Terobsesi Kamu Season 2
Demi bakti pada orang tua, Vira merelakan waktunya Jakarta-Bandung merawat sang ayah.
Namun, tanpa disadari, jarak yang ia tempuh justru menciptakan celah lebar di rumah tangganya sendiri. Ia perlahan kehilangan pijakan sebagai pendamping suami dan sosok ibu sambung bagi putri mereka.
Celah itu tak dibiarkan kosong. Hadirnya seorang tutor muda—Cintya yang begitu akrab dengan sang putri membawa badai hasutan yang mengguncang pondasi pernikahannya.
Ketika pengkhianatan mulai membayangi dan kenyamanan rumahnya mulai direbut, Vira tidak membiarkan kebahagiaannya dirampas begitu saja oleh mereka yang berniat menghancurkan.
"Kau terobsesi ingin memiliki suamiku?" Vira menatap tajam wanita muda yang menjadi tutor putrinya.
"Aku akan merebutnya dan menggantikan posisimu secepatnya, Vira," balas Cintya dengan seringai dingin.
Akankah Vira dan William mampu bertahan dalam menjalani pernikahan yang mulai terkoyak karena orang ketiga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Drezzlle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu Tak Diundang
Gairah yang semula membara redup seketika, menyisakan kesadaran. Vira mendadak diserang rasa panik karena menyadari keteledorannya. Ia baru teringat pesan ibu mertuanya untuk menunda kehamilan.
"Untuk apa pakai pengaman?" tanya William sekali lagi, suaranya masih berat oleh sisa gairah.
Vira memilih untuk bersandar di headboard, menarik selimut hingga ke dagu untuk menutupi tubuh polosnya yang masih terasa hangat. "Mama memintaku menunda kehamilan. Katanya, lebih baik menunggu sampai Anggi setidaknya seusia Chika," jawab Vira, tak sanggup lagi menyimpan beban itu sendirian.
William ikut bangkit, ia merentangkan satu lengan sebagai bantalan leher Vira sembari menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur. Ia mengembuskan napas panjang, menatap langit-langit kamar dengan gurat wajah kesal.
"Kenapa harus ditunda? Aku justru ingin kita segera punya momongan. Kalau bisa, setiap tahun kita punya anak sebelum usiaku menginjak angka empat puluh," keluh William.
"Tapi Mama—"
Belum sempat Vira menyelesaikan kalimatnya, telunjuk William sudah mendarat di bibirnya, membungkam kata-kata yang akan keluar. William menggelengkan kepala pelan, menatap Vira dengan sorot mata yang dalam.
"Jangan terlalu mendengarkan ucapan Mommy. Kita yang menjalani pernikahan ini, jadi kita yang menentukan. Untuk apa menunggu Anggi remaja? Kalau kamu takut repot, aku bisa cari pengasuh tambahan. Itu hal mudah, jangan dibuat rumit," ujar William tegas namun lembut.
Vira mendengkus. Jauh di lubuk hatinya, ia pun tak ingin menjadi pion dalam keinginan ibu mertuanya. Namun, membayangkan murka Inneke jika ia hamil dalam waktu dekat membuatnya bergidik.
"Aku ... aku juga belum siap, Sayang," bohong Vira, mencoba mencari pembelaan lain.
William berdecak kesal. Raut wajahnya berubah masam, gurat kekecewaan terpahat jelas di sana. Ia sangat mendambakan kehadiran seorang putra. Mendengar penolakan istrinya membuat William menarik lengannya dengan kasar, lalu berbalik memunggungi Vira seperti anak kecil yang sedang merajuk.
Vira menghela napas, ia bergeser mendekat dan memeluk punggung lebar suaminya. Ia menyandarkan dagunya di bahu kekar William, jemarinya mengusap lembut dada bidang suaminya yang masih sedikit berkeringat. "Aku hanya takut Mama semakin membenciku kalau aku tidak menuruti keinginannya."
William berbalik, kembali mendekap Vira dalam pelukannya. Sisa peluh dari penyatuan mereka tadi masih tertinggal, membuat kulit mereka terasa lengket saat bersentuhan.
"Sudah kukatakan, jangan terlalu memikirkan omongan orang lain. Kamu bakal capek sendiri. Setiap pasangan punya tujuan, dan selain hidup bersamamu, tujuanku adalah memiliki anak darimu. Chika dan Anggi bukan alasan untuk menunda. Masalah biaya atau perawatan, itu urusanku. Kamu tinggal menikmati," tukas William.
"Kamu yakin? Biaya sekolah anak-anak, perawatan, dan kebutuhan lainnya itu tidak sedikit—"
William tidak membiarkan Vira melanjutkan argumen logisnya. Ia segera menyambar bibir istrinya dalam sebuah pagutan singkat namun mampu menghentikan perdebatan itu.
"Itu bukan tugasmu untuk memikirkannya. Tugasmu hanya menjadi istri dan ibu yang baik untuk kami semua," kata William setelah melepas pagutannya, berusaha memadamkan kegelisahan di hati istrinya.
Vira menatap suaminya lama, mencari kepastian di mata itu. "Tapi ... sebelum kita pindah ke rumah baru, aku ingin kamu tetap pakai pengaman, ya? Setelah itu, baru aku bisa merasa tenang," bujuk Vira lagi.
William yang mulai jengah akhirnya hanya bisa mengangguk pasrah.
"Jadi, cuma satu ronde saja malam ini?" tanya William dengan bibir cemberut, mencoba menawar.
Vira berpikir sejenak, sebuah senyum tipis terukir di bibirnya. "Kalau dua atau tiga kali lagi, kira-kira nggak bakal langsung jadi, kan?"
Mata William seketika mengerjap nakal. Ia menyibakkan selimut, kembali mengungkung tubuh Vira dengan gairah yang kembali tersulut. "Kalau belum dicoba, kita tidak akan pernah tahu," bisiknya, mulai melancarkan serangan kecupan-kecupan panas di wajah dan leher Vira.
.
.
Keesokan harinya ...
Cahaya matahari pagi menyelinap di sela-sela gorden sutra yang tersingkap sedikit, garis-garis cahaya seolah jatuh di lantai marmer.
Vira baru saja terjaga setelah mendengar tangisan putri bungsunya. Dengan rasa pegal yang menjalar di sekujur tubuhnya, ia beranjak dari tempat tidur.
Saat ia menyibakkan selimut tebal yang membungkus tubuh polos dirinya dan William semalam, matanya terpaku pada noda merah yang telah mengering—bercak darah yang menjadi saksi bisu atas penyerahan dirinya semalam pada pria yang masih terlelap tenang itu.
Vira segera bangkit dan melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum menjalankan tugasnya sebagai ibu.
Beberapa saat kemudian, saat Vira keluar dengan rambut yang masih lembap, ia mendapati William sudah terbangun. Pria itu menatapnya dengan pandangan menyipit, penuh gairah yang tampaknya belum sepenuhnya padam.
"Bangun, Sayang. Kau tidak ke kantor?" tanya Vira sembari mengeringkan rambut menggunakan handuk kecil.
William tidak menjawab. Ia justru beranjak dari ranjang, mendekap Vira yang terbalut bathrobe hingga tubuh mereka kembali merapat.
"Kau bangun pagi sekali, mau ke mana?" tanya William dengan suara serak khas orang yang baru bangun tidur.
Huaaaa!
Tangisan Anggi terdengar keras. Vira segera menepuk lengan suaminya, mencoba melepaskan diri. "Kau tidak dengar Anggi menangis, hmm?"
"Kan ada suster?" keluh William manja.
Vira mendengkus sembari mulai mengenakan pakaiannya. "Suster juga manusia, dia pasti lelah karena semalam sudah menjaga putri kita. Lagipula, aku ini ibunya."
William memeluk Vira dari belakang, menyandarkan kepalanya di bahu istrinya dengan gerakan manja. "Haruskah kita tambah baby sitter lagi?"
"Tidak perlu. Terlalu banyak pengasuh malah bikin Anggi manja nanti. Aku harus turun sekarang, kau ... segeralah mandi," titah Vira tegas.
William melepaskan pelukannya dengan enggan. "Setelah menenangkan Anggi, nanti giliranku yang harus ditenangkan, ya?" godanya dengan kedipan nakal.
Vira meraih bantal yang tergeletak di lantai lalu melemparkannya ke wajah William sebelum melesat keluar kamar sembari tertawa kecil.
Di ruang tengah, suasana tampak sedikit kacau. Anggi terus meronta, menolak suapan dari perawatnya. Vira segera mengambil alih putrinya, lalu meminta sang pengasuh untuk membangunkan Chika yang masih terlelap. Padahal, jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh—waktu yang sangat mepet untuk berangkat sekolah.
Sembari menunggu Chika bersiap, Vira membawa Anggi ke halaman rumah agar udara segar bisa meredakan tangis si kecil. Namun, ketenangan pagi itu mendadak pecah saat suara klakson mobil terdengar di depan gerbang.
Mobil BMW Silver milik Monic meluncur masuk ke halaman rumah. Insting Vira berkata ini adalah pertanda buruk. Ia bergegas menggendong Anggi untuk masuk kembali ke dalam rumah. Namun, belum sempat kakinya menginjak ambang pintu, sebuah tangan merenggut kasar rambutnya dari belakang.
Vira tersentak, kepalanya terhentak ke belakang hingga ia memekik kesakitan.
"Berhenti kau, rubah licik!" desis Monic tepat di telinganya.
Vira tak tinggal diam. Dengan gerakan gesit, ia memutar tubuhnya meski rambutnya masih dijambak. Tanpa ragu, ia membalas serangan itu dengan merenggut rambut Monic dengan kekuatan yang sama besarnya.
Kedua pasang mata yang berkilat penuh amarah itu saling mengunci. Suasana menjadi sangat kacau saat Anggi kembali menangis histeris mendengar teriakan Vira yang menggema.
"SIALAN KAU, MONIC!"
Bersambung...
🤣🤣semuanya aja lah
mulai bsk dicatat tiap bln-nya will spy bs jaga, sblm 'dapat' minta jatah dl🤭