Liora merasa dunianya runtuh dalam semalam. Baginya, Raka adalah pelabuhan terakhir, dan Salsa adalah rumah tempatnya bercerita. Namun kini, kenyataan pahit menghantamnya tanpa ampun; dua orang yang paling ia percayai justru menusuknya dari belakang dengan cara yang paling hina. Kepercayaan yang ia jaga setinggi langit, kini hancur berkeping-keping di bawah kaki tunangan dan sahabatnya sendiri.
Liora tidak pernah menyangka bahwa prinsip yang ia pegang teguh untuk menjaga kehormatan di depan Raka, justru menjadi celah bagi Salsa untuk masuk dan mengambil alih segalanya. Bagai sebuah ironi, Liora memberikan kasih sayang yang tulus, namun dibalas dengan perselingkuhan yang dilakukan tepat di belakang punggungnya.
Apakah Liora akan tetap diam dan pura-pura tidak tau atau ia akan membalaskan dendamnya kepada kedua manusia yang telah mengkhianatinya...
Penasaran ayok ikuti kisah selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Percikan kemarahan
Liora melangkah menuju mobil dengan ekspresi yang tetap tenang, sementara Raka berjalan di sampingnya. Namun, tepat sebelum mereka sampai di samping kendaraan, secara tak terduga Raka meraih jemari Liora dan menggenggamnya dengan sangat erat.
Liora tersentak kecil. Sentuhan itu terasa asing dan mendadak. "Kenapa dengan laki-laki ini?" batin Liora bingung. Ia merasakan kegelisahan dalam genggaman Raka, seolah pria itu sedang mencoba membuktikan sesuatu—atau mungkin, sedang berusaha menenangkan egonya sendiri setelah melihat kedekatan Liora dengan Kevandra di meja makan tadi.
Tanpa melepaskan pandangannya dari Liora, Raka membukakan pintu mobil bagian depan dengan gerakan yang sangat manis dan protektif. Ia bersikap seolah Liora adalah permata yang sangat ia hargai.
Tingkah manis Raka tidak luput dari pandangan Salsa. Di ambang pintu rumah, Salsa yang sedang mengantar Kevandra ke depan tertegun. Matanya memicing tajam, menatap tangan Raka yang masih menyentuh pundak Liora sebelum tunangannya itu masuk ke dalam mobil.
Dada Salsa bergemuruh hebat. Rasa memiliki yang egois mulai membakar logikanya. Semalam Raka adalah miliknya, memujanya di bawah selimut dosa. Namun pagi ini, di depan matanya sendiri, Raka bersikap seolah Liora-lah satu-satunya wanita di hidup pria itu.
Salsa meremas jemarinya sendiri, berusaha mempertahankan senyum palsu di samping Kevandra, sementara hatinya berteriak tak terima. Ia tidak tahu mana yang lebih menyakitkan: bisikan ancaman Liora tadi, atau pemandangan manis Raka yang kini perlahan mulai menjauh dari pandangannya.
Liora yang sudah duduk di dalam mobil melirik melalui spion. Ia melihat wajah Salsa yang mengeras karena cemburu. Senyum tipis kembali tersungging di bibirnya.
"Rasakan itu, Salsa. Ini baru permulaan." bisik Liora dalam hati.
Mobil melaju membelah ramainya hiruk pikuk kota, namun di dalam kabin, keheningan yang menyesakkan menyelimuti mereka. Raka fokus pada kemudi dengan rahang yang mengeras, hingga akhirnya suara pria itu memecah kesunyian dengan nada yang dingin dan datar.
"Sejak kapan kamu dekat dengan Kevandra?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja, terdapat akan kecurigaan yang tertahan.
"Sejak kapan, ya?" Liora menjawab dengan nada santai. Ia tampak menimbang-nimbang sambil menggerakkan jari telunjuknya di dagu, seolah sedang mengingat-ingat hal yang sepele. "Mungkin sejak semalam, saat Salsa salah paham padaku."
Liora menoleh ke arah Raka, menatap pria itu dengan tatapan pura-pura polos. "Memangnya kenapa, Rak?"
"Tidak. Hanya bertanya saja." sahut Raka singkat, meski matanya menatap lurus ke jalanan dengan sorot mata yang tidak senang.
Liora terkekeh tipis, suara tawanya terdengar merdu namun menusuk. "Apakah kamu mempermasalahkannya? Aku saja tidak keberatan melihat kamu begitu dekat dengan Salsa."
Kalimat itu seketika membuat suasana di dalam mobil semakin dingin. Raka terdiam, jemarinya mencengkeram kemudi lebih erat hingga buku-buku jarinya memutih. Sindiran Liora telak mengenai sasarannya, membuat Raka tidak mampu berkutik karena takut rahasianya terbongkar.
Liora membuang muka ke arah jendela, menyembunyikan senyum kemenangannya. Ia tahu Raka sedang gelisah, dan ia sangat menikmati setiap detik ketidak nyamanan pria di sampingnya itu.
Sementara di sisi lain setelah bayangan mobil Raka dan Liora menghilang di tikungan jalan, Kevandra berbalik menatap istrinya dengan datar.
"Aku berangkat ke kantor dulu. Mungkin hari ini aku pulang terlambat." ucap Kevandra dingin, tanpa ada niat untuk mengecup dahi atau sekadar menyentuh tangan Salsa.
"Iya, Mas. Mungkin aku juga akan berjalan-jalan setelah ini untuk mencari udara segar." jawab Salsa, berusaha mempertahankan nada suara yang lembut meski hatinya bergejolak. Kevandra hanya mengangguk singkat, tanda ia mengerti, lalu masuk ke dalam mobilnya dan melaju pergi.
Begitu mobil Kevandra benar-benar hilang dari pandangan, pertahanan Salsa seketika runtuh. Wajahnya yang semula tampak manis berubah menjadi sangat mengerikan karena kemarahan yang meluap.
PRANG!
Salsa menepis kuat sebuah vas bunga kristal yang ada di teras rumah hingga hancur berkeping-keping di atas lantai sampai pecahan kaca itu berserakan. Napasnya memburu, matanya memerah menahan geram.
"Sialan! Apa-apaan perlakuan Raka tadi? Apakah dia melupakan semua janji manisnya semalam?!" geram Salsa rendah. Hatinya perih melihat Raka begitu memanjakan Liora tepat di depan matanya.
Lalu, bisikan Liora kembali terngiang di kepalanya, menghantam kesadarannya seperti gada besi. "Ternyata menyukai milik orang lain tidak buruk juga, Sa..."
Salsa mencengkeram kepalanya sendiri. "Dan bisikan Liora... apakah dia tahu sesuatu? Tidak, dia tidak boleh tahu! Ini belum saatnya!"
Salsa menatap ke arah gerbang dengan pandangan penuh kebencian. "Aku belum puas melihatmu menderita, Liora. Aku akan mendapatkan apa pun yang kamu miliki, termasuk tunanganmu, martabatmu, dan semua pria yang mendekatimu. Aku tidak akan membiarkanmu menang."
Salsa tidak menyadari bahwa saat ia berteriak dalam emosinya, Bi Ratih yang sedang menyapu di dalam hanya bisa terpaku ketakutan di balik pintu, mendengar setiap kata yang meluncur dari mulut nyonya mudanya itu.
"Ya ampun... apa yang barusan saya dengar?" bisik Bi Ratih pelan, tangannya gemetar memegang gagang sapu.
Jantungnya berdegup kencang karena ketakutan sekaligus rasa tidak percaya. Selama ini ia tahu Nyonya mudanya itu memang agak keras kepala, tapi mendengar umpatan dan niat jahat yang keluar dari mulut Salsa benar-benar membuatnya merinding.
"Kasihan sekali Tuan Kevandra harus menikah dengan wanita seperti itu." batin Bi Ratih dengan perasaan iba yang mendalam. Di matanya, Kevandra adalah pria baik yang tidak pantas dikhianati dan dibenci sedalam itu oleh istrinya sendiri.
Cepat-cepat Bi Ratih berbalik dan bergegas pergi menjauh dari area teras. Ia melangkah dengan sangat hati-hati, berusaha tidak menimbulkan suara sekecil apa pun. Ia tidak ingin sampai Salsa menyadari kehadirannya dan mengetahui bahwa semua umpatan serta kemarahan itu telah bocor ke telinganya. Jika Salsa tahu, posisinya sebagai pekerja di rumah ini pasti akan terancam.
Namun, di dalam hatinya, Bi Ratih mencatat satu hal: rumah mewah ini sedang menyimpan rahasia besar yang sangat busuk, dan ia baru saja mencium baunya.
Salsa bergegas masuk ke dalam kamarnya dan langsung membanting pintu dengan keras. Ia menguncinya dari dalam, seolah-olah dengan begitu ia bisa mengunci semua rahasia busuk yang mulai mencuat ke permukaan.
"Aku tidak akan membiarkanmu bahagia, Liora. Tidak akan pernah." desis Salsa dengan suara yang bergetar karena kebencian yang mendalam.
Salsa mulai menyusun rencana di kepalanya. Jika Liora ingin bermain api dengan mendekati Kevandra, maka Salsa akan memastikan Liora terbakar oleh api itu sendiri. Ia tidak peduli lagi pada persahabatan mereka yang sudah hancur, yang ia pedulikan hanyalah bagaimana cara menjatuhkan Liora ke titik terendah, tepat di bawah kakinya.
kentang banget ini 😭
cepet banget dia bersimpati dan ada tanda peduli lebih
kalau posisinya dibalik dia pun berpotensi selingkuh juga kaya Raka hadehhh...
ku tak jadi kibarkan bendera hijau
padahal sempet simpati sama dia ni 😏
bahaya ga jadi green flag