NovelToon NovelToon
ABU DARI SIKLUS ABADI

ABU DARI SIKLUS ABADI

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Action / Fantasi Isekai
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Varss V

Ash adalah pria dari dunia lain yang datang tanpa misi heroik. Ia bercanda, bertarung, dan bertahan hidup dengan cara yang terasa terlalu santai untuk dunia yang penuh perang dan kebohongan. Namun di balik tawanya, ada sesuatu yang tersegel di dalam dirinya kekuatan purba yang mulai bangkit setiap kali ia kehilangan. Saat konflik antar kerajaan, malaikat, Naga, dan iblis memanas, Ash terjebak di pusat siklus kehancuran yang jauh lebih tua dari peradaban mana pun. Semakin kuat ia menjadi, semakin tipis batas antara manusia dan monster. Pada akhirnya, dunia tidak hanya bertanya apakah Ash bisa menyelamatkan mereka, tetapi apakah ia masih Ash yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# BAB 31 - UNDANGAN KHUSUS

Tiga hari setelah quest caravan, nama Ash, Eveline, dan Razen mulai sering disebut dalam guild.

Bukan karena hal yang luar biasa. Mereka tidak mengalahkan monster Rank S. Tidak menyelamatkan kota dari invasi. Cuma... mereka jadi party yang stabil. Party yang ambil quest, selesaikan dengan baik, dan bawa hasil.

Tidak lebih. Tidak kurang.

Tapi di dunia adventurer, stabil itu jauh lebih susah.

Ash sedang duduk di meja pojok tavern guild, mencatat detail dari quest kemarin di buku kecilnya. Kebiasaan baru yang dia ambil dari Razen. Catat semua, analisa nanti. Belajar dari pengalaman.

"Corrupted wolves, Rank C. Lemah terhadap api. Pergerakan cepat tapi pola serangan mudah dibaca setelah observasi. Cakar keras, butuh sihir atau senjata kualitas bagus untuk bisa menembus tubuh..."

"Wow, kau serius banget."

Ash mendongak. Seorang adventurer muda, mungkin seumuran dengannya, berdiri di samping meja sambil tersenyum lebar. Rambutnya pirang berantakan, baju kulit cokelat dengan plat guild rank D di lengan.

"Eh, iya. Cuma catatan pribadi," jawab Ash sambil menutup bukunya.

"Aku Daren. Rank D. Baru dua bulan jadi adventurer." Pemuda itu mengulurkan tangan. "Aku dengar kau yang selamatkan pedagang dari corrupted wolves kemarin?"

Ash menjabat tangannya. "Aku dan teamku. Bukan sendirian."

"Tetap saja keren! Aku baru berani ambil quest rank E. Belum pernah ketemu monster rank C." Daren duduk tanpa diundang, matanya berbinar penuh antusias. "Bagaimana rasanya? Mengerikan?"

"Lumayan tegang. Tapi bisa di atasi kalau punya strategi yang baik."

"Boleh aku bertanya sesuatu?" Daren condong ke depan, berbisik seperti mau bagikan rahasia besar. "Kau benar-benar.. dari Fort Silvergate..? Yang.. itu?"

Ash mengangguk pelan.

"Gila..." Daren bersandar ke kursi, menatap Ash dengan mata kagum. "Aku dengar di sana parah banget. Ribuan tentara. Sihir yang bisa ratakan bukit. Ksatria LightOrder yang bisa bunuh sepuluh orang sendirian. Dan... kau selamat."

"Lebih karna beruntung. Dan karena punya team yang bagus."

"Tetap saja, itu... wow." Daren terdiam sebentar, lalu bertanya lagi. "Apa benar kau punya mana yang gila besarnya? Aku dengar kau bisa buat ledakan setara rank B meski cuma rank C."

Ash tertawa kecil. Rumor memang cepat menyebar. "Aku punya mana besar, iya. Tapi kontrolnya masih jelek. Makanya sering kacau."

"Arena latihan guild yang rusak minggu lalu itu kau kan?"

"...Iya."

Daren tertawa keras. "Itu legendary! Semua orang ngomongin itu! Ada yang bilang kau mau ledakkan seluruh guild!"

"Aku tidak mau ledakkan guild. Aku cuma... salah hitung kekuatan sihir."

Sebelum Daren bisa tanya lebih lanjut, Eveline muncul dari arah tangga. Dia berjalan menuju meja mereka dengan wajah datar seperti biasa.

"Ash, guild master memanggil. Ada perlu."

Daren langsung berdiri, sedikit nervous melihat Eveline. "Oh, maaf aku ganggu. Aku... aku pergi dulu."

Dia buru-buru pergi sambil sesekali menoleh ke belakang.

Eveline duduk di kursi yang tadi Daren pakai. "Siapa itu?"

"Adventurer rank D. Mau kenalan."

"Dia melihatmu seperti lihat bintang."

Ash nyengir. "Mungkin karena rumor yang berlebihan."

"Atau mungkin karena kau memang sudah jadi terkenal." Eveline menatapnya serius. "Kau sadar kan, nama kita sekarang dibicarakan banyak orang? Trio yang selamat Fort Silvergate. Party dengan penyihir yang punya mana gila tapi kontrol parah, assassin dingin yang menang semua sparring, dan mantan ksatria LightOrder yang gila."

"Itu... deskripsi yang akurat tapi menyakitkan."

Eveline hampir tersenyum. Hampir. "Ayo. Guild master menunggu."

---

Ruang guild master ada di lantai dua gedung guild. Ruangan sederhana dengan meja kayu besar, rak buku penuh peta dan catatan quest, dan jendela yang menghadap ke arena latihan.

Guild Master Theron duduk di kursinya, membaca sebuah surat dengan ekspresi serius. Pria paruh baya dengan kumis tebal dan bekas luka di pipi kiri. Mantan adventurer rank A yang pensiun dan jadi guild master lima tahun lalu.

Razen sudah ada di sana, berdiri di samping meja.

"Ah, Ash dan Eveline. Duduk." Theron menunjuk kursi di depan mejanya.

Mereka berdua duduk. Ash merasa sedikit tegang. Dipanggil ke ruang guild master biasanya cuma dua kemungkinan. Dapat quest penting, atau dapat masalah.

Theron menaruh surat itu. "Aku dapat permintaan khusus dari pemerintah kota. Quest investigasi di reruntuhan tua yang baru ditemukan dekat desa Greenhaven."

Ash dan Eveline saling pandang.

"Greenhaven itu..." mulai Ash.

"Desa kecil di timur laut. Populasi sekitar dua ratus orang. Mayoritas petani dan peternak. Damai. Tidak ada masalah besar." Theron membuka peta, menunjuk lokasi. "Seminggu lalu, petani lokal menemukan reruntuhan tua di hutan dekat desa. Strukturnya cukup besar, seperti kuil atau semacamnya. Pemerintah kota ingin guild kirim party untuk explore, mapping, dan membersihkan kalau ada monster."

"Kenapa kami?" tanya Eveline langsung. "Ada party rank B lain yang lebih berpengalaman."

"Karena kalian yang paling menjanjikan, kalian menyelesaikan semua quest yang kalian ambil dengan sukses. Dan ini akan jadi quest baru untuk kalian. Bukan cuma berburu monster atau mengawal caravan. Quest yang butuh skill berbeda. Investigasi, mapping, dan menyelesaikan masalah." Theron menatap mereka bertiga. "Dan juga, kalian membuktikan bisa mengatasi situasi tak terduga. Dan Fort Silvergate bukti itu."

Razen mengangguk. "Quest seperti ini bagus untuk mengembangkan skill. Aku setuju."

"Bayarannya?" tanya Ash.

"Tiga puluh silver untuk mapping lengkap. Bonus sepuluh silver kalau kalian membasmi semua monster di dalam. Total empat puluh silver kalau sukses sempurna." Theron menyerahkan surat quest resmi. "Ini tidak darurat. Kalian punya waktu seminggu. Tapi lebih cepat lebih baik."

Ash membaca surat quest itu. Detail cukup jelas. Eksplorasi reruntuhan, buat peta struktur, catat semua temuan penting, basmi monster kalau ada.

Jelas dan terstruktur.

"Kami terima," ucap Ash.

Theron tersenyum. "Bagus. Berangkat kapan?"

"Besok pagi?" Ash melirik Razen dan Eveline. Mereka mengangguk.

"sempurna. Aku akan kirim surat ke kepala desa Greenhaven, beritahu kalian akan datang." Theron berdiri, mengulurkan tangan. "Semoga beruntung. Dan hati hati. Reruntuhan tua itu selalu punya kejutan."

Mereka berjabat tangan dan keluar ruangan.

---

Sore itu mereka pakai untuk persiapan.

Razen ke tukang senjata, mengasah pedangnya dan beli beberapa pisau lempar cadangan. Eveline ke alchemist, beli racun baru dan antidote. Ash ke perpustakaan guild, baca tentang reruntuhan kuno yang sudah ada di benua ini.

Ternyata ada cukup banyak.

Sisa peradaban lama yang runtuh ratusan atau ribuan tahun lalu. Sebagian sudah di jelajahi dan jadi tempat wisata. Sebagian masih terbengkalai, terlalu berbahaya atau terlalu terpencil.

Reruntuhan dekat Greenhaven sepertinya kategori kedua.

Ash mencatat beberapa hal penting. Monster yang biasa ada di reruntuhan tua, jebakan umum, cara deteksi sihir berbahaya.

Saat dia sedang asyik baca, seseorang duduk di kursi seberang mejanya.

Ash mendongak.

Seorang wanita paruh baya dengan rambut hitam diikat rapi, kacamata tebal, dan jubah biru yang menandakan dia staff guild. Dia tersenyum ramah.

"Ash, kan? Aku Mira. Librarian guild."

"Oh, iya. Ada yang bisa aku bantu?"

Mira menaruh sebuah buku tebal di meja. "Aku dengar kau akan menjelajah reruntuhan dekat Greenhaven. Ini mungkin berguna."

Ash membaca judul buku itu. "Arsitektur Kuno Benua Timur dan Simbologi Mistis."

"Reruntuhan di Benua ini punya pola tertentu. Kalau kau bisa baca simbolnya, kau bisa prediksi struktur dalam dan lokasi jebakan atau bahkan harta karun." Mira membuka buku itu, menunjuk halaman dengan diagram rumit. "Lihat ini. Simbol lingkaran dengan tiga garis melintang. Ini biasanya menandakan ruang rahasia. Dan kalau ada simbol ular melingkar, itu peringatan ada jebakan sihir berbahaya."

Ash mencatat semuanya dengan serius. "Terima kasih. Ini sangat membantu."

"Sama-sama. Adventurer yang rajin belajar itu yang bertahan lama." Mira berdiri. "Kalau kau butuh referensi lain, bilang saja. Aku senang bisa bantu."

Setelah Mira pergi, Ash melanjutkan baca. Dia habiskan dua jam di perpustakaan, mencatat semua yang relevan.

Saat keluar, matahari sudah mulai turun.

Dia berjalan ke penginapan mereka. Di jalan, dia melewati pasar sore yang masih ramai. Pedagang teriak menawarkan sayuran segar. Anak-anak bermain kejar kejaran. Lansia duduk di bangku, ngobrol santai.

Kehidupan normal.

Ash tersenyum kecil. Dia mulai terbiasa dengan ini. Mulai merasa... Menerima.

Awalnya saat tiba di dunia ini ia hanya bingung, bersikap konyol dan mengeluh untuk setiap hal, namun semakin lama, dan setelah tau Uroboros ada dalam dirinya, prasaan itu mulai hilang perlahan.

Semua perasaan itu seperti di ganti, di rombak, atau di timpa. Sehingga mulai jadi tak relevan dengan keperibadian barunya.

Namun dia hanya bisa menerima, karna entah ini baik atau buruk ia mulai merasa tumbuh sebagai manusia dunia ini.

Ash kembali sadar dari semua lamunannya itu.

Dia belok ke gang kecil yang jadi jalan pintas ke penginapan, dan dia merasakan sesuatu.

Sensasi diawasi.

Dia berhenti. Menoleh ke belakang.

Tidak ada siapa siapa.

Tapi sensasi itu tidak hilang.

Ash menaruh tangan di saku, jari menyentuh pisau kecil yang selalu dia bawa. Dia berjalan lebih cepat.

Sensasi diawasi semakin kuat.

Dia belok tajam ke kiri, masuk ke gang lebih sempit.

Dan di sana, dia melihatnya.

Sosok kecil berjubah hitam, berdiri di ujung gang.

Jack.

Anak itu menatapnya dengan tatapan yang sama seperti kemarin. Sedih. Simpati. Harapan, Rasa bersalah. Dan... sesuatu yang lain. Sesuatu yang Ash tidak bisa identifikasi.

"Kau," ucap Ash sambil berjalan mendekat. "Kau yang dari Eclipse kan? Yang menyerang caravan kami beberapa waktu lalu."

Jack tidak menjawab. Dia hanya menatap.

Ash berhenti beberapa meter di depannya. "Kenapa kau mengikutiku?"

Jack akhirnya bicara. Suaranya pelan, tapi jelas. Suara anak-anak, tapi ada sesuatu yang terlalu dewasa di sana. "Karena aku harus memastikan kau... Benar-benar dia."

"Dia siapa?"

"Yang akan bangkit."

Ash mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"

Jack menatapnya lama. Lalu mengeluarkan sesuatu dari saku jubahnya.

Jam saku tua. Perak kusam dengan ukiran rumit. Jarum jam bergerak normal, tapi kadang... kadang jarum itu bergerak mundur. Sebentar. Lalu normal lagi.

"Aku bisa melihat masa depan," ucap Jack pelan. "Banyak versi masa depan. Timeline berbeda. Dan di sebagian besar timeline itu... kau mati."

Ash merasa dadanya sesak. "Apa?"

"Quest besok. Reruntuhan dekat Greenhaven." Jack menutup jam sakunya. "Di timeline alpha, kalian bertemu jebakan sihir. Razen luka parah. Di timeline beta, ada monster rank B yang tidak terduga. Eveline hampir mati. Di timeline gamma..."

Dia terdiam.

"Apa?" desak Ash.

"Kau bertemu sesuatu yang... membangunkan kekuatan di dalam dirimu. Segel ketiga pecah. Dan kau... kau kehilangan kontrol. Membunuh semua orang di reruntuhan itu. Termasuk temanmu."

Hening.

Ash merasa dunia berputar.

"Tapi," lanjut Jack. "Di timeline delta, yang sekarang kita jalani, ada variabel baru."

"Variabel apa?"

Jack tersenyum kecil. Senyum yang terlalu sedih untuk anak seusianya. "Kalian akan bertemu seseorang di Greenhaven. Seseorang yang... penting. Dia akan ikut kalian masuk reruntuhan. Dan kehadirannya akan ubah segalanya."

"Siapa?"

"Aku tidak bisa bilang terlalu banyak. Kalau aku bilang, timeline akan berubah lagi. Dan aku tidak tahu jadi lebih baik atau lebih buruk." Jack mulai mundur ke bayangan. "Yang bisa aku bilang, terima dia. Jangan tolak meski dia terlihat... lemah. Dia penting. Untuk masa depanmu. Untuk kebangkitannya."

"Tunggu!" Ash maju, tapi Jack sudah menghilang ke dalam kegelapan.

Hanya suara bisikan terakhir yang tertinggal.

"Semoga kau bangkit, dan menghancurkan semuanya."

Ash berdiri sendirian di gang itu, bingung dan sedikit ketakutan.

---

Malam itu, Ash tidak bisa tidur.

Dia berbaring di kasur, menatap langit langit kamar, memikirkan perkataan Jack.

Segel ketiga pecah. Kehilangan kontrol. Membunuh semua orang.

Tangannya gemetar sedikit.

Apa dia benar-benar berbahaya seperti itu? Apa kekuatan di dalam dirinya benar-benar bisa membunuh orang-orang yang dia sayang?

Dia ingat Fort Silvergate. Saat kekuatan emas itu keluar. Saat dia merasa seperti bukan dirinya sendiri.

Dingin. Tanpa empati. Hanya ingin... menghancurkan.

Ash menutup mata keras-keras.

Tidak. Dia tidak akan biarkan itu terjadi lagi.

Dia akan kontrol. Dia akan jaga dirinya.

Dia akan melindungi Eveline dan Razen.

Entah bagaimanapun caranya.

---

Pagi datang dengan embun tebal.

Ash, Eveline, dan Razen berkumpul di gerbang timur laut Vairlion. Ransel penuh perbekalan. Senjata siap. Mental disiapkan.

"Siap?" tanya Eveline

Ash mengangguk. "Siap."

Razen sudah duluan jalan. "Ayo. Greenhaven sekitar empat jam dari sini."

Mereka bertiga meninggalkan Vairlion, berjalan menyusuri jalan setapak yang mengarah ke timur laut.

Tidak ada yang tahu apa yang menunggu mereka di Greenhaven.

Tidak ada yang tahu bahwa quest sederhana ini akan mengubah segalanya.

Dan tidak ada yang tahu bahwa seseorang yang mereka temui nanti akan jadi keluarga yang mereka sayangi.

Dan yang akan membuat mereka merasa kehilangan.

1
Varss V
Terimakasih di usahakan. 👍
anak panda
cepet up thorrr, 🔥🔥🔥

kalau bisa crazy up thor🤭🤭🤭
anak panda
lanjuttt🔥🔥🔥🔥
anak panda
lantorrr thorrrr
anak panda
🔥🔥🔥
Varss V
Di usahakan secepat, dan sebanyaknya ka, kalo suka tolong kasih rating dan like nya ya🙏
anak panda
upp torre
Varss V
oke, makasih
anggita
ikut ng👍like aja, iklan👆.
anak panda
semangat torr
Varss V: Makasih ka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!