NovelToon NovelToon
Mahar Penebus Dosa Ayah

Mahar Penebus Dosa Ayah

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Perjodohan / Nikahmuda / Balas Dendam
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Ayah, kenapa Nin dipakaikan baju pengantin? Nin kan besok mau ujian matematika..."

Kalimat polos Anindya (10 tahun) menjadi pisau yang menyayat hati Rahardian. Demi melunasi hutang nyawa dan harta pada keluarga kaya di kota, Rahardian terpaksa menjual masa depan putri tunggalnya.

Anindya dibawa pergi, meninggalkan bangku sekolah demi sebuah pernikahan dini yang tidak ia pahami.

Di rumah mewah Tuan Wijaya, Anindya bukanlah seorang menantu. Ia adalah pelayan, samsak kemarahan ibu mertua, dan mainan bagi suaminya yang sombong, Satria.

Namun, di balik tangisnya setiap malam, Anindya menyimpan sebuah janji. Ia akan terus belajar meski tanpa buku, dan ia akan bangkit meski kakinya dirantai tradisi.

Ini adalah kisah tentang seorang bocah yang dipaksa dewasa oleh keadaan, dan perjuangannya untuk kembali menjemput martabat yang telah digadaikan ayahnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Harta di Tempat Sampah

Bab 5: Harta di Tempat Sampah

Matahari sudah naik sepenggalah, menyengat tengkuk Anindya yang sedang berjongkok di samping sumur belakang. Di depannya, dua ember besar berisi tumpukan baju kotor milik keluarga Wijaya tampak seperti gunung yang mustahil untuk didaki. Tangan kecilnya sudah mulai mengeriput karena terlalu lama terendam air sabun yang keras, dan sela-sela jarinya terasa perih luar biasa.

"Satu... dua... tiga..." Anindya menghitung helai demi helai pakaian yang ia kucek.

Ia mencoba menghibur dirinya sendiri dengan menghitung, sebuah kebiasaan yang ia bawa dari bangku sekolah. Namun, setiap kali ia melihat kemeja sekolah Satria yang putih bersih, hatinya kembali mencelos. Satria sedang duduk di kelas sekarang, mungkin sedang mendengarkan penjelasan guru tentang perkalian, sementara ia di sini, bergelut dengan noda lumpur dan bau keringat.

"Anindya! Jangan cuma dikucek, disikat yang bersih! Kalau sampai ada noda di baju Tuan Wijaya, kau tidak akan dapat jatah makan siang!" teriak Nyonya Lastri dari jendela lantai dua, lalu menutup gordennya dengan kasar.

Anindya menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju. Ia merasa sangat haus, tapi ia takut meninggalkan pekerjaannya hanya untuk mengambil minum di dapur. Tiba-tiba, pandangannya tertuju pada sebuah kantong plastik hitam besar yang tergeletak di dekat bak sampah, tak jauh dari sumur. Kantong itu tampak penuh dan sedikit terbuka.

Rasa penasaran anak kecilnya muncul. Dengan hati-hati, ia mendekati kantong itu. Ia mengira isinya hanya sisa makanan atau sampah dapur. Namun, saat ia mengintip ke dalam, jantungnya berdegup kencang.

Di sana, di antara kertas-kertas bekas dan bungkus camilan, terselip sebuah buku dengan sampul berwarna biru. Anindya menarik buku itu keluar dengan tangan gemetar.

Buku Kerja Matematika Kelas 5 SD.

Itu adalah buku milik Satria. Tampaknya Satria baru saja mendapatkan buku baru dan membuang buku lamanya karena ada beberapa halaman yang sedikit robek atau mungkin karena ia malas mengerjakannya. Bagi Satria, itu hanyalah sampah. Tapi bagi Anindya, buku itu adalah harta karun yang lebih berharga daripada kalung emas yang dipakai Nyonya Lastri.

Anindya mendekap buku itu di dadanya. Matanya berbinar-binar. "Buku..." bisiknya lirih.

Ia membuka halaman pertama dengan sangat hati-hati, takut tangan basahnya akan merusak kertas itu. Di sana ada coretan tangan Satria yang berantakan, mencoba menjawab soal pembagian. Anindya membaca soal itu dalam hati. 72 dibagi 8 sama dengan... "Sembilan," jawab Anindya otomatis. Ia tersenyum tipis. Ternyata ia belum lupa. Otaknya masih tajam meskipun fisiknya sedang dihancurkan oleh pekerjaan kasar.

Namun, kegembiraannya tidak bertahan lama. Ia mendengar suara langkah kaki mendekat. Dengan sigap, Anindya menyembunyikan buku itu di bawah tumpukan baju kotor di dalam ember. Ia segera kembali berjongkok dan berlagak sibuk menyikat baju saat Mbok Sum muncul membawa sebuah poci air.

"Ini, Nak. Minum dulu," Mbok Sum memberikan gelas berisi air teh hangat. "Mbok lihat dari tadi kamu belum berhenti. Nyonya memang keterlaluan, anak sekecil kamu disuruh mencuci baju satu rumah."

Anindya menerima gelas itu dan meminumnya dengan rakus. "Terima kasih, Mbok."

Mbok Sum menatap Anindya dengan tatapan iba. "Kenapa mukamu kotor begitu? Ada noda tinta di pipimu."

Anindya tersentak. Ia pasti terkena tinta dari buku tadi. "Oh... ini... mungkin tadi kena baju Satria yang ada pulpennya, Mbok," bohong Anindya. Ia belum berani jujur bahkan pada Mbok Sum sekalipun. Ia tahu di rumah ini, memiliki keinginan untuk pintar adalah sebuah kesalahan besar.

Setelah Mbok Sum pergi, Anindya kembali menatap embernya. Ia tidak bisa berhenti memikirkan buku itu. Di dalam kepalanya, sebuah rencana mulai terbentuk. Ia tidak boleh membiarkan buku itu dibuang ke truk sampah.

Sore harinya, setelah semua cucian selesai dijemur dan badannya terasa pegal seolah akan remuk, Anindya membawa buku itu secara sembunyi-sembunyi ke kamarnya yang sempit. Ia menyembunyikannya di bawah kasur tipisnya, tepat di samping boneka kain pemberian Ayahnya.

Malam itu, saat seluruh penghuni rumah sudah terlelap dalam kemewahan mereka, Anindya tidak tidur. Di bawah cahaya lampu kuning yang redup, ia mengeluarkan buku itu. Ia tidak punya pensil lagi, jadi ia menggunakan sepotong lidi kecil yang ia celupkan ke sisa arang dari dapur untuk menulis di pinggiran kertas yang kosong.

Ia mulai belajar. Ia membaca setiap instruksi, setiap soal, dan setiap penjelasan di buku itu dengan penuh dahaga. Air matanya menetes mengenai kertas, membuat noda arangnya sedikit luntur.

"Aku akan belajar, Ayah," bisiknya pada kegelapan. "Nin tidak akan jadi orang bodoh. Nin akan pintar, supaya nanti Nin bisa bawa Ayah pergi dari sini."

Tanpa ia sadari, di dalam kamar pengap di bawah tangga itu, api perlawanan mulai menyala di hati kecil Anindya. Ia memang dipaksa menjadi istri, ia memang dipaksa menjadi pelayan, tapi ia menolak untuk membiarkan otaknya ikut terbelenggu.

Buku bekas yang dibuang Satria menjadi jembatan pertama Anindya menuju masa depan yang belum ia ketahui. Di luar sana, angin malam berhembus dingin, namun di dalam hati Anindya, ada sebuah tekad yang mulai membara. Ia tahu, mulai malam ini, tidurnya tidak akan lagi hanya diisi oleh ketakutan, melainkan oleh rumus-rumus dan angka yang akan menjadi senjatanya suatu hari nanti.

Ia menutup buku itu saat mendengar suara jam berdentang dua belas kali. Ia harus bangun empat jam lagi untuk mulai bekerja. Namun, meskipun matanya sangat lelah, ada senyum tipis di bibirnya sebelum ia jatuh tertidur sambil memeluk buku matematika bekas itu—harta paling berharga yang pernah ia miliki di istana berduri ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!