NovelToon NovelToon
Mawar Di Jalan Bunga

Mawar Di Jalan Bunga

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Lari Saat Hamil / Beda Usia
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Meymei

Di usia delapan belas tahun, saat gadis-gadis seusianya sibuk mengejar mimpi dan bangku perkuliahan, Gisella Amanda memilih jalan yang tak lazim: menjadi istri Arlan Bramantyo sekaligus ibu tiri bagi Keira Zivanna.
Baginya, Arlan bukan sekadar suami, melainkan pelindung dan tempatnya pulang. Namun, angan-angan tentang rumah tangga yang hangat perlahan luruh. Gisel justru terjebak dalam perang dingin melawan bayang-bayang masa lalu dan tumpukan kesalahpahaman yang tak kunjung usai.

Tanpa pamit, Gisel melangkah pergi membawa luka yang menganga. Ia mengubur identitas gadis ceria yang dulu dicintai Arlan, lalu membangun dinding kokoh di hatinya.
Kini, mampukah Arlan mengejar jejak yang sengaja dihilangkan? Dan ketika maaf terucap, apakah ia masih sanggup meruntuhkan dinding yang telah Gisel bangun dengan rasa kecewa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tinta Hukum dan Desis Predator

Di sebuah kantor notaris yang kaku dan berbau kertas tua, Arlan dan Gisel duduk bersisian. Di tangan mereka masing-masing, terselip sebuah buku kecil berwarna cokelat dan hijau, bukti legalitas yang baru saja mereka tanda tangani.

Keduanya terdiam, tenggelam dalam lautan pikiran yang berbeda. Arlan menatap buku itu sebagai perisai, sementara Gisel menatapnya sebagai belenggu yang menyelamatkannya.

Rey, sahabat sekaligus pengacara yang mengurus dokumen itu, bersandar di meja kerjanya. Matanya yang tajam mengamati interaksi atau lebih tepatnya, ketiadaan interaksi di antara keduanya. Rey tahu Arlan menyembunyikan sesuatu yang besar.

Pernikahan ini terlalu mendadak, terlalu sunyi, dan pengantin wanitanya terlalu muda. Namun, ia cukup tahu diri untuk tidak mengorek luka sahabatnya.

“Gisel,” Rey memecah keheningan, mencoba mencairkan suasana.

“Apa yang sebenarnya kamu lihat dari Arlan? Dia ini pria paling kaku dan membosankan yang pernah aku kenal.”

Arlan langsung melirik tajam, namun Rey hanya membalasnya dengan seringai jahil.

“Om Arlan... dia baik,” jawab Gisel polos, nyaris berbisik.

“Om?”

Rey tersentak, lalu sedetik kemudian tawa terbahak-bahaknya meledak memenuhi ruangan. Ia memegangi perutnya, menganggap panggilan itu sebagai lelucon paling lucu tahun ini.

“Baru kali ini aku mendengar seorang istri memanggil suaminya dengan sebutan 'Om'. Arlan, kamu benar-benar terlihat seperti penculik anak!”

Tawa Rey baru berhenti saat ia melihat Gisel menatapnya dengan raut bingung dan canggung. Ia berdeham, mencoba kembali serius walau sudut bibirnya masih berkedut.

“Begini, Umur kalian memang terpaut jauh, tapi demi martabat Arlan di depan publik, sebaiknya kalian mengubah nama panggilan. Panggilan 'Om' itu sangat tidak cocok untuk pasangan suami istri. Terasa... ilegal,” ejek Rey lagi.

Arlan dan Gisel saling menatap. Selama ini Arlan tidak pernah mempermasalahkan panggilan itu. Ia ingin Gisel merasa nyaman, ingin memberikan waktu bagi gadis itu untuk beradaptasi dengan status barunya tanpa tekanan.

Namun, bagi Gisel, sebutan 'Om' adalah satu-satunya dinding pertahanan yang membuatnya merasa bahwa pernikahan ini hanyalah kesepakatan formal, bukan penyatuan hati yang menakutkan.

“Lalu... aku harus panggil apa?” tanya Gisel, suaranya terdengar sangat jujur hingga membuat Rey gemas.

“Mas, Abang, Suamiku, atau Sa—”

“Jangan dengarkan dia!” Arlan dengan cepat membekap mulut Rey sebelum sahabatnya itu mengucapkan kata 'Sayang' atau hal memalukan lainnya.

“Dasar kaku! Aku hanya menyarankan, apa salahnya?” protes Rey yang berhasil melepaskan diri sambil merapikan jasnya yang kusut.

“Mama…” suara kecil Keira memecah perdebatan konyol itu.

Bocah itu menarik-narik ujung baju Gisel, wajahnya menunjukkan kebosanan yang nyata.

“Sepertinya urusan panggilan bisa menunggu,” ucap Arlan sembari berdiri.

“Aku harus membawa mereka pulang sekarang. Terima kasih, Rey. Aku berutang padamu.”

Mobil SUV Arlan membelah jalanan Kota Fauna yang tertib. Mereka tidak langsung pulang. Arlan singgah di sebuah pusat perbelanjaan kelas atas.

Ia ingin memastikan Gisel memiliki segalanya: pakaian yang layak, kebutuhan pribadi, hingga buku-buku sekolah. Ia juga membelikan Keira sebuah puzzle baru sebagai hadiah karena telah menjadi anak yang sangat penurut selama proses birokrasi yang membosankan tadi.

Hari-hari berikutnya berlalu dengan ritme yang teratur, seolah-olah teror pesan singkat dan kotak misterius itu hanyalah mimpi buruk yang lewat. Arlan menjadi sangat protektif; ia mengantar dan menjemput Gisel tepat waktu di sekolah barunya.

Keira, yang biasanya sulit dekat dengan orang asing, kini menjadi pengikut setia Arlan ke kantor. Anak itu menunggu dengan tenang di ruang kerja ayahnya, asyik dengan mainannya, asalkan ia tahu Gisel akan menunggunya di sekolah saat menjemput nanti.

Setiap malam, sesuai janji, Rey datang ke rumah Arlan. Namun kali ini bukan sebagai pengacara, melainkan sebagai instruktur bela diri. Di halaman belakang yang tertutup, Arlan berlatih dengan keras.

Ia ingin tangannya cukup kuat untuk memukul balik siapa pun yang berani menyentuh keluarganya. Semuanya tampak berjalan lancar, namun di balik ketenangan itu, badai besar sedang bersiap menerjang dari arah Jalan Bunga.

Di Jalan Bunga, udara terasa lebih berat dan menyesakkan. Aldi Sanjaya, sang predator yang selama ini bersembunyi di balik bayang-bayang, secara terang-terangan mendatangi rumah Om Arman. Kehadirannya membawa aura dingin yang sanggup membuat preman bertubuh tegap sekalipun menunduk ketakutan.

“Arman,” Aldi berbicara dengan nada santai sembari duduk di kursi kayu ruang tamu yang reyot.

“Pernikahan itu hanya sebatas kertas. Tinta bisa dihapus, dan janji bisa dibatalkan. Apa yang membuatmu begitu yakin menyerahkan Gisel kepada bankir kaku itu?”

“Setidaknya, di tangannya, Gisel akan dimuliakan. Dia bukan lagi mawar yang kamu petik untuk kamu injak-injak.” Jawab Om Arman dengan tangan terkepal kuat.

“Belum tentu. Kekayaan bankir itu tidak ada apa-apanya dibandingkan denganku. Kekuasaannya bahkan tidak layak untuk aku sebutkan dalam daftar musuhku. Dia hanya orang biasa yang bermain aman di dunia yang bersih.”

“Persetan dengan kekayaan dan kekuasaanmu jika itu hanya digunakan untuk menghancurkan hidup seorang gadis kecil,” jawab Om Arman tanpa gentar.

“Lebih baik kamu kembali ke lubangmu dan berbuatlah sedikit kebaikan sebelum Tuhan menjemputmu.”

Aldi tertawa pelan, tawa yang terdengar seperti gesekan pisau. Ia berdiri, merapikan kemeja mahalnya yang tidak kusut sedikit pun. Sorot matanya mendadak tajam, seolah sedang menguliti jiwa Arman.

“Jalan Bunga ini ada karena Sanjaya memberi izin. Sepertinya, penguasa jalanan ini sudah terlalu tua dan perlu diganti.”

Itu adalah ancaman terbuka. Aldi melangkah keluar dengan angkuh, meninggalkan Om Arman dalam keheningan yang mencekam.

Om Arman tahu, ia mungkin akan kehilangan segalanya: wilayahnya, bisnis kafenya, bahkan nyawanya. Namun, ia tidak takut. Ia rela melepaskan Jalan Bunga dan lebih memilih menjadi tukang bangunan atau kuli panggul sekalipun, asalkan Gisel aman. Hanya satu yang mengusik jiwanya: apakah Gisel benar-benar baik-baik saja?

Om Arman merogoh ponselnya. Ia melihat aplikasi pesan singkatnya. Di sana tertera nama Gisel dengan status 'Baru saja aktif'. Jemarinya gemetar di atas layar. Ia ingin mengetik sebuah pesan, menanyakan kabarnya, atau sekadar meminta maaf karena telah menyeretnya ke dalam pernikahan ini.

Namun, rasa bersalah yang teramat dalam membekukan jemarinya. Ia terlalu takut menghadapi kenyataan bahwa keponakannya mungkin membenci dirinya selamanya.

Dengan helaan napas berat, Om Arman memasukkan kembali ponselnya ke saku. Ia tidak tahu bahwa di bagian lain Kota Fauna, Gisel pun sedang menatap layar ponsel yang sama, menunggu sebuah kabar dari satu-satunya keluarga yang ia miliki, meski keluarga itu telah melukainya sedemikian rupa.

Di antara mereka, ada dinding sunyi yang dibangun oleh rasa bersalah dan kerinduan yang tak tersampaikan.

1
Ai Umana sari
ikan cucut, Lanjut🌻
Suci Maulana
bagus banget plisss update truss😍😍😍
Meymei: diusahakan up 1 bab setiap hari kak 🙏🥰
total 1 replies
snow Dzero
selamat menjalankan ibadah puasa
snow Dzero
bagus dan menarik
snow Dzero
semangat Thor cerita nya bagus
snow Dzero
awalan cerita yang menarik,semoga penulisan dan karakter setiap peran konsisten 💪
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Meymei: belum sanggup kek nya kak 🤭
total 1 replies
indy
Rumit juga masa lalu Arlan. Ternyata Keira bukan anaknya Arlan.
indy
sempat bingung kakak😄
Meymei: maaf ya kak🤭entahlah ini sistemnya 😅
total 1 replies
dini Risayatmi
assalamualaikum kak,
maaf kak,
kayaknya bab nya terbalik ya🙏🙏
Meymei: iya kak, maaf ya saya revisi 🙏
total 1 replies
indy
wah nggantung😄
indy
kasihan gisel
Meymei: iya kak, author jg gak tega
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjut thor...
𝐈𝐬𝐭𝐲
fakta bgt emang kalo yg ekonominya bagus selalu di bela tanpa memilah dlu mana yg benar mana yg salah
𝐈𝐬𝐭𝐲
aku mampir thor...
indy
hadir kakak..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!