NovelToon NovelToon
Pengasuh Tiga Kembar Mesum

Pengasuh Tiga Kembar Mesum

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Karena Taruhan / Bad Boy / Cinta pada Pandangan Pertama / Harem / Enemy to Lovers / Nikah Kontrak
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria callista

Qiara adalah anak yatim piatu yang selalu dimanfaatkan oleh pamannya. Hidupnya begitu menderita. Bahkan dirinya juga disuruh bekerja menjadi pelayan tiga badboy kembar yang akhirnya menjamah dirinya. Hidupnya penuh penderitaan, sejak ke dua orang tuanya meninggal. Dia harus bekerja mencukupi kebutuhannya. Namun akhirnya, ketiga kembar kaya raya itu jatuh cinta pada Qiara. Bahkan saling berebut untuk mendapatkan cintanya? Siapakah dari pada kembar yang bisa bersama dengan Qiara? Apakah Nolan? Apakah Natan? Apakah Noah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 16.

Hatinya terasa bercampur aduk; bahagia karena ternyata tidak ada bahaya yang mengancam Dila, namun bingung dengan kejadian yang tak terduga ini. Pertanyaan-pertanyaan bermunculan di kepala Noah: "Apakah ini cara Dila menguji keseriusanku padanya? Bagaimana seharusnya aku menanggapi situasi ini? Aku tidak ingin mengecewakan hatinya, tapi aku juga takut melangkah terlalu jauh sebelum waktunya."

Melihat Noah yang mematung, Dila berinsiatif untuk memeluk pacarnya itu.

"Dila, tolong jaga sikapmu. Jangan rendahkan harga dirimu seperti ini!" tegur Noah, yang berusaha keras menahan hasratnya.

Dila terus berusaha menggoda Noah dengan lekuk tubuhnya tanpa terselubung kain apapun. Noah berusaha memalingkan pandangannya, namun bagaimanapun dia adalah pria normal yang tentu saja tergoda oleh aksi pacarnya.

"Noah, aku sangat cemburu dengan gadis bernama Qiara itu. Aku ingin menjadi satu-satunya perempuan di hatimu, dan membuatmu terpenuhi oleh bayang-bayang ku, sehingga kamu tak akan pernah meninggalkan aku," ujar Dila dengan nada manja.

Noah menghela napas kasar, "jadi kamu cemburu pada Qiara?" pikirnya dalam hati, mencoba mencerna situasi ini.

"Dia itu sepupu kami bertiga. Aku tidak mungkin menduakan mu," jawab Noah, terpaksa berbohong demi menjaga hati Dila yang rapuh.

Tentu saja, cintanya pada Dila murni. Noah ingin menjaga kepercayaan pacarnya hingga ke jenjang pernikahan nanti. Dia tak ingin merusak hubungan yang sudah terjalin indah ini, hanya karena salah paham yang timbul dari rasa cemburu Dila. Meski terpaksa berbohong, Noah berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan tetap setia pada Dila, apa pun yang terjadi.

Sekarang malah gantian Dila yang mematung seraya berpikir keras.

"Bukankah kata Kinara para kembar tidak memiliki saudara di negeri ini. Saudara-saudara mereka tinggal di luar negeri karena tidak cocok dengan iklim negeri ini," gumam Dila dalam hatinya.

Noah lantas mengambil handuk yang ada di sisi ranjang. Lalu memakaikan handuk itu pada Dila.

"Tolong jangan lakukan ini lagi! Bagaimana pun dan juga apapun yang terjadi, aku pasti akan setia padamu. Aku benar-benar tidak ingin kamu merendahkan harga dirimu itu, Dil," ucap Noah serius.

Dila melihat keseriusan di wajah Noah dan merasa ragu.

"Kalau sampai kamu mengkhianati hubungan kita, apa konsekuensinya?" tanya Dila, tak kalah serius, bahkan tatapan nya tajam bak elang.

Intuisi dalam hati Dila berkata bahwa ada sesuatu yang Noah sembunyikan terkait Qiara.

Noah nampak gelagapan, wajahnya pucat dan penuh ketakutan.

Dila sedang menerka apa yang mungkin ada dalam pikiran Noah saat itu. Apakah dia akan jujur atau tetap berusaha menyembunyikan rahasia yang tersembunyi di balik hubungannya dengan Qiara?

Hati Dila mulai mempertanyakan apakah dirinya telah cukup berjuang untuk hubungan mereka dan apakah cintanya akan cukup kuat untuk menghadapi rahasia ini.

***

*

Malam telah tiba, dan Qiara terlihat duduk di atas brangkas di rumah sakit, tampak celingukan sendirian.

Perasaan bingung mendera dirinya. Rumah sakit telah mengizinkannya untuk pulang, namun ia tidak tahu bagaimana cara menghubungi si kembar.

Ponsel yang ada di tangannya pun mati, karena baterai telah habis. Melirik jam dinding di depannya, Qiara menyadari bahwa sudah hampir pukul sebelas malam.

"Kenapa bisa seperti ini? Bagaimana aku bisa menghubungi mereka jika ponselku mati?" keluh Qiara dalam hati, menahan hembusan nafas yang kasar.

Suasana rumah sakit yang hening membuatnya merasa semakin gelisah. Tak lama kemudian, seorang suster menghampirinya dan bertanya, "Kenapa belum pulang juga? Maaf, bukan maksud ingin mengusir. Namun, brangkas ini akan digunakan oleh pasien lain yang masuk. Mengingat keadaanmu sudah benar-benar membaik."

Qiara merasa terjepit; di satu sisi, ia ingin tetap berada di rumah sakit hingga berhasil menghubungi si kembar, namun di sisi lain, ia menyadari bahwa dirinya tidak boleh egois.

Aku harus memikirkan pasien lain yang membutuhkan perawatan di rumah sakit ini, pikir Qiara.

Mengingat rumah sakit ini memang sedang penuh, ia akhirnya mengambil keputusan untuk segera meninggalkan ruang inap kelas 3C itu.

Dalam hati, Qiara berharap semoga saja ia bisa menemukan cara untuk menghubungi si kembar secepatnya. Mengingat rumah sakit ini selalu ramai akan pasien.

Qiara segera mengumpulkan sisa-sisa barang yang terselamatkan setelah kecelakaan.

Sementara itu, Angga telah didatangi oleh keluarganya, yang meminta ia dirawat di kelas yang lebih baik.

Berjalan turun dari brankas dan keluar ruangan, Qiara merasa bingung.

"Seingat ku, bukankah tadi Nolan berjanji akan datang ke sini, untuk menunggu aku malam ini sebelum dia pamit pulang?" gumam Qiara, mencoba mengendalikan perasaannya.

Di koridor rumah sakit yang sunyi, bulu kuduk Qiara berdiri, rasa takut mulai menguasai pikirannya. Ia merasa kesepian, sedangkan Nolan, seseorang yang seharusnya menemaninya saat-saat seperti ini, seolah-olah melupakan janjinya.

Nolan, yang sebenarnya masih berada di rumah sakit yang sama dengan Qiara, ternyata sedang menemani pacarnya Kinara.

Kinara, yang baru saja menjalani kemoterapi, merasa sulit tidur, dan tidak ingin Nolan meninggalkannya. Tanpa disadari, ia lupa akan janjinya pada Qiara dan juga lupa untuk menghubungi saudara kembarnya agar datang menemui Qiara.

Qiara tak bisa menyembunyikan rasa kecewanya. Dia berpikir keras, mencoba mencari alasan mengapa Nolan tidak datang atau setidaknya memberi kabar. Apakah Nolan melupakan janjinya tadi? Mungkinkah Nolan sengaja mengabaikan ku karena alasan yang tidak jelas?

Saat sedang berpikir, tiba tiba ada sesuatu yang lewat di samping Qiara.

***

"Kinara, sekarang sudah pukul sembilan malam, kenapa kamu belum tidur juga?" tegur Nolan. Dirinya benar-benar bingung ketika bayang-bayang Qiara muncul di benaknya. Hatinya merasa tak tenang, membuatnya makin penasaran.

Akhirnya, Nolan teringat akan janjinya pada Qiara, yang akan menemani Qiara yang dirawat di rumah sakit malam ini. Qiara mengungkapkan rasa takutnya pada hantu yang membuatnya tak bisa tidur.

"Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu, Nolan," jawab Kinara mengelak.

"Tapi ini sudah larut malam, Kinara, sangat tidak baik kalau kamu bergadang, apalagi kamu baru saja menjalani kemoterapi," ujar Nolan mencoba menasehati Kinara.

Nolan merasa khawatir akan kondisi Kinara, ia ingin memastikan Kinara istirahat dengan baik.

"Nolan, sekarang aku setuju untuk balikan lagi sama kamu. Dan aku meminta mu, untuk menemani ku malam ini. Aku sangat membutuhkan teman," ucap Kinara sembari melirik pengasuhnya yang berdiri di samping brankasnya.

Di saat seperti itu, Kinara merasa memerlukan dukungan dan kehangatan dari orang yang Nolan mantan pacarnya itu, apalagi Nolan benar benar mau menerima keadaannya, bahkan begitu peduli dengan dirinya.

Pengasuh yang bernama Asih itu nampak menganggukkan kepalanya, sebagai tanda mengerti akan maksud majikannya. Ia pun terlihat berjalan mundur ke arah pintu ruang inap dan pergi meninggalkan Kinara dan Nolan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!