Shen Yi, tabib desa yang bajunya penuh tambalan, berlutut di sampingnya.
Tanpa ragu, ia pegang pergelangan tangan itu
dan racun dingin yang seharusnya membunuh siapa pun... tak menyentuhnya sama sekali.
Wanita itu membuka mata indahnya, suaranya dingin bagai embun pagi
"Beraninya kau menyentuh Dewi Teratai?"
Shen Yi garuk kepala, polos seperti biasa.
"Maaf, Nona Lian'er. Kalau nggak dicek nadi, bisa mati kedinginan.
Ini ramuan penghangat dulu, ya? Gratis kok."
Dia tak tahu...
sentuhannya adalah satu-satunya harapan Lian'er untuk mencairkan kutukan abadi yang menggerogoti tubuhnya.
Dan juga satu-satunya yang bisa menghancurkannya selamanya.
Dari gubuk reyot di lereng gunung terpencil, hingga dunia jianghu penuh darah dan rahasia,
seorang tabib miskin dan dewi teratai terikat oleh takdir yang tak terucap.
Apa yang terjadi ketika manusia biasa jatuh cinta pada dewi yang terlarang disentuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Angin yang Membawa Harapan
Shen Yi baru saja menyelesaikan akupunktur pada seorang anak laki-laki di aula timur ketika suara langkah kaki cepat terdengar dari koridor. Pintu aula terbuka dengan keras—bukan karena marah, tapi karena tergesa. Seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tiga tahun melangkah masuk dengan napas tersengal. Jubah biru tua mudanya sedikit berdebu perjalanan, rambut hitamnya diikat tinggi dengan pita sederhana, dan di punggungnya tergantung kotak kayu panjang yang tampak berisi alat-alat medis.
Raden Arya mengikuti di belakangnya, wajahnya penuh campuran lega dan kewaspadaan. “Tabib Shen, Nona Lian… ini Lin Qingzhu. Dia datang dari Kota Yanjing atas undangan pribadiku setelah aku kirim surat darurat ke perguruan tabib di sana. Dia… spesialis penyakit dingin misterius.”
Lin Qingzhu membungkuk hormat, gerakannya cepat tapi sopan. Matanya tajam, tapi ada kehangatan di sudutnya—seperti orang yang sudah terbiasa menghadapi kematian tapi tak pernah menyerah.
“Tabib Shen Yi, Nona Lian… nama saya Lin Qingzhu. Aku mendengar kabar wabah bintik hitam ini dari murid perguruan. Aku datang secepat mungkin. Maaf terlambat dua hari—jalan dari Yanjing penuh pos pemeriksaan karena rumor wabah.”
Shen Yi bangkit, membungkuk balik. “Terima kasih sudah datang, Tabib Lin. Kami sangat membutuhkan bantuan. Pasien sudah hampir seratus orang, dan gejala semakin parah. Bintik hitam menyebar ke paru-paru, beberapa mulai batuk darah hitam.”
Lin Qingzhu langsung mendekati pasien terdekat—seorang wanita paruh baya yang sudah tak sadar. Dia memegang pergelangan tangan wanita itu, mata tertutup sejenak membaca nadi. Lalu dia membuka kotak kayu di punggungnya—di dalam ada jarum perak yang lebih halus dari milik Shen Yi, beberapa botol kecil berlabel tinta merah, dan gulungan kain berisi resep kuno.
“Nadi dingin ekstrem di meridian Taiyin dan Shaoyin,” kata Lin Qingzhu cepat. “Ini bukan racun biasa. Ada energi dingin yang menempel seperti parasit. Mirip ‘Han Gui Bing’ yang pernah tercatat di kitab kuno Yanjing—penyakit dingin hantu yang meresap lewat air atau udara lembab.”
Lian'er mendekat. “Han Gui Bing? Apa itu?”
Lin Qingzhu mengangguk. “Penyakit langka yang muncul setiap beberapa ratus tahun. Dinginnya bukan dari alam, tapi seperti ada ‘hantu dingin’ yang hidup di dalam tubuh. Bintik hitam adalah tanda hantu itu mulai menguasai meridian. Kalau tak dibersihkan, dalam tujuh hari tubuh akan membeku dari dalam.”
Shen Yi menatap bintik hitam di tangan Lian'er yang mulai merambat lagi. “Apa obatnya?”
Lin Qingzhu membuka salah satu botol kecil—cairan merah gelap berbau pedas dan hangat. “Ini ‘Yang Huo Dan’—pil api matahari. Dibuat dari akar api gunung, jahe liar seratus tahun, dan inti teratai merah dari pegunungan selatan. Satu pil bisa bakar dingin di meridian selama tiga hari. Tapi ini hanya tahan, bukan sembuh total. Untuk sembuh, kita harus temukan sumber dingin itu dan hancurkan.”
Shen Yi mengangguk. “Kami sudah temukan sumber di saluran pasar ikan. Ada genangan air hitam pekat dari botol pecah. Tapi itu cuma pecahan. Sumber utamanya mungkin lebih dalam.”
Lin Qingzhu mengeluarkan gulungan kain dari kotaknya. Dia membukanya—gambar diagram meridian dan titik akupunktur kuno, ditambah catatan tangan dengan tinta pudar.
“Aku punya catatan dari guru ku tentang Han Gui Bing. Sumbernya selalu ada ‘inti dingin’—sebuah benda atau tempat yang menyimpan energi dingin murni. Bisa batu es hitam, bisa gua dingin, atau… sisa artefak dari masa lalu. Kalau kita temukan inti itu dan hancurkan dengan Yang Huo Dan atau teratai murni, wabah ini akan berhenti.”
Lian'er memandang diagram itu. “Kami punya Air Teratai Murni dari pulau. Masih ada sedikit di botol Shen Yi. Mungkin bisa dipakai untuk hancurkan inti.”
Lin Qingzhu mengangguk. “Bagus. Tapi kita harus cepat. Kalau inti dingin semakin kuat, dinginnya akan menembus ramuan kita.”
Shen Yi menatap pasien di aula. “Kita bagi tugas. Aku dan Lian'er lanjut rawat pasien di aula. Tabib Lin, kau dan Raden Arya periksa hulu sungai lagi. Cari tanda-tanda inti dingin—gua kecil, batu aneh, atau genangan yang tak wajar.”
Lin Qingzhu mengangguk. “Baik. Aku bawa Yang Huo Dan untuk pasien kritis. Satu pil per orang. Ini akan tahan sampai kita temukan inti.”
Raden Arya mengangguk. “Aku ikut Tabib Lin. Aku kenal bukit itu. Ada gua kecil di belakang mata air—jarang orang masuk karena dinginnya luar biasa.”
Mereka berpisah. Shen Yi dan Lian'er kembali ke pasien. Aula timur sekarang seperti rumah sakit darurat—ranjang tambahan dari tikar dan selimut dibuat, aroma ramuan dan darah hitam bercampur.
Shen Yi mulai akupunktur pada pasien yang batuk darah hitam. Jarum peraknya masuk ke titik Shaoshang dan Shangyang—titik paru-paru utama. Pasien tersentak, lalu batuknya berkurang. Lian'er oles Yang Huo Dan dari Lin Qingzhu di dada pasien—cairan merah itu berbau pedas, membuat kulit pasien memerah hangat.
Beberapa pasien membaik. Tapi satu anak perempuan kecil di sudut aula tiba-tiba berhenti bernapas. Lian'er berlari ke sana, mencoba CPR, tapi sudah terlambat.
Shen Yi berlutut di samping anak itu. “Dia… terlambat.”
Ibu anak itu menjerit. “Anakku! Karena kalian lambat! Karena kalian tutup kota!”
Beberapa keluarga pasien lain mulai bergumam. “Benar… kalau gerbang dibuka, mungkin anakku bisa ke tabib lain.”
Shen Yi menatap ibu itu. “Maaf. Aku tak bisa selamatkan semua. Tapi aku janji—aku akan coba selamatkan yang masih bisa. Biarkan aku rawat anak-anak lain.”
Ibu itu menangis tersedu, tapi akhirnya mengangguk. Shen Yi melanjutkan akupunktur pada pasien berikutnya.
Di luar, Raden Arya dan Lin Qingzhu kembali dari bukit dengan wajah tegang.
“Kami temukan gua kecil di belakang mata air,” kata Lin Qingzhu. “Di dalam ada batu hitam besar—seperti inti es hitam. Dinginnya luar biasa. Saat kami dekati, batu itu bergetar seperti hidup. Itu sumbernya.”
Raden Arya menambahkan. “Tapi gua itu dijaga. Ada orang-orang berjubah abu-abu—mungkin anak buah paman ayahanda. Mereka bilang batu itu ‘obat mujarab’ dari luar kota. Mereka sebarkan air dari batu itu ke pasar untuk ‘obati’ penyakit.”
Shen Yi mengepal tangan. “Mereka sebarkan penyakit untuk untung. Obat palsu dari batu es hitam itu malah mempercepat wabah.”
Lian'er bangkit pelan, wajahnya pucat tapi tekadnya kuat. “Kita harus hancurkan batu itu. Malam ini juga.”
Shen Yi memandang Lian'er. “Kau masih sakit. Biar aku dan Tabib Lin yang pergi.”
Lian'er menggeleng. “Aku ikut. Aku yang paling paham energi teratai. Kita butuh kekuatan murni untuk hancurkan inti dingin itu.”
Raden Arya mengangguk. “Aku akan siapkan pasukan kecil. Kita gerak malam ini. Sebelum paman ayahanda tahu.”
Shen Yi memandang aula penuh pasien. “Kita harus cepat. Kalau batu itu tak hancur, wabah ini tak akan berhenti.”
Mereka mulai persiapan. Lin Qingzhu menyiapkan Yang Huo Dan tambahan. Shen Yi mengemas jarum dan ramuan. Lian'er mempersiapkan daun teratai kering untuk serangan energi murni.
Malam itu, saat kota mulai tidur di bawah karantina, kelompok kecil itu bergerak diam-diam menuju bukit belakang. Angin malam semakin dingin, seperti tahu bahwa pertarungan terakhir akan segera dimulai.
Di aula timur, pasien masih batuk dan mengigau. Di luar gerbang, massa mulai berkumpul lagi—kali ini lebih terorganisir, dipimpin paman bupati.
Wabah tak bernama itu semakin bernapas—dan malam ini, nasib kota akan ditentukan di gua dingin di belakang mata air.