NovelToon NovelToon
Ketika Hati Salah Memilih

Ketika Hati Salah Memilih

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Dunia Masa Depan
Popularitas:595
Nilai: 5
Nama Author: Fauzi rema

Andrew selalu percaya bahwa hidup adalah tentang tanggung jawab.
Sebagai pewaris perusahaan keluarga, ia memilih diam, bersifat logis, dan selalu mengalah,bahkan pada perasaannya sendiri.
sedangkan adiknya, Ares adalah kebalikannya.
Ares hidup lebih Bebas, bersinar, dan hidup di bawah sorotan dunia hiburan. Ia bisa mencintai dengan mudah, tertawa tanpa beban, dan memiliki seorang kekasih yang sempurna.
Sempurna… sampai Andrew menyadari satu hal yang tak seharusnya ia rasakan:
ia jatuh cinta pada wanita yang dicintai adiknya sendiri.
Di antara ikatan darah, loyalitas, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Andrew terjebak dalam pilihan paling kejam,
apa Andrew harus mengorbankan dirinya,
atau menghancurkan segalanya.
Ketika cinta datang di waktu yang salah,
siapa yang harus melepaskan lebih dulu?

Novel ini adalah lanjutan dari Novel berjudul "Istri simpananku, canduku" happy reading...semoga kalian menyukainya ✨️🫰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fauzi rema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Ares mungkin bukan pria yang sedingin Andrew atau secerdas Papi Adrian dalam urusan bisnis, tetapi sebagai seorang aktor, ia adalah pakar dalam membaca emosi dan suasana. Selama bertahun-tahun ia terbiasa membedah skenario tentang cinta dan pengkhianatan. Kini, ia merasa sedang hidup di tengah-tengah naskah yang paling buruk.

​Kecurigaan Ares dimulai dari hal-hal kecil. Ia memperhatikan bagaimana Alana selalu tersenyum di waktu tertentu, seperti tersenyum hanya saat ada orang lain yang melihat, namun wajahnya langsung redup saat ia mengira tidak ada yang memerhatikannya.

​Lalu, ada masalah "kontak mata". Ares menyadari bahwa Alana dan Andrew sudah seminggu ini tidak pernah berada di dalam satu radius pandang. Jika Andrew ke kanan, Alana ke kiri. Jika Andrew bicara, Alana diam. Itu bukan sekadar dingin, itu terlihat seperti usaha keras untuk saling menghindari.

​Sore itu, saat mereka sedang meninjau dekorasi di hotel tempat pertunangan akan digelar, Ares mencoba memancing.

​"Lan, tadi Kak Andrew telepon. Katanya dia mau kasih kita kado rumah di kawasan BSD. Kamu nggak keberatan kan?" tanya Ares sambil memperhatikan ekspresi Alana.

​Alana yang sedang memilih jenis bunga mawar, terhenti sejenak. Tangannya gemetar halus, namun ia cepat-cepat menyembunyikannya. "Oh... itu dia baik sekali. Sampaikan terima kasihku padanya nanti."

​"Kok sampaikan?" Ares mendekat, memutar tubuh Alana agar menghadapnya. "Nanti malam kan kita makan malam bareng di rumah. Kamu bisa bilang sendiri."

​"Aku... aku ada janji di galeri malam ini, Res. Sepertinya aku nggak bisa ikut makan malam," sahut Alana cepat, matanya menatap ke arah lain.

​Ares terdiam. Ia merasakan dingin yang menusuk di dadanya. "Lan, ada apa antara kamu dan Kak Andrew?"

​Alana tersentak. "Maksud kamu apa? Aku nggak ada apa-apa."

​"Kalian berdua bertingkah seolah kalian adalah kutub magnet yang sama-sama positif. Saling tolak-menolak," ucap Ares dengan suara yang mulai berat. "Dan Mommy... Mommy bersikap seolah dia sedang menjagamu dari sesuatu. Atau menjagaku?"

​"Kamu lagi capek karena syuting, Res. Jangan mikir yang aneh-aneh," Alana mencoba pergi, namun Ares menahan lengannya.

​"Tatap mataku, Alana."

​Alana terpaksa menatap Ares. Di mata pria itu, Alana tidak menemukan kemarahan, melainkan ketakutan yang mendalam. Ares takut bahwa kecurigaannya benar. Alana segera memutus kontak mata itu, dan bagi Ares, itu adalah jawaban yang paling jelas.

 

​Malam itu, Ares tidak bisa tidur. Alih-alih pergi ke galeri seperti rencananya tadi, ia diam-diam pulang ke rumah lebih awal. Ia melihat mobil Andrew sudah terparkir. Ia tidak langsung masuk ke kamar, melainkan berjalan menuju ruang kerja Andrew di lantai dua yang pintunya sedikit terbuka.

​Ia mendengar suara dari dalam. Suara Andrew yang sedang bicara namun suaranya terdengar sangat rapuh, bukan suara CEO yang tegas.

​"Aku tahu ini salah, Mom... tapi melihat dia bersikap seolah aku ini sampah, itu jauh lebih sakit daripada saat aku membohongi Ares," Andrew bicara dengan Mommy Revana yang ternyata ada di dalam sana.

​Ares membeku di balik dinding. Jantungnya berdegup sangat kencang hingga telinganya berdenging.

​"Bukankah Kamu sendiri yang minta dia melakukan itu, Andrew," suara Mommy Revana terdengar tegas. "Ini demi kebaikan Ares. Kamu harus tahan. Biarkan dia menikah dengan Ares, dan perasaan ini akan mati dengan sendirinya."

​"Bagaimana bisa perasaan ini akan mati, Mom? Setiap kali aku menutup mata, aku melihat dia di kantor hari itu... aku menciumnya, dan dia membalasnya. Bagaimana aku bisa melihat dia bersanding dengan adikku sendiri setelah semua yang kami lakukan itu?"

​BRAKK!

​Ares tidak sanggup lagi menahan diri. Ia menendang pintu ruang kerja itu hingga terbuka lebar. Andrew dan Mommy Revana tersentak kaget, wajah mereka pucat seketika melihat Ares berdiri di sana dengan air mata yang mulai mengalir di wajahnya yang penuh amarah.

​"Jadi... semua kecurigaanku itu benar?" suara Ares parau, hampir tidak keluar. "Ciuman ?.. perasaan itu... maksudnya apa ?"

​Andrew berdiri pelan, wajahnya tampak seperti orang yang siap menerima hukuman mati. "Ares... gue bisa jelasin..."

​"Jelasin apa?!" teriak Ares, ia melangkah maju dan menarik kerah kemeja Andrew. "Jelasin gimana lo tega nyentuh cewek gue di belakang gue? Jelasin gimana lo, orang yang paling gue percaya, ternyata adalah orang yang paling tega nikam gue dari belakang?!"

​Mommy Revana mencoba menengahi. "Ares, tenang dulu—"

​"Tenang, Mom?! Mommy tahu ini semua dan Mommy malah nyuruh mereka tutup mulut buat maksain pertunangan sampah ini?!" Ares tertawa histeris dengan air mata yang terus mengalir. "Kalian semua pembohong! Kalian anggap aku apa di rumah ini? Boneka?!"

​Ares melepaskan cengkeramannya pada Andrew dengan kasar. Ia menatap kakaknya dengan kebencian yang begitu nyata. "Gue selalu pengen jadi kayak lo, Kak. Gue bangga punya kakak kayak lo. Tapi malam ini... gue nyesel jadi adik lo."

​Tanpa menunggu balasan, Ares berlari keluar dari rumah itu, menyambar kunci mobilnya, dan melesat pergi di tengah kegelapan malam.

Deru mesin mobil sport Ares membelah kesunyian malam dengan suara raungan yang memekakkan telinga. Di dalam kabin, napas Ares tersengal, dadanya terasa seperti dihantam godam besar. Bayangan Andrew dan Alana yang saling membalas ciuman terus berputar di kepalanya seperti film horor yang tidak bisa ia matikan.

​"Kenapa harus lo, Kak? Kenapa harus dia?!" teriak Ares frustrasi, tangannya memukul kemudi berulang kali.

​Ia tidak melihat jalanan di depannya. Matanya buram oleh air mata amarah. Ia hanya ingin pergi sejauh mungkin dari rumah yang kini terasa seperti penjara kebohongan itu. Kecepatan mobilnya terus bertambah, menembus angka 140 km/jam di jalanan kota yang licin setelah hujan gerimis.

​Di belakang, Andrew mengejar dengan mobilnya, lampu jauhnya berkedip-kedip memberi tanda. Andrew terus mencoba menelepon ponsel Ares yang tergeletak di kursi penumpang, namun Ares tidak peduli.

​"Ares, angkat! Berhenti, Res!" Andrew berteriak di dalam mobilnya sendiri, wajahnya pucat pasi ketakutan.

​Naas terjadi di sebuah persimpangan besar. Sebuah truk kontainer bermuatan berat melaju perlahan dari arah samping saat lampu lalu lintas baru saja berganti warna. Ares, yang pikirannya sedang kacau, tidak menyadari lampu merah di depannya. Ia justru menginjak gas lebih dalam.

​"ARES, AWAS!!!" Andrew berteriak parau saat melihat moncong mobil putih adiknya tepat di jalur tabrakan.

​CIIIIIIIIEEEEEEEEETTTTTTTTT—

​Bunyi decitan ban yang beradu dengan aspal terdengar memilukan, disusul dengan suara dentuman logam yang sangat keras. Mobil sport Ares menghantam bagian tengah truk dengan kecepatan tinggi, terpental, lalu berguling beberapa kali hingga akhirnya berhenti dalam posisi terbalik di tengah jalan.

​Hening.

​Dunia seolah berhenti berputar bagi Andrew. Ia mengerem mendadak, hampir menabrak pembatas jalan. Dengan tangan gemetar, ia keluar dari mobil dan berlari menuju rongsokan mobil Ares yang mulai mengeluarkan asap.

​"ARES! ARES!!!" Andrew berteriak histeris.

​Ia jatuh berlutut di samping pintu mobil yang ringsek. Di dalam sana, ia melihat Ares tergantung terbalik oleh sabuk pengaman. Darah mengalir dari pelipisnya, menetes ke atap mobil yang hancur. Wajah adiknya yang biasanya penuh tawa kini pucat pasi dan tak bergerak.

​"Tolong! Tolong panggil ambulans!" Andrew meraung pada orang-orang yang mulai berkerumun, suaranya pecah oleh tangis penyesalan yang paling dalam.

​Andrew mencoba meraih tangan Ares yang terkulai. Tangan yang tadi pagi masih menepuk bahunya dengan penuh kasih sayang. "Res, bangun... Maafin gue, Res... Jangan tinggalin gue..."

​Di saat yang sama, ponsel Ares yang terlempar ke aspal berdering. Di layar yang retak itu, tertera nama "Alana". Alana menelepon, mungkin karena firasat buruk atau mungkin ingin mengakui segalanya, tapi Ares sudah tidak bisa menjawabnya lagi.

​Malam itu, pengkhianatan Andrew dibayar dengan harga yang sangat mahal. Darah adiknya kini ada di tangannya, secara harfiah dan kiasan.

 

​Beberapa jam kemudian, koridor rumah sakit dipenuhi oleh keluarga Wijaksana. Papi Adrian tampak hancur, sementara Mommy Revana pingsan berulang kali. Andrew duduk di pojok lorong, kemeja putihnya penuh noda darah kering milik Ares.

...🌼...

...🌼...

...🌼...

...Bersambung.......

1
Herman Lim
aduh Thor kog kasian bgt sih buat 2 sodara berdarah2 Krn 1 cew
Herman Lim
kyk bakalan perang sodara ne moga aja setelah ini Ares yg mau ngalah buat KK nya
muna aprilia
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!