Di dunia sihir yang dipenuhi kutukan dan warisan kekuatan kuno, nama Raksha Lozarthat dikenal sebagai salah satu penyihir terhebat hingga ia dijatuhkan oleh kutukan terlarang milik seorang penyihir kuno. Kutukan itu tidak membunuhnya, namun jauh lebih kejam: jiwa Raksha dipaksa keluar dari tubuh aslinya dan terperangkap dalam tubuh seorang gadis lemah bernama Roselein Tescarossa.
Tubuh asli Raksha kini telah menjadi mayat, terbaring membusuk oleh waktu, sementara jiwanya terikat pada wadah yang tidak mampu menampung kekuatan sihir besarnya. Setiap kali ia mencoba menggunakan sihir tingkat tinggi, tubuh Roselein berada di ambang kehancuran. Ia bukan lagi penyihir agung, seorang gadis rapuh yang setiap langkahnya dibayangi rasa sakit dan keterbatasan.
Satu-satunya cara untuk mengakhiri kutukan ini adalah mengalahkan penyihir kuno yang telah menghancurkan hidupnya.
Akankah ambisi dendamnya berhasil atau justru terlena didalam tubuh baru, tempat dimana Raksha berada didunia barunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Waktu yang Dicuri
Academy Magica tidak pernah benar-benar tidur.
Bahkan di siang hari, lorong-lorongnya dipenuhi bisikan, bukan hanya suara murid, melainkan aliran mana yang berlapis, saling bertaut seperti jaring tak kasatmata. Lein berjalan melewati aula utama dengan langkah tenang, menundukkan kepalanya dengan ramah, seperti biasa.
Namun tatapan tetap mengikutinya.
Beberapa murid laki-laki berhenti berbincang ketika ia lewat. Sebagian tersenyum hangat padanya, sebagian lagi terang-terangan menoleh dan menyapanya. Bahkan penyihir senior yang melintas memberinya anggukan ramah, terlalu ramah.
Kecantikan tubuh ini adalah gangguan.
Di sudut aula, sekelompok murid perempuan berbisik pelan. Tatapan mereka tajam, dingin, dan penuh kebencian.
Lein tidak memedulikannya. Sebaliknya dia tidak berhenti. Ia belajar menghadapi sihir jauh lebih mudah daripada menghadapi manusia.
Namun semua ini berdampak pada satu hal penting.
Informasi.
Setiap kali ia mencoba bertanya tentang arsip lama, ritual kuno, atau sejarah terlarang, jawaban yang ia terima selalu sama saja; informasi tidak begitu penting.
Lein menemui Grack Lyvonalis di menara observasi, dikelilingi peta mana yang mengambang dan kristal pengukur fluktuasi. Ia menoleh ketika merasakan kehadirannya.
“Lein?” Alisnya terangkat. “Ada apa?”
“Aku butuh bantuanmu,” katanya lugas.
Grack berkedip. Lalu tersenyum kecil. “Langsung ke intinya saja. Duduklah.”
Lein tidak duduk.
“Aku ingin masuk ke Arsip Tertutup.”
Keheningan jatuh seketika.
"Itu area terbatas,” kata Grack perlahan. “Bahkan untuk murid tingkat menengah.”
“Aku tahu.”
“Dan kamu tahu risikonya?”
Lein menatapnya, bukan dengan tatapan memohon, melainkan keyakinan tenang. Tatapan seseorang yang telah membuat keputusan jauh sebelum kata-kata diucapkan.
“Aku tidak akan menyentuh artefak,” lanjut Lein. “Aku hanya ingin membaca.”
Grack mengusap tengkuknya. “Kamu tahu apa yang orang-orang katakan tentangmu sekarang ini?”
Lein terdiam.
“Mereka bilang kamu gadis berbakat yang disukai para dosen,” lanjutnya. “Dan itu membuatmu cukup terkenal di Academy.”
Lein tersenyum tipis. “Aku sudah menyadarinya.”
Grack menatapnya lama, lalu menghela napas panjang.
“Baiklah,” katanya akhirnya. “Aku tidak akan membawamu masuk langsung. Tapi aku punya akses sementara, tiga jam untuk katalog arsip. Jika kamu ikut sebagai asistanku, mungkin bisa.”
Lein menunduk lega. “Itu sudah cukup bagiku.”
Grack mengerutkan keningnya. “Kamu benar-benar tidak tahu apa yang kamu cari, ya?”
“Oh, aku tahu apa yang harus kucari,” bisik Raksha dalam hati.
Hanya saja dia tidak bisa mengatakannya.
Malam turun perlahan ketika mereka tiba di depan Sayap Arsip Tertutup.
Pintu besarnya terbuat dari kayu sihir hitam berlapis rune emas. Tidak ada kunci. Tidak ada penjaga. Hanya mata sihir yang mengamati setiap niat.
Grack mengaktifkan segel akses. Cahaya biru membungkus pintu, lalu terbelah perlahan.
Raksha merasakan tekanan berat di dadanya.
Sihir di tempat ini tua.
Rak-rak tinggi menjulang, dipenuhi buku dan gulungan yang terikat segel. Udara terasa dingin, namun bukan karena suhu, melainkan karena ingatan.
“Jangan menyentuh apapun tanpa izinku.” bisik Grack.
Lein mengangguk mengerti.
Namun saat ia melangkah masuk, sesuatu bergetar halus di dalam jiwanya.
Raksha menoleh ke satu rak di sudut terdalam, tertutup segel berlapis tiga, berdebu, hampir terlupakan.
Judul samar terukir di punggung buku tua itu:
Transposisi Jiwa dan Kutukan Wadah!
Raksha menahan napas.
Namun sebelum ia bisa bergerak.
“Lein.”
Suara Grack terdengar tegang.
“Ada penyihir senior di luar. Mereka menanyakanmu.”
Lein menutup matanya sejenak.
Waktu tidak berpihak padanya.
Pintu Arsip Tertutup menutup kembali dengan bunyi pelan, hampir tak terdengar.
Namun bagi Raksha, bunyi itu terdengar seperti palu vonis.
Di lorong luar, langkah kaki mendekat, ringan, teratur, dan penuh wibawa.
Tiga orang penyihir senior berdiri di sana.
Jubah mereka berwarna biru tua dengan lapisan perak, tanda pengajar dan peneliti tingkat tinggi Academy Magica. Wajah-wajah ramah, senyum yang ramah.
“Ah, ini dia Roselein Tescarossa” ucap seorang pria berambut pirang, suaranya tenang. “Kami sering mendengar namamu disebut banyak orang, Roselein.”
Lein menunduk sopan. “Suatu kehormatan bagi saya bisa bertemu dengan penyihir senior secara langsung.”
Raksha merasakan tekanan itu kembali, bukan sihir kasar, melainkan pengamatan mendalam. Mata mereka membaca gestur, napas, bahkan denyut mana di sekelilingnya.
“Kau menyesuaikan diri dengan baik” lanjut penyihir senior wanita di sampingnya. Rambut hitamnya disanggul rapi, matanya tajam namun ramah. “Jarang ada murid baru bisa setenang ini.”
"Terima kasih atas pujiannya” jawab Lein.
Grack berdiri sedikit di belakang, ekspresinya tegang. Ia tahu, setiap menit di sini adalah menit yang hilang.
“Grack.” kata pria pirang itu sambil meliriknya. “Tugas katalog, bukan?”
“Ya, Senior” jawab Grack cepat.
“Bagus. Jangan terlalu memforsir murid baru” ucap pria itu sambil tersenyum pada Lein. “Kami hanya ingin mengenalmu sedikit”
Sedikit katanya.
Pertanyaan demi pertanyaan pun mengalir. Asal-usul, minat sihir, alasan masuk Academy.
Raksha menjawab dengan hati-hati.
Cukup jujur untuk terdengar nyata.
Cukup kosong untuk tidak memberi celah.
Waktu terus berjalan.
Raksha bisa merasakan buku itu di balik dinding batu: Transposisi Jiwa dan Kutukan Wadah, seperti denyut yang semakin menjauh. Segel akses Grack melemah, menit-menitnya menipis.
“Kau tampak lelah” kata penyihir wanita itu akhirnya. “Mungkin terlalu banyak pelajaran hari ini”
“Aku baik-baik saja” jawab Lein.
“Jangan dipaksakan” potong pria pirang itu lembut. “Kami akan memintamu kembali lain waktu. Aku yakin kau akan berkembang dengan baik di Academy.”
Lein menunduk lagi dengan ramah.
Ketika mereka akhirnya berlalu, cahaya segel di pintu Arsip Tertutup telah sepenuhnya padam.
Grack menghembuskan napas berat. “Maaf, aku… aku tidak bisa menolak mereka, Lein.”
Dia tidak menyalahkannya.
“Aku mengerti” ucap Lein pelan.
Namun di dalam, kemarahan Raksha mengendap.
Malam itu, Lein kembali ke kamarnya tanpa membawa apapun selain ingatan akan judul buku itu. Ia duduk di tepi ranjang, menatap dinding yang diselimuti segel perlindungan Academy.
“Waktuku terbuang percuma.” keluhnya.
Raksha menatap jendela ke arah menara Academy yang menjulang tinggi di tengah malam.
“Baiklah” gumamnya. “Jika pintu depan tertutup, aku akan mencari celah lain”
Di kejauhan, jam kristal berdentang menandai pergantian jam.