Bagas, seorang petani yang hidup di desa. Walaupun seorang pertani, dia mempunyai keuangan yang stabil. Bahkan bisa di katakan dia dan keluarga termasuk orang berada.
Namun, uang bukan segalanya. Buktinya, walaupun banyak uang dia tidak bisa menikah dengan pacar yang sudah menemaninya sejak delapan tahun terakhir.
Kenapa begitu?
Dan alasan apa yang membuat mereka tidak menyatu ...
Yuk, ikuti kisah Bagas ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muliana95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyesalan Selalu Datang Terlambat
Terhitung, sudah satu minggu Safira tinggal di rumah mertuanya. Selama itu pula, dia merasa nyaman dan aman berada disana.
Hayati, bukan mertua yang membenci menantunya. Dia bahkan melarang Safira untuk mencuci bajunya.
Dia beralasan jika merawatnya bukan kewajiban Safira, melainkan kewajiban Bagas, anaknya.
Sehari-hari, Safira hanya membantu Bagas untuk memberikan makan ternak-ternaknya. Selebih itu, dia diam menemani Hayati di rumah.
Rasa bosan kerap datang. Karena Safira terbiasa sibuk, bukan hanya duduk diam.
"Nak, ibu mau beli bahan-bahan dapur, mau ikut?" ajak Hayati, ketika Safira menjemur pakaiannya.
"Dimana bu? Biar aku aja," ujar Safira, sembari menjemur pakaian terakhirnya.
"Jangan, kita pergi berdua. Sekalian, ibu mau jalan-jalan, dan mengenalkanmu pada orang-orang,"
Safira mengangguk, dia pun izin untuk menyimpan ember ke dalam, lebih dulu.
Kini, Safira dan Hayati lagi berbelanja kebutuhan dapur di salah satu warung, yang tak jauh dari rumahnya.
Melihat Hayati, yang di gandeng Safira, orang-orang langsung heboh.
"Sayang mantu, sayang mantu ..." kekeh pemilik warung menyambut kedatangan keduanya.
"Mantu, sama dengan anak sendiri. Ya disayang lah, bu ..." balas Hayati, lembut.
Safira sendiri hanya tersenyum. Namun, diam-diam dia berharap, jika mertuanya akan bersikap seperti ini, untuk selamanya.
"Jadi, udah mulai menetap disini nak?" tanya pemilik warung.
"Iya bu," balas Safira singkat.
Kini, ia mulai memilih bawang merah, untuk di belinya.
"Ya, kamu juga punya saudara perempuan lain kan? Mendingan kamu disini aja, nanti kamarmu yang disana, bisa digunakan untuk mereka," celetuk adik Hesti.
"Eh, ada Lilis ... Kapan pulangnya?" tanya Hayati, menyapa adik Hesti yang bernama Lilis.
Lilis mendengus, tak berniat untuk menanggapi sapaan Hayati.
"Jangan di hiraukan, nak," bisik Hayati pada Safira.
Setelah belanjaannya cukup, keduanya pulang, masih dengan jalan kaki. Sesekali, Hayati menyapa orang-orang yang berlalu-lalang, ataupun ketika melewati rumah-rumah orang.
"Orang disini, baik-baik ya bu," kata Safira basa-basi.
"Iya, mereka semua ramah, dan juga baik," balas Hayati, dengan tangan sebelahnya, masih di gandeng Safira.
"Itu ada tukang ikan, kita kesana yuk bu," Safira menarik tangan Hayati.
"Eh ..." Hayati hendak menolak, namun Safira keburu menariknya.
"Eh-eh ... Ada mertua sama mantu disini," ujar Hesti mencibir.
"Mau beli ikan bu?" tanya tukang ikan, basa-basi.
"Iya, mau ikan apa nak?" Hayati malah bertanya pada Safira.
"Tongkol sama mujair bang, udangnya juga," sahut Safira mulai memilih-milih ikan, untuk dimasukin plastik. "Masing-masing satu kg ya bang," sambung Safira.
"Heleh-heleh ... Kayak gak pernah makan ikan aja, masa beli sebanyak ini," cibir Hesti, menyembunyikan plastik ikan yang di tentengnya.
Kenapa sampai disembunyikan? Ya, tentu saja karena di kandung malu. Sebab, dia hanya membeli setengah kg udang.
"Tak apa, biar bisa di simpan untuk besok bu," Safira menaggapi dengan senyuman.
"Mau masak apa Fira? Kok beli banyak sekali ikannya," tanya seorang wanita, yang juga sedang memilih ikan.
"Mau masak mujair asam pedas bu," balas Safira cengengesan.
"Wah, makan enak lah, bu Hayati," sambung wanita itu lagi.
"Iya, masakan Safira memang enak ... Mungkin, karena ibunya tukang masak, jadi diwariskan untuknya," balas Hayati, mengelus pelan punggung Safira.
"Hati-hati, nanti dijadikan pembantu gratissss," sinis Hesti, sengaja menekan dan memperpanjang kata gratis.
Baik Hayati dan Safira hanya bisa geleng-geleng kepala. Karena jika menanggapi, mereka takut Hesti malah semakin merasa di ladeni.
Setelah membayar uang, keduanya pun melangkah pergi. Karena selain gak mau terlibat cek-cok dengan Hesti, Safira juga beralasan ingin masak, untuk sang suami.
"Ibu, yang pakai daster merah itu, siapa sih bu?"
"Namanya Hesti. Mending kita menjauhinya aja," balas Hayati, singkat.
"Kenapa bu Hesti, kayak gak menyukai kita ya bu," Safira masih penasaran.
"Hanya dia yang tahu nak!" balas Hayati, karena tidak mungkin, dia menceritakan yang sebenarnya.
Dan Hayati juga berharap, bahwa Safira gak akan pernah tahu tentang masa lalu, Bagas dengan Nadia.
✨✨✨
Di teras rumah, Nadia baru saja beristirahat setelah menyapu halamannya. Matanya, menangkap sesuatu yang menyesakkan dada.
Hayati, di gandeng erat oleh menantunya. Bahkan, hubungan keduanya, terlihat sangat akrab.
Iri? Tentu saja, karena posisi itu ialah impiannya.
Diam-diam dia hanya berdoa, berharap keajaiban menghampirinya. Semoga dia dan Bagas, tetap berjodoh, walaupun di lain masa.
Bukan, meminta mereka bercerai. Ataupun meminta Safira meninggal. Tapi, bukan Allah pasti punya rencana yang indah? Barang kali, ada keajaiban, baik Bagas atau Safira, sama-sama memintanya untuk jadi istri kedua.
Karena bagaimana pun, jadi istri kedua, jauh lebih baik, dari pada hanya menatap kemesraan mereka saja.
"Bu, minta uang ... Hari ini, aku mau ketemu teman semasa kuliah dulu," Nadia mengukurkan tangannya.
Hesti mendengus, kemudian dia mengeluarkan uang pecahan sepulu ribu, lima lembar.
"Kamu nikah aja sana, biar gak nyusahin orang tua,"
"Aku memang mau nikah bu, tapi jika lelakinya bang Bagas," ungkap Nadia, tersenyum miring.
"Dia suami orang tolot," bentak Hesti, melempari batang kangkung yang sedang di potong-potongnya.
"Tapi, sebelum itu, dia pacarku. Pacar yang pernah melamarku, tapi gak kalian restui," balas Nadia berani.
"Kamu!" Hesti menunjuk Nadia dengan pisau.
Bukannya takut, Nadia malah semakin menantang. Apalagi, bayangan, dimana Safira dengan Hayati tadi, kembali terbayang.
"Kenapa sih kalian ribut-ribut," Anwar yang muncul dari pintu belakang bertanya dengan heran.
Lelaki yang baru saja, pulang dari sawah, meletakkan botol minumnya, dimeja.
"Tanyakan sama anak gadismu," balas Hesti sewot.
"Kenapa lagi sih, Nadia?"
"Aku hanya mengungkap kebenaran, jika sebelum bang Bagas jadi istri orang, dia itu pacarku, eh ibu malah marah," sahut Nadia jujur.
"Apa sih yang kamu lihat darinya?" tanya Hesti, dengan nada naik satu oktaf. "Kamu seharusnya bersyukur, tidak menikah dengannya. Kalo nggak, kamu mau, merawat orang tuanya yang sakit-sakitan itu?" sembung Hesti lagi.
"Tapi, ibu juga lihat kan! Apa yang di pakai istrinya? Bahkan, aku yang di teras pun, bisa melihat jari dan tangannya, di penuhi emas," balas Nadia, mencibir.
Hesti dan Anwar saling pandang.
"Aku yakin ibu melihatnya kan? Bahkan, ibu sendiri, gak pernah tuh, memakai gelang sebesar yang dipakai oleh istri bang Bagas," sambung Nadia, menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Nadia, cukup! Kamu sudah keterlaluan," bentak Anwar geram.
Melihat ayahnya murka, Nadia mengangkat bahu, dan berlalu pergi.
Ketika pintu kamar Nadia tertutup. Anwar langsung menarik kursi di samping Hesti.
"Benar apa yang Nadia katakan? Istrinya memakai emas?" tanya Anwar penasaran.
Karena sejak Safira berada di kampung, dia belum sekalipun berpapasan dengan wanita itu.
Hesti mengangguk, namun sedetik kemudian tubuh Anwar langsung melemah.
"Bukan hanya gelang, aku juga melihat cincin, di jarinya. Dua," papar Hesti, seraya membuat tanda dengan dua jarinya.
Anwar menelan ludah, karena dia menyadari sesuatu.
"Sepertinya keputusan kita waktu itu salah," lirihnya, dengan lemah. Bahkan, terpaksa tubuhnya di sandarkan di kursi.
Ahaiii, udah mulai menyesal, kah?
kebiasaan ih