Mereka pikir, bercerai adalah pilihan terbaik untuk mengakhiri pernikahan yang terasa jauh dan hambar tanpa rasa. Namun siapa menyangka, Jika setelah pahit perceraian justru terbitlah madunya pernikahan... rasa rindu yang berkepanjangan, kehilangan, rasa saling membutuhkan, dan manisnya cinta?
Sweet after divorce...manis setelah berpisah.
"Setelah berpisah, kamu jadi terlihat menawan dimataku."
"Setelah berpisah, kamu jadi manis terhadapku."
"Mau rujuk?"
.
.
.
Cover by Pinterest and Canva
Dear pembaca, bijaklah memilih bacaan. Jika hanya ingin mampir dan tidak berniat membaca sampai akhir, maka jangan berani membuka ya 🤗 kecuali kalau sudah tamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 I catch you
Dan usaha Ganesha tidak hanya sampai disitu. Desti dan anak-anak Imaginary bahkan sampai dibuat gemas sendiri dengan aksi duda keren satu itu.
...Biarkan aku, jadi sesuatu yang berarti untukmu tapi tidak sesaat...
...-Ganesha -...
Satu buket bunga berisi bunga Anyelir merah, lili, mawar dan lavender terangkai cantik siang ini dikirim oleh kurir florist dan mendarat di Imaginary khusus untuk janda-nya.
Bahkan Anye tak bisa meredakan keriuhan yang kembali bergema di belakangnya setelah sempat hening sejenak.
"Ihh, apa-apaan sih, kaya ABG tau ngga!" Anye menggerutu menghempas pan tatnya di kursi dan menaruh kasar buket bunga di meja dengan perasaan malu, salah tingkah dan----belum pernah ia rasakan perasaan begini, marah dan jengkel tapi bibirnya tak bisa menutupi rasa geli di hati, Anye tertawa renyah sendiri, "astaga..."
Ia merasa usahanya mengganti nomor dan WhatsApp nya sia-sia saja, toh Ganesha masih bisa mengejarnya begini. Meski hal itu tak menggoyahkan Anye untuk segera memberitahu Ganesha tentang kondisi Anye yang kini mengandung janin darinya. Untuk saat ini, Anye rasa itu belum mau. Sikap Ganesha ini bisa jadi besok lusa berubah kembali, Anye tak mau.
Bahkan sampai di detik ini belum ada keinginannya untuk kembali, rasa trauma dan pengalaman kemarin mengajarkannya untuk berpikir ulang, ia akan menepi dan akan tetap menepi, yeahhh! Karena itu yang mereka butuhkan saat ini seandainya nanti mereka akan kembali bersama.
Esoknya, apa yang dilakukan Ganesha masih tetap sama, merecoki hidup Anye. Meski sikap Anye masih sama sewotnya.
Bahkan siang ini, ia datang ke Imaginary bersama Yahya. Desti yang tak sengaja ingin keluar makan melihat kedatangan mereka dan langsung berlari kembali, tepatnya ke ruangan Anye.
"Bu, ada pak Ganesha sama mas Yahya di depan..." ujarnya panik, Anye tak bisa untuk tak ikut panik, "ck, bilangin saya lagi ngga di tempat. Lagi pergi! Koordinasi yang lain!" Anye berdiri dari tempatnya untuk mengecek di balik jendelanya ke arah luar.
"Oke!" Desti berbalik, tapi tak lama ia kembali saat Anye heboh mencari tempat sembunyi.
"Bu, tapi kan mobil ibu di luar..."
Anye menepuk jidatnya, "ish iya lagi." Ia menggigit kuku jarinya, "kalo lagi gini tuh berasa pengen manggil Gatot kaca buat mindahin mobil. bilang aja saya jalan sama temen jadi ngga bawa mobil." Jawab Anye masih mencari tempat bersembunyi, yang akhirnya ia temukan kolong mejanya sendiri.
Desti kembali mengokei dan keluar. Astagaaa! Lana yang tengah bersiul hendak mencari makan di jam istirahat ini justru sudah bertemu, "pak..."
"Mas Lana," sapa Yahya berjabat tangan hangat sementara pada Ganesha ia mengangguk sopan.
"Anye ada?" tanya Ganesha to the point.
Lana justru mengangguk, "Bu Anye di dalem."
Dan Desti menyeru dari dalam, "bang Lanaaaa! Bu Anye ngga ada!" ia bahkan menggeleng sejak dari kejauhan, wajah Desti itu patut dicurigai, "Bu Anye keluar tadi."
"Lah, itu mobilnya ada." Santai Lana menunjuk ke arah mobil Anye yang memang terparkir di depan dengan manisnya.
Ingin sekali Desti menggeprek tangan dan kaki rekannya itu, "ibu tadi dijemput temennya, jadi ngga pake mobil."
"Oh.." Lana ber-oh ria.
Ganesha hanya mengangkat alisnya sebelah, saling menatap dengan Yahya.
"Pak Ganesha, mau ketemu ibu kan? Tapi ibu ngga ada, pak." Senyum Desti yang dibuat-buat sesantai mungkin, padahal ia sudah menyeka keringat di dahinya mendadak gerah.
Ganesha menggeleng, "saya mau ketemu kamu." Seolah tak memberikan ketenangan sedetik saja untuk Desti.
"Saya pak?" dengan mata yang sudah membeliak Desti syok lahir batin, "mau apa? Urusan kerjaan? Kan lancar..." cerocosnya.
Ganesha melihat ke arah Yahya yang paham improvisasinya, bukan tak tau, sejak awal saja sikap mencurigakan Desti itu sudah terlihat bagi Ganesha.
"Ada hal yang harus dibicarakan, apa ngga mau dikasih masuk dulu?" tanya Yahya akhirnya membuat Desti mau tak mau membawa mereka masuk.
Diantara kubikel rekan-rekan yang sebagiannya kosong sebab jam istirahat makan siang, Desti masih harus disibukan menyembunyikan atasannya itu dari godaan setan yang terkutuk bernama Ganesha. Poor Desti.
Desti menahan Ganesha di lounge, "oke disini saja pak."
Namun Ganesha justru mencebik, "ini tempat terbuka, yang benar saja...kita rapat tentang pekerjaan, resiko tinggi. Bukannya Imaginary punya tempat rapat untuk menerima klien besar seperti saya?"
Mental Desti memang ampas kacang kedelai, baru mendengar suara datar yang terkesan mencecar seperti itu dari Ganesha saja membuat otaknya langsung blank.
"Ada pak, di dekat ruangan saya...tapi----"
Jangan sebut Ganesha jika ia tak songong, ia nyelonong masuk dan lumayan sudah tau juga seluk beluk ruang kantor Imaginary.
"Pak," susul Desti ia sudah mele nguh berat mengikuti langkah cepat Ganesha masuk ke ruang rapat Imaginary yang berhadapan dengan meja Desti serta bersebelahan dengan ruangan Anyelir. Tak perlu dipersilahkan dan dibukakan pintu oleh tuan rumah, ia sudah membukanya sendiri.
Awalnya Ganesha masuk ke dalam bersama Yahya, tapi setelah Desti masuk dan kelabakan membawa laptop, sikap mencurigakannya itu semakin terlihat Ganesha.
"Saya ke toilet dulu lah...toiletnya masih sama kan?" ketika Desti membuka laptop dan hendak menjelaskan pada kedua tamu tak diundangnya itu.
"Pak..."
Jelas ia sedang tak ingin menunggu jawaban Desti, sebab Ganesha sudah beranjak.
Desti mele nguh pasrah, dan Yahya menyadari itu, ia tertawa di kursinya sambil memutar-mutar kursi tempatnya duduk, "udah...duduk aja anteng. Kamu keliatan capek tuh bohongnya. Biarin aja mereka main kucing-kucingan. Ngga usah ikut-ikutan...cukup liatin aja dari jauh, yang penting nanti ngga jatoh pas lari, biar ngga diomelin ibunya..." ujar Yahya.
"Mas Yahya aku capek lah!" Desti merengek lelah dan memilih duduk frustasi di kursi sebrang Yahya, membiarkan begitu saja Ganesha yang justru masuk ke ruangan Anyelir, bodoh sekali tak sempat dikunci saking paniknya dengan kedatangan Ganesha.
Ceklek
Anye melotot dan menutup mulutnya dengan sebelah tangan mendengar pintu ruangannya terbuka. Ia waspada dari tempatnya, gerakan Anye menarik tangan dan merapat itu, jelas langsung ternotice oleh Ganesha yang menyeringai, sebab....posisi awal tangannya itu terlihat dari celah di bawah meja kerja Anye. Gerakan sekecil apapun di ruangan yang hening, sunyi, tak berpenghuni dan terang ini tentu saja akan langsung disadari.
Kena kamu...
Tanpa bicara apapun Ganesha melangkah mengeksplore ruangan sang mantan istri berusaha meladeni permainan Anye terlebih dahulu.
"Hm, udah ngga ada foto saya ya disini...." lirih Ganesha melangkah lebih dekat lagi.
Anye sudah menunduk di tempatnya duduk menekuk lutut meski kini ia tak bisa merapat sebab perutnya mulai merasakan sesuatu mengganjal.
"Wah, segitu niatnya kamu, Nye...padahal sebagian dari diri kamu masih ada di apartemen saya."
Ganesha mengayunkan langkahnya ke arah jendela tepat di samping meja kerja Anye, lalu meraih sesuatu yang menggantung disana, "dream catcher..." jedanya, Anye dapat melihat bayangan Ganesha yang menghadap ke arah jendela dari sinar matahari yang tembus ke arah lantai dan kursinya.
"Di kantor? Kamu sering tidur di kantor, sayang? Kenapa ngga ke apartemen saya aja?" oceh Ganesha lagi.
Anye menggigit bibirnya dan memejamkan mata. Hingga akhirnya bunyi langkah teratur nan sengaja dipelankan dari sepatu pantofel itu semakin mendekat ke arahnya.
Seiring dengan degupan jantung Anye yang semakin kencang itu, tangan Ganesha terulur menggeser kursi kebesaran Anye perlahan dengan senyuman yang tak bisa tersungging lebih geli lagi.
Huft...degupan jantung Anye berhenti mendadak ketika itu benar-benar terjadi.
Gerakan roda kursi yang berputar menggeser dan bayangan hitam yang kini berubah jadi sosok nyata, aroma maskulin woody itu langsung menyeruak, ia berjongkok menggantikan posisi kursi menatap ke arahnya, "i catch you....oke. Kamu yang jaga sekarang..."
Anye terpaksa mendongak melihat seseorang yang sudah duduk bersila di depannya sambil menyunggingkan senyum tipis dan mendengus geli.
.
.
.
.
.
.
dahlah mw nyemangatin bang Ganesh buat berjuang ngeyakinin Anye bahwa dia tuh pantas dan mw merubah sifat jeleknya buat Anye... moga Anye nerima
cinta di tolak fitnah bertindak