Kenzo Banyu Samudera adalah anak tiri dari keluarga konglomerat, hidup sebagai pecundang yang dihina, disiksa, dan dibuang. Lemah, cupu, dan tak pernah melawan—hingga suatu malam ia nyaris mati bersimbah darah. Namun kematian itu justru menjadi awal kebangkitan.
Kesadaran Bayu Samudra, petarung jalanan miskin yang tewas dalam pertarungan brutal, terbangun di tubuh Kenzo. Bersamaan dengan itu, sebuah Sistem Pemburu aktif di kepalanya. Kebangkitan ini bukan hadiah. Keluarga Kenzo memfitnah, menghapus identitasnya, dan mengusirnya dari rumah.
Dari jalanan kumuh, Bayu merangkak naik. Tinju jalanannya berpadu dengan kecerdasan Kenzo dan kekuatan sistem. Perlahan ia membangun kerajaan bayangan bisnis legal di permukaan, mafia di balik layar. Namun sisa memori Kenzo menghadirkan luka, kesepian, dan konflik batin.
Di antara dendam, cinta, dan kegelapan, Bayu harus memilih: menjadi monster penguasa, atau manusia yang masih mengingat rasa kalah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: SISTEM UPGRADE DARURAT
#
Tiga hari setelah pertarungan dengan Sang Penuai. Rumah aman baru. Bangunan tua bekas pabrik di kawasan industri mati. Jauh dari pemukiman. Nggak ada yang lewat sini malam-malam.
Bayu berbaring di kasur tipis. Matanya menatap langit-langit yang penuh noda air hujan.
Rusuknya masih sakit. Rahangnya masih bengkak meski udah mulai kempes. Regenerasi sistem bekerja. Tapi lebih lambat dari biasanya karena lukanya terlalu parah.
Di sebelahnya, Maya duduk. Nuangin obat ke kapas. Bersihkan luka di alis Bayu yang masih belum nutup sempurna.
"Diem," kata Maya pelan waktu Bayu sedikit menghindar. "Ini perih dikit aja."
"Perihnya dari tadi..."
"Karena lu gerak mulu. Diem."
Bayu diam. Biarkan Maya bekerja.
Tapi pikirannya nggak bisa diam.
Sang Penuai terlalu kuat. Terlalu cepat. Mode pembunuh yang selama ini jadi andalan Bayu... nggak mempan.
Lima persen.
Kemungkinan selamat cuma lima persen kalau ketemu lagi.
"Lu lagi mikirin dia, kan?" tanya Maya tanpa ngeliat.
Bayu nggak jawab.
"Gue tau dari ekspresi lu. Dari tadi dahi lu berkerut kayak orang mau ujian." Maya tutup luka dengan plester kecil. "Kita akan cari cara. Ada selalu cara."
"Cara apa? Dia... dia bukan manusia biasa."
"Lu juga bukan manusia biasa."
Bayu menatap Maya. "Maksud lu?"
Maya tersenyum tipis. "Lu mati terus bangkit lagi di tubuh orang lain. Lu punya sistem yang kasih lu kemampuan. Lu... bukan manusia biasa, Bayu."
Bayu menutup matanya.
Tepat saat itu...
Sistem muncul.
**[PERINGATAN KRITIS]**
**[ANALISIS PERTARUNGAN: ANCAMAN TINGKAT SSS TERLALU KUAT UNTUK LEVEL SAAT INI]**
**[PENAWARAN UPGRADE DARURAT]**
**[MODE BERSERKER]**
**[KEKUATAN: NAIK 10 KALI LIPAT]**
**[KECEPATAN: NAIK 8 KALI LIPAT]**
**[DAYA TAHAN: NAIK 15 KALI LIPAT]**
**[EFEK SAMPING: KEHILANGAN KEMANUSIAAN PERMANEN. TIDAK BISA MEMBEDAKAN KAWAN DAN LAWAN. SETELAH AKTIF, TIDAK BISA DINONAKTIFKAN]**
**[APAKAH ANDA INGIN MENGAKTIFKAN?]**
Bayu membaca pesan itu. Perlahan. Kata per kata.
Kehilangan kemanusiaan permanen.
Tidak bisa membedakan kawan dan lawan.
Tidak bisa dinonaktifkan.
Artinya... kalau dia aktifkan mode itu, dia bisa bunuh Sang Penuai. Tapi... dia juga bisa bunuh Maya. Tekong. Wahyu. Sari. Semua orang yang udah ikut dia. Yang udah percaya sama dia.
"Ada apa?" tanya Maya. Dia lihat ekspresi Bayu berubah.
Bayu buka matanya. "Sistem... nawarin upgrade. Tapi..."
"Tapi apa?"
Bayu ceritakan semuanya. Mode berserker. Kekuatan sepuluh kali lipat. Dan efek sampingnya.
Maya mendengarkan. Diam. Lalu wajahnya memutih.
"Jangan."
"Gue tau."
"Bayu. Jangan. Apapun yang terjadi. Jangan aktifkan itu."
"Gue tau, Maya. Gue nggak akan."
Maya menatapnya serius. "Janji?"
Bayu menatap matanya. Mata yang berkaca-kaca. Takut. Bukan takut mati. Tapi takut kehilangan Bayu yang sekarang.
"Janji."
Maya menghembuskan napas panjang.
Bayu balik menatap langit-langit.
**[PILIHAN ANDA?]**
Bayu ketik jawaban di pikirannya.
**[TIDAK]**
**[PERMINTAAN DITOLAK]**
**[SISTEM MENCATAT: PENGGUNA MENOLAK KEKUATAN DENGAN MENGORBANKAN KEMANUSIAAN]**
**[SISTEM MENGHORMATI PILIHAN INI]**
Lalu hening. Sistem menghilang.
Bayu tersenyum tipis. "Sistem... ada hatinya juga ternyata."
***
Pagi hari. Halaman belakang pabrik.
Tekong berdiri di tengah. Dua tongkat besi di tangannya. Wajahnya serius.
Di depannya, Bayu berdiri. Tanpa senjata. Cuma tangan kosong.
"Lu yakin?" tanya Tekong.
"Gue yakin."
"Gue nggak akan kasih ampun. Gue akan pukul lu sekeras gue bisa."
"Itu yang gue mau."
Tekong menatapnya lama. Lalu mengangguk. "Oke. Mulai."
Dia maju cepat. Tongkat kanan ayun ke kepala Bayu.
Bayu hindar. Tapi terlambat sedikit. Tongkat nyerempet pelipis.
"AAHHH!"
Dia mundur. Kepala berdarah sedikit.
"KONSENTRASI!" teriak Tekong. "Lu nggak bisa pake mode pembunuh terus. Itu butuh waktu buat aktif. Sang Penuai nggak akan kasih lu waktu. Lu harus bisa lawan tanpa mode apapun!"
Bayu ngangguk. Napas dalam. Fokus.
Tekong maju lagi. Kali ini dari dua arah. Tongkat kiri. Tongkat kanan. Bergantian. Cepat.
Bayu blok yang pertama. Tapi yang kedua kena rusuknya.
"UGHHH!"
"LAGI!"
Tekong nggak kasih waktu. Terus serang. Terus terus terus.
Bayu jatuh. Bangun. Jatuh lagi. Bangun lagi.
Sampai jam dua belas siang. Bayu udah jatuh puluhan kali. Seluruh tubuhnya lebam baru.
"Istirahat," kata Tekong.
"Lanjut."
"Lu bilang apa?"
"Lanjut. Gue belum capek."
Tekong menatapnya nggak percaya. "Lu bohong. Gue lihat lu hampir nggak bisa berdiri."
"Tapi gue masih berdiri." Bayu menatapnya. "Sang Penuai nggak akan berhenti cuma karena gue minta istirahat. Lanjut."
Tekong diam lama. Matanya berkaca-kaca sedikit. Tapi dia sembunyiin.
"Oke. Kali ini... gue ajarin cara prediksi gerakan lawan."
***
Hari kedua. Lebih parah dari hari pertama.
Tekong ajari Bayu membaca gerakan sebelum terjadi. Dari posisi kaki. Dari arah pandang mata. Dari cara bahu bergerak sebelum tangan ayun.
"Setiap orang punya pola," kata Tekong sambil demonstrasi. "Tubuh selalu kasih petunjuk sebelum bergerak. Lu harus bisa baca itu."
"Tapi Sang Penuai... dia nggak kelihatan punya pola."
"Semua punya pola. Bahkan yang terbaik sekalipun. Lu harus lebih perhatian. Lebih fokus."
Mereka latihan terus. Tekong minta Wahyu dan Sari ikut bergabian jadi sparring partner. Tiga orang serang Bayu bergantian. Nggak kasih napas.
Bayu jatuh. Bangun. Jatuh. Bangun.
Tapi perlahan... dia mulai bisa prediksi.
Wahyu mau tendang kanan, Bayu udah pindah sebelum kaki Wahyu bergerak.
Sari mau tinju ke perut, Bayu udah blok sebelum tangan Sari sampai.
"Bagus," gumam Tekong. "Makin bagus."
Malam hari. Bayu duduk sendiri. Makan nasi bungkus yang beli dari warung jauh. Lauknya cuma tempe goreng dan tahu.
Maya duduk di sampingnya. "Makan."
Bayu makan diam-diam. Pelan.
Maya menatap tangannya yang penuh lebam. Tanpa ngomong apa-apa, dia ambil salep dari kotak obat kecil. Oleskan ke lebam-lebam di tangan Bayu.
Bayu nggak nolak.
"Tekong bilang lu makin bagus," kata Maya pelan.
"Masih jauh."
"Dari nol jadi lumayan itu udah bagus."
"Lumayan nggak cukup buat lawan Sang Penuai."
Maya diam. Lanjut oles salep.
"Bayu..."
"Hmm?"
"Kalau... kalau lu mati..." Maya berhenti sebentar. Napas dalam. "Aku nggak akan bisa maafin diri sendiri."
Bayu menatapnya.
"Sama kayak Kenzo," lanjut Maya. Suaranya bergetar. "Gue kehilangan dia. Tanpa sempet bilang apapun. Tanpa sempet... lakuin apapun."
Air mata keluar. Satu. Lalu dua. Lalu nggak terbendung.
"Gue nggak mau itu kejadian lagi. Gue nggak... gue nggak kuat kehilangan orang yang sama dua kali..."
Bayu menaruh nasi bungkusnya. Menatap Maya yang nangis.
"Maya..."
"Jangan bilang lu nggak akan mati. Karena lu nggak bisa janji itu."
"Gue tau. Tapi..."
"Apa?"
Bayu diam lama. Menatap tangannya yang penuh lebam dan salep.
"Gue akan lakuin yang terbaik. Bukan buat gue. Tapi buat... semua orang yang udah gue tinggalin. Bayu Samudra yang asli. Kenzo. Dan... lu."
Maya mengusap air mata. "Itu bukan jawaban."
"Gue tau."
Mereka diam. Cuma suara malam yang terdengar. Jangkrik. Angin.
Lalu Maya bersandar ke bahu Bayu. Pelan. Ragu-ragu. Seperti nggak yakin boleh atau nggak.
Bayu nggak menjauh.
Dan mereka duduk diam seperti itu. Lama.
***
Hari ketiga. Subuh.
Bayu lari keliling pabrik. Dua puluh putaran. Keringat mengucur deras.
Tekong lari di sampingnya.
"Ceritain soal Sang Penuai," kata Bayu sambil lari. "Cara dia gerak. Cara dia serang."
"Gue cuma liat sebentar sebelum pingsan."
"Ceritain yang sempet lu liat."
Tekong mikir. "Dia... geraknya beda dari petarung biasa. Bukan seperti tinju atau bela diri apapun yang gue kenal. Lebih kayak... dia nemuin gerakan sendiri."
"Artinya nggak ada pola standar."
"Iya. Tapi..." Tekong berhenti berlari.
Bayu ikut berhenti. "Apa?"
"Gue lihat satu hal. Waktu dia pukul lu ke rahang. Sebelum dia gerak... bahu kirinya sedikit naik."
Bayu mengernyit. "Bahu kirinya?"
"Iya. Cuma sedikit. Hampir nggak kelihatan. Tapi ada."
Bayu menatap Tekong. "Itu... itu polanya."
Tekong mengangguk pelan. "Mungkin. Tapi lu harus bisa baca itu dalam sepersekian detik."
"Gue akan latihan sampai bisa."
Dan mereka lanjut lari.
***
Malam ketiga. Bayu duduk sendirian di atap pabrik. Menatap kota yang penuh cahaya.
Tangannya lebih ringan. Gerakannya lebih cepat. Prediksinya lebih tajam.
Masih belum cukup.
Tapi lebih baik dari sebelumnya.
Lalu... sistem muncul.
**[LATIHAN INTENSIF TERDETEKSI]**
**[3 HARI NONSTOP TANPA MENYERAH]**
**[SISTEM MENDETEKSI PERTUMBUHAN SIGNIFIKAN]**
**[PENAWARAN ALTERNATIF UPGRADE]**
**[PREDIKSI GERAKAN TINGKAT 3]**
**[KEMAMPUAN MEMBACA GERAKAN LAWAN 0,3 DETIK SEBELUM TERJADI]**
**[UNTUK MENDAPATKAN: SELESAIKAN MISI SAMPINGAN]**
**[MISI SAMPINGAN: ELIMINASI 50 MUSUH DALAM 24 JAM]**
**[SYARAT: MUSUH HARUS AKTIF MENGANCAM NYAWA ORANG TIDAK BERSALAH]**
**[BATAS WAKTU: DIMULAI KETIKA ANDA SIAP]**
Bayu baca pesan itu berulang.
Prediksi gerakan tigapuluh detik sebelum terjadi. Itu... itu yang dia butuhkan buat lawan Sang Penuai.
Tapi lima puluh musuh dalam dua puluh empat jam.
Bukan cuma musuh sembarangan. Musuh yang aktif mengancam orang tak bersalah. Artinya... penjahat jalanan. Preman. Antek-antek sindikat.
Kota ini penuh orang seperti itu.
Bayu menatap kota yang penuh cahaya di kejauhan.
Lima puluh. Dua puluh empat jam.
Dia tutup matanya. Napas dalam.
"Oke."
Lalu dia ketik jawaban di pikirannya.
**[SIAP]**
**[MISI SAMPINGAN DIMULAI]**
**[WAKTU TERSISA: 23 JAM 59 MENIT 58 DETIK]**
Bayu berdiri. Ambil jaket hitam. Pakai.
Ambil pistol. Cek peluru. Penuh.
Ambil pisau. Pasang di pinggang.
Dia jalan ke tangga turun.
Tapi berhenti sebentar. Menatap langit malam.
"Kenzo... ini buat kita."
Dan malam itu...
Seorang predator turun ke jalanan.
Mencari mangsa.
Bukan untuk kesenangan.
Tapi untuk bertahan hidup.
Untuk menjadi lebih kuat.
Untuk menghadapi monster yang lebih besar.
Dan detak jam terus berjalan.
Dua puluh tiga jam lima puluh sembilan menit.
Waktunya mulai.