Lou Chen, seorang pemuda biasa yang hidup di dunia modern, tiba tiba mendapatkan System Cek-in harian yang misterius . dengan System ini dia bisa mendapatkan hadiah dan kemampuan baru setiap hari . Namun apa yang tidak dia ketahui adalah , bahwa system ini akan membawa dia ke dunia Kultivasi immortal yang penuh bahaya dan rahasia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan di Paviliun obat
Luo Chen membuka mata saat senja mulai merayap masuk melalui jendela kamarnya. Kultivasi selama berjam-jam membuat tubuhnya terasa segar, jauh berbeda dari kelelahan yang biasa dirasakan tubuh aslinya. Qi dalam dantiannya sudah stabil di tingkat 1, berputar pelan membentuk pusaran kecil berwarna emas.
Perutnya berbunyi. Luo Chen baru menyadari dia belum makan sejak transmigasi kemarin. Dari memori tubuh asli, murid terluar mendapat jatah makanan tiga kali sehari di Aula Makan Timur. Tapi karena statusnya yang rendah, makanan yang dia dapat selalu sisa-sisa yang tidak layak.
"Harus mencari uang," gumam Luo Chen sambil memeriksa kantong kecil di pinggangnya. Hanya ada tiga keping tembaga—setara dengan tiga yuan dalam nilai Bumi. Hampir tidak ada.
Di Sekte Langit Biru, mata uang yang digunakan adalah keping spiritual: tembaga, perak, emas, dan kristal. Satu perak setara seratus tembaga, satu emas setara seratus perak, dan satu kristal setara seratus emas. Untuk makan yang layak, setidaknya dia butuh sepuluh keping perak.
Luo Chen keluar dari kamarnya yang terletak di area paling pojok asrama murid terluar. Bangunan kayu tua dengan cat yang mengelupas, sangat kontras dengan paviliun megah murid dalam yang terlihat di kejauhan. Dia berjalan menyusuri jalan setapak berbatu, melewati murid-murid lain yang menatapnya dengan pandangan mengejek.
"Lihat, sampah itu masih hidup."
"Aku dengar Zhang Wei dan gengnya memukulinya kemarin. Kenapa tidak mati saja?"
"Wajah tampan tapi tidak berguna. Memalukan."
Luo Chen mengabaikan bisikan-bisikan itu. Dalam beberapa hari, mereka semua akan tahu betapa salahnya mereka.
Aula Makan Timur adalah bangunan besar dengan atap genteng biru. Aroma masakan menguar dari dalam, membuat perut Luo Chen semakin keroncongan. Dia masuk dan langsung menuju ke konter pengambilan makanan.
"Luo Chen, murid terluar," katanya pada pelayan tua yang bertugas.
Pelayan itu meliriknya dengan jijik, lalu mengambil sepiring nasi dingin dan beberapa potong sayur layu. "Ini jatahmu. Pergi."
Luo Chen menatap piring itu dengan datar. Makanan yang bahkan tidak layak untuk babi. Tapi dia mengambilnya tanpa protes. Tidak ada gunanya membuat ribut sekarang.
Dia duduk di pojok ruangan, jauh dari murid-murid lain yang makan dengan lahap. Nasi dinginnya keras dan sayuran layunya hambar, tapi Luo Chen memakannya dengan tenang. Tubuh ini butuh energi untuk kultivasi.
Saat sedang makan, pintu aula terbuka dan seorang gadis cantik melangkah masuk. Semua mata langsung tertuju padanya.
Xiao Yao.
Luo Chen mengenalinya dari memori tubuh asli. Murid dalam ranking lima, Qi Refining tingkat 8, dan salah satu genius muda Sekte Langit Biru. Rambut hitam panjangnya diikat ekor kuda tinggi, wajahnya cantik dengan mata tajam yang dingin, tubuhnya ramping tapi terlihat kuat dalam jubah biru tua murid dalam.
"Kakak Senior Xiao Yao!"
"Kakak Senior, duduklah di sini!"
Murid-murid pria langsung berebut menawarkan tempat. Xiao Yao mengabaikan mereka semua dan berjalan lurus ke konter, mengambil makanannya—jauh lebih baik dari yang didapat Luo Chen—lalu mencari tempat duduk.
Matanya melewati Luo Chen sekilas. Ada sedikit keheranan di wajahnya, mungkin karena dia tahu Luo Chen seharusnya sudah mati kemarin. Tapi dia tidak berkata apa-apa dan duduk di meja seberang, cukup jauh tapi masih dalam jangkauan penglihatan.
Luo Chen melanjutkan makannya, mencoba tidak terlalu memperhatikan. Tapi dari sudut matanya, dia bisa melihat Xiao Yao sesekali meliriknya. Aneh.
Setelah selesai makan, Luo Chen keluar dari aula dan berjalan menuju Paviliun Obat. Dari memori, Paviliun Obat adalah tempat murid-murid menjual atau membeli pil, ramuan, dan bahan-bahan kultivasi. Dia berniat mencari pekerjaan sampingan di sana. Sebagai mantan programmer, dia terbiasa dengan pekerjaan detail yang membutuhkan ketelitian—cocok untuk memilah bahan obat.
Paviliun Obat terletak di pusat sekte, bangunan tiga lantai dengan aroma herbal yang kuat. Luo Chen masuk dan disambut oleh seorang wanita paruh baya dengan jubah hijau—seragam alchemist junior.
"Ada perlu apa?" tanya wanita itu dengan nada datar.
"Aku ingin mencari pekerjaan," jawab Luo Chen sopan. "Apa paviliun ini butuh pekerja?"
Wanita itu menatapnya dari atas ke bawah, ekspresinya skeptis. "Kau murid terluar? Kultivasi tingkat berapa?"
"Qi Refining tingkat 1."
"Tingkat 1?" Wanita itu mendengus. "Paviliun ini butuh orang yang minimal tingkat 3 untuk mengangkat beban. Tapi..." dia melirik ke ruang belakang, "kami memang butuh seseorang untuk memilah ramuan kering. Pekerjaannya membosankan dan gajinya rendah. Lima keping tembaga per hari. Mau?"
Lima keping tembaga sehari. Dalam sebulan bisa dapat seratus lima puluh keping tembaga—setara satu setengah keping perak. Tidak banyak, tapi lebih baik dari tidak ada.
"Aku mau," jawab Luo Chen.
"Baiklah. Ikut aku."
Wanita itu membawanya ke ruang belakang paviliun. Sebuah gudang besar penuh dengan keranjang berisi ramuan-ramuan kering berbagai jenis. Ada ginseng, akar lotus, daun phoenix, dan ratusan jenis lain yang Luo Chen tidak kenali.
"Tugasmu sederhana," jelas wanita itu. "Pilah ramuan-ramuan ini berdasarkan jenisnya. Yang rusak atau busuk buang ke tong sampah itu. Yang bagus masukkan ke keranjang sesuai labelnya. Mengerti?"
"Mengerti."
"Bagus. Kerjakan sampai malam. Aku akan datang mengecek nanti."
Wanita itu pergi, meninggalkan Luo Chen sendirian di gudang. Dia menatap tumpukan ramuan yang menggunung dan menghela napas. Ini akan memakan waktu lama.
Tapi Luo Chen tidak keberatan. Sambil bekerja, dia bisa mempelajari lebih banyak tentang ramuan-ramuan kultivasi. Siapa tahu suatu hari pengetahuan ini akan berguna.
Dia mulai bekerja dengan metodis. Mengambil satu per satu ramuan, memeriksanya, lalu memasukkan ke keranjang yang tepat. Tangannya bergerak cepat tapi teliti, memanfaatkan kebiasaan lama saat coding—fokus tinggi dan perhatian pada detail.
Satu jam berlalu. Dua jam. Tiga jam.
Luo Chen sudah menyelesaikan hampir seperempat tumpukan ketika pintu gudang terbuka. Seorang gadis muda dengan jubah hijau muda—murid alchemist pemula—melangkah masuk sambil membawa keranjang kosong.
"Oh, ada orang baru?" Gadis itu tersenyum ramah. Wajahnya manis dengan pipi chubby dan mata bulat yang cerah. Rambut pendeknya diikat dua kuncir kecil di samping kepala. "Aku Lin Daiyu. Kau siapa?"
"Luo Chen," jawabnya singkat sambil terus bekerja.
"Luo Chen..." Lin Daiyu mengernyit, seperti mencoba mengingat sesuatu. "Oh! Kau murid terluar itu kan? Yang katanya tidak punya bakat kultivasi?"
Luo Chen menghentikan gerakannya sejenak. "Berita cepat sekali menyebar."
"Ah, maaf!" Lin Daiyu terlihat panik. "Aku tidak bermaksud—maksudku, aku cuma—"
"Tidak apa," potong Luo Chen. "Itu memang fakta. Atau setidaknya dulu."
"Dulu?" Lin Daiyu menatapnya penasaran. "Jadi sekarang kau sudah bisa kultivasi?"
"Qi Refining tingkat 1."
"Benarkah?!" Mata Lin Daiyu berbinar. "Luar biasa! Bagaimana bisa? Aku dengar kau tidak punya akar spiritual sama sekali!"
Luo Chen tidak menjawab. Dia tidak bisa memberitahu siapa pun tentang sistem. Itu akan menjadi rahasianya yang terbesar.
Melihat Luo Chen tidak ingin menjawab, Lin Daiyu tidak memaksa. Gadis itu hanya tersenyum dan mulai mengambil beberapa ramuan dari keranjang yang sudah Luo Chen pilah.
"Wah, kau memilahnya dengan sangat rapi!" puji Lin Daiyu setelah memeriksa. "Biasanya pekerja baru sering salah memasukkan ramuan yang mirip. Tapi pekerjaanmu sempurna!"
"Aku hanya mengikuti label," jawab Luo Chen datar, meski dalam hati dia sedikit senang dengan pujian itu.
"Tetap saja, ini bagus!" Lin Daiyu duduk di keranjang kosongnya, mengayunkan kaki dengan riang. "Hey, Luo Chen, apa kau tertarik belajar alchemy?"
Luo Chen menghentikan pekerjaannya dan menatap gadis itu. "Alchemy?"
"Iya! Aku baru mulai belajar beberapa bulan lalu. Masih pemula sih, baru bisa bikin pil tingkat rendah. Tapi sangat menyenangkan! Dan—" Lin Daiyu mendekat sambil berbisik, "alchemist dibayar sangat mahal lho. Bahkan alchemist junior bisa dapat puluhan keping emas per bulan!"
Puluhan keping emas. Itu setara ribuan keping perak. Uang yang sangat besar untuk ukuran kultivator rendahan sepertinya sekarang.
"Tapi bukankah belajar alchemy itu sulit?" tanya Luo Chen. "Dan mahal?"
"Sulit, iya. Tapi kalau kau punya bakat, tidak masalah. Dan untuk biaya..." Lin Daiyu tersenyum misterius. "Aku bisa mengajarimu secara gratis. Anggap saja sebagai teman."
"Kenapa kau mau mengajariku?"
Lin Daiyu mengangkat bahu. "Karena kau terlihat seperti orang yang tekun. Dan aku suka orang yang tekun. Lagipula, tidak ada salahnya punya teman kan?"
Luo Chen menatap gadis itu dengan mata menyipit. Dari memori tubuh asli, Lin Daiyu memang terkenal ramah dan suka menolong. Tapi tetap saja, ada yang aneh dengan gadis ini. Kenapa dia begitu baik pada orang asing yang baru dikenal?
Tapi di sisi lain, belajar alchemy memang bisa sangat menguntungkan. Dalam dunia kultivasi, alchemist adalah profesi yang sangat dihormati. Bahkan kultivator kuat pun harus menghormati alchemist karena mereka yang membuat pil-pil breakthrough dan penyembuhan.
"Baiklah," akhirnya Luo Chen memutuskan. "Aku mau belajar. Tapi dengan satu syarat."
"Apa?"
"Jangan perlakukan aku istimewa. Aku ingin belajar dengan kemampuanku sendiri."
Lin Daiyu tertawa. Tawanya seperti lonceng kecil yang jernih. "Deal! Kita mulai besok malam setelah kau selesai kerja. Aku akan tunggu di sini."
Gadis itu melompat turun dari keranjangnya, mengambil ramuan yang dibutuhkan, lalu melambai riang sebelum keluar dari gudang.
Luo Chen kembali ke pekerjaannya, tapi pikirannya melayang. Lin Daiyu... gadis itu menarik. Ramah, ceria, tapi ada sesuatu di matanya yang menunjukkan dia lebih cerdas dari yang terlihat.
Malam semakin larut. Luo Chen akhirnya menyelesaikan semua pekerjaannya tepat sebelum tengah malam. Wanita paruh baya yang mempekerjakannya datang untuk mengecek, dan wajahnya terlihat terkejut melihat semua ramuan sudah tersusun rapi.
"Bagus," katanya sambil memberikan lima keping tembaga. "Besok datang lagi jam yang sama."
Luo Chen menerima bayarannya dan berjalan pulang ke asrama dengan langkah lelah. Tapi kelelahannya adalah kelelahan yang memuaskan. Dia sudah punya pekerjaan, calon guru alchemy, dan kekuatan yang terus bertambah.
Sesampainya di kamar, dia langsung duduk bersila dan mulai kultivasi. Qi Refining tingkat 1 masih terlalu lemah. Dia harus cepat naik level.
Qi emas mengalir dalam meridiannya, membersihkan kotoran-kotoran yang tersisa, memperkuat tulang dan otot. Teknik Naga Langit Sembilan Transformasi bekerja dengan efisien, menyerap Qi jauh lebih cepat daripada teknik biasa.
Beberapa jam kemudian, Luo Chen merasakan dinding tipis di dantiannya—bottleneck menuju tingkat 2. Dia menekan lebih keras, memaksa lebih banyak Qi masuk, sampai—
KRAK!
Dinding itu pecah.
[Selamat! Host telah breakthrough ke Qi Refining Tingkat 2]
Luo Chen membuka mata dan tersenyum tipis. Dari tingkat 1 ke tingkat 2 hanya dalam satu hari. Dengan teknik biasa, ini butuh minimal satu minggu. Tapi dengan Naga Langit Sembilan Transformasi, satu hari cukup.
Dia melirik ke luar jendela. Langit sudah mulai terang. Fajar akan segera tiba.
Dan bersamanya, cek-in kedua.
Luo Chen menunggu dengan sabar sampai matahari terbit sepenuhnya. Jam internal di tubuhnya sudah terlatih dari kebiasaan bangun pagi saat masih programmer.
[06:59]
Satu menit lagi.
[07:00]
DING!
[Waktu cek-in telah tiba!]
[Apakah Host ingin melakukan cek-in?]
"Cek-in!"
[Cek-in berhasil!]
[Selamat! Host mendapatkan: Pedang Spiritual 'Bayangan Bulan']
[Keterangan: Pedang tingkat Bumi dengan kemampuan khusus 'Tebasan Bayangan'—dapat mengeluarkan tebasan Qi yang tak terlihat. Cocok untuk kultivator Qi Refining hingga Foundation Establishment]
Cahaya berkilau muncul di depan Luo Chen dan perlahan membentuk sebuah pedang. Pedangnya ramping dengan bilah berwarna perak yang berkilau seperti cahaya bulan. Gagangnya terbuat dari kayu hitam dengan ukiran awan, dan saat Luo Chen menggenggamnya, pedang itu terasa sempurna—tidak terlalu berat, tidak terlalu ringan.
Dia mengayunkan pedang beberapa kali. Setiap ayunan menghasilkan bunyi mendesis yang tajam. Pedang tingkat Bumi! Bahkan murid dalam ranking tinggi pun belum tentu punya senjata sebagus ini!
"Sistem ini..." Luo Chen menggeleng kagum. "Benar-benar luar biasa."
Dia menyimpan pedang itu di dalam ring penyimpanan sederhana yang dimiliki tubuh asli—salah satu dari sedikit harta berharga yang dimilikinya. Ring penyimpanan itu hanya punya ruang sekitar dua meter kubik, tapi cukup untuk menyimpan senjata dan barang-barang penting lainnya.
Dengan pedang Bayangan Bulan dan kultivasi Qi Refining tingkat 2, Luo Chen yakin dia sekarang bisa menghadapi bahkan kultivator tingkat 5 biasa.
Tapi dia tidak akan sombong. Masih banyak orang kuat di sekte ini. Murid inti terendah saja sudah Foundation Establishment. Belum lagi para tetua dan Kepala Sekte yang konon sudah mencapai Golden Core.
Luo Chen harus tetap rendah hati dan terus mengumpulkan kekuatan.
Hari itu dia habiskan untuk bekerja di Paviliun Obat lagi, memilah ramuan dengan tekun. Lin Daiyu datang beberapa kali untuk mengobrol, selalu dengan senyum ceria yang menggemaskan. Gadis itu berbicara tentang berbagai hal—tentang sekte, tentang alchemy, tentang dunia kultivasi—dan Luo Chen mendengarkan sambil menyerap informasi sebanyak mungkin.
Malam harinya, seperti janji, Lin Daiyu mengajaknya ke ruang alchemy kecil di lantai dua paviliun.
"Ini tempat latihan untuk murid alchemist pemula," jelas Lin Daiyu sambil menyalakan tungku alchemy kecil. "Kita akan mulai dari yang paling dasar—Pil Pemulihan Qi."
Pil Pemulihan Qi adalah pil tingkat paling rendah yang digunakan kultivator untuk memulihkan Qi setelah bertarung atau kultivasi. Hampir semua kultivator punya stok pil ini.
"Bahan-bahannya sederhana," Lin Daiyu mengeluarkan beberapa ramuan dari ring penyimpanannya. "Akar ginseng kering, daun mint spiritual, dan serbuk kristal Qi. Ramuannya juga tidak sulit, tapi timing-nya harus pas."
Dia mendemonstrasikan prosesnya dengan hati-hati. Memasukkan ramuan satu per satu ke tungku, mengatur suhu dengan Qi, menunggu waktu yang tepat, lalu memadatkan semuanya menjadi pil.
POP!
Asap hijau keluar dari tungku dan sebuah pil kecil berwarna putih jatuh ke tangan Lin Daiyu.
"Ini dia!" gadis itu tersenyum bangga. "Pil Pemulihan Qi tingkat rendah. Kualitasnya biasa saja karena aku masih pemula. Alchemist yang mahir bisa bikin yang tingkat tinggi dengan efek jauh lebih kuat."
"Sekarang giliranmu," Lin Daiyu mendorong Luo Chen ke depan tungku. "Coba!"
Luo Chen menarik napas dalam dan mulai mengikuti instruksi Lin Daiyu. Dia memasukkan ramuan satu per satu, mengatur suhu dengan Qi-nya yang masih lemah, dan menunggu.
Tapi terlalu cepat. Ramuannya langsung gosong.
BOOM!
Tungku meledak kecil, mengeluarkan asap hitam pekat.
"Ah! Tidak apa-apa!" Lin Daiyu tertawa. "Percobaan pertama selalu gagal. Coba lagi!"
Percobaan kedua. Gagal. Ramuannya tidak menyatu.
Percobaan ketiga. Gagal. Timing-nya salah.
Percobaan keempat...
POP!
Sebuah pil kecil jatuh ke tangan Luo Chen. Warnanya agak keabu-abuan, tidak seputih pil Lin Daiyu, tapi itu tetap Pil Pemulihan Qi!
"Kau berhasil!" Lin Daiyu bertepuk tangan. "Percobaan keempat sudah berhasil! Itu cepat sekali! Aku dulu butuh dua puluh kali percobaan sebelum berhasil!"
Luo Chen menatap pil di tangannya dengan perasaan bangga. Mungkin ini bukan prestasi besar, tapi ini adalah langkah pertamanya di dunia alchemy.
"Kau punya bakat," kata Lin Daiyu dengan serius. "Bakat yang sangat bagus. Dengan latihan yang cukup, aku yakin kau bisa jadi alchemist hebat."
Luo Chen tersenyum tipis. "Terima kasih sudah mengajariku."
"Sama-sama!" Lin Daiyu mengedipkan mata. "Besok kita latihan lagi ya!"
Malam itu Luo Chen pulang dengan perasaan puas. Dia punya pekerjaan, sedang belajar alchemy, dan kekuatannya terus bertambah. Semuanya berjalan lebih baik dari yang dia bayangkan.
Tapi saat melewati area asrama murid dalam, dia melihat sosok yang familiar.
Xiao Yao berdiri di bawah pohon sakura, memandang bulan dengan ekspresi yang sulit dibaca. Rambutnya yang panjang tergerai, bergoyang pelan ditiup angin malam.
Luo Chen berniat lewat saja, tapi Xiao Yao tiba-tiba berbicara.
"Luo Chen."
Dia berhenti. "Ya?"
Xiao Yao berbalik menatapnya. Mata tajamnya seolah bisa melihat sampai ke jiwa Luo Chen.
"Kau... berbeda," katanya pelan. "Sangat berbeda dari dua hari lalu."
Luo Chen tidak menjawab. Apa yang harus dia katakan?
"Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu," lanjut Xiao Yao. "Tapi hati-hati. Ada banyak orang di sekte ini yang tidak suka melihat murid terluar tiba-tiba menjadi kuat."
"Terima kasih atas peringatannya," jawab Luo Chen sopan.
Xiao Yao menatapnya sejenak lagi, lalu berbalik dan berjalan pergi. Tapi sebelum menghilang, dia berkata satu kalimat lagi.
"Jika kau butuh bantuan... datanglah ke Paviliun Utara. Aku sering berlatih di sana."
Lalu dia menghilang dalam kegelapan malam.
Luo Chen berdiri di sana cukup lama, memikirkan pertemuan aneh itu. Xiao Yao... gadis dingin yang terkenal tidak peduli pada siapa pun, kenapa tiba-tiba peduli padanya?
Tapi dia menggeleng. Terlalu banyak yang harus dipikirkan. Yang penting sekarang adalah terus menjadi kuat.
Dia kembali ke kamarnya dan melanjutkan kultivasi sampai fajar tiba.
Dan besok, cek-in ketiga akan segera dimulai.
[Akhir Bab 2]