NovelToon NovelToon
Pewaris Rahasia Tuan Sagara

Pewaris Rahasia Tuan Sagara

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / One Night Stand / Cintapertama
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: erma _roviko

Satu malam di bawah langit Jakarta yang kelam, Alisha hanya ingin melupakan pengkhianatan yang menghancurkan hatinya. Di sebuah lounge mewah, ia bertemu dengan pria asing yang memiliki tatapan sedalam samudra. Damian Sagara. Tanpa nama, tanpa janji, hanya sebuah pelarian sesaat yang mereka kira akan berakhir saat fajar menyingsing. Namun, fajar itu membawa pergi Alisha bersama rahasia yang mulai tumbuh di rahimnya.

Lima tahun Alisha bersembunyi di kota kecil, membangun tembok tinggi demi melindungi Arka, putra kecilnya yang memiliki kecerdasan tajam dan garis wajah yang terlalu identik dengan sang konglomerat Sagara.

“Seorang Sagara tidak pernah meninggalkan darah dagingnya, Alisha. Dan kau... kau tidak akan pernah bisa lari dariku untuk kedua kalinya.”

Saat masa lalu menuntut pengakuan, apakah Alisha akan menjadi bagian dari keluarga Sagara, atau hanya sekedar ibu dari pewaris yang ingin Damian ambil alih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erma _roviko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

“Lepaskan tanganmu darinya, Clarissa, sebelum aku kehilangan kesabaran untuk bersikap sopan di rumahmu sendiri.” Suara bariton Damian Sagara memotong keriuhan aula galeri seni Aditama layaknya belati tajam. Ia berdiri tegak dengan setelan jas hitam yang memeluk tubuh tegapnya dengan sempurna.

Di sampingnya, Alisha berdiri mematung dalam balutan gaun hitam sederhana yang ia jahit sendiri semalam. Tangannya memegang sebuah map kulit berisi jadwal kegiatan Damian. Statusnya malam ini adalah asisten pribadi, sebuah topeng yang disepakati untuk menghindari pertanyaan media yang terlalu agresif.

Clarissa Aditama menarik tangannya dari lengan Alisha sambil tertawa kecil yang terdengar sangat sinis.

“Aku hanya ingin menyapa asisten barumu yang fenomenal ini, Damian. Tidak perlu bersikap seolah aku akan menelannya hidup-hidup.”

“Sapaanmu lebih terlihat seperti interogasi,” sahut Damian dingin.

Clarissa melangkah mendekati Alisha dengan keanggunan seorang putri konglomerat. Ia mengenakan gaun merah menyala yang sangat kontras dengan kesederhanaan Alisha. Bau parfum melatinya yang tajam memenuhi udara di antara mereka. Clarissa menatap Alisha dengan pandangan yang penuh dengan penghinaan tersembunyi.

“Kudengar kau berasal dari pesisir?” tanya Clarissa dengan nada meremehkan.

“Benar, Nyonya Aditama,” jawab Alisha dengan suara tenang.

“Pasti sangat sulit menyesuaikan diri dari bau amis ikan ke aroma sampanye mahal seperti ini.”

Clarissa menyesap minumannya. “Tapi aku menghargai usahamu untuk tidak terlihat terlalu canggung.”

Clarissa tiba-tiba beralih menggunakan bahasa Prancis dengan aksen yang sangat lancar.

“Quel dommage que Damian choisisse une assistante qui n'a aucune classe. Tu n'es qu'une petite couturière, n'est-ce pas?”

Alisha terdiam. Ia tidak mengerti sepatah kata pun dari kalimat itu. Ia hanya bisa menangkap nada menghina dari cara Clarissa menatapnya. Keheningan itu membuat Clarissa tersenyum penuh kemenangan. Para tamu di sekitar mereka mulai berbisik sambil menatap Alisha dengan rasa kasihan.

“Ah, maafkan aku.” Clarissa tertawa lagi sambil menutup mulutnya. “Aku lupa kalau asisten pribadi sehebat apa pun tetap memiliki keterbatasan latar belakang pendidikan.”

Damian melangkah maju dan melingkarkan tangannya di pinggang Alisha. Tindakan itu sangat tidak lazim bagi seorang bos kepada asistennya di depan publik. Alisha bisa merasakan panas dari telapak tangan Damian yang merengkuh posesif pinggangnya.

Damian menatap Clarissa dengan kilat amarah yang membara di matanya.

"Elle est plus que ce que tu ne seras jamais, Clarissa,” balas Damian dalam bahasa Prancis yang jauh lebih fasih dan tajam. “Et si tu oses encore l'insulter, je retirerai tous mes investissements d'Aditama Gallery ce soir même.”

Wajah Clarissa memucat seketika. Ia tidak menyangka Damian akan membela Alisha sedalam itu, bahkan dengan ancaman bisnis yang sangat nyata. Damian tidak peduli dengan tatapan mata para tamu yang mulai menyadari bahwa hubungan mereka lebih dari sekadar atasan dan bawahan.

“Jangan pernah mencoba memamerkan kelebihanmu hanya untuk menginjak orang lain,” ujar Damian dalam bahasa Indonesia agar semua orang bisa mendengar.

“Alisha tidak perlu bicara banyak bahasa untuk membuktikan nilainya. Cukup satu kata darinya, dan aku bisa menghancurkan apapun yang mengganggunya.”

Damian menarik Alisha lebih rapat ke sisi tubuhnya. Ia mencium pelipis Alisha di depan lampu kilat kamera wartawan yang mulai menyambar. Ini adalah deklarasi kepemilikan yang sangat berisiko.

Alisha merasa jantungnya berdegup sangat kencang. Ia tidak tahu harus senang atau justru takut pada konsekuensi dari tindakan Damian malam ini.

“Ayo pergi dari sini!” bisik Damian tepat di telinga Alisha.

Mereka berjalan membelah kerumunan menuju area balkon yang lebih sepi. Clarissa berdiri terpaku di tengah aula dengan tangan yang mengepal kuat. Harga dirinya sebagai sosialita nomor satu Jakarta baru saja dihancurkan oleh seorang wanita yang ia anggap remeh.

Di lantai atas, Arka duduk disebuah kursi tersembunyi bersama seorang pengawal senior bernama Jimmy.

Damian sengaja membawa Arka namun menyembunyikannya di area privat agar bocah itu tidak terekspos kamera secara langsung. Arka sedang asyik memakan coklat sambil memperhatikan keributan di bawah melalui celah pagar pembatas.

“Nenek sihir itu sangat berisik,” gumam Arka.

“Tuan Muda, tolong jaga bicara Anda,” sahut Jimmy dengan nada memperingat namun lembut.

Arka tidak sengaja menjatuhkan bungkus coklat nya ke bawah. Ia membungkuk untuk mengambilnya tepat saat Clarissa berjalan melewati area di bawah balkon tersebut.

Clarissa berhenti dan mendongak ke atas. Matanya bertemu dengan mata Arka.

Waktu seolah berhenti bagi Clarissa Aditama. Ia menatap wajah bocah itu dengan sangat teliti. Alis yang tegas, bentuk hidung yang mancung, dan cara Arka menatapnya dengan penuh kepercayaan diri yang dingin. Itu bukan wajah anak pungut biasa. Itu adalah replika sempurna dari Damian Sagara saat masih kecil.

“Tunggu,” gumam Clarissa pada dirinya sendiri.

Arka segera menarik kepalanya kembali dan bersembunyi di balik pilar. Namun itu sudah terlambat. Clarissa sudah melihat segalanya. Sebuah kesadaran yang mengerikan mulai merayapi pikiran Clarissa. Selama ini ia mengira Arka hanyalah alat bagi Damian untuk menenangkan para pemegang saham. Namun melihat kemiripan yang begitu identik, ia sadar bahwa Arka adalah darah daging Damian yang sesungguhnya.

“Anak itu.” Clarissa mencengkeram tas tangannya hingga kuku-kukunya memutih. “Dia bukan sekadar pajangan. Dia adalah ancaman yang nyata bagi posisiku.”

Clarissa segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.

“Cari tahu tentang rumah sakit bersalin di pesisir X enam tahun yang lalu. Aku ingin semua catatan medis atas nama Alisha. Sekarang juga!”

Di balkon, Damian masih memegang tangan Alisha. Ia menatap Alisha dengan tatapan yang kini lebih lembut namun tetap protektif.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Damian.

“Aku hanya merasa tidak pantas berada di sini,” jawab Alisha sambil menatap tangannya yang digenggam Damian.

“Dia benar, Damian. Aku tidak tahu bahasa mereka. Aku tidak tahu cara berpura-pura seperti mereka.”

“Aku tidak butuh kau menjadi seperti mereka.” Damian menyentuh dagu Alisha. “Aku membawamu ke sini agar dunia tahu bahwa kau ada di sampingku. Masalah bahasa adalah hal kecil yang bisa kita pelajari nanti. Tapi keberanianmu tetap berdiri di sana tadi, itu yang tidak dimiliki oleh Clarissa.”

“Dia menatap Arka tadi,” ujar Alisha cemas. “Aku melihatnya dari pantulan kaca.”

Damian terdiam. Ia menoleh ke arah balkon atas tempat Arka disembunyikan. Ia tahu bahwa rahasia besar mereka kini sedang berada di ujung tanduk. Clarissa Aditama bukan wanita yang mudah menyerah.

Jika ia sudah mulai mencurigai asal-usul Arka, maka peperangan yang sesungguhnya akan segera dimulai di meja pengadilan dan ruang rapat direksi.

“Aku akan melindunginya, Alisha,” janji Damian. “Aku akan melindungi kalian berdua.”

Alisha menatap langit malam Jakarta yang penuh polusi namun terlihat berkilau dari ketinggian galeri. Ia tahu bahwa perjalanan mereka masih sangat jauh. Mahkota berduri yang dipakaikan Damian padanya kini terasa semakin berat.

Namun melihat bagaimana Damian berdiri untuknya tadi, Alisha mulai merasa bahwa mungkin, hanya mungkin, pria ini benar-benar sedang mencoba menebus kesalahannya di masa lalu.

“Kita harus segera pulang,” kata Alisha. “Perasaanku tidak enak.”

Damian mengangguk. Ia segera memberi isyarat pada Jimmy untuk membawa Arka lewat pintu belakang. Mereka meninggalkan galeri Aditama tepat saat Clarissa mulai mengerahkan seluruh jaringannya untuk membongkar masa lalu Alisha di pesisir.

Di dalam mobil yang melaju membelah malam, Arka bersandar pada ibunya. Ia tidak banyak bicara, namun tangannya memegang erat ujung gaun Alisha. Damian menatap kedua orang itu dari kaca spion tengah. Ia menyadari bahwa mulai malam ini, ia tidak bisa lagi bermain-main dengan rencananya. Ia harus segera meresmikan posisi Alisha sebelum Clarissa menemukan cara untuk menghancurkan mereka semua.

“Damian!” panggil Alisha pelan.

“Ya?”

“Jangan pernah biarkan wanita itu mendekati Arka,” pinta Alisha dengan nada memohon.

“Aku bersumpah, Alisha. Siapa pun yang menyentuh Arka akan berhadapan dengan seluruh kekuatan Sagara,” jawab Damian tegas.

Arka membuka matanya sedikit. Ia menatap ayahnya dari belakang. Di dalam hati kecilnya, ia mulai menyusun rencana cadangannya sendiri. Ia tahu bahwa ayahnya sedang bertarung dengan caranya, namun Arka juga tahu bahwa di dunia digital, ia memiliki kekuatan yang tidak dimiliki oleh Damian maupun Clarissa.

“Aku akan menjaga Ibu dengan caraku sendiri, Ayah,” gumam Arka dalam hati.

Malam itu, kediaman Sagara terasa lebih tegang dari biasanya. Setiap sudut rumah seolah-olah memiliki telinga. Peperangan besar antara dua keluarga konglomerat kini tidak lagi hanya soal bisnis, melainkan soal identitas seorang anak yang akan mengubah garis keturunan Sagara selamanya.

1
Diana_Restu
ceritanya seru sekarang mulai satset ga terlalu muter.makasih author.love sekebon🥰
Ranita Rani
bingung bingung q memikirnya,,,,
Imas Atiah
bacanya bikin deg degan tegang
Lianty Itha Olivia
knp cerita ini semakin dibaca kedlm isinya hya perdebatan yg itu2 saja, seolah mengikuti konferensi meja bundar isinya muter2 spt mejanya
erma _roviko: Gak kok kak, bab 33 udah aman
total 1 replies
tia
sekian bab masih belom tau siapa lawan dn siapa temen 🤭
Sri Muryati
seru banget...😍
Imas Atiah
susah ye nenek lampir
tia
ternyata biang kerok selama ini rania,,,
Imas Atiah
Alisha kamu bilang Damian jng smpe kamu kena jebakan clarisa
Sunaryati
Jangan terjebak dengan Clarissa
Ranita Rani
poseng + tegang
Imas Atiah
damian knp kamu duku tak bertanggungjawab mlh mengawasi dari jauh kirain beneran peduli yah ini sih bikin alisha dan arka membencimu
Diana_Restu
terlalu lama teka tekinya jadi jenuh bacanya soalnya masih blm ada titik terang.konfliknya alot.
erma _roviko: Hehe maaf ya kak, aku koreksi kok
total 1 replies
tia
masih abu abu , siapa teman dan siapa lawan 😭
Bonny Liberty
damang hujan lagi ngomongin cinta tapi lagi kasih tau cara dia melindungi orang yg paling penting dalam hidupnya😒
𝐈𝐬𝐭𝐲
alisha terlalu keras kepala...
Imas Atiah
nurut aja alisha ,damian takut kehilanganmu dan arka
Sunaryati
Ah seperti pertarungan mafia, padahal cuma Clarrisa menginginkannya Damian, namun Damian yang tidak bersedia.
Naufal Affiq
lanjut kak
tia
lanjut Thor udah sabar 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!