NovelToon NovelToon
CINTA DUA ALAM - Aku Menikahi Jin

CINTA DUA ALAM - Aku Menikahi Jin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Misteri
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Arga Maheswara, mengira bahwa kepindahannya ke rumah tua peninggalan keluarga, akan menyembuhkan luka akibat pengkhianatan istri. Namun sejak malam pertama, sosok wanita cantik bergaun putih selalu muncul di bawah sinar bulan tersenyum sendu, seolah telah lama menunggunya.

Safira Aluna. Kehadirannya yang lembut perlahan mengobati hati Arga yang hancur. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta yang tulus. Tapi ketika kebenaran terungkap, Arga terkejut Safira bukan manusia. Ia adalah jin muslimah yang terikat kutukan masa lalu, menunggu puluhan tahun untuk menemukan cinta sejatinya.

Meski menakutkan, Arga tak sanggup melepaskan Safira. Mereka menikah dalam ikatan dua alam yang terlarang. Namun cinta mereka adalah kutukan itu sendiri semakin dalam Arga mencintai Safira, semakin cepat nyawanya terkikis.

Akankah cinta mereka bertahan melawan takdir?

Atau salah satu harus berkorban untuk yang lain?

Selamat menyaksikan kisah cinta beda alam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesedihan yang Menghancurkan

Cahaya fajar mulai menyusup masuk melalui celah jendela kamar. Tapi bagi Arga, malam itu tidak pernah berakhir.

Dia masih duduk di lantai dengan punggung bersandar di ranjang, Rama di pelukannya sudah tertidur setelah menangis berjam jam. Tapi Arga tidak tidur. Matanya menatap kosong ke depan, air matanya sudah kering tapi bekasnya masih jelas di pipi yang pucat.

Safira sudah tidak ada.

Istrinya sudah pergi.

Selamanya.

Kata kata itu terus berputar di kepalanya tapi otaknya masih menolak untuk menerima. Tidak mungkin. Safira tidak mungkin pergi begitu saja. Pasti dia akan muncul lagi nanti malam seperti biasa. Pasti dia akan tersenyum dan bilang ini cuma mimpi buruk.

Tapi ruangan ini masih terasa hangat. Hangat sisa keberadaan Safira yang perlahan menghilang. Dan itu bukti bahwa semua ini nyata.

Safira benar benar sudah pergi.

"Safira," bisiknya dengan suara serak. "Kamu janji akan selalu ada. Kamu janji kita akan membesarkan Rama bersama. Kenapa kamu ingkar janji?"

Tidak ada jawaban. Hanya angin pagi yang bertiup pelan dari jendela.

Arga menatap wajah Rama yang tidur dengan damai di pelukannya. Wajah mungil yang sangat mirip Safira. Rambut hitam lebat. Kulit putih. Bahkan cara dia tidur pun seperti Safira yang dulu sering tidur di pelukannya.

"Rama," bisik Arga sambil mengusap pipi bayinya dengan lembut. "Maafkan ayah. Maafkan ayah yang tidak bisa selamatkan ibumu. Maafkan ayah yang lemah."

Air matanya jatuh lagi walau dia pikir sudah tidak ada yang tersisa. Jatuh ke pipi Rama yang masih tidur.

Di sudut ruangan, Bagas masih duduk di lantai dengan lutut dipeluk, kepalanya tertunduk. Dia juga tidak tidur semalaman. Tidak tahu harus ngapain. Tidak tahu harus bilang apa.

"Ga," akhirnya dia bicara dengan suara serak karena kebanyakan nangis. "Lo harus makan. Dari kemarin lo nggak makan apa apa."

Arga tidak menjawab. Tidak bergerak. Seperti patung yang membeku.

"Arga, kumohon," Bagas bangkit dengan susah payah, kakinya kebas karena duduk terlalu lama. Dia menghampiri sepupunya, duduk di sampingnya. "Gue tau lo sedih. Gue juga sedih. Tapi lo harus makan. Lo harus kuat. Demi Rama."

"Aku tidak lapar," Arga menjawab dengan datar.

"Tapi lo harus tetep makan! Lo sekarang bapak, Ga! Lo punya tanggung jawab!" Bagas mulai frustasi tapi dia tahan emosinya. "Safira mengorbankan dirinya buat lo sama Rama bisa hidup. Masa lo mau sia-siakan pengorbanan dia dengan nggak jaga kesehatan lo?"

Arga terdiam. Rahangnya mengeras. Tangannya yang memeluk Rama bergetar.

"Gue nggak tau harus gimana, Gas," suaranya pecah di akhir kalimat. "Gue nggak tau harus hidup tanpa dia. Gue nggak tau harus ngapain. Rasanya kayak ada bagian dari diri gue yang ilang. Yang dicabut paksa. Dan sekarang gue cuma kosong."

Bagas merasakan dadanya sesak mendengar itu. Dia tidak pernah lihat Arga sehancur ini. Bahkan waktu Ratih selingkuh dulu, Arga masih bisa bangkit. Tapi sekarang seperti semangat hidup Arga ikut pergi bersama Safira.

"Gue nggak tau harus bilang apa, bro," Bagas akhirnya bicara dengan jujur, suaranya gemetar. "Gue nggak pernah ngerasain kehilangan orang yang gue cintai kayak gini. Gue nggak bisa bilang gue ngerti perasaan lo. Tapi gue di sini, Ga. Gue nggak akan ninggalin lo. Apapun yang terjadi."

Arga menatap Bagas dengan mata yang kosong. "Terima kasih, Gas. Tapi kamu nggak akan ngerti. Nggak ada yang ngerti rasanya kehilangan separuh jiwa."

Mereka terdiam cukup lama. Hanya suara napas Rama yang pelan memecah keheningan. Tiba tiba terdengar ketukan pintu dari luar. Pelan tapi jelas.

Bagas berdiri dengan susah payah, kakinya masih kebas. Dia berjalan keluar kamar, membuka pintu depan.

Ustadz Hasyim berdiri di sana dengan wajah yang sangat sedih. Di tangannya ada tasbih yang terus dia mainkan, bibirnya bergerak pelan seperti sedang membaca doa.

"Assalamualaikum," sapa Ustadz Hasyim dengan suara yang lembut.

"Waalaikumsalam, Ustadz," Bagas mempersilakan Ustadz masuk. "Ustadz, Ustadz sudah tahu?"

Ustadz Hasyim mengangguk sambil melangkah masuk. "Saya merasakan kepergian roh yang sangat suci semalam. Dan saya tahu itu Safira."

Mereka berjalan ke kamar. Ustadz Hasyim melihat Arga yang masih duduk di lantai dengan Rama di pelukan, matanya kosong menatap ke depan.

"Mas Arga," panggil Ustadz Hasyim dengan lembut.

Arga mengangkat wajahnya pelan. Saat melihat Ustadz Hasyim, sesuatu di dalam dirinya patah. Air matanya yang dia pikir sudah kering tiba tiba mengalir lagi.

"Ustadz," suaranya bergetar hebat. "Dia pergi. Safira pergi."

Ustadz Hasyim duduk di lantai di depan Arga, tidak peduli lantainya dingin. Tangannya terulur, menyentuh bahu Arga dengan lembut.

"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun," ucapnya dengan khusyuk. "Safira telah kembali pada Yang Maha Kuasa. Dan kepergiannya... kepergiannya dengan cara yang sangat mulia."

"Mulia?" Arga tertawa pahit sambil menangis. "Mulia bagaimana, Ustadz? Dia mati! Dia pergi meninggalkan anak yang baru lahir! Meninggalkan suami yang sangat mencintainya! Itu tidak ada yang mulia!"

"Justru itu yang mulia, mas," Ustadz Hasyim menjawab dengan tenang walau matanya juga berkaca kaca. "Safira mengorbankan eksistensinya sendiri untuk menyelamatkan mas dan anak mas. Dia rela lenyap selamanya agar mas berdua bisa hidup. Itu pengorbanan yang akan dicatat sebagai amal kebaikan yang sangat besar di sisi Allah."

Arga menatap Ustadz Hasyim dengan mata yang penuh air mata. "Tapi... tapi aku tidak mau dia pergi, Ustadz. Aku mau dia di sini. Bersama aku. Bersama Rama. Aku lebih baik mati bersamanya dari pada hidup tanpa dia."

"Jangan bilang begitu," Ustadz Hasyim berkata dengan tegas tapi lembut. "Mas masih punya tanggung jawab. Mas punya Rama. Anak mas. Anak dari pengorbanan Safira. Mas pikir Safira akan senang kalau mas bilang ingin mati? Mas pikir dia rela lenyap hanya untuk melihat mas menyia nyiakan hidup yang dia selamatkan?"

Arga terdiam. Rahangnya mengeras. Tangannya menggenggam Rama lebih erat.

"Safira pergi dengan harapan mas akan kuat," Ustadz Hasyim melanjutkan sambil menatap Rama yang tidur. "Dengan harapan mas akan merawat Rama dengan baik. Dengan harapan mas akan hidup bahagia walau tanpa dia. Jangan sia-siakan pengorbanan dia, Mas."

"Tapi bagaimana caranya aku hidup tanpa dia?" Arga bertanya dengan putus asa. "Bagaimana caranya aku tersenyum lagi? Bagaimana caranya aku bangun setiap pagi tanpa melihat wajahnya?"

"Dengan melihat wajah Rama," jawab Ustadz Hasyim sambil menunjuk bayi di pelukan Arga. "Rama adalah bagian dari Safira. Setiap kali mas melihat dia, mas akan melihat Safira. Setiap kali dia tersenyum, itu Safira yang tersenyum pada mas. Safira tidak benar benar pergi, mas. Dia hidup dalam diri Rama."

Arga menatap wajah Rama yang tidur dengan damai. Dan untuk pertama kalinya sejak Safira pergi, dia merasakan sesuatu yang lain selain kesedihan.

Tanggung jawab.

Rama adalah anaknya. Anak dari pengorbanan Safira. Dan dia harus kuat. Harus hidup. Demi Rama. Demi Safira yang sudah mengorbankan segalanya.

"Ustadz," Arga berbisik dengan suara yang masih gemetar. "Apa Safira bahagia di sana? Di manapun dia sekarang?"

Ustadz Hasyim tersenyum lembut. "Saya yakin dia sangat bahagia. Karena dia tahu mas dan Rama selamat. Itu yang dia inginkan. Dan itu yang membuat dia tenang."

Arga mengangguk pelan sambil air matanya terus mengalir. Dia menundukkan kepalanya, mencium puncak kepala Rama dengan lembut.

"Maafkan ayah, Rama," bisiknya. "Ayah akan coba kuat. Demi kamu. Demi ibumu yang sudah mengorbankan segalanya."

Ustadz Hasyim dan Bagas saling pandang dengan tatapan lega. Setidaknya Arga mulai menerima kenyataan. Walau masih sangat berat.

Setelah Ustadz Hasyim pulang dengan pesan untuk terus berdoa dan kuat, Bagas membantu Arga berdiri. Kakinya lemas karena duduk terlalu lama.

"Ayo gue anterin ke ranjang. Lo harus istirahat," kata Bagas sambil menopang Arga.

Arga berjalan dengan susah payah, masih menggendong Rama dengan hati hati. Saat sampai di ranjang, dia berbaring dengan Rama di sampingnya.

Dan saat kepalanya menyentuh bantal, dia merasakan sesuatu. Ada yang keras di bawah bantal.

Dengan tangan gemetar, dia mengangkat bantal. Dan dia menemukan sesuatu yang membuat napasnya berhenti. Dua amplop putih. Dan cincin pernikahan Safira yang sudah tidak bercahaya lagi.

Arga meraih cincin itu dengan tangan yang sangat gemetar. Cincin yang dulu dia pasangkan di jari Safira saat akad nikah. Cincin yang selalu Safira pakai dengan bangga.

Sekarang cincin itu dingin. Tidak ada kehangatan Safira lagi di sana.

"Safira," bisiknya sambil menggenggam cincin itu erat. "Kamu ninggalin ini untuk aku?"

Lalu dia melihat dua amplop di sampingnya. Satu bertuliskan namanya dengan tulisan tangan Safira yang indah. Satu lagi bertuliskan, Rama.

Tangan Arga gemetar mengambil amplop yang bertuliskan namanya. Tapi sebelum dia sempat membuka, Bagas menyentuh bahunya.

"Ga, mungkin lo baca besok aja. Lo butuh istirahat dulu. Lo udah capek banget."

Arga menatap amplop di tangannya. Bagian dari dirinya ingin segera membaca. Ingin tahu apa yang Safira tulis. Tapi bagian lain takut. Takut membaca kata kata terakhir istrinya akan membuat dia benar benar hancur.

"Ya, besok," gumamnya sambil meletakkan amplop kembali di atas bantal. "Besok aku akan baca."

Dia berbaring sambil memeluk Rama dengan satu tangan. Tangan lainnya menggenggam cincin Safira dengan erat.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak Safira pergi, Arga tertidur. Tidur dengan wajah yang basah oleh air mata.

Tidur dengan pelukan erat pada Rama. Tidur dengan genggaman erat pada cincin terakhir dari istrinya. Tidur dengan hati yang hancur berkeping keping. Karena cinta yang tidak akan pernah mati. Walau orangnya sudah pergi selamanya.

1
𓆩❤𓆪✿✧༺°◐ZN²◑°༻✧❀ଘ😇ଓ
chapt ini mengandung bawang.. jd terharu sekaligus tegang mendekati WAR
𓆩❤𓆪✿✧༺°◐ZN²◑°༻✧❀ଘ😇ଓ
kenapa Safira g bantu melawan.. apa karena kehilangan eksistensi jd g bisa bantu
Leoruna: karena yg di hadapi Safira sekarang bukan jin biasa, ibaratnya kayak raja jin yg mempunyai energi lebih kuat dari Safira sendiri.
total 1 replies
𓆩❤𓆪✿✧༺°◐ZN²◑°༻✧❀ଘ😇ଓ
ini yg aku bingung kok bisa darah Safira masuk d bayi bagas.. di chapt sebelumnya aku g mudeng knp bayi bagas jg d incar.. apa karena bagas sering nemenin Arga pas energinya masih kesedot Safira..
Leoruna: iya kak, karena Arga kan adiknya Bagas, karena mereka slalu bersama jdi sebagian energi Safira ada di tubuh Bagas jga. Sedangkan Elisa sendiri dia kan anak indigo.🙏🙏
total 1 replies
𓆩❤𓆪✿✧༺°◐ZN²◑°༻✧❀ଘ😇ଓ
kenapa tiba² ada bawang sih /Cry/ kn aku jd ikutan /Sob//Sob/
Leoruna: bukan salah aku, kak. salahin yang naro bawangnya/Shy/
total 1 replies
aa ge _ Andri Author Geje
luar biasa., teruslah berkarya kawan...
Leoruna: mkasih🙏
total 1 replies
Cimol krispy
wah mereka bisa sentuhan dong. bahkan pelukan
Cimol krispy
50 th berarti sejak sebelum nenek Sarinah tinggal di sana sudah ada kejadian itu ya.
Cimol krispy
Arga... ayo move on bareng mbak Kun
Leoruna: ngeri2 sedep klo Arga bisa berpaling sama mbak kun🤣
total 1 replies
Cimol krispy
Serem banget astaga. ini si Arga beneran bisa cepet move on sih kataku, dunianya langsung teralihkan sama mbak-mbak Kunti😅
Cimol krispy: iya lagi, ih
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!