganggu oleh Qiara," ucap Natan dalam hatinya, berusaha meyakinkan dirinya sendiri untuk menjauhkan perasaan yang mulai muncul terhadap Qiara.
Tak lama kemudian, suara langkah kaki seseorang semakin mendekat, disertai dengan aroma parfum yang menguar semakin kuat.
Natan dan Noah pun langsung menoleh ke arah si pemilik sepatu hak tinggi tersebut. "Kaki yang indah," gumam Natan, penasaran ingin mengetahui siapa yang berjalan dengan anggun itu.
Karena cara pandang Natan terhadap seorang wanita itu selalu melihat ke arah kakinya terlebih dahulu, jika kaki wanita itu putih, bersih dan juga bagus. Pasti pemilik kaki itu tersebut sangatlah cantik.
"Qiara... Astaga ... Lo benar-benar cantik seperti bidadari," celetuk Noah dengan nada suara kagum, yang mana langsung membuat Natan beralih pandang ke wajah sang pemilik kaki.
Natan merasa seolah dunia terbalik melihat Qiara yang seharusnya tampil biasa saja bahkan buruk, namun justru berubah menjadi seorang wanita yang sangat mempesona. Dalam hati kecilnya, Natan merasa syok dan kaget sekaligus.
"Tidak mungkin... Tidak mungkin. Seharusnya wajah Qiara itu seperti badut Ancol setelah di rias di salon ini, bukan seperti ini," gumam Natan dengan kebingungan yang memenuhi pikirannya. Perasaan ini membuat Natan merasa kehilangan arah dan mulai meragukan segalanya.
Siapa sebenarnya Qiara yang berhasil menarik perhatian mereka ini? Dan kenapa tampilan Qiara sangat berbeda dari yang ia bayangkan sebelumnya?
***
**
*
Di sebuah ruang keluarga yang ada di rumah mewah.
"Astaga Tania, kenapa memakai baju seperti itu?" ucap Rasya dengan wajah penuh kekhawatiran. "Baju itu terlalu terbuka untuk acara party yang diadakan anak SMA. Lebih baik ganti baju mu dengan yang lebih sopan," lanjut Rasya sambil menatap adik nya.
Rasya benar benar tidak habis pikir saat melihat baju yang dikenakan adik nya itu begitu minim, bahkan belahan dadanya juga sangat rendah.
"Tidak, aku mau pakai ini saja!" tolak Tania tegas.
Perasaan Rasya mulai kalut, bahkan ia sangat khawatir dengan bagaimana orang lain akan melihat adik nya yang berpenampilan begitu seksi.
"Tania, kalau kamu berpakaian seperti ini, kamu bisa dianggap rendah oleh laki laki yang melihatmu. Kamu tidak ingin kan mendapatkan predikat seperti itu?" ujar Rasya berusaha keras untuk menasehati adik nya.
"Tapi Kakak," sahut Tania dengan nada kesal, "selera orang itu tidak bisa disamakan. Kalau Kakak memang suka gadis berpakaian tertutup dan menggunakan hijab, itu kan selera kakak. Tapi aku memakai baju seperti ini untuk memikat Natan. Karena aku tahu, dia sangat menyukai gadis dengan pakaian terbuka dan terlihat seksi," jawab Tania ketus.
Rasya benar benar merasa tersudut, seolah nasehatnya tidak dihargai.
"Astaga Tania, aku tidak meminta kamu pergi ke pesta memakai hijab, tapi mengenakan pakaian yang lebih sopan saja. Kenapa kamu berbicara ngelantur?" keluh rasya, berharap adik nya itu mengerti niat baik yang ia sampaikan.
"Kakak itu cuman meminta mu, untuk memakai pakaian yang lebih baik dan sopan. Karena kakak itu tidak mau, laki laki di luar sana itu merendahkan mu, walaupun Kakak itu bukan ... " Ucapan Rasya terhenti kala ia mendapatkan telepon di hape yang ada di genggaman tangan nya.
"Tania kita ke pesta Andre berangkat bersama, soalnya Natan ada urusan mendadak."
"Ini pasti gara gara pakaian ku kan. Kakak melarang Natan untuk menjemput ku datang ke sini." Tania malah menuduh Kakak nya.
"Tania ... " Rasya nampak melonggarkan kerah bajunya, ia benar benar panas melihat adiknya yang berpakaian seperti itu.
Tiba tiba Rasya pun mendekat dan menarik tubuh adiknya.
"Ada yang aneh, ya? Kenapa kalian berdua menatapku dengan tatapan seperti itu?" tanya Qiara dengan ekspresi wajah bingung. Kala melihat Noah maupun Natan yang memperhatikan dirinya dari atas ke bawah dengan tatapan begitu intens.
"Apa ada yang salah dengan penampilanku?" gumam Qiara dalam hatinya.
"Lo cantik, Qiara... Sumpah, walaupun pakaian lo itu tidak terlalu terbuka, bahkan lebih sopan dari pada celana hotpants dan tank top yang biasa lo pakai, tapi sekarang ini lo itu benar-benar terlihat seksi," ucap Natan tanpa sadar, bahkan ia tidak bisa memalingkan pandangannya dari Qiara.
Sementara itu, Noah merasa bingung dengan perubahan sikap Natan yang tiba-tiba. "Tadi menyebut Qiara badut Ancol, sekarang malah memujinya," gumam Noah heran. "Apa yang sebenarnya terjadi dalam pikiran kakak ini?"
"Kalau begitu, biar Qiara berangkat sama gue sekarang," celetuk Natan, mencoba mengalihkan perhatian.
"Kan tadi katanya, Kakak mau jemput Tania dulu." tegur Noah.
"Bukannya lo juga mau jemput Dila?" sahut Natan, masih terfokus pada Qiara.
"Dila sudah berangkat sama temannya dan sudah sampai di sana," jawab Noah cepat.
"Lagi pula, sepertinya Kakak sedang sibuk mau jemput Tania. Biar gue saja yang antar Qiara ke party itu," imbuh Noah.
"Gak, pokoknya Qiara pergi sama gue saja," tolak Natan dengan nada tegas, seperti tidak mau melepaskan pandangannya dari Qiara. Di dalam hati, ia merasa ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa berhenti menatap gadis tersebut, entah karena penampilan baru atau karena perasaan lain yang tumbuh di dalam dirinya.
"Terus dengan Tania?" tanya Noah bingung.
"Biar dia pergi sama Rasya kesana. Lagian, lo itu bawa motor. Sayang kalau riasan Qiara yang mahal ini harus ketiup sama angin."
Mendengar penjelasan yang keluar dari Natan, Noah pun tidak ada pilihan lain. Selain menyetujui apa yang di katakan oleh Kakak kembarnya.