NovelToon NovelToon
Anak Untuk Rayyan

Anak Untuk Rayyan

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Nikahmuda / One Night Stand / Hamil di luar nikah / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ifah Latifah

"Gue lahirin anak lo, lo bawa dia pergi sama lo. Sementara gue pulang ke Papa dan pergi jauh dari sini. Kita lupain semua yang terjadi disini. Lo lanjutin hidup lo dan gue lanjutin hidup gue. Itu rencananya,” jelas Alana.

Entah bagaimana Alana bisa terbangun dalam sebuah kamar asing dengan seorang pria di sampingnya. Tapi bukan itu masalahnya.

Masalahnya, video mereka malam itu diputar di momen yang paling Alana tunggu setelah kelulusan yaitu penghargaan dirinya sebagai siswi paling berprestasi.

Cerita ini remake dari tulisanku Dalam Pelukan Dosa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifah Latifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 - Apartemen

Di halaman depan rumah, Lisa sedang berdiri dengan telepon genggam di tangan, berbicara dengan suara tenang namun tegas. 

“Baik, Ibu. Kebetulan izin cuti saya selesai hari ini. Besok saya urus masalah ini dengan client,” ucap Lisa, nada suaranya profesional.

Tidak lama, Lisa mengangguk kecil. “Baik, Ibu. Terima kasih atas pengertiannya. Selamat sore.”

Telepon itu ditutup. Lisa berbalik dan langsung menemukan Rayyan yang berdiri di ambang pintu. Diam. Bahunya sedikit turun, sorot matanya kosong. Pikirannya tidak berada disana.

“Ray,” panggil Lisa lembut.

Rayyan tak segera merespons. Dia seperti terjebak dalam pikirannya sendiri.

“Rayyan,” panggil Lisa sekali lagi, sedikit lebih tegas.

Rayyan tersentak kecil, lalu melangkah mendekat. “Eh… iya, Bun.” 

“Ada apa? Kok kamu bengong disitu?” tanya Bunda lembut.

Rayyan menggeleng pelan. “Nggak papa, Bun.”

“Alana gimana? Udah mau makan?”

Rayyan menggeleng pelan.

Lisa menghela napas panjang, merasa khawatir dengan Alana.

Rayyan diam lagi. Tangannya saling menggenggam, jemarinya tampak gelisah.

“Ada apa, Ray?” tanya Lisa yang menangkap ekspresi wajah Rayyan.

Ada jeda cukup lama, sebelum Rayyan akhirnya bersuara. “Bun, Ray mau balik tinggal di apartemen lagi… sama Alana.”

Lisa mengerutkan kening. “Loh kenapa? Bukannya lebih baik disini. Bunda bisa bantu kamu buat jaga Alana. Ini kehamilan pertamanya, pasti Alana masih kaget.”

Rayyan menarik napas panjang. “Ray cuma merasa… Alana akan lebih nyaman tinggal di apartemen. Ray juga nggak mau nyusahin Bunda terus.”

“Kamu ngomong apa sih, Ray?”

Rayyan menunduk, suaranya lirih. “Maaf, Bun. Padahal Ray udah janji setelah lulus SMA nggak akan nyusahin Bunda lagi. Ray akan hidup dengan baik.”

Rayyan menelan ludah. "Tapi Ray malah bikin masalah sebesar ini. Ray minta maaf, Bunda.”

Lisa menatapnya lama, lalu tersenyum lembut. “Biarkan saja yang sudah terjadi Ray. Bunda juga tidak pernah merasa kamu menyusahkan Bunda. Kamu itu anak Bunda.”

Rayyan tersenyum tipis. Hangat menjalar di dadanya, bercampur rasa bersalah yang belum sepenuhnya hilang.

“Besok, Bunda kerja lagi aja. Lana biar jadi urusan Rayyan, Rayyan yang akan jagain. Bunda nggak usah khawatir dan fokus kerja aja.”

Lisa mengangguk pelan. “Ya udah kalau itu mau kamu. Kamu boleh bawa Alana tinggal di apartemen. Nanti Bunda akan sering-sering datang menjenguk kalian.”

Rayyan mengangguk. Ada sedikit lega di wajahnya meski beban di dadanya belum benar-benar pergi.

...***...

Alana duduk di tepi ranjang. Punggungnya tegak, kedua tangannya terlipat di pangkuan. 

Lampu kamar menyala terang. Angin malam masuk dari sela-sela jendela yang tidak tertutup rapat, menggerakkan tirai tipis yang berkibar pelan.

Di depannya, koper Alana sempurna dibuka. Lisa sedikit membungkuk di depan koper itu. Tangannya cekatan melipat baju-baju Alana dan menatanya ke dalam koper. Memastikan setiap kebutuhan Alana terpenuhi.

“Orang hamil muda itu biasanya suka mual sama muntah,” ucap Lisa tanpa mengalihkan pandangan. Tangannya masih sibuk menata barang di koper.

“Itu normal. Kalau kamu merasa mual, coba makan sedikit tapi sering, minum air hangat pelan-pelan. Kamu juga bisa pakai minyak kayu putih atau aromaterapi buat hilangin mualnya, jahe juga lumayan menolong,” lanjut Lisa menjelaskan.

Alana diam. Tidak ada ekspresi di wajahnya. Datar, tenang, dan dingin. Sorot matanya lurus ke depan. 

Lisa menarik napas pelan, kembali melanjutkan melipat cardigan tipis dan menaruhnya di samping baju lain.

“Kalau kamu merasa mood kamu naik turun, jadi gampang sedih, gampang marah… itu juga normal karena pengaruh hormon ibu hamil.”

Lisa mengangkat kepala, menatap Alana. Ada senyum hangat di wajahnya. “Jangan dipendam sendiri. Kamu bisa cerita ke Ray atau telpon Bunda juga boleh. Kamu nggak boleh banyak pikiran.”  

Alana menoleh, balas menatapnya. Namun ekspresi wajahnya tetap tidak berubah.

Setelah memastikan semua pakaian tertata, Lisa menarik resleting koper perlahan hingga tertutup sempurna. Suara zrrt resleting terdengar jelas di tengah kesunyian kamar.

“Jangan lupa istirahat yang cukup, makan makanan bergizi dan hindari makanan yang terlalu pedas atau asam, karena bisa bikin perut tambah mual. Minum air yang cukup, jangan angkat berat-berat, nggak boleh kecapekan dan banyak pikiran.”

Lisa tetap mempertahankan senyum hangatnya. Senyum itu semakin hangat.

Kemudian, Lisa menoleh ke arah pintu. Rayyan berdiri di sana, memegang tas kecil. Dia sedari tadi bersandar di kusen pintu, memperhatikan tanpa ingin menginterupsi. 

Lisa menatapnya, lalu berkata, “kamu denger, kan, Ray?”

Rayyan melangkah mendekat. “Denger, Bun.”

Lisa meraih jaket Alana yang tadi disampirkan di kursi, merapikannya sebentar sebelum menyerahkannya ke Rayyan. “Sekarang kamu suaminya Alana. Kamu harus jagain Alana. Sabar,” ucapnya sembari menepuk lengan Rayyan ringan.

“Jangan gampang emosi. Kamu juga harus tahu kapan waktu yang tepat buat bercanda, kapan kamu harus serius.”

Rayyan tertawa kecil. “Iya, Bunda.”

Rayyan mendekati Alana. Dia menyampirkan jaket Alana ke bahunya dengan hati-hati. 

Alana tidak menolak, tidak marah, tidak juga menoleh. Pandangannya masih tertuju lurus ke depan. 

Rayyan tersenyum kecil. Dia sudah mulai terbiasa dengan ekspresi wajah itu.

Rayyan mengulurkan tangan, menyentuh rambut Alana, lalu menyelipkan anak rambut tipis di pipi Alana ke belakang telinganya. Gerakan itu berhasil membuat Alana menoleh perlahan. Manik mata mereka  bertemu. 

Tapi ekspresi Alana tetap tidak berubah.

Rayyan mengulas senyum yang lebih lembut dari sebelumnya. “Kita berangkat sekarang?” Alana tidak menjawab.

Lisa berjalan mendekat. Langkahnya pelan sebelum akhirnya memeluk Alana, mengusap punggungnya dengan lembut. 

Pelukan itu terasa hangat. 

“Kamu baik-baik disana ya, nak. Jaga diri baik-baik. Nanti Bunda akan sering-sering mampir.”

Alana diam. Tidak membalas pelukan itu. Tapi tubuhnya tidak menegang.

Tidak lama, Lisa melepaskan pelukan itu dengan berat hati. 

Rayyan tersenyum pada Lisa, lalu membungkuk sedikit dan mencium punggung tangannya. “Kami pergi dulu ya, Bun.”

Lisa mengangguk, tatapannya tegas namun penuh kasih. “Jagain Alana baik-baik. Kalau Alana kenapa-napa, kamu berhadapan sama Bunda,” ucapnya tegas.

Rayyan terkekeh kecil. “Iya, Bunda.”

Lisa mengambil sebuah totebag yang sudah dia siapkan di atas meja belajar. Dia menyerahkannya pada Rayyan.

“Ini ada sup buat Alana. Sebelum Alana makan, pastikan kamu panasin dulu. Ada obat-obatan dan vitamin Alana juga.”

Rayyan menerimanya. “Iya, Bunda. Rayyan sama Alana boleh pergi?”

Lisa menatap Alana sejenak. Dia menghela napas, lalu mengangguk pelan.

“Kalian hati-hati di jalan ya.”

...***...

Setelah menempuh satu jam perjalanan, taksi akhirnya berhenti di depan sebuah gedung apartemen tinggi. Udara malam menempel dingin di kulit saat pintu taksi dibuka.

Rayyan membawa Alana masuk, menaiki lift menuju unit apartemen mereka. 

Lampu sensor di area pintu langsung menyala otomatis, menimbulkan cahaya lembut yang menyambut mereka masuk. Rayyan mendorong pintu lebih lebar, memberi ruang bagi Alana untuk masuk lebih dulu.

Rayyan menyalakan saklar lampu utama. Ruangan yang gelap gulita itu kini berubah terang. Ruangan itu tidak terlalu luas. Interiornya berwarna abu muda. Living, dining, kitchen menyatu dalam konsep open space.

Sebuah sofa abu-abu gelap memenuhi satu sisi dinding, terlihat empuk. 

Di sisi kiri, dapur terbuka menyambut dengan tata letak minimalis.

Meja makan kecil berbentuk bundar berada di antara dapur dan living room. Hanya dua kursi. Di atasnya ada vas kecil berisi baby breath kering

Rayyan menaruh koper di dekat sofa. “Na… kita udah sampai,” ucap Rayyan lembut.

Rayyan mengalihkan pandangan, menatap tempat tinggalnya yang beberapa minggu ini kosong. “Satu tahun terakhir gue tinggal disini karena lebih deket ke kampus. Mulai hari ini, kita tinggal disini ya.”

Rayyan menoleh ke Alana lagi. Perempuan itu kini berjalan menuju balkon yang ada di samping ruang tengah. Dia menyibak tirai gorden dan membuka pintu kaca dengan pelan.

Alana berdiri tegak, satu tangan memegang pagar balkon dari besi gelap. Dari lantai 21, suara kendaraan terdengar samar, hanya menjadi dengung jauh yang tenggelam oleh hembusan angin. Lampu-lampu kota memantul di matanya yang memejam tenang, membuat wajahnya terlihat lebih lembut dari biasanya.

Rayyan menyusul berdiri di sebelahnya. Dia menoleh pada Alana yang sedang memejamkan mata menikmati suara desir angin yang terdengar lembut di telinganya.

“Lo suka tempat tinggi. Jadi gue pikir lo akan lebih nyaman tinggal disini.”

...----------------...

1
Nadiaaa
kpn up lagi kak
Retno Harningsih
up
Nadiaaa
doubel up kk🤭
Chillzilla: yahhh udah aku set satu² kak😁
total 1 replies
Nadiaaa
semangat nulisnya kak 💪 lanjut terus sampe tamat💗
Chillzilla: makasih kak🤗🤗
total 1 replies
Nadiaaa
👍
Nadiaaa
kpn lanjut kak
Chillzilla: nanti sore kakk
total 1 replies
Nadiaaa
suka❤️‍🔥
Nadiaaa
lanjut
Nadiaaa
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!