Di puncak kesendirian yang tak tertandingi, Kaelen, sang Monarch Primordial, telah menguasai semua hukum alam di alam semestanya. Namun, kemenangan terasa hampa. Justru pada detik ia menyentuh puncak, sebuah segel kuno terpecah dalam jiwanya, mengungkap ingatan yang terpendam: ia bukanlah manusia biasa, melainkan "Fragmen Jiwa Primordial" yang tercecer dari sebuah ledakan kosmik yang mengawali segala penciptaan.
Dicetak ulang melalui ribuan reinkarnasi di dunia yang tak terhitung jumlahnya, setiap kehidupan adalah sebuah ujian, sebuah pelajaran. Tujuannya bukan lagi sekadar menjadi yang terkuat di satu dunia, tetapi untuk menyatukan semua fragmen jiwanya yang tersebar di seantero Rimba Tak Berhingga — sebuah multiverse yang terdiri dari lapisan-lapisan realitas, mulai dari dunia rendah beraura tipis, dunia immortal yang megah, hingga dimensi ilahi yang penuh dengan hukum alam purba.
Namun, Kaelen bukan satu-satunya yang mencari. Para Pemburu Fragmen, entitas dari zaman sebelum waktu,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Guraaa~, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Jejak di Salju dan Bisikan Angin
Perjalanan ke utara adalah ujian ketahanan dan daya tahan. Rute rahasia Lin Xia membawa Kaelen melewati jalur yang jarang dilalui, jauh dari jalan utama yang dijaga. Hari-hari pertama relatif tenang, hanya menghadapi beast level rendah dan cuaca yang berubah-ubah. Kaelen menggunakan waktu ini untuk menyempurnakan teknik penyembunyiannya dan berlatih dengan medali Alaric. Dia menemukan bahwa dengan menyalurkan sedikit Qi ke dalam medali, dia bisa memproyeksikan peta holografik kecil yang menunjukkan garis besar gunung dan lokasi lembah tersembunyi dengan titik berkedip di mana segel seharusnya berada.
Dia juga terus mengasah kultivasinya. Lingkungan alam yang keras, dengan aura yang lebih kasar dan tidak terfilter, justru membantunya memperkuat kontrolnya. Dia belajar menyerap energi langsung dari angin, dari aliran sungai, bahkan dari panas batu di bawah sinar matahari, selalu berhati-hati untuk tidak menarik perhatian. Dalam sepuluh hari, dia secara alami mencapai puncak Lapis Ketiga Qi Gathering, sebuah terobosan yang lancar berkat fondasinya yang kuat dan pemahaman energinya.
Namun, bahaya mulai muncul saat dia mendekati kaki Gunung Naga Tidur. Suhu turun drastis. Salju mulai muncul di tanah, dan angin berembus dengan dingin yang menggigit tulang. Beast di sini lebih kuat dan lebih ganas—serigala es dengan bulu kristal, burung pemangsa yang bisa menciptakan pisau angin, dan makhluk aneh seperti beruang dengan tanduk es.
Suatu sore, saat dia menyusuri sebuah ngarai sempit, dia diserang oleh kawanan Serigala Es. Ada enam ekor, masing-masing setara dengan kultivator Lapis Ketiga awal. Mereka cerdas, menyerang dari berbagai arah dengan koordinasi. Kaelen dipaksa untuk menggunakan lebih banyak kekuatannya. Dia menggunakan Langkah Angin Lembut yang dimodifikasi untuk bergerak di atas es tanpa terpeleset, dan Tusukan Baja Bergetar dengan tongkat yang diambil dari cabang pohon yang keras, menargetkan titik lemah di belakang kepala mereka. Pertempuran sengit terjadi. Dia membunuh tiga ekor dan melukai dua lainnya sebelum sisanya melarikan diri. Tapi dia sendiri terluka, dengan cakar dalam di pahanya dan luka dingin di lengan.
Dia menemukan gua kecil untuk berlindung, mengobati lukanya dengan salep yang dibawa dan memanaskan tubuhnya dengan meditasi. Malam itu, saat dia setengah tertidur, dia mengalami penglihatan lagi. Kali ini, bukan fragmen yang berbicara, tetapi sebuah pemandangan: dirinya berdiri di tengah lembah dengan celah langit berdenyut di atasnya, dan di sekelilingnya, tujuh sosok cahaya—fragmen lainnya—mengambang, masing-masing dengan warna dan intensitas yang berbeda. Salah satunya sangat terang dan dekat—di gunung ini. Yang lain tersebar, sangat jauh, di dunia yang berbeda. Sebuah suara bergema: "Yang Pertama telah dibersihkan. Yang Kedua menunggu di Istana Es. Tapi hati-hati, Penjaga bangun, dan Pemburu mendekat."
Kaelen terbangun, jantungnya berdebar kencang. Yang Kedua menunggu di Istana Es. Mungkin ada struktur di gunung ini, mungkin di lembah, yang disebut Istana Es. Dan "Penjaga" — apakah itu makhluk yang disebut Alaric?
Dia melanjutkan perjalanan dengan tekad baru. Setelah dua hari mendaki lereng yang curam dan menghindari badan salju, dia akhirnya mencapai ketinggian di mana peta menunjukkan pintu masuk ke lembah tersembunyi. Itu adalah tebing vertikal dengan sedikit celah yang hampir tertutup oleh tirai es. Medali di tangannya bergetar hangat.
Dia menggunakan tongkatnya untuk membersihkan es, mengungkapkan sebuah pintu batu dengan ukiran simbol yang sama dengan medali—matahari terbit. Dengan hati-hati, dia menempatkan medali ke dalam lekukan di tengah pintu. Medali itu bersinar, dan pintu bergerak dengan gemuruh rendah, membuka ke kegelapan.
Dia masuk, dan pintu menutup di belakangnya. Di dalam, sebuah terowongan turun ke dalam gunung, dindingnya dipenuhi dengan luminesensi biru pucat dari lumut aneh. Udara terasa kuno dan berisi energi padat.
Setelah berjalan selama mungkin satu jam, terowongan itu terbuka ke lembah tersembunyi.
Pemandangan itu memesona. Sebuah lembah luas yang dikelilingi oleh puncak-puncak tertutup salju, tapi di dalamnya sendiri relatif bebas es, dengan rerumputan aneh berwarna perak dan danau kecil yang airnya berwarna biru neon. Di tengah lembah, berdiri struktur yang terbuat dari es murni—sebuah istana kecil dengan menara dan lengkungan, memancarkan cahaya internal yang lembut. Itu pasti Istana Es.
Dan di atas istana, sekitar seratus meter di udara, mengambang sebuah celah di realitas—sebuah robekan berbentuk oval sepanjang sepuluh meter, berwarna ungu dan emas bergolak, memancarkan energi yang membuat rambut di kulit Kaelen berdiri. Itu adalah Portal Celestial, masih tertutup tetapi berdenyut dengan kekuatan yang semakin meningkat seiring mendekatnya siklus puncaknya.
Tapi ada sesuatu yang lain. Di depan pintu istana, duduk sebuah sosok. Bukan manusia, juga bukan beast sepenuhnya. Itu adalah entitas humanoid setinggi tiga meter, terbuat dari es hidup dan cahaya biru, dengan mata seperti kristal yang berisi seluruh galaksi kecil. Itu adalah Penjaga.
Saat Kaelen mendekat, Penjaga itu bangkit. Suaranya seperti gemerincing es dan guntur yang jauh. "Pewaris Jiwa Terpecah. Kau datang lebih awal. Pintu belum terbuka."
Kaelen berhenti, menjaga sikap hormat. "Saya mencari bagian dari diri saya yang ada di sini."
"Yang Kedua menunggu di dalam," kata Penjaga, menunjuk ke istana. "Tapi untuk mencapainya, kau harus membuktikan bahwa kau layak. Kau harus melewati Ujian Cermin dan menghadapi bayangan dirimu sendiri."
"Ujian Cermin?"
"Setiap pewaris harus menghadapi kemungkinan terburuk dan terbaik dari diri mereka sendiri. Masuklah, dan jika kau berhasil, fragmen itu akan menjadi milikmu. Jika gagal, kau akan menjadi bagian dari es selamanya."
Penjaga itu melangkah ke samping, membuka jalan ke pintu istana. Kaelen menarik napas dalam-dalam dan melangkah masuk.
Interior istana terbuat seluruhnya dari es transparan, memantulkan cahaya dalam pola yang membingungkan. Di tengah ruangan utama, berdiri sebuah cermin raksasa yang terbuat dari es hitam. Saat Kaelen mendekat, bayangannya di cermin tidak meniru gerakannya. Sebaliknya, bayangan itu tersenyum, lalu melangkah keluar dari cermin.
Itu adalah dirinya, tetapi dengan mata hitam pekat dan aura energi gelap yang korosif—versinya jika dia jatuh dan dikuasai oleh keputusasaan dan kebencian, mungkin seperti yang dikhawatirkan Ordo.
"Kau pikir kau layak?" bayangan itu mengejek, suaranya seperti gema Kaelen sendiri yang terdistorsi. "Kau hanya kumpulan kenangan yang terpisah-pisah, berkelana tanpa tujuan. Bergabunglah denganku, mari kita bakar dunia ini dan ambil apa yang kita inginkan dengan paksa."
Bayangan itu menyerang, menggunakan teknik yang persis sama dengan Kaelen, tetapi dengan kekuatan gelap yang menghancurkan. Pertempuran pun terjadi—sebuah duel yang identik dengan diri sendiri. Kaelen berjuang, tetapi setiap serangannya diprediksi oleh bayangan itu. Dia terluka, darahnya mengotori es.
Dia menyadari dia tidak bisa mengalahkan bayangan ini dengan kekuatan saja. Ujian ini adalah tentang penerimaan. Dia harus menerima bahwa bayangan ini adalah bagian dari dirinya—kapasitas untuk kehancuran, keputusasaan—tetapi tidak membiarkannya mendefinisikannya.
Dia berhenti bertarung, berdiri tegak. "Kau adalah bagian dari diriku," katanya kepada bayangan itu. "Tapi kau bukan keseluruhannya. Aku memiliki kerinduan untuk menjadi utuh, tetapi aku akan melakukannya dengan caraku sendiri, dengan cahaya dan kegelapan."
Bayangan itu berhenti, terlihat bingung. Kemudian, mulai retak, dan pecah menjadi berkas-berkas cahaya yang diserap kembali ke dalam Kaelen. Dia merasakan penerimaan yang lebih dalam terhadap dirinya sendiri, dan pemahaman yang lebih baik tentang kekuatannya.
Cermin es hitam itu menghilang, dan di tempatnya, sebuah podium es naik, di atasnya terdapat sebuah kristal berdenyut berwarna biru muda, berisi percikan api kesadaran yang familier. Fragmen kedua.
Dengan hati-hati, Kaelen meraihnya. Saat disentuh, kristal itu meleleh menjadi cahaya dan masuk ke dalam dadanya. Gelombang ingatan dan kekuatan membanjiri dirinya. Dia melihat kehidupan fragmen ini—sebagai seorang Penjaga Istana Es ini, sebuah kesadaran yang terjebak melindungi tempat ini selama ribuan tahun. Pengetahuan tentang Portal, tentang siklusnya, tentang cara menstabilkannya, menjadi miliknya.
Dia juga merasakan lokasi tiga fragmen berikutnya: satu di dunia awan di seberang portal ini, satu di kedalaman lautan dunia lain, dan satu lagi di inti sebuah kota mengambang di dimensi yang berbeda. Peta di pikirannya berkembang.
Tapi tiba-tiba, seluruh istana berguncang. Suara ledakan dari luar.
Kaelen berlari keluar. Di lembah, Penjaga es sedang bertarung melawan tiga sosok berjubah hitam dengan mata merah—Pemburu Ordo! Mereka telah masuk! Mungkin mereka mengikuti energinya atau merasakan pembukaan segel.
Penjaga itu kuat, tapi kalah jumlah. Salah satu Pemburu menggunakan sebuah alat seperti jarring hitam yang membungkus Penjaga, menekannya.
Pemburu yang lain, yang tampaknya pemimpin, melihat Kaelen. "Fragmen! Akhirnya! Tangkap dia! Jangan biarkan dia menyentuh portal!"
Ketiganya menyerang. Kaelen, dengan kekuatan baru dari fragmen kedua, merasakan peningkatan yang signifikan. Dia sekarang setara dengan Lapis Keempat Qi Gathering, dan pemahamannya tentang Hukum Es dan Ruang telah melonjak. Dia menciptakan tembok es untuk menghalangi serangan mereka, lalu menggunakan Langkah Angin Lembut untuk bergerak cepat.
Tapi mereka kuat, setidaknya setara dengan Foundation Establishment awal. Pertempuran tidak seimbang. Kaelen terluka lagi. Dia tersudut di dekat danau.
Saat itu, portal di atas mulai berdenyut lebih cepat. Waktunya mendekat! Energinya menjadi tidak stabil.
Kaelen mendapat ide. Dia berlari ke arah portal, menarik perhatian Pemburu. Saat mereka mengejar, dia menggunakan semua pengetahuannya yang baru tentang formasi portal dan memanipulasi energi di sekitarnya, menyebabkan portal berfluktuasi liar dan mengeluarkan semburan energi liar.
Salah satu semburan mengenai dua Pemburu, yang menjerit saat tubuh mereka terdistorsi. Pemimpinnya mengutuk dan mundur, menggunakan sebuah artefak untuk membuka portal kecil pelarian. Dia melarikan diri, tetapi dua lainnya terbunuh atau terlempar ke dalam portal yang tidak stabil.
Kaelen, dengan tenaga terakhir, berlari ke Penjaga yang terluka. Makhluk itu meleleh, energinya hampir habis. "Pewaris... portal akan terbuka dalam beberapa jam... kau harus masuk... atau tutup... tapi hati-hati... dunia di seberang... penuh dengan bahaya dan... kemungkinan."
"Terima kasih, Penjaga," bisik Kaelen.
"Lakukanlah... satukan kita semua..." Penjaga itu pecah menjadi kristal es yang kemudian menguap.
Kaelen ditinggal sendirian di lembah, dengan dua mayat Pemburu, portal yang berdenyut-denyut di atas, dan keputusan besar. Dia bisa mencoba menutup portal dengan pengetahuan barunya, mungkin menghentikan Ordo untuk sementara. Atau dia bisa masuk, mengejar fragmen berikutnya di dunia berikutnya, tetapi meninggalkan dunia ini terbuka untuk bahaya dan tanpa perlindungan.
Dia melihat ke portal, merasakan panggilan fragmen berikutnya. Dia juga memikirkan Lin Xia, Lio, Tua Chen... dunia ini mulai menjadi rumah. Tapi dia tidak bisa berhenti sekarang. Pencariannya harus terus berlanjut.
Dengan tekad, dia memutuskan. Dia akan masuk. Tapi pertama-tama, dia menggunakan sisa energinya untuk menempatkan formasi peringatan dan penyembunyian di sekitar lembah, dan mengirimkan pesan melalui Jimat Kupu-kupu Lin Xia, memberi tahu dia tentang lokasi dan bahaya Ordo.
Kemudian, dia duduk bermeditasi di bawah portal, menyembuhkan lukanya sebanyak mungkin dan menstabilkan energinya. Saat portal mencapai puncaknya, membuka jalan yang stabil ke dunia lain, Kaelen berdiri, memandang ke dalam pusaran warna ungu dan emas.
Dia melompat.
Sensasi tertarik, diputar, dan diregangkan. Kemudian, dia mendarat di tanah lembut, dengan langit hijau di atasnya dan dua bulan berwarna perak di siang hari. Dia berada di dunia baru.
Tapi sebelum dia bisa mengamati sekelilingnya, sebuah suara yang ramah namun waspada menyapanya.
"Selamat datang, Pejalan Antar Dunia. Kami telah menunggumu."
Kaelen menoleh dan melihat sekelompok humanoid dengan kulit seperti kayu dan daun tumbuh dari rambut mereka, mengelilinginya dengan tombak yang terbuat dari kristal. Dia telah tiba, dan petualangannya di dunia baru—dan pencarian fragmen ketiganya—baru saja dimulai.