NovelToon NovelToon
A Love That Grows

A Love That Grows

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Beda Usia / Nikahmuda / CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:775
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Yura, 23 tahun, adalah seorang wanita cerdas, cantik, dan tulus. Setelah kehilangan ayahnya yang selalu menjadi inspirasinya, Yura memutuskan untuk mewujudkan mimpi lama mereka membuka toko kue Prancis yang pernah ayahnya impikan.
Namun, langkahnya tak semulus yang ia kira. Di dunia bisnis, ia bertemu Arkan, CEO tajir, dingin, dan terlalu posesif. Pria yang selama ini menutup hati dari semua wanita tiba-tiba tertarik pada Yura bukan karena bisnis, tapi karena ketulusan dan keberanian yang jarang ia temui.
Pertemuan pertama mereka di restoran biasa berubah menjadi serangkaian kejadian tak terduga: mulai dari pertolongan Yura pada orang tua dan ibu hamil, hingga pertemuan bisnis yang membuat batas profesional mereka teruji.
Bisnis, mimpi, dan rasa kehilangan bercampur menjadi satu, ketika Yura harus memilih antara menjaga mimpinya, menghadapi masa lalunya, dan… menghadapi seorang pria yang mulai terlalu ingin memilikinya.
Apakah Yura akan menyerah pada bisnis dan mimpi ayahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 Garis yang Tak Boleh Dilanggar

Bel pintu toko berbunyi pelan.

Yura yang sedang menata ulang etalase menoleh sambil tersenyum otomatis. "Selamat datang.."

Kalimatnya terhenti.

Pria itu berdiri tepat di depan pintu. Tinggi. Rapi. Jas hitam tanpa satu kerut pun. Tatapannya dingin dan terlalu familiar.

Arkan.

Langkah kakinya mantap saat masuk ke dalam toko. Aura ruang itu berubah seketika. Seolah udara menjadi lebih berat, lebih sunyi, meski pelanggan lain masih ada di sudut toko.

Yura menegakkan punggungnya. Senyumnya hilang, digantikan ekspresi profesional yang datar.

"Pak Arkan," ucapnya tanpa nada ramah. "Toko ini terbuka untuk pelanggan. Bukan untuk urusan pribadi."

Arkan tidak langsung menjawab. Matanya menyapu ruangan rak kue, meja kayu, tangan Yura yang masih berdebu tepung. Semua terlalu… hidup. Terlalu berbeda dari dunia yang ia kenal.

Ia melangkah lebih dekat. Perlahan. Mantap.

"Kau menghilang," kata Arkan akhirnya. Nada suaranya rendah, menekan. Bukan marah lebih ke menguasai.

Yura tidak mundur. Ia berdiri tegak, menatap lurus ke mata Arkan.

"Aku tidak pernah berjanji akan selalu tersedia," jawabnya tenang. "Dan aku tidak bekerja untukmu."

Arkan berhenti tepat di depan konter kasir. Jarak mereka hanya beberapa langkah. Cukup dekat untuk Yura merasakan aura dominan yang memancar dari pria itu.

"Aku sudah menunggumu," kata Arkan. "Aku tidak terbiasa ditolak."

Yura menatapnya tanpa berkedip. "Dan aku tidak terbiasa dikekang."

Keheningan jatuh di antara mereka.

Arkan menatapnya lama. Untuk pertama kalinya… ia tidak tahu harus menjawab apa.

Nada Yura tidak tinggi. Tidak emosional. Justru terlalu jujur dan itu yang membuatnya berbahaya.

"Aku menjauh dari orang yang mencoba mengatur hidupku," lanjut Yura. "Entah itu atasan, klien, atau CEO sekalipun."

Arkan memiringkan kepalanya sedikit. Matanya menyipit bukan kesal, tapi… tertarik.

"Ini bukan urusan bisnis," kata Arkan pelan. "Aku hanya ingin bicara."

Yura menggeleng pelan. "Kalau begitu, bicara sebagai pelanggan. Bukan sebagai seseorang yang merasa punya kendali atasku."

Ia menunjuk etalase dengan gerakan singkat. "Silakan pilih kue. Kalau tidak, aku masih punya pelanggan lain."

Arkan tidak tersenyum. Namun matanya justru semakin gelap bukan marah, bukan kesal.

Tertarik.

Wanita ini tidak mundur. Tidak memohon. Tidak goyah.

Dan itu berbahaya.

Sangat berbahaya.

Karena Arkan tidak pernah bertemu wanita yang berani menarik garis batas padanya dengan setenang ini.

Arkan berbalik, berjalan menuju pintu dengan langkah lambat, seolah memberi Yura waktu untuk mengubah keputusannya.

Namun sebelum keluar, ia berhenti.

Tangannya menyentuh gagang pintu, tapi kepalanya sedikit menoleh ke belakang.

"Yura," katanya pelan, tapi penuh tekanan. "Kau baru saja menarik perhatian orang yang tidak suka kehilangan."

Yura tidak menjawab. Ia hanya berdiri tegak tidak mengejar, tidak menahan.

Bel pintu kembali berbunyi saat Arkan keluar.

Yura menarik napas panjang. Dadanya berdebar bukan karena takut.

Melainkan karena ia tahu satu hal dengan pasti.

Pria itu tidak akan berhenti.

Yura Menyadari Sesuatu

Beberapa detik kemudian, otaknya mulai bekerja. Sesuatu terasa aneh.

Ia menatap pintu keluar, lalu teringat pelanggan konyol tadi siang.

"...tunggu."

Yura mengerutkan dahi, otaknya mulai menyusun puzzle.

Pelanggan aneh yang ngomong pake bahasa formal kaku... "atasan saya yang memiliki concern terhadap establishment ini"...

Dan sekarang... Pak Arkan tiba-tiba datang.

Mata Yura melebar.

"Jangan-jangan..."

Ia langsung berjalan ke belakang kasir, membuka layar tablet kecil yang terhubung ke CCTV toko.

Di layar, ia melihat pria kaku itu asistennya Arkan yang beli setengah etalase sambil ngomong kayak lagi presentasi di kantor.

Yura menutup matanya sejenak, lalu menghela napas panjang.

"Jadi itu orang suruhannya."

Ia memutar ulang rekaman itu. Bagas yang panik dengan bahasa formalnya, Bagas yang nyaris menjatuhkan toples kue, Bagas yang kabur sambil bawa kantong plastik penuh.

Yura menggelengkan kepala, sekarang campur antara kesal dan... sedikit geli.

"'Unit spherical'... 'direct visit'... Astaga, dia kirim orang yang bahkan nggak bisa ngomong santai ke toko kue."

Ia menutup layar tablet dengan agak keras.

"Benar-benar mengganggu."

Tapi meski kesal, ada sesuatu yang mengganjal di dadanya.

Arkan sudah melacaknya.

Arkan sudah tahu di mana ia bekerja.

Dan yang lebih parah... pria itu sudah mulai bermain-main dengan caranya sendiri.

Yura menatap pintu toko yang kosong, lalu bergumam pelan.

"Kalau dia pikir aku bakal luluh gara-gara dia CEO... dia salah besar."

Malam Itu Pikiran Yura Tidak Tenang

Malam itu, Yura pulang ke apartemen kecilnya dengan pikiran penuh.

Ia duduk di sofa sembari melepas sepatunya, menatap langit-langit dengan tatapan kosong.

"Dia kirim asistennya yang konyol... terus datang sendiri... terus bilang aku 'menarik perhatiannya'..."

Yura menutup wajahnya dengan bantal.

"...kenapa hidupku jadi ribet gini sih?"

Tapi meski kesal, satu hal pasti:

Ia tidak akan mundur.

Jika Arkan pikir ia bisa mengendalikan Yura dengan kekuasaannya... Maka ia salah besar.

Karena Yura bukan wanita yang bisa ditaklukkan dengan uang, jabatan, atau tatapan intimidatif.

Ia sudah terlalu lelah dengan dunia seperti itu.

Dan kali ini... ia akan melawan dengan caranya sendiri.

Di Sisi Lain Arkan di Mobilnya

Arkan duduk di kursi belakang mobilnya, menatap layar ponselnya yang menampilkan foto toko kue Yura.

Bagas duduk di depan, diam-diam melirik kaca spion, takut salah bicara.

"Pak..." kata Bagas pelan. "Apakah... rencana selanjutnya perlu saya. "

"Tidak," potong Arkan dingin. "Kali ini aku yang akan bergerak sendiri."

Bagas mengangguk cepat, lalu diam.

Arkan menatap layar ponselnya lagi. Di sana, ada data lengkap tentang Yura tempat tinggal, jam kerja, bahkan rute yang sering ia lewati.

Tapi yang membuatnya tertarik bukan data itu.

Melainkan tatapan Yura tadi.

Tatapan yang tidak gentar.

Tatapan yang tidak memohon.

Tatapan yang menantang.

Arkan tersenyum tipis senyum yang jarang muncul.

"Kau menarik garis batas, Yura..." gumamnya pelan. "Tapi garis itu... hanya membuatku ingin melanggarnya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!