Satu malam di bawah langit Jakarta yang kelam, Alisha hanya ingin melupakan pengkhianatan yang menghancurkan hatinya. Di sebuah lounge mewah, ia bertemu dengan pria asing yang memiliki tatapan sedalam samudra. Damian Sagara. Tanpa nama, tanpa janji, hanya sebuah pelarian sesaat yang mereka kira akan berakhir saat fajar menyingsing. Namun, fajar itu membawa pergi Alisha bersama rahasia yang mulai tumbuh di rahimnya.
Lima tahun Alisha bersembunyi di kota kecil, membangun tembok tinggi demi melindungi Arka, putra kecilnya yang memiliki kecerdasan tajam dan garis wajah yang terlalu identik dengan sang konglomerat Sagara.
“Seorang Sagara tidak pernah meninggalkan darah dagingnya, Alisha. Dan kau... kau tidak akan pernah bisa lari dariku untuk kedua kalinya.”
Saat masa lalu menuntut pengakuan, apakah Alisha akan menjadi bagian dari keluarga Sagara, atau hanya sekedar ibu dari pewaris yang ingin Damian ambil alih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erma _roviko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
“Kau pikir aku hanya bisa duduk diam dan menjadi pajangan di ruang tamu megahmu ini?”
Alisha melontarkan kalimat itu sambil menatap tajam ke arah Jimmy, pengawal setia Arka yang kini berdiri kaku di depan pintu studio kecil tersebut.
Studio itu terletak di paviliun belakang, tempat yang awalnya hanya digunakan sebagai gudang penyimpanan perabotan lama. Damian telah merenovasinya menjadi ruang kerja yang indah sebagai upaya untuk menenangkan Alisha selama masa penguncian total ini.
Mesin jahit bermerek ternama dan deretan manekin kayu berdiri rapi di bawah cahaya lampu neon yang terang. Namun bagi Alisha, ruangan ini tetap terasa seperti sel penjara jika ia hanya menjahit baju tidur untuk dirinya sendiri.
“Tuan Damian hanya ingin Anda merasa nyaman, Nyonya,” sahut Jimmy dengan suara datar yang tertahan.
“Kenyamanan tanpa tujuan adalah kematian bagi seorang perajin, Jimmy.” Alisha mendekat dan meletakkan sebuah kotak kayu kecil di depan Jimmy.
“Bantu aku membawa masuk kain-kain ini lewat pintu belakang taman.”
Jimmy melirik kotak itu dengan ragu.
“Tuan Damian melarang adanya kiriman barang yang tidak melalui pemeriksaan tim keamanan pusat.”
“Kain ini tidak berbahaya.” Alisha membuka tutup kotak tersebut, memperlihatkan gulungan sutra liar berwarna biru dongker yang berkilau.
“Ini adalah nafas untuk bakatku yang hampir mati karena bosan.”
Jimmy menarik nafas panjang. Ia melihat gurat kerinduan yang sangat dalam di mata Alisha. Ia juga melihat bagaimana Arka selalu tampak lebih ceria saat melihat ibunya sibuk dengan jarum dan benang. Rasa simpati yang selama ini ia kubur di balik seragam hitamnya mulai muncul ke permukaan.
“Hanya kali ini, Nyonya,” bisik Jimmy sambil mengambil kotak itu. “Jika Tuan Damian tahu, kita berdua akan berada dalam masalah besar.”
“Dia tidak akan tahu selama kau tetap menutup mulut.” Alisha tersenyum tipis, sebuah senyuman yang jarang terlihat sejak mereka terjebak dalam kebijakan keamanan VVIP ini.
Alisha kembali masuk ke dalam studionya dan mengunci pintu dari dalam. Ia segera menyalakan komputernya yang sudah dilengkapi dengan perangkat lunak enkripsi tingkat tinggi. Di layar monitor yang temaram, sebuah pesan masuk dari klien anonim muncul di sudut kanan bawah. Klien itu hanya dikenal dengan nama samaran The Oracle.
“The Hidden Needle, apakah desain untuk gaun malam tersebut sudah siap?”
Alisha mengetikkan balasan dengan cepat. “Pola sudah selesai. Saya mulai mengerjakan jahitan tangan pada bagian dada malam ini.”
“Bagus. Ingatlah, gaun ini harus menjadi sebuah pernyataan. Tanpa nama. Tanpa label. Hanya keindahan yang mematikan,” balas klien itu.
Alisha mematikan monitornya dan beralih ke meja potong yang besar. Ia mulai membentangkan kain sutra biru dongker tersebut. Jari-jarinya bergerak lincah mengikuti garis-garis kapur yang sudah ia buat sebelumnya. Menjadi The Hidden Needle adalah satu-satunya caranya untuk tetap terhubung dengan dunia luar tanpa harus melewati sensor ketat Damian Sagara. Di mata Damian, Alisha seharusnya hanyalah calon istri yang sedang belajar menjadi sosialita kelas atas untuk mendampingi namanya.
“Ibu sedang membuat apa lagi?” Suara Arka terdengar dari balik pintu yang sedikit terbuka.
Alisha tersentak dan segera menutupi kain itu dengan kain penutup berwarna putih. “Hanya proyek kecil, Sayang. Kenapa kau belum tidur?”
Arka melangkah masuk ke dalam ruangan. Ia membawa tabletnya dan duduk di kursi putar milik Alisha.
“Ayah sedang memeriksa rekaman CCTV di ruang kerja. Dia sedang mencari tahu siapa yang membantu Ibu memasukkan kotak tadi sore.”
Wajah Alisha memucat seketika. “Dia melihatnya?”
“Tidak secara langsung.” Arka mengetuk layar tabletnya. “Aku sudah mengalihkan sudut pandang kamera 4 dan 7 ke rekaman dua jam sebelumnya. Tapi sistem akan segera menyadari adanya loop rekaman dalam tiga puluh menit.”
Alisha menghela nafas lega namun jantungnya masih berdegup kencang. “Terima kasih, Arka. Ibu benar-benar harus menyelesaikan ini.”
“Klien ini sangat penting, bukan?” Arka menatap ibunya dengan rasa ingin tahu.
“Dia membayar sangat mahal, Arka. Dan dia tidak peduli siapa aku. Dia hanya peduli pada apa yang bisa aku ciptakan.” Alisha mulai memotong kain dengan gunting peraknya yang tajam.
Selama berjam-jam, Alisha tenggelam dalam pekerjaannya. Ia menggunakan teknik jahit tangan yang sangat rumit, memastikan setiap sambungan kain tidak terlihat oleh mata telanjang. Ia menyematkan ribuan manik-manik kecil yang membentuk pola abstrak di sepanjang garis leher. Gaun ini tidak akan memiliki label desainer di bagian kerahnya. Alisha sengaja menenun sebuah tanda kecil berupa benang emas berbentuk jarum tersembunyi di bagian kelim bawah. Itu adalah tanda identitas rahasianya.
Di sisi lain mansion, Damian Sagara sedang berdiri di depan layar besar yang menampilkan denah rumahnya. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres di paviliun belakang. Alisha menghabiskan terlalu banyak waktu di sana. Ia melihat Jimmy yang berdiri di depan pintu studio dengan sikap yang terlalu kaku, bahkan untuk standar pengawal terbaiknya.
“Jimmy, laporkan status di paviliun!” ujar Damian melalui interkom.
“Semua terkendali, Tuan. Nyonya Alisha sedang mengerjakan gaun untuk acara makan malam keluarga minggu depan,” jawab Jimmy dengan suara yang tenang namun tangannya sedikit gemetar.
Damian mematikan interkom. Ia merasa curiga namun ia tidak ingin merusak momen kedamaian yang baru saja tercipta antara dirinya dan Alisha setelah badai malam lalu. Ia memilih untuk membiarkannya, setidaknya untuk malam ini.
Keesokan harinya, Alisha menerima informasi baru dari The Oracle.
Klien itu meminta agar gaun tersebut dikirim ke sebuah alamat di kawasan elit Menteng. Alamat itu bukan milik perorangan, melainkan sebuah butik vintage yang sangat tertutup. Alisha segera membungkus gaun yang sudah selesai itu ke dalam kotak tanpa tanda apa pun.
“Jimmy, tolong pastikan kotak ini sampai ke alamat ini.” Alisha menyerahkan selembar kertas kecil.
“Pastikan tidak ada pengawal lain yang melihat.”
"”Nyonya, ini sangat berisiko.” Jimmy menatap alamat itu.
“Ini adalah satu-satunya caraku untuk tetap hidup di sini, Jimmy,” ujar Alisha dengan nada memohon.
Jimmy akhirnya mengangguk. Ia membawa kotak itu keluar melalui jalur logistik dapur yang jarang diperiksa secara detail. Alisha kembali ke studionya, merasa seolah ia baru saja mengirimkan sebuah pesan di dalam botol ke tengah lautan yang luas.
Satu minggu kemudian, sebuah berita besar meledak di kalangan sosialita Jakarta. Dalam sebuah acara amal yang sangat prestisius, seorang wanita bernama Ibu Elvira Wirawan tampil memukau. Ia mengenakan gaun sutra biru dongker tanpa label yang menjadi perbincangan setiap orang di ruangan itu. Elvira adalah musuh bebuyutan Nyonya Raina Sagara sejak dekade lalu. Ia adalah sosok berpengaruh yang suaminya pernah dihancurkan secara bisnis oleh keluarga Sagara.
Raina Sagara yang juga hadir di acara tersebut tampak sangat murka. Ia mengenakan gaun dari desainer Paris yang sangat mahal, namun perhatian semua orang tertuju pada gaun misterius milik Elvira.
“Siapa desainer gaunmu, Elvira? Aku tidak melihat label rumah mode mana pun yang memiliki teknik jahitan sehalus itu,” tanya Raina dengan nada yang dipaksakan sopan di tengah kerumunan media.
Elvira tersenyum penuh kemenangan. “Dia tidak memiliki nama besar seperti desainer-desainermu yang sombong, Raina. Dia menyebut dirinya The Hidden Needle. Dan dia tahu persis bagaimana cara menonjolkan keanggunan tanpa perlu berteriak tentang merek.”
Alisha melihat cuplikan berita itu dari televisi di studionya. Ia membeku saat menyadari siapa klien anonimnya selama ini. Elvira Wirawan adalah wanita yang paling dibenci oleh ibu Damian. Tanpa sengaja, Alisha telah memberikan senjata citra publik kepada musuh besar keluarga yang sedang menahannya.
“Ibu, kita dalam masalah.” Suara Arka terdengar dari balik pintu.
Arka masuk dengan wajah yang sangat serius. “Nenek baru saja menghubungi Ayah. Dia bilang dia mengenali teknik jahit pada gaun Ibu Elvira. Dia ingat teknik itu pernah dilihatnya pada baju-baju yang Ibu jahit di pesisir.”
Alisha menjatuhkan guntingnya ke lantai. Ia bisa merasakan dunia di sekelilingnya mulai runtuh kembali. Ia ingin membangun karier, namun ia justru membangun arena peperangan baru.
“Ayah sedang menuju kesini,” lanjut Arka.
Detik berikutnya, pintu studio terbuka dengan sangat keras hingga menghantam dinding. Damian Sagara berdiri di sana dengan wajah yang memerah karena amarah yang tidak tertahankan. Di tangannya, ia memegang sebuah tablet yang menampilkan foto Elvira Wirawan dengan gaun biru dongker buatan Alisha.
“Apa yang telah kau lakukan, Alisha?” Suara Damian terdengar seperti guntur.
“Aku hanya bekerja, Damian!” Alisha berdiri membela diri.
“Kau bekerja untuk wanita yang ingin menghancurkan ibuku!” Damian melempar tablet itu ke atas meja potong. “Kau memberikan karya terbaikmu pada orang yang menggunakan namaku untuk menjatuhkan kehormatan keluargaku di depan publik!”
“Aku tidak tahu dia adalah musuhmu! Aku bekerja secara anonim!” teriak Alisha.
“Anonim atau tidak, kau telah mengkhianati kepercayaan yang aku berikan padamu di rumah ini.”
Damian mendekat, matanya berkilat penuh kekecewaan. “Mulai sekarang, studio ini aku segel. Tidak ada lagi benang, tidak ada lagi jarum. Kau akan menjadi apa yang aku perintahkan, atau kau tidak akan menjadi apa-apa di sini.”
Alisha merasa hatinya pecah menjadi ribuan keping. Ia menatap Arka yang hanya bisa diam di sudut ruangan. Ia menyadari bahwa di rumah ini, setiap langkah menuju kebebasan selalu diakhiri dengan rantai yang lebih berat. Namun dibalik kemarahannya, Alisha tahu satu hal. Nama The Hidden Needle kini sudah menjadi legenda di Jakarta. Dan Elvira Wirawan pasti akan mencari cara untuk kembali menghubungi penjahit rahasianya.
“Kau bisa menyegel ruangan ini, Damian,” ujar Alisha dengan suara yang sangat tenang namun tajam.
“Tapi kau tidak bisa menyegel bakat yang sudah dilihat oleh seluruh kota.”
Damian menatap Alisha dengan tatapan yang sangat kompleks. Ia merasa bangga sekaligus terancam oleh kekuatan wanita di hadapannya. Ia berbalik dan memerintahkan para pengawal untuk mengunci pintu studio secara permanen. Alisha berdiri di tengah ruangan yang kini menjadi sunyi, menyadari bahwa peperangan baru saja dimulai di meja jahitnya.