NovelToon NovelToon
Harmoni Lembah Biru "Kazumi Flora"

Harmoni Lembah Biru "Kazumi Flora"

Status: tamat
Genre:Romansa / Fantasi Wanita / Tamat
Popularitas:46
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Namaku Kazumi Flora. Dengan tinggi 154 cm, aku mungkin tampak mungil di tengah megahnya Lembah Biru, namun jiwaku seluas dan sedalam danau ini. Sejak kecil, alam adalah rumahku, dan bunga-bunga adalah sahabatku. Setiap helai kelopak, setiap hembusan angin, dan setiap riak air danau menyimpan cerita yang tak pernah usai aku dengarkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 15

Aku memilih untuk tetap diam, meskipun jantungku berdegup sangat kencang hingga rasanya bisa terdengar oleh orang di sebelahku. Aku menarik tudung jaket keduaku, menunduk dalam-dalam sambil sesekali mencuri pandang melalui pantulan kaca jendela bus.

Mereka benar-benar di sini.

Kaelen dan Ren tampak seperti dua mahasiswa atau pemuda pekerja di kota besar. Namun, caramu melihat Kaelen menjaga jarak di sekitar Ren, seolah ia adalah pelindung tak kasat mata, mengonfirmasi satu hal: mereka adalah orang yang sama.

Saat bus berhenti di depan Perpustakaan Pusat Kota, mereka berdua beranjak turun. Aku segera menyambar ranselku, menunggu beberapa detik agar tidak terlihat mencurigakan, lalu ikut melompat turun dari pintu belakang.

Aku mengikuti mereka dari jarak aman. Mereka berjalan melewati deretan gedung beton, namun anehnya, ke mana pun Kaelen melangkah, bunga-bunga liar di retakan trotoar tampak sedikit lebih tegak dan segar.

"Kael, kau merasakannya?" bisik Ren sambil menoleh ke belakang, membuatku refleks bersembunyi di balik tiang telepon.

"Ya," jawab Kaelen datar, namun langkahnya melambat. "Dia mengikuti kita."

Aku membeku. Ketahuan. Namun bukannya marah, Kaelen justru berbelok ke sebuah taman kecil yang sepi di balik perpustakaan. Aku memberanikan diri untuk muncul.

"Kaelen! Ren!" panggilku, suaraku sedikit bergetar.

Mereka berdua berhenti dan berbalik. Ren tersenyum lebar, sementara Kaelen menatapku dengan tatapan yang sangat dalam, penuh dengan beban rahasia yang ia simpan sendirian.

"Kazumi," ucap Kaelen. Suaranya tidak lagi dingin seperti di bus. "Kau seharusnya tidak berada di sini. Kau seharusnya menikmati hidupmu yang 'normal' di kota ini."

"Jadi itu bukan mimpi?" aku mendekat, menatap wajahnya yang kini tampak lebih 'manusia'. "Kenapa kalian ada di sini? Dan kenapa kalian terlihat seperti sahabat?"

Ren tertawa kecil, ia menyandarkan tas tabung gambarnya di bangku taman. "Dunia Seberang memang sudah tidak ada untukmu, Kazumi. Setelah ledakan di Menara Sunyi, segel itu tidak hanya mengurung Raja Malakor—ayah Kaelen—selamanya di dalam kekosongan, tapi juga menghancurkan struktur dimensi itu sendiri."

Kaelen melangkah mendekat padaku, tingginya yang jangkung membuatku harus mendongak. "Aku menggunakan sisa kekuatanku untuk membawa jiwa Ren dan jiwaku ke sini, untuk terlahir kembali sebagai manusia biasa. Raja itu sudah lenyap, terkurung dalam kegelapan yang tak berujung. Aku ingin kau aman, maka aku menyembunyikan kenyataan ini darimu... aku ingin kau memiliki kesempatan untuk hidup tanpa bayang-bayang monster."

"Tapi kenapa kau memberiku petunjuk untuk mencarimu?" tanyaku sambil menyentuh liontin kristal di leherku.

Kaelen menghela napas, ia menyentuh ujung kepalaku dengan lembut. "Karena aku egois, Kazumi. Aku bisa menyembunyikan dunia itu, tapi aku tidak bisa menghapus perasaanku sendiri. Aku ingin kau hidup normal, tapi aku juga tidak sanggup melihatmu menjalani hidup tanpa aku di dalamnya."

Tiba-tiba, Ren berdeham, memecah suasana intim itu. "Yah, sayangnya, meskipun Raja sudah lenyap, ada hal lain yang mengikuti kita ke dunia ini. Sesuatu yang tidak sengaja ikut 'terlahir kembali' saat gerbang itu pecah."

Kaelen mengerutkan kening, wajahnya kembali waspada. "Sesuatu yang sedang mengintai di balik beton-beton kota ini."

Aku menelan ludah. Ternyata, meskipun Raja Malakor sudah terkurung, petualanganku belum benar-benar usai.

"Tapi... tidak ada sihir lagi, kan? Semuanya benar-benar sudah berakhir?" tanyaku dengan nada mendesak, mencari kepastian di matanya. Aku ingin memastikan bahwa dunia beton ini tidak akan tiba-tiba berubah menjadi medan perang penuh monster lagi.

Kaelen tersenyum tipis, sebuah senyum yang kali ini terasa sangat hangat dan nyata, bukan lagi bayangan dingin yang penuh beban. Ia melangkah maju, menghapus jarak di antara kami, lalu menggenggam jemariku yang masih sedikit gemetar.

"Tidak ada sihir lagi, Kazumi sayang," ucap Kaelen lembut. Suaranya terdengar begitu menenangkan, seperti melodi yang menghapus semua ketakutanku selama ini. "Gerbang itu sudah musnah. Kekuatan yang kualihkan untuk membawa kami ke sini telah habis sepenuhnya. Sekarang aku hanya pria biasa yang harus bekerja untuk membayar sewa apartemen, dan Ren hanya pelukis yang sering telat mengumpulkan pesanan."

Ren terkekeh di belakangnya, mengayunkan tabung gambarnya. "Benar! Satu-satunya 'sihir' yang tersisa adalah bagaimana aku bisa bertahan hidup hanya dengan makan mi instan setiap akhir bulan."

Aku menghela napas lega yang sangat panjang. Beban berat yang selama ini menekan pundakku seolah luruh seketika. "Jadi... aku benar-benar bisa kuliah dengan tenang?"

"Tentu saja," jawab Kaelen. Ia menyelipkan beberapa helai rambut ke belakang telingaku. "Kau bisa belajar tentang bunga-bunga asli yang tumbuh di tanah, bukan bunga yang bisa bicara atau mengeluarkan cahaya. Kau bisa menjadi manusia seutuhnya."

Namun, meskipun ia bilang tidak ada sihir, aku tetap merasakan debaran yang sama saat menatap matanya. Jika cinta ini masih terasa begitu kuat dan magis, bukankah itu adalah satu-satunya sihir yang tersisa di dunia ini?

"Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanyaku, menatap mereka berdua secara bergantian.

Kaelen menatap jam tangannya, lalu menatap perpustakaan besar di belakang kami. "Pertama, kita harus mengantarmu ke asrama kampus. Setelah itu, mungkin kita bisa makan malam bersama? Ada kedai ramen yang enak di dekat galeri Ren."

Aku tersenyum lebar—senyum pertama yang benar-benar tulus sejak aku meninggalkan Lembah Biru. Petualangan mistis mungkin sudah berakhir, tapi petualangan baruku di kota besar, bersama pria yang pernah kucintai di dimensi lain, baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!