Muhammad Zaka Fauzian Azkar. Nama itu tak asing di telinga para santri Pondok Pesantren Al-Hikmah. Gus Azkar, begitu ia akrab disapa, adalah sosok yang disegani, bahkan ditakuti. Pribadinya dingin, irit bicara, dan dikenal sangat galak, baik oleh santri putra maupun putri. Tegas dan disiplin adalah ciri khasnya, tak ada yang berani membantah.
Namun, dinding es yang menyelimuti hati Gus Azkar perlahan retak saat seorang santriwati baru hadir di pondok. Rina, gadis pendiam yang sering menyendiri, menarik perhatiannya. Berbeda dari santri putri lainnya, Rina memiliki dunianya sendiri. Suaranya yang lembut, seperti anak kecil, kontras dengan tingginya yang mungil. Cadar yang menutupi wajahnya menambah misteri pada sosoknya.
Gus Azkar sering mendapati Rina tertidur saat pelajaran fiqih yang ia ampu. Setiap kali ditegur karena tidak mendengarkan penjelasannya, Rina hanya diam, kepalanya menunduk. Jawaban yang selalu sama keluar dari bibirnya yang tertutup cadar, "Maaf Ustadz, saya kan sant
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 25
Gus Azkar menarik Rina ke dalam pelukannya, mengecup kening istrinya dengan penuh sayang. "Iya, Sayang. Cuma ada Mas, kamu, dan suara jangkrik di sawah. Mas juga nggak sabar mau lihat kamu lari-lari di rumah itu tanpa harus pakai cadar atau baju dinas yang... 'kurang bahan' itu," bisik Gus Azkar dengan nada menggoda di akhir kalimatnya.
Wajah Rina kembali memanas. "Mas Azkar mah bahas itu terus!"
"Habisnya, Mas masih terbayang gimana istri Mas yang katanya 'tepos' ini ternyata sangat luar biasa," goda Gus Azkar lagi sambil mulai memijat kaki Rina dengan minyak urut, membuat Rina meringis sekaligus tersipu malu.
"Siapa yang tepos? Wong aku tobrut mas... hahahah! Canda Mas!" celetuk Rina sambil tertawa renyah. Tawanya meledak, menutupi rasa canggungnya yang sedari tadi menyiksa. Ia merasa menang bisa menggoda suaminya yang biasanya sangat jaim dan berwibawa itu.
Namun, tawa Rina perlahan mereda saat ia melihat ekspresi wajah Gus Azkar yang tidak ikut tertawa. Gus Azkar justru menatapnya dengan tatapan yang sangat dalam, intens, dan sedikit menggelap.
"Itu bukan candaan, Sayang... tapi itu fakta," ucap Gus Azkar dengan suara yang rendah dan serak, membuat bulu kuduk Rina seketika meremang.
Rina menelan ludah. "M-mas... aku kan cuma bercanda pakai istilah orang zaman sekarang..."
Gus Azkar meletakkan botol minyak urutnya, lalu ia merangkak naik ke atas kasur, mengunci tubuh Rina di antara kedua lengannya. Jarak wajah mereka kini hanya terpaut beberapa senti. Rina bisa merasakan napas hangat Gus Azkar yang beraroma mint menerpa wajahnya.
"Istilah apa pun yang kamu pakai, Mas yang sudah membuktikannya sendiri semalam, Rina," bisik Gus Azkar dengan nada yang sangat posesif. "Mas tidak butuh pengakuan dari orang lain atau istilah-istilah internet. Mas sudah melihat dan menyentuh sendiri keindahan yang kamu sebut 'candaan' itu. Dan Mas tegaskan sekali lagi... itu nyata. Sangat nyata sampai membuat Mas hampir gila karena ingin lagi."
Wajah Rina yang tadinya ceria karena bercanda, kini berubah menjadi merah padam sampai ke telinga. Ia menyesal telah memancing "harimau" yang baru saja tenang.
"Mas... kaki aku masih sakit," cicit Rina, mencoba mencari alasan untuk menyelamatkan diri dari tatapan lapar suaminya.
Gus Azkar tersenyum miring, senyuman yang jarang diperlihatkan kepada siapa pun kecuali kepada Rina di balik pintu kamar ini. "Kaki kamu yang sakit, tapi bagian tubuh yang lain tidak, kan?" godanya sambil mengusap lembut pipi Rina yang tertutup cadar.
Gus Azkar perlahan membuka ikatan cadar marun Rina, menyingkap wajah cantik yang selama ini menjadi misteri bagi banyak orang namun kini menjadi hak mutlaknya. Ia menatap bibir Rina yang sedikit terbuka karena terkejut.
"Rumah di pojok sawah itu akan sangat tenang nanti, Rina. Tidak akan ada suara santri, tidak ada suara Abah atau Umi. Cuma ada suara kamu yang memanggil nama Mas..." Gus Azkar mendekatkan bibirnya ke telinga Rina. "Jadi, bersiaplah. Karena di sana nanti, Mas tidak akan membiarkan kamu memakai baju yang menutupi keindahan 'fakta' yang kamu banggakan tadi."
Rina hanya bisa memejamkan mata, jantungnya berdegup kencang seperti sedang lari maraton. Ternyata, memiliki suami seorang Gus yang pendiam itu jauh lebih "berbahaya" daripada laki-laki mana pun yang pernah ia temui.