NovelToon NovelToon
A.M.R.A

A.M.R.A

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Cerai / Selingkuh
Popularitas:13.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Seorang Wanita Kuat-Amara. setelah hampir 15 th pernikahan ternyata suaminya ketahuan Selingkuh.

Semenjak itu Kehidupan Amara dan kehidupan rumah tangga nya berubah.

Masih Mencinta namun tak dapat bersama

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Yang Tersisa

Sabtu siang di apartemen Rafa. Sinar matahari menyinari ruang keluarga yang kini lebih berantakan oleh mainan Luna dan buku-buku terapi.

Luna, dengan piyama bergambar unicorn, sedang asyik menyusun puzzle besar di atas karpet. Rafa sedang menyiapkan makan siang—mencoba resep pasta baru yang dijamin “ramah lupus” dari blog khusus.

Bel pintu berbunyi. Rafa, dengan celemek bergambar kartun, membuka pintu. Val berdiri di sana, kali ini dengan penampilan yang jauh lebih kasual namun tetap elegan: jeans slim, kaos putih sederhana, dan blazer linen yang dilempar di pundak. Dia membawa sebuah tas kertas berisi beberapa buku bergambar dan sebuah board game.

“Hai. Aku janji mau bawa Luna buku-buku tentang space. Dan game ini bagus untuk melatih logika,” ucap Val, tersenyum hangat.

“Boleh masuk?”

Rafa ragu sejenak, lalu mengangguk. “Tentu. Luna, ada yang mau ketemu.”

Luna mengangkat kepala, matanya langsung tertarik pada tas kertas. “Apa itu?”

“Buku tentang nebula dan planet! Dan game di mana kita harus selamatkan astronot dari black hole,” jawab Val, duduk bersila di lantai di samping Luna tanpa sungkan. Dia segera menarik perhatian Luna dengan caranya yang langsung dan tidak mengasihani.

Rafa memperhatikan dari dapur sambil mengaduk saus pasta. Dia melihat Val berinteraksi dengan natural. Dia tidak memaksa, tidak berlebihan.

Dia bertanya pada Luna tentang puzzle-nya, lalu bercerita tentang observatorium di Lembang yang pernah dia kunjungi. Luna, yang sedang fase tertarik pada luar angkasa, langsung terpikat.

Setelah beberapa saat, percakapan mereka mengalir. Val bertanya, “Jadi, akhir pekan ini nggak ke rumah Mama?”

“Nanti malam baru balik. Sekarang weekend sama Papa,” jawab Luna, fokus pada potongan puzzle.

“Seru ya, punya dua rumah. Pasti banyak mainan di kedua tempat.”

“Iya. Tapi lebih seru kalau mereka bareng.” Luna memasang sebuah potongan puzzle.

“Kemarin Mama ajak aku ke workshop seni sama Om Edo. Seru banget.”

Rafa, yang sedang memotong tomat, mendadak berhenti. Pisau di tangannya tertahan di udara.

“Om Edo?” tanya Val, polos.

“Iya! Temen Mama. Dia baik. Suka bantuin Mama bikin karya buat proyek #ArtForLuna. Aku juga suka dia. Dia nggak pernah nganggap aku anak kecil, selalu ajak diskusi.”

Luna tersenyum.

“Kemarin dia anterin Mama pulang. Aku liat dari jendela, mereka ngobrol lama di depan rumah. Kayaknya… seneng.”

Setiap kata dari Luna seperti tetesan air dingin di tulang belakang Rafa. Anterin pulang. Ngobrol lama. Kayaknya seneng.

“Oh, begitu,” sahut Val, melirik cepat ke arah Rafa yang pucat di dapur. “Mungkin mereka cuma temenan aja, Luna.”

“Tapi Papa,” lanjut Luna tanpa sadar, menatap Rafa, “Mama tadi pagi telepon, suaranya cerah banget. Katanya Om Edo bantu ide buat pameran ‘Battle’ itu di rumah sakit besar. Mama kayak… punya temen baru yang asik gitu.”

Rafa meletakkan pisau dengan agak keras. Bunyinya membuat Luna dan Val menoleh.

“Papa, ada apa?” tanya Luna.

“Tidak. Pisau… slip,” jawab Rafa, suaranya tegang. “Luna, ayo siap-siap makan. Val, mau ikut makan pasta? Tapi maaf, masakanku biasa saja.”

“Aku mau!” sahut Luna antusias.

Val tersenyum, tapi matanya memperhatikan Rafa dengan cermat.

“Terima kasih tawarannya, Raf. Tapi aku ada janji lain. Luna, lain kali kita main game ini ya?”

Setelah Val pergi, suasana makan siang terasa berbeda. Luna terus bercerita tentang Edo—tentang bagaimana Edo mengajarinya teknik shading di iPad, tentang bagaimana Edo selalu ingat teh favorit Amara.

Setiap cerita adalah sebuah gambaran keakraban yang membuat dada Rafa sesak oleh perasaan aneh: kecemburuan.

Ini tidak masuk akal. Dia yang menyebabkan perceraian. Dia yang menghancurkan pernikahan mereka. Dia tidak punya hak untuk cemburu. Tapi perasaan itu ada, liar dan tidak rasional.

Edo, dengan dunianya yang artistik, dengan kesabaran yang tampak sempurna, dengan caranya yang entah bagaimana berhasil membuat Amara bersinar lagi… dia adalah pengganti yang potensial.

Dan pikiran bahwa Amara bisa bahagia dengan orang lain, bahwa seseorang bisa mengambil tempatnya (meski tempatnya sudah dia tinggalkan sendiri) dalam kehidupan keluarga kecil itu, membuatnya sakit.

Sementara itu, di sebuah galeri kecil di Kemang yang sedang bersiap untuk pameran “The Unseen Battle”, Amara dan Edo sedang menyusun layout karya. Mereka berdua mengenakan pakaian kerja yang nyaman—Amara dengan jumpsuit katun hitam, Edo dengan kemeja chambray dan celana cargo.

Tangan mereka kadang bersentuhan saat mengangkat panel, pandangan mereka bertemu dan tersenyum.

“Ruangan ini sempurna,” kata Amara, memandang sekeliling. “Tidak terlalu megah, tapi punya jiwa.”

“Seperti karya-karya di dalamnya,” sahut Edo, tersenyum. Dia mengambil sebotol air mineral, membukanya, dan memberikannya pada Amara. “Kau haus.”

“Terima kasih.” Amara meminumnya, lalu duduk di bangku kayu, mengusap keringat di dahinya. “Aku tidak pernah membayangkan proyek ini akan sampai di sini.”

“Kau yang membawanya ke sini.” Edo duduk di sampingnya, menjaga jarak yang sopan namun dekat. “Dengan keberanian dan empati yang luar biasa.”

Diam sejenak. Suara kota dari luar teredam oleh dinding galeri.

“Edo,” ucap Amara, tiba-tiba. “Aku… aku perlu jujur.”

Edo menatapnya, memberi ruang.

“Aku merasa nyaman bersamamu. Sangat nyaman. Dan… aku tertarik.” Kata-kata itu sulit diucapkan.

“Tapi ada bayangan yang masih panjang di belakangku. Lukanya dalam. Dan… masih ada cinta yang tersisa untuk Rafa. Bukan cinta romantis yang ingin aku kembali. Tapi sebuah cinta untuk sejarah kami, untuk orang tua Luna. Dan itu… membuatku takut untuk melangkah lebih jauh.”

Edo mengangguk pelan, tidak terkejut. “Aku tahu. Aku bisa melihatnya. Setiap kali kau menyebut namanya, atau setiap kali kau memandang Luna, ada sebuah cerita di matamu yang panjang dan rumit.”

“Apakah itu adil bagimu? Jika hatiku masih terbelah, meski pecahannya tidak lagi menyatu?”

“Amara,” Edo memanggil namanya dengan lembut. “Aku tidak mencari pengganti untuk posisi tertentu di hidupmu. Aku hanya ingin menjadi seseorang yang penting bagimu, dengan cara apa pun yang kau izinkan. Jika itu hanya sebagai teman dan kolega sekarang, baik."

"Jika nanti bisa lebih, itu anugerah. Aku tidak terburu-buru. Dan aku tidak meminta kau untuk menghapus masa lalumu. Itu bagian dari dirimu yang membuatmu menjadi Amara yang sekarang.”

Kedewasaannya membuat Amara ingin menangis. Di satu sisi, ada Rafa yang dulu memintanya untuk memilih antara diri sendiri dan keluarga, yang kebohongannya menghancurkan kepercayaan.

Di sisi lain, ada Edo yang justru memberinya ruang untuk memiliki segalanya: masa lalu, anaknya, dan kemungkinan masa depan.

“Aku takut melukaimu,” bisik Amara.

“Dan aku seorang dewasa yang bisa mengurus hati sendiri,” jawab Edo, tersenyum. “Izinkan aku memutuskan risiko apa yang ingin aku ambil, ya?”

Dia mengulurkan tangannya, bukan untuk menggenggam, tapi sebagai tawaran. Amara melihat tangan itu, lalu menatap matanya yang jernih. Perlahan, dia meletakkan tangannya di atas tangan Edo. Sebuah sentuhan yang penuh arti, sebuah izin untuk mungkin, suatu hari nanti.

“Sekarang,” kata Edo, berdiri dan menarik tangannya dengan lembut, “ayo kita selesaikan layout ini. Luna besok mau lihat kan?”

Malam itu, giliran Luna di rumah Amara. Setelah menidurkan Luna, Amara mendapat panggilan dari Rafa. Suaranya aneh, tegang.

“Bisa kita bicara? Di bawah. Aku sudah di parkiran apartemenmu.”

Amara turun dengan jantung berdebar. Rafa berdiri di samping mobilnya, tangan di saku, menatapnya saat dia mendekat. Wajahnya terlihat berkerut oleh konflik batin.

“Ada apa? Luna baik-baik saja?”

“Luna baik. Ini… tentang kita. Tentang Edo.”

Amara menegangkan bahu. “Apa tentang Edo?”

“Luna bilang… kalian dekat.” Rafa tidak bisa menatap matanya.

“Kami berteman. Dia membantu proyek seni untuk Luna. Kau tahu itu.”

“Tapi lebih dari itu, kan?” Rafa akhirnya menatapnya, dan di matanya Amara melihatnya: kecemburuan yang menyakitkan, bercampur dengan rasa bersalah dan keputusasaan.

“Aku melihat caranya memandangmu. Dan… caramu berbicara tentangnya.”

“Rafa, kau tidak punya hak—”

“AKU TAHU!” bentaknya, lalu menarik napas dalam. “Aku tahu, Amara. Aku tidak punya hak apa-apa. Aku yang merusak segalanya. Tapi… melihatmu bisa bahagia dengan orang lain… itu…” Dia menggeleng, tidak bisa melanjutkan.

“Itu apa, Rafa? Kau ingin aku menderita selamanya? Sendiri? Sebagai hukuman untukmu?”

“TIDAK! Itu bukan…” Dia menutup wajahnya. “Aku masih mencintaimu, Amara.”

Pengakuan itu jatuh di antara mereka seperti bom yang akhirnya meledak setelah sekian lama disimpan. Udara malam tiba-tanya terasa sangat dingin.

“Apa yang kau katakan?” desis Amara.

“Aku masih mencintaimu. Bukan seperti dulu. Tapi cinta itu… tidak pernah benar-benar pergi. Aku melihatmu sekarang, semakin kuat, semakin indah, dan… itu menghancurkan hatiku karena aku tahu aku tidak pantas lagi untuk itu. Dan melihat orang lain, yang lebih baik, yang tidak pernah menyakitimu, mendekatimu… itu seperti dihakimi setiap hari.”

Amara terdiam, hancur oleh pengakuan itu. Karena dia juga merasakan hal yang sama. Cinta itu masih ada. Seperti bekas luka yang kadang gatal, atau seperti lagu lama yang tiba-tiba terngiang.

Itu bukan cinta yang ingin kembali—terlalu banyak air yang mengalir di bawah jembatan, terlalu banyak pengkhianatan yang tidak bisa diampuni sepenuhnya. Tapi itu adalah sebuah ikatan yang dalam, sebuah sejarah yang telah membentuk mereka.

“Cintaku padamu juga belum hilang, Rafa,” akhirnya Amara berbicara, suaranya bergetar.

“Tapi itu seperti… seperti foto lama yang disimpan di album. Indah untuk dikenang, tapi tidak bisa lagi dijadikan peta untuk masa depan. Kau menghancurkan kepercayaan itu. Dan kepercayaan adalah fondasi. Tanpanya, cinta hanyalah sebuah bangunan rapuh.”

Rafa mengangguk, air matanya jatuh. “Aku tahu. Dan aku tidak memintamu untuk memaafkanku atau kembali. Aku hanya… aku hanya perlu mengatakannya. Karena melihatmu dengan Edo… itu membuatku sadar betapa bodohnya aku, dan betapa aku telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga.”

Mereka berdiri dalam keheningan, terpisah oleh jarak dua meter yang terasa seperti jurang.

“Aku tidak tahu apa yang akan terjadi dengan Edo,” kata Amara akhirnya. “Tapi aku berhak untuk mencoba bahagia. Dan kau juga. Val… dia serius padamu. Dan dia baik pada Luna.”

“Val bukan kamu,” jawab Rafa, sederhana.

“Dan dia tidak akan pernah bisa.”

“Dan Edo bukan kamu. Dan mungkin itu justru baik.” Amara menarik napas. “Kita harus belajar melepaskan, Rafa. Bukan untuk kembali, tapi agar kita bisa berjalan maju.

Untuk Luna. Untuk diri kita sendiri.”

Rafa memandangnya lama, seolah ingin mengukir wajahnya dalam ingatan. Lalu, dia mengangguk, sebuah penerimaan yang pahit.

“Kau benar. Selalu kau yang benar.” Dia berbalik, membuka pintu mobil. “Aku akan coba. Untuk tidak cemburu lagi. Dan… aku berharap yang terbaik untukmu. Benar-benar.”

Dia masuk ke mobil dan pergi, meninggalkan Amara sendirian di parkiran yang sepi.

Amara naik ke apartemennya, tubuhnya lemas. Dia berdiri di depan jendela, memandang kota yang tidak pernah tidur.

Di satu sisi, ada Edo, dengan kemungkinan baru yang tenang dan dewasa. Di sisi lain, ada Rafa, dengan cinta lama yang sakit dan belum sepenuhnya mati.

Dan di tengah-tengah, ada dirinya sendiri, seorang wanita yang telah belajar bahwa hati bisa menyimpan banyak hal sekaligus: luka yang belum sembuh, cinta yang berubah bentuk, dan harapan baru yang masih ragu-ragu untuk dipegang.

Malam itu, dia tidak menangis. Dia hanya merasa sangat lelah, dan sangat manusiawi, menyadari bahwa terkadang, yang paling sulit bukanlah melupakan, tapi belajar hidup dengan kenangan, sambil tetap membuka tangan untuk kemungkinan-kemungkinan baru yang belum tentu lebih mudah, tapi layak untuk dicoba.

1
La Rue
Amara masih berat ujiannya, sabar ya Amar
La Rue
koq sama dengan kebiasaanku pensil bahkan sumpit biasanya jadi tusuk konde praktis 🤣🤣🤣🤣🤣
La Rue: aq bukan wonder woman seperti Amara 🤣
total 2 replies
La Rue
Babak baru bagi Amara dan Rafa akan dimulai,ehm kapan Rafa akan bertemu anaknya yang satu lagi, Adit ya kalau ndak salah ?
Bp. Juenk: soon kaka
total 1 replies
Ne Ajja
ka...aku mau tanya, kenapa Kaka pilih ngebahasain Luna manggil ke Gunawan pake "Mas"...?

karena kan jarak umur mereka jauh..

nanya aja koq 🫰
Bp. Juenk: di bab waktu sari memperkenalkan Gunawan ke Amara. memang dia di panggil nya Mas Wan Ka. kayak panggilan kecil gitu. 😄
total 1 replies
La Rue
Proud of you Luna and Amara 👏👏👏👏👏
Ne Ajja
ahhhh....big hug buat Luna...🤗🤗
Ne Ajja
tanggungan jawab kamu kaaa....
air mata aku ngalir nih...jadi bikin hidung mampet...😭😭....

cerita kamu bener2 bagus ka...
semangat nulisnya ya..semoga makin banyak yg baca karya kamu...
banyak sisi positif yg bisa diambil...
Bp. Juenk: siap terima kasih kaka, othor juga berkaca2 koq nulisnya 🙏
total 1 replies
sutiasih kasih
klo sdh bgini.... mau apa coba...
hncur ber keping"...
knapa sblm brtindak tak kaubfikirkn akibatnya rafa....
km org brpndidikn... punya karir cemerlang n tentunya bnyak dwit....
knapa km tak merangkul istrimu n mncari solusi yg trbaik n masuk akal....
eeeee mlah lbh milih lari ke pembantu...
yg bner aja rafa... msa iya km banting mental istrimu dgn brsaing sm pambantumu...🙄🙄
Ne Ajja
😭😭😭...
aku sampe ngga bisa berkata2
Ne Ajja
ahhhhh....
cerita kamu bener2 lhoo Kak.....
bikin hati aku mleyot2...
sedihnya dapat banget...

kadang.... keluarga tidak harus ada hubungan darah...😭😭
Bp. Juenk: thanks for support Kaka. 🙏
total 1 replies
sutiasih kasih
istri harus bersaing dgn pembantu....
rafa.... km mnggali kuburanmu sndiri....
brmain api pasti akn trbakar...
selingkuh = khilangan istrimu....
dasar suami tak tau diri🙄🙄
La Rue
penerimaan dan perdamaian dari masa lalu telah membuat mereka kuat untuk melanjutkan mimpi dan harapan. Senangnya melihat Amara, Luna, Rafa dan Gunawan.
Terimakasih author untuk rangkaian kisah Amara ini
Ne Ajja
kereennn..👍👍👍

beneran bagus lho ceritanya.. penggunaan kata2nya...😍😍...
Bp. Juenk: terima kasih kaka supportnya 🙏
total 1 replies
Yuki San
Mantap author, semangat terus berkarya nya 💪
Bp. Juenk: thanks supportnya kaka 🙏
total 1 replies
La Rue
I loved it 👍
La Rue
Amara kamu layak untuk bahagia 👍
Halwah 4g
ceritanya me nganu - nganu hatiku....gelo author nya..keren karya nya...di tunggu karya karya lainnya
Halwah 4g: sami sami kang author 💪
total 2 replies
La Rue
Oh My, Luna so sweet. Keep it up Amara 😊👍
La Rue
Hey,bagaimana bisa kau mengemas permasalahan dengan filosofi buah dan rempah² 🤔😁👏 Semangat untuk Amara 👍
Bp. Juenk: 🤭 thanks Kk,
total 1 replies
La Rue
Go Amara, find your way and catch your stars 👏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!