NovelToon NovelToon
CINTA DUA ALAM - Aku Menikahi Jin

CINTA DUA ALAM - Aku Menikahi Jin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Misteri
Popularitas:85
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Arga Maheswara, mengira bahwa kepindahannya ke rumah tua peninggalan keluarga, akan menyembuhkan luka akibat pengkhianatan istri. Namun sejak malam pertama, sosok wanita cantik bergaun putih selalu muncul di bawah sinar bulan tersenyum sendu, seolah telah lama menunggunya.

Safira Aluna. Kehadirannya yang lembut perlahan mengobati hati Arga yang hancur. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta yang tulus. Tapi ketika kebenaran terungkap, Arga terkejut Safira bukan manusia. Ia adalah jin muslimah yang terikat kutukan masa lalu, menunggu puluhan tahun untuk menemukan cinta sejatinya.

Meski menakutkan, Arga tak sanggup melepaskan Safira. Mereka menikah dalam ikatan dua alam yang terlarang. Namun cinta mereka adalah kutukan itu sendiri semakin dalam Arga mencintai Safira, semakin cepat nyawanya terkikis.

Akankah cinta mereka bertahan melawan takdir?

Atau salah satu harus berkorban untuk yang lain?

Selamat menyaksikan kisah cinta beda alam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Konfrontasi Terakhir dengan Ratih

Pagi itu Safira sedang menyuapi Arga bubur di teras depan saat terdengar suara mobil berhenti di depan gerbang. Mobil Honda Jazz putih yang familiar. Mobil yang dulu sering Arga ceritakan. Mobil Ratih.

Jantung Safira langsung berdegup kencang. "Arga, sepertinya ada tamu."

Arga yang sedang kesusahan menelan bubur melirik ke arah gerbang, matanya menyipit karena pandangannya sudah mulai kabur akhir-akhir ini. "Siapa?"

Sebelum Safira sempat jawab, Ratih sudah turun dari mobil. Tapi kali ini berbeda. Tidak ada kemarahan di wajahnya. Tidak ada dendam. Yang ada cuma kesedihan yang sangat dalam.

Ratih berjalan pelan ke arah gerbang, tangannya gemetar saat membukanya. Saat matanya bertemu dengan Arga yang duduk di kursi rotan dengan tubuh yang sangat kurus, selimut menutupi kaki yang sudah tidak bisa berjalan lagi, wajahnya langsung hancur.

"Ya Tuhan," bisik Ratih sambil menutup mulutnya dengan tangan gemetar. Air matanya langsung keluar deras. "Arga, kamu kenapa jadi begini?"

Arga tersenyum lemah, suaranya parau seperti orang yang sudah lama tidak bicara keras. "Hai, Ratih. Lama tidak ketemu."

"Jangan bercanda!" Ratih langsung berlari menghampiri, jatuh berlutut di depan kursi Arga dengan wajah yang basah oleh air mata. "Lihat kamu! Kamu kurus banget! Tulangmu aja keliatan! Wajahmu pucat kayak..."

Ratih tidak sanggup melanjutkan. Dia menangis sejadi-jadinya di depan Arga, tangan gemetar mau menyentuh tapi takut menyakiti.

Safira yang melihat itu hanya berdiri diam di samping, mangkuk bubur masih di tangannya. Dadanya sesak melihat Ratih menangis seperti itu. Wanita yang dulu dia anggap musuh sekarang terlihat sangat hancur.

"Ratih, kenapa kamu datang?" tanya Arga dengan lembut walau suaranya lemah.

"Aku datang karena aku dengar dari Bagas kamu sakit parah," Ratih mengusap air matanya kasar tapi tetap mengalir. "Tapi aku tidak tahu dia separah ini. Arga, kenapa kamu tidak bilang ke aku? Kenapa kamu..."

"Kenapa aku harus bilang?" Arga tersenyum sedih. "Kita sudah bukan siapa-siapa lagi, Ratih. Kamu punya hidupmu. Aku punya hidupku."

"Tapi aku masih peduli!" Ratih berteriak dengan frustasi, air matanya semakin deras. "Aku masih menyesal dengan apa yang aku lakukan dulu. Aku yang menghancurkan hidupmu. Dan sekarang wanita itu juga menghancurkanmu."

"Jangan," Arga memotong dengan tegas walau suaranya lemah. "Jangan salahkan Safira. Dia tidak menghancurkan hidupku. Dia yang menyelamatkan hidupku."

"Tapi lihat kamu sekarang!" Ratih menunjuk tubuh Arga yang kurus kering. "Kamu sekarat, Arga! Kamu hampir mati! Dan itu karena dia! Karena jin sialan itu!"

"RATIH!" Arga berteriak tapi langsung batuk-batuk keras sampai seluruh tubuhnya gemetar.

Safira langsung meletakkan mangkuk, menepuk-nepuk punggung Arga dengan lembut. "Pelan, Arga. Pelan. Jangan memaksa diri."

Ratih menatap Safira dengan tatapan yang campur aduk. Benci, iri, tapi juga ada sesuatu yang lain. Rasa bersalah mungkin.

Setelah batuk Arga mereda, dia menatap Ratih dengan mata yang berkaca-kaca. "Ratih, dengarkan aku baik-baik. Safira tidak menghancurkan hidupku. Kamu yang dulu menghancurkannya. Kamu yang selingkuh dengan sahabatku sendiri. Kamu yang bilang kamu tidak pernah bahagia bersamaku. Ingat itu semua?"

Ratih mengangguk sambil menangis, wajahnya penuh penyesalan.

"Waktu itu aku mau bunuh diri," Arga melanjutkan dengan suara yang gemetar. "Aku beneran mau mati, Ratih. Rasanya hidup tidak ada gunanya lagi. Tapi Safira datang. Dia yang nemenin aku. Dia yang dengerin aku nangis setiap malam. Dia yang bikin aku mau hidup lagi. Jadi sekarang aku bahagia. Sangat bahagia. Meski waktuku mungkin tidak lama lagi."

"Jangan bilang begitu!" Ratih menangis lebih keras. "Kamu harus hidup, Arga! Kamu harus, kamu masih punya banyak waktu. Kamu masih muda. Kamu..."

"Aku punya anak," Arga memotong dengan senyum yang sangat indah walau lemah. "Safira sedang hamil. Dan itu kebahagiaan terbesar dalam hidupku. Jadi aku sudah tidak ada penyesalan lagi, Ratih. Aku sudah merasakan cinta yang tulus. Aku sudah menikah dengan orang yang benar-benar mencintaiku. Dan sekarang aku punya anak. Apalagi yang kurang?"

Ratih menatap Arga dengan tatapan tidak percaya. "Ha-hamil? Dia hamil? Tapi dia kan jin? Gimana bisa..."

"Mukjizat," jawab Safira pelan, untuk pertama kalinya berbicara sejak Ratih datang. "Allah memberikan kami mukjizat."

Ratih menoleh menatap Safira dengan tatapan yang berbeda dari biasanya. Tidak ada kebencian lagi. Yang ada cuma kesedihan dan rasa hormat yang aneh.

"Kamu benar-benar mencintai dia ya?" tanya Ratih dengan suara parau.

Safira mengangguk sambil tersenyum sedih. "Lebih dari apapun."

"Bahkan rela melihat dia mati perlahan?"

"Tidak," Safira menggeleng, air matanya mulai keluar. "Aku tidak rela. Makanya besok malam aku akan melakukan sesuatu agar dia bisa hidup. Agar dia dan anak kami bisa selamat."

Arga menatap Safira dengan bingung. "Apa maksudmu?"

Safira tidak menjawab. Dia hanya tersenyum sambil mengusap air matanya.

Ratih berdiri pelan, melangkah mendekati Safira. Mereka berhadapan, dua wanita yang sama-sama mencintai pria yang sama. Tapi dengan cara yang sangat berbeda.

"Aku... aku minta maaf," kata Ratih tiba-tiba, membuat Safira dan Arga terkejut. "Aku minta maaf sudah bilang kamu makhluk jahat. Sudah coba menngancurkan kebahagiaan kalian. Aku cuma cemburu. Cemburu karena kamu bisa bikin Arga bahagia. Sementara aku cuma bikin dia menderita."

Safira menatap Ratih dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih sudah pernah mencintai Arga. Terima kasih sudah jadi bagian dari hidupnya. Tapi sekarang biarkan aku yang menjaganya hingga akhir."

"Hingga akhir?" Ratih mengernyit. "Maksudmu?"

"Sampai nafas terakhirku," Safira menjawab dengan senyum yang sangat sedih. "Aku akan menjaga Arga sampai nafas terakhirku."

Ratih merasakan ada sesuatu yang tidak beres dari kata-kata itu. Tapi sebelum dia sempat tanya lebih lanjut, Safira sudah berbalik, kembali ke samping Arga, melanjutkan menyuapi bubur dengan tangan yang gemetar.

Ratih berdiri diam menatap mereka berdua. Arga yang tersenyum walau sekarat. Safira yang menyuapi dengan penuh kasih sayang walau air matanya terus mengalir.

Pemandangan itu membuat dadanya sesak. Ini cinta yang sesungguhnya. Cinta yang rela berkorban apapun. Bukan cinta egois seperti yang dulu dia punya.

"Arga," panggil Ratih pelan.

Arga menoleh dengan susah payah.

"Aku harap kamu bahagia," Ratih tersenyum di antara air matanya. "Aku harap kamu dan Safira bisa panjang umur bersama. Dan anak kalian, dia pasti akan jadi anak yang luar biasa. Karena dia anak dari dua orang yang saling mencintai dengan tulus."

"Terima kasih, Ratih," Arga tersenyum dengan mata berkaca-kaca. "Dan aku sudah memaafkanmu. Untuk semuanya. Jadi sekarang kamu juga harus bahagia. Lupakan aku. Cari kebahagiaanmu sendiri."

Ratih mengangguk sambil menangis. Dia melangkah mundur pelan, tidak sanggup melihat lebih lama karena dadanya terlalu sakit.

"Selamat tinggal, Arga," bisiknya. "Maafkan aku untuk semuanya. Dan terima kasih sudah pernah mencintaiku. Walau aku tidak layak."

Lalu dia berbalik, berjalan cepat ke mobilnya dengan air mata yang tidak berhenti mengalir.

Safira menatap punggung Ratih yang menjauh, lalu berbisik pelan, "Tolong doakan kami, Ratih. Doakan agar Allah memberikan jalan terbaik untuk kami."

Ratih berhenti sebentar mendengar itu. Dia tidak berbalik, tapi dia mengangguk pelan. Lalu masuk mobilnya dan pergi dengan cepat, meninggalkan jejak debu di jalan tanah itu.

Di dalam mobil, Ratih menangis sejadi-jadinya. Tangannya mencengkram setir mobil dengan erat, tubuhnya gemetar hebat.

"Maafkan aku, Arga. Maafkan aku," isaknya sambil terus menyetir dengan pandangan kabur karena air mata. "Aku yang bodoh. Aku yang egois. Dan sekarang kamu bahagia dengan wanita lain. Dan aku hanya bisa menyesal."

Dia mengusap air matanya kasar dengan punggung tangan. "Tapi aku senang kamu bahagia. Beneran senang. Walau itu bukan bersamaku. Walau itu dengan makhluk dari alam lain. Yang penting kamu tersenyum lagi. Kamu hidup lagi. Dan itu sudah cukup."

Ratih terus menyetir sambil menangis. Meninggalkan desa itu. Meninggalkan Arga. Meninggalkan masa lalunya.

Untuk selamanya.

***

Di teras rumah, Arga menatap mobil Ratih yang sudah menghilang di tikungan jalan. Lalu dia menatap Safira yang masih diam dengan mangkuk bubur di tangan.

"Safira."

"Hm?"

"Tadi kamu bilang besok malam kamu akan melakukan sesuatu. Apa maksudmu?"

Safira terdiam. Tangannya gemetar memegang mangkuk. Lalu dia tersenyum, senyum yang sangat indah tapi sangat sedih.

"Tidak apa-apa. Kamu jangan pikirin. Sekarang habiskan dulu buburnya. Kamu harus kuat."

"Tapi..."

"Kumohon, Arga," Safira memotong dengan suara yang bergetar. "Jangan tanya sekarang. Nanti aku akan jelasin semuanya. Tapi sekarang, kumohon makan dulu. Untuk aku. Untuk anak kita."

Arga menatap mata Safira yang berkaca-kaca. Ada sesuatu yang tidak dia mengerti di sana. Sesuatu yang membuat dadanya tidak enak.

Tapi dia tidak tanya lagi. Dia hanya mengangguk dan membuka mulutnya, membiarkan Safira menyuapi dengan tangan yang gemetar.

Dan saat bubur itu masuk ke mulutnya, dia merasakan sesuatu yang aneh. Rasa bubur itu asin. Asin karena tercampur air mata Safira yang terus menetes tanpa suara. Air mata yang dia coba sembunyikan dengan tersenyum. Air mata perpisahan yang Arga tidak tahu artinya.

1
Cimol krispy
wah mereka bisa sentuhan dong. bahkan pelukan
Cimol krispy
50 th berarti sejak sebelum nenek Sarinah tinggal di sana sudah ada kejadian itu ya.
Cimol krispy
Arga... ayo move on bareng mbak Kun
Leoruna: ngeri2 sedep klo Arga bisa berpaling sama mbak kun🤣
total 1 replies
Cimol krispy
Serem banget astaga. ini si Arga beneran bisa cepet move on sih kataku, dunianya langsung teralihkan sama mbak-mbak Kunti😅
Cimol krispy: iya lagi, ih
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!