NovelToon NovelToon
Gravitasi Terbalik

Gravitasi Terbalik

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:68
Nilai: 5
Nama Author: Aarav Rafandra01

Saat si badboy jatuh cinta pada kebaikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aarav Rafandra01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Garis batas yang dingin.

Perubahan Faisal tentu tidak terjadi hanya dalam satu malam. Prosesnya perlahan, namun pasti. Seperti karat yang dibersihkan sedikit demi sedikit. Hal pertama yang ia rubah adalah tempat dimana ia menghabiskan waktu luangnya. Warung kopi diganti dengan perpustakaan, dan deru knalpot bising diganti dengan keheningan buku.

Ini lah yang memicu kegelisahan Yadi dan anggota gengnya.

Sepulang mengantar Aruna, Faisal berinisiatif mendatangi markas geng nya yang baru, di gudang tua dekat bengkel biasa tempat Faisal dan Yadi bermain dulu. Faisal mendatangi Yadi seorang diri, bukan untuk menyerang balik, tetapi menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi diantara persahabatan mereka.

Sesampainya di gerbang gudang tua, bau khas minuman keras dan asap rokok yang mengepul langsung memenuhi indra penciuman Faisal. Yadi dengan postur tegapnya, menyambut Faisal dengan tatapan penuh amarah.

" Liat siapa yang datang! " Ucapnya sambil tersenyum diiringi suara tepuk tangan. " Mau ngapain Lo kesini? Ini bukan tempat pecundang kaya Lo! "

Faisal tak tersinggung, ia justru merasa lelah.

" Gue Dateng kesini bukan buat balik, tapi buat nyelesain masalah yang terjadi diantara kita. "

"Omong kosong!"seru Yadi, kesabarannya habis.Ia melangkah maju dengan kedua tangan terbenam dalam saku. " Lo udah hancurin semua yang kita bangun, dan barusan lo malah lebih milih pulang sama cewe Lo itu dibanding kita. Lo udah ga pantes ada disini." Yadi berlari ke arah Faisal dan melayangkan tinju.

Faisal menahan pukulannya, ia merasakan amarah yang familiar. Tapi kali ini ia memilih untuk menahannya. Amarah itu tak ia arahkan pada Yadi, melainkan pada dirinya sendiri karena hampir saja meledak.

" Jangan pernah Lo bawa bawa dia ke dalam masalah Lo sama gue, kalo gue mau gue bisa hancurin Lo kapanpun gue mau, inget Di. Gue cuman gamau ribut, bukan berarti gue gapunya keberanian buat hancurin kalian semua. " Faisal mencengkram kepalan tangan Yadi, lalu membantingnya.

Yadi gemetar, memegang kepalan tangan yang barusan dicengkeram Faisal dengan kuat. terlintas diwajahnya ia menahan rasa sakit.

" Kenapa, Sal? Lo lawan gue sekarang! Asal lo tau, cewe yang Lo bangga banggain sekarang. Sama sekali ga ngerti sama dunia kita, harusnya lo sadar, Sal! " Yadi mengerang.

Faisal menatap tajam Yadi. Ia melihat solidaritas disana, tapi juga kebutaan.

" Di, lu juga harus tau satu hal. Aruna ga pernah sama sekali nuntut gue buat berubah atau ninggalin kalian semua. Dia cuman mau nunjukin ke gue, kalo gue jauh lebih berharga daripada seorang trouble maker. Gue cerdas, gue bisa ngerencanain sesuatu dengan matang, gue terlatih buat jadi pemimpin. tapi gue nempatin semua itu di hal yang salah."

Yadi geram, ia tak mengerti lagi isi pikiran sahabatnya. Bagi Yadi, perubahan ini adalah bentuk penghianatan emosional.

" Jadi sekarang, lo lebih milih cinta monyet Lo itu dibanding persahabatan kita? Kita ada disini saat Lo jatuh, saat Lo lagi banyak masalah, Sal. Kita selalu sama sama. Dan sekarang Lo mau buang kita demi cewe ga jelas yang baru Lo kenal itu? Gua ga ngerti lagi sama arah pikiran Lo, Sal. Gue kecewa sama Lo! "

Faisal menggelengkan kepala, tak percaya.

" Gue sama sekali ga ada niatan buat buang kalian, kalian bakal tetap jadi sahabat gue sampai nanti. Gue cuman milih diri gue sendiri, gue mau berubah. Gue juga ga bakal minta kalian buat ngikutin gue, gue cuman berharap semoga suatu saat nanti kalian bisa ngerti."

Keheningan melanda gudang tua itu. Bagi Yadi, ini adalah deklarasi perang secara tidak langsung. Meski tanpa beradu pukulan.

" Kalo itu jalan yang bakal Lo pilih," Yadi mengambil langkah mundur, wajahnya dingin dan kecewa. " berarti Lo bukan Faisal yang gue kenal lagi, dan gue ingetin buat yang terakhir kali. Lo udah ga ada tempat lagi disini, dan gue bakal gantiin Lo buat jadi leader di geng ini!" Yadi menoleh ke anggota yang lain. " Kita pergi! Kita masih ada urusan yang lebih penting daripada dengerin ceramah seorang pecundang! "

Mereka semua mengikuti Yadi, meninggalkan Faisal dalam kegelapan gudang tua sendirian. Yadi berhenti tepat digerbang, ia menoleh ke arah Faisal untuk terakhir kalinya. " Selamat tinggal, Bos! " kata Yadi, air matanya mulai membasahi pipi, ini jelas jauh lebih sakit daripada pukulan.

Faisal meneteskan air mata, sekuat tenaga menahan perih. Ia tahu sebuah perpisahan pasti akan terjadi. Yadi adalah sahabatnya dari dulu, tetapi kini. Yadi adalah masalalu yang harus ia tinggalkan untuk mencapai masa depan yang lebih cerah bersama Aruna.

Ia melangkah ke arah motornya yang ia parkir didekat pintu gerbang. Ia menghidupkan mesinnya, suara mesinnya kini menjadi terasa begitu asing dan kesepian tanpa deru mesin Yadi dan anggota gengnya. Ia menatap lekat ke arah gudang tua selama beberapa detik, mengusap air matanya. Lalu bergegas pergi dengan perasaan sedih yang mendalam.

........

Mentari Sore di depan gerbang sekolah. Aruna merapihkan seragamnya, senyumnya terkembang saat melihat kedatangan Faisal.

Faisal dengan jaket parasut yang selalu menjadi andalannya, berjalan menghampirinya. Ia menjulurkan helm putih yang sudah terlihat sedikit lecet di beberapa bagian.

" Sudah siap, tuan putri? Jalanan sore ini milik kita! " Suaranya hangat dan akrab.

Aruna hanya membalas dengan senyuman manja dan bergegas menerima helm itu.

Aruna melingkar kan tangannya di pinggang Faisal, suara deru mesin yang agak berisik menjadi melodi kebersamaan mereka. Sore ini Faisal berencana singgah ditaman kota sebelum Faisal mengantarkannya pulang.

Perjalanan terasa begitu damai selama beberapa menit, di iringi canda dan obrolan tentang kejadian aneh disekolah yang telah mereka lalui.

Saat Faisal membelokan motornya ke arah jalan perindustrian yang sepi (jalan pintas menuju taman kota), suasana mendadak berubah. Jalanan itu adalah tempat dimana Faisal dan Yadi sering menghabiskan waktu untuk sekedar berlatih balapan motor. Jalan yang di kiri dan kanannya dibatasi oleh pagar pagar tinggi sebuah pabrik yang sudah lama tidak beroperasi. Memang sangat jarang dilalui kendaraan umum, tetapi sering dijadikan trek balapan dan titik kumpul oleh beberapa pemuda dan komunitas motor.

" Ko diem, Sal? kamu gapapa kan? " tanya Aruna khawatir.

" eh ngga, aku cuma inget sesuatu. Dulu aku sama Yadi sering latihan motor disini." jawab Faisal mencoba menjawab dengan nada ceria.

" Oh, kamu lagi kangen sama mereka ya? Maaf ya, Sal. mungkin gara gara aku kalian jadi kaya gini." bisik Aruna pelan.

Faisal menepikan motornya di area yang sedikit lapang.

" Na, dengerin aku. Kamu sama sekali ga ada sangkut pautnya sama semua yang terjadi di hidup aku. Ini pilihan aku sendiri, bukan karena kamu. Jadi gausah ngerasa bersalah lagi,ya. "

Aruna mengangguk dan memeluk Faisal lebih erat.

Dari kejauhan, samar mereka mendengar riuh yang asing. Bukan sekedar suara deru motor biasa, melainkan raungan knalpot bising yang memekakkan telinga, berpadu dengan suara tertawa keras yang terdengar arogan.

" Na, pegangan yang kuat. Kita harus cepet cepet pergi dari sini. " tegas Faisal, firasatnya mulai tidak enak.

Faisal segera menghidupi motornya dan melaju sangat cepat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!