NovelToon NovelToon
Kisah Nyata- Suamiku Berubah Setelah Kaya

Kisah Nyata- Suamiku Berubah Setelah Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Pihak Ketiga / Pelakor jahat / Wanita Karir / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Ia dulu berdoa agar suaminya kaya.
Ia tak pernah membayangkan doa itu justru menjadi awal kehancuran rumah tangganya.

Naura menikah dengan Zidan saat mereka hanya punya cinta, iman, dan sepiring nasi sederhana. Mereka menangis bersama di sajadah lusuh, bermimpi tentang hidup yang lebih layak. Ketika Allah mengabulkan, Zidan berubah. Kekayaan menjadikannya asing. Ibadah ditinggalkan, wanita lain berdatangan, tangan yang dulu melindungi kini menyakiti.

Naura dibuang. Dihina. Dilupakan.

Bertahun-tahun kemudian, Naura bangkit sebagai wanita kuat. Sementara Zidan kehilangan segalanya.

Saat Zidan kembali dengan penyesalan dan permohonan, satu pertanyaan menggantung:

Masih adakah pintu yang terbuka…
atau semua telah tertutup selamanya?

Dan ini adalah kisah nyata.

(±120 kata)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: Keputusan Pindah Rumah

#

Dua minggu setelah terima uang dua ratus sepuluh juta, Zidan dan Naura duduk di kontrakan sambil ngobrol serius. Faris lagi tidur siang di boks.

"Mas, kita harus mulai mikirin mau pake uang ini buat apa," kata Naura sambil nyusuin teh manis buat suaminya.

"Iya. Aku udah mikirin juga. Yang pertama, kita harus punya rumah sendiri."

Naura ngangguk. "Iya. Aku juga kepikiran itu. Kontrakan ini udah tiga tahun lebih kita tinggalin. Saatnya punya rumah sendiri."

"Aku udah survey sedikit. Ada perumahan baru di sebelah kota. Dekat sama kantor Pak Rahmat. Rumahnya bagus. Type tujuh puluh. Ada tiga kamar tidur. Ruang tamu luas. Dapur bersih. Kamar mandi dua. Harganya seratus lima puluh juta."

"Seratus lima puluh juta?" Naura agak kaget. "Mahal ya Mas."

"Tapi rumahnya bagus Naura. Jauh lebih bagus dari kontrakan ini. Aku udah lihat. Lingkungannya bersih. Tetangganya kelihatan baik baik. Dekat sekolah juga. Nanti Faris bisa sekolah di sana."

Naura mikir sebentar. "Kalau kita beli rumah seratus lima puluh juta, sisa kita cuma enam puluh juta. Itu cukup nggak Mas?"

"Cukup. Dari enam puluh juta itu, kita sisihkan dua puluh juta buat renovasi dikit dikit sama beli furniture. Sepuluh juta buat sedekah kayak janji kita. Sepuluh juta buat modal usaha kamu yang lebih besar. Dua puluh juta kita simpen buat tabungan darurat."

Naura mengangguk pelan. "Oke Mas. Kalau Mas udah yakin, aku ikut."

Besoknya, Zidan ajak Naura liat rumah yang dia maksud. Mereka naik angkot sambil gendong Faris. Sampe di perumahan itu, mata Naura langsung berbinar.

Perumahan baru dengan gerbang bagus. Jalan di dalam lebar dan bersih. Rumah rumah cat warna warni. Taman taman kecil di depan setiap rumah.

"Mas... ini bagus banget."

"Iya kan? Makanya aku bilang."

Mereka masuk ke rumah yang dijual. Rumah nomor B15. Cat krem dengan pagar hitam. Halaman depan ada taman kecil. Marketing yang jaga langsung sambut ramah.

"Selamat datang Bapak, Ibu. Mau lihat rumahnya?"

"Iya. Boleh."

Mereka masuk. Ruang tamu luas dengan lantai keramik putih bersih. Langit langit tinggi. Jendela besar yang bikin ruangan terang.

Naura jalan pelan sambil ngeliatin sekeliling. Matanya berkaca kaca.

"Mas... ini... ini luas banget. Beda banget sama kontrakan kita."

"Iya. Ini kamar tidur utama." Zidan buka pintu kamar pertama.

Di dalam ada kamar lumayan luas dengan jendela besar. Kamar mandi dalam. Lemari dinding built in.

"Ini buat kita berdua. Terus ini kamar Faris." Zidan buka pintu kamar kedua yang lebih kecil tapi tetep nyaman.

"Terus ini kamar tamu atau bisa buat apa aja."

Naura ngeliatin semuanya sambil nggak bisa berhenti senyum. "Ya Allah... ini rumah impian aku Mas. Dari dulu aku pengen punya rumah yang punya kamar banyak. Punya kamar mandi bersih. Punya dapur yang layak."

"Kamu suka?"

"Suka banget!" Naura peluk suaminya sambil nangis. "Terima kasih Mas. Terima kasih udah kerja keras buat keluarga kita."

"Sama sama. Ini buat kita semua."

Hari itu juga Zidan langsung nego sama marketing. Harga awal seratus lima puluh juta dia tawar jadi seratus empat puluh lima juta. Marketing setuju. Mereka langsung tanda tangan akad jual beli. Bayar cash.

Seminggu kemudian, surat surat beres. Rumah resmi jadi milik mereka.

Hari pindahan, Zidan sewa pickup kecil buat angkut barang barang. Barangnya nggak banyak. Kasur lipat. Boks bayi. Kompor. Piring panci. Baju baju. Cuma segitu.

Bu Mariam dateng buat bantuin. Dia nangis peluk Naura.

"Naura Nak, Ibu seneng banget kamu akhirnya punya rumah sendiri. Kamu pantas dapat ini. Kamu anak baik."

"Terima kasih Bu. Terima kasih udah selalu bantuin kami dari awal. Nanti Bu dateng ke rumah baru kami ya. Kami tunggu."

"Pasti Nak. Pasti Ibu dateng."

Pak Usman, pemilik kontrakan, juga dateng. "Zidan, selamat ya. Bapak seneng kamu bisa sukses. Jaga rumah baru kamu baik baik."

"Terima kasih Pak. Pak Usman juga jaga kesehatan."

Mereka pamit satu per satu sama tetangga tetangga lama. Ada yang seneng. Ada yang sedih. Ada yang iri tapi nggak ngomong.

Sore itu mereka sampe di rumah baru. Naura turun dari pickup sambil gendong Faris. Dia berdiri di depan pagar rumah sambil ngeliatin rumah itu lama.

"Mas, ini rumah kita. Milik kita sendiri. Bukan kontrakan lagi."

"Iya. Ini rumah kita."

Naura nangis lagi. Nangis bahagia sambil peluk Faris erat. "Faris sayang, ini rumah kita. Rumah baru kita. Kamu akan besar di sini. Akan main di sini. Akan sekolah dari sini."

Mereka masuk. Taruh barang barang di ruang tamu yang masih kosong. Belum ada sofa. Belum ada meja. Belum ada apa apa. Tapi mereka seneng.

"Besok kita belanja furniture ya. Beli sofa. Beli kasur baru yang empuk. Beli lemari. Beli kulkas. Semua."

"Iya Mas."

Malam pertama di rumah baru, mereka tidur di kasur lipat lama di kamar utama. Faris tidur di boks kayunya yang compang camping. Tapi mereka bahagia.

Zidan peluk Naura sambil bisik. "Naura, kita berhasil. Kita akhirnya punya rumah sendiri."

"Iya Mas. Alhamdulillah."

Mereka tidur dengan senyum di wajah.

Besoknya pagi, tetangga tetangga mulai pada kenalin diri. Ada yang ramah. Ada yang cuma senyum senyum aja.

Ibu Dewi dari rumah sebelah kanan dateng bawa kue. "Selamat datang ya. Saya Dewi. Tinggal di sebelah."

"Terima kasih Bu. Saya Naura. Ini suami saya Zidan."

"Wah rumahnya bagus. Beli cash ya? Pasti mahal."

"Alhamdulillah rezeki Bu."

"Suami Ibu kerja apa? Kok bisa beli rumah cash gini?"

Naura agak nggak nyaman sama pertanyaannya yang terlalu to the point. "Suami saya sopir pribadi Bu. Sambil bantu bisnis tanah."

"Oh... sopir tapi bisa beli rumah seratus lima puluh juta cash. Hebat ya."

Nada suaranya aneh. Kayak nggak percaya. Kayak nyindir.

Setelah Ibu Dewi pulang, dateng lagi Ibu Rita dari rumah depan. Lebih parah lagi.

"Mbak Naura baru pindah ya? Dari mana?"

"Dari kontrakan Bu. Di seberang kota."

"Wah... dari kontrakan langsung bisa beli rumah mewah gini. Pasti dapat warisan ya?"

"Nggak Bu. Ini hasil kerja suami saya."

"Kerja apa Mbak sampai bisa kaya mendadak gini? Bisnis apa?"

"Bisnis tanah Bu."

Ibu Rita senyum sinis. "Oh bisnis tanah. Pantesan. Pasti banyak yang ditipu ya biar untung gede."

Naura shock dengerin itu. "Nggak Bu. Suami saya nggak pernah nipu orang. Dia kerja jujur."

"Iya iya. Semua orang bilang gitu. Tapi tau sendiri kan bisnis tanah itu gimana. Banyak yang main kotor."

Naura nggak bisa jawab apa apa. Hatinya sakit dengerin tuduhan kayak gitu.

Sorenya, waktu Zidan pulang kerja, Naura cerita semua.

"Mas, tetangga tetangga di sini aneh aneh. Mereka nanya nanya terus. Terus nuduh Mas nipu orang. Bilang Mas pasti ngutang. Bilang Mas pake pesugihan."

Wajah Zidan langsung merah. "Siapa yang bilang kayak gitu?"

"Ibu Rita dari rumah depan. Sama Ibu Dewi dari sebelah."

"Sial. Orang orang iri. Nggak bisa liat orang lain sukses."

Besoknya sore, Zidan lagi cuci mobil di depan rumah. Ibu Rita lewat sambil bawa belanjaan. Dia berhenti.

"Wah Pak Zidan lagi cuci mobil. Mobilnya bagus. Beli baru ya?"

"Ini mobil kantor Bu. Bukan punya saya."

"Oh mobil kantor. Kirain punya sendiri. Soalnya kan katanya Bapak sukses banget. Bisa beli rumah cash."

Nada sinisnya jelas banget.

"Iya Bu. Saya kerja keras. Makanya bisa beli rumah."

"Kerja keras atau... ada cara lain?" Ibu Rita senyum sinis sambil ngeliatin Zidan dari atas sampai bawah.

Zidan berdiri. Rahangnya mengeras. "Maksud Ibu apa?"

"Nggak ada. Cuma penasaran aja kok tiba tiba orang bisa kaya mendadak gini. Biasanya kan ada yang nggak beres."

"Ibu bilang saya ngutang? Atau nipu orang? Atau pake pesugihan?"

"Yaa... bisa jadi kan? Kan saya nggak tau. Cuma nebak nebak aja."

Darah Zidan langsung naik. Dia jalan mendekati Ibu Rita sambil nunjuk nunjuk.

"Dengerin ya Bu. Saya nggak ngutang. Saya nggak nipu siapa siapa. Saya nggak pake pesugihan. Saya kerja keras. Saya pinter. Makanya saya bisa sukses. Kalau Ibu iri, itu masalah Ibu. Jangan sebar fitnah!"

Ibu Rita mundur sedikit. Kaget liat Zidan marah.

"Yaa... nggak usah marah marah gitu. Saya kan cuma nanya."

"Nanya atau nge judge? Ibu pikir saya nggak tau Ibu ngomong apa ke istri saya kemarin?"

Tiba tiba Zidan angkat jari tengahnya ke Ibu Rita. "Ini! Ini buat Ibu! Buat semua orang yang iri sama kesuksesan saya!"

Ibu Rita melotot. "Astghfirullah! Kurang ajar!"

Zidan masuk ke rumah terus keluar lagi bawa uang seratus ribuan. Dia lempar ke arah Ibu Rita. Uangnya jatuh berserakan di jalan.

"Ini! Ambil! Buat nutup mulut Ibu yang suka fitnah! Ambil!"

"Zidan!" Naura keluar dari rumah sambil panik. "Mas ngapain?"

Ibu Rita nunduk ambil uangnya sambil marah marah. "Dasar orang sombong! Baru aja kaya udah lupa diri! Nanti juga jatuh lagi!"

Dia langsung pergi sambil ngedumel.

Naura tarik lengan suaminya masuk ke dalam rumah. "Mas kenapa? Kenapa Mas kayak gitu sama tetangga?"

"Dia yang mulai duluan! Dia yang fitnah aku!"

"Tapi Mas nggak boleh kayak gitu! Ngacungin jari tengah? Lempar uang? Itu nggak sopan Mas!"

"Aku nggak peduli! Aku capek difitnah! Aku kerja keras tapi dibilang nipu! Dibilang ngutang! Dibilang pesugihan! Aku nggak terima!"

"Tapi Mas..."

"Udah Naura! Jangan bela mereka! Mereka cuma iri! Nggak bisa liat kita sukses!"

Zidan masuk ke kamar terus banting pintu.

Naura berdiri di ruang tamu sambil megang Faris yang nangis ketakutan dengerin Ayahnya marah marah. Dia nangis pelan.

"Ya Allah... ini yang aku takutin. Mas mulai berubah. Mas mulai angkuh. Mas mulai kasar. Ya Allah... tolong jaga suamiku. Jangan biarkan dia berubah total."

Malam itu mereka nggak ngobrol. Zidan diem aja di kamar. Naura di ruang tamu sambil nyusuin Faris sambil nangis pelan.

Ini hari pertama mereka di rumah baru.

Seharusnya hari yang bahagia.

Tapi malah jadi hari yang penuh ketegangan.

Dan ini baru permulaan.

Perubahan kecil yang mulai kelihatan.

Angkuh.

Sombong.

Mudah marah.

Perubahan yang akan terus membesar.

Hari demi hari.

Minggu demi minggu.

Bulan demi bulan.

Sampai Zidan jadi orang yang sama sekali berbeda.

Orang yang akan melupakan semua janjinya.

Orang yang akan menghancurkan keluarganya sendiri.

Tapi untuk malam ini, Naura masih berharap.

Berharap ini cuma sesaat.

Berharap suaminya akan sadar.

Akan kembali jadi Zidan yang dulu.

Zidan yang lembut.

Yang sabar.

Yang taat.

Tapi harapan itu...

Pelan pelan...

Akan pupus.

1
checangel_
Jangan heran, Zidan. Hidup di perkampungan memang seperti itu, jadi harus sabar seluas samudera 🤝
checangel_
Andai saja saat itu mereka terdaftar dalam KIS 🤧
checangel_
lebih tepatnya melawan ego diri sendiri dari setiap orang yang datang dan juga pergi🤧
checangel_
Lagi dan lagi-lagi ku mendengar janji 🤣, sudahi janji-janji itu bisa nggak🤧, biasanya yang berbau janji, hanya bergeming di perbatasan antara luka dan bahagia
Ema Susanti
cerita ini real bget, terjadi di kehidupanku. sampe aku di ceraikan karena wanita lain yang berstatus janda dan berkedok pula teman kerja.
aa ge _ Andri Author Geje: iya kak.. ini juga kayak gini cerita nya semua karna harta orang bisa lupa
total 1 replies
ceuceu
Bayar bunga doang 2 juta tapi hutang tetep blm kebayar,itulah makanya jgn pinjem rentenir selain dosa besar tap nyekek.
ceuceu
Naura suami pulang kerja jgn ngadu yg bikin hati suami sakit,ademin suami klo pulang kerja,nanti ceritanya klw udah santai.
ceuceu
Naura knp ga jagain ibunya dirumah sakit?
kasihan ibunya stroke ga ada yg jaga
ceuceu
kok malam abis penyatuan subuh langsung wudhu?
harusnya mandi hadast besar dulu thor,ini mah mandinya pagi sebelum kerja
aa ge _ Andri Author Geje: makasih dah ingetin revisi
total 2 replies
checangel_
Bentar, nggak ada KIS kah?
aa ge _ Andri Author Geje: bisa di bilang kan belum semua nya dapat
total 2 replies
checangel_
No, jangan lebih dari apa pun! Ingat, karena yang lebih hanya milik Allah 😇
checangel_
Gimana tuh nangis dalam diam? 🤧
aa ge _ Andri Author Geje: pura pura kelilipan lahhh🤣
total 3 replies
checangel_
الله اكبر
checangel_
Begitulah perasaan wanita, jika sudah terluka, walaupun hanya sebatas omongan tetangga/Facepalm/, tapi .... kembali lagi pada pribadi yang kuat dan tentunya cuek aja🤭
checangel_
Komitmenmu harus abadi ya, Mas Zidan 🤝
aa ge _ Andri Author Geje: semoga aja...tapi ya namanya manusia

Indosat (ingat doa saat gelap)
lupa akan prosesnya
total 1 replies
checangel_
Anggap saja kehadiran mereka seperti angin lewat yang tak pernah ada (abaikan jangan diambil pusing perkataan mereka yang tak penting)/Facepalm/
checangel_
Wah, pernikahan islami yang indah 😇, berbeda dengan realita zaman sekarang ...... tahulah seperti apa keadaan latar panggungnya /Facepalm/
checangel_
Biasalah, anggap saja riuh mereka seperti iklan drama lewat (cuek aja, dengarkan lalu hempaskan)/Hey//Facepalm/
checangel_
Yang bener Mas Zidan?/Chuckle/
aa ge _ Andri Author Geje: begitu lah relalita kehidupan nya
total 1 replies
checangel_
Kata hati memang selalu tepat sih, tapi tak semua 🤧
aa ge _ Andri Author Geje: benar
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!