NovelToon NovelToon
Imam Pilihan Bunda.

Imam Pilihan Bunda.

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Nikahmuda / Romantis / Dijodohkan Orang Tua / Komedi
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Nyai Nung

Humairah Liandra, mahasiswi 20 tahun yang terkenal nakal, keras kepala, ceplas-ceplos, dan anti diatur, tiba-tiba dijodohkan oleh bundanya sendiri dengan seorang tentara dingin dan disiplin—Haikal Fero, anak dari sahabat lama sang bunda.
Perjodohan yang awalnya ditentang mati-matian justru perlahan mengubah hidup Humairah… dan Haikal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Nung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1.Awal.

Suara hujan turun deras, menghantam aspal dan genteng rumah seperti irama kemarahan yang tak sempat diluapkan. Jalanan basah berkilau diterpa lampu motor yang berhenti tepat di depan pagar rumah bercat putih itu.

Seorang gadis turun dari motor sport hitamnya. Jaket kulit menempel di tubuh rampingnya, rambut panjangnya sedikit basah, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah.

Lian.

Begitulah ia ingin dipanggil.

Humairah Liandra—nama yang selalu membuatnya mengernyit setiap kali terdengar dari mulut bundanya.

Ia membuka pintu rumah dengan santai, menendang sepatu ke sudut tanpa rapi, lalu melangkah masuk seolah jam di dinding tak menunjukkan pukul sebelas malam.

Lampu ruang tamu menyala terang.

Dan seperti yang sudah ia duga—

seseorang sudah menunggunya.

“Humairah.”

Satu kata.

Datar.

Tenang.

Namun justru membuat langkah Lian terhenti sepersekian detik.

Ia mendesah pelan, lalu berbalik sambil menyeringai kecil.

“Bunda, jangan panggil aku Humairah. Kan sudah dibilang, panggil aku Lian.”

Maya berdiri di dekat sofa. Tubuhnya tegak, kedua tangannya terlipat di depan dada. Wajah wanita paruh baya itu terlihat lelah—bukan lelah fisik, melainkan lelah menghadapi anaknya sendiri.

“Kamu pulang jam berapa?” tanya Maya, mengabaikan protes soal nama.

Lian melirik jam dinding, lalu mengangkat bahu.

“Masih hari ini, Bun. Belum ganti tanggal.”

Jawaban asal itu membuat rahang Maya mengeras.

“Kamu janji pulang jam delapan.”

“Janji itu fleksibel,” sahut Lian ringan. Ia melepas jaketnya, melemparkannya ke sandaran kursi, lalu berjalan ke dapur seolah tak ada yang salah. “Lagi pula hujan deras, masa aku disuruh balapan sama badai?”

Plak!

Tangan Maya menghantam meja.

Suara itu cukup keras untuk menghentikan langkah Lian.

“Cukup, Lian.”

Nada suara bundanya berbeda. Tidak tinggi, tidak marah—justru terlalu tenang. Dan itu jauh lebih berbahaya.

Lian berbalik perlahan. Alisnya terangkat, senyum santainya menghilang sedikit demi sedikit saat ia melihat mata bundanya memerah.

“Bunda capek,” lanjut Maya lirih, namun tegas. “Capek tiap malam nunggu kamu pulang. Capek dengar laporan ini-itu tentang kamu. Capek takut suatu hari kamu pulang bukan dalam keadaan utuh.”

Lian terdiam.

Hanya sedetik.

Lalu ia menghela napas kasar.

“Aku masih hidup, Bun. Masih kuliah. Nilai juga nggak ancur-ancur amat.”

“Kenakalanmu bukan soal nilai,” potong Maya. “Ini soal arah hidup.”

Lian mendecakkan lidah.

“Mulai lagi…”

Maya melangkah maju satu langkah.

“Mulai bulan depan,” ucapnya pelan, namun setiap katanya seperti palu, “kamu akan menikah.”

Hening.

Lian menatap bundanya, lalu… tertawa.

Tawa lepas.

Tidak percaya.

Nyaris mengejek.

“Hahaha… serius, Bun?” Lian menyeka sudut matanya yang berair karena tertawa. “Ini metode baru ya? Nakutin anak bandel pake wacana nikah?”

Maya tidak ikut tertawa.

Wajahnya tetap tenang. Terlalu tenang.

“Kamu akan menikah dengan Haikal Fero,” lanjut Maya. “Anak sahabat bunda.”

Senyum Lian membeku.

“…Siapa?”

“Haikal. Tentara. Usianya dua puluh tujuh tahun. Anak yang bunda kenal sejak kecil.”

Dada Lian naik turun.

“Bunda bercanda.”

“Bunda serius.”

“BUNDA GILA?!”

Suara Lian pecah.

Ia melangkah mundur, matanya membelalak.

“Aku masih dua puluh tahun! Aku mahasiswa! Hidupku belum beres, dan bunda mau aku jadi istri orang?!”

“Justru karena hidupmu belum beres,” jawab Maya tegas, “bunda ingin kamu punya imam.”

Kata itu membuat Lian tertawa pahit.

“Imam?”

Ia menunjuk dirinya sendiri. “Bunda lihat aku? Aku bukan tipe perempuan alim yang siap jadi istri tentara!”

“Dia imam yang tepat,” kata Maya yakin. “Dia disiplin. Bertanggung jawab. Dia bisa membimbing kamu.”

Lian menggeleng keras.

“Yang bunda maksud membimbing itu mengikat, kan? Ngatur, ngerem, ngurung hidup aku?”

“Humairah"

 "jangan panggil aku Humairah!” teriaknya. “Aku bahkan nggak suka nama itu, dan sekarang bunda mau nentuin hidup aku juga?!”

Air mata menggenang di matanya, tapi ia menolak jatuh.

“Ini hidup aku,” ucap Lian bergetar. “Bukan proyek bunda.”

Maya menatap putrinya lama. Sangat lama.

Lalu berkata dengan suara yang membuat jantung Lian mencelos.

“Dan bunda adalah ibu yang bertanggung jawab atas hidupmu.”

Hujan masih turun di luar.

Petir menyambar jauh di langit.

Malam itu, tidak ada yang menang.

Hanya dua hati yang sama-sama keras, sama-sama terluka.

______

Keesokan paginya, rumah itu terasa terlalu sunyi.

Tidak ada suara piring beradu.

Tidak ada aroma sarapan seperti biasanya.

Hanya suara hujan sisa semalam yang masih menetes pelan dari talang, seolah mengingatkan bahwa pertengkaran itu nyata—bukan mimpi.

Jam menunjukkan pukul 60.20 pagi saat pintu kamar Lian terbuka.

Gadis itu melangkah keluar dengan hoodie abu-abu kebesaran, ransel hitam tersampir di satu bahu. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai asal, matanya sembab karena kurang tidur—atau karena terlalu banyak pikiran.

Ia sama sekali tidak berniat sarapan.

Di meja makan, Maya sudah duduk sejak tadi. Secangkir teh di depannya sudah dingin, tanda wanita itu bahkan lupa meneguknya. Matanya langsung terangkat saat melihat Lian.

“Pagi,” sapa Maya pelan.

Lian berhenti sejenak, tapi tidak menoleh.

“Pagi.”

Nada suaranya datar. Tidak ada sisa teriakan semalam, tapi jarak di antara mereka terasa lebih lebar dari biasanya.

“Kamu berangkat pagi sekali,” ujar Maya, mencoba terdengar biasa.

“Ada kelas pagi,” jawab Lian singkat. Bohong. Kelasnya baru jam sembilan.

Ia melangkah ke arah pintu, tapi suara bundanya kembali menahannya.

“Lian.”

Kali ini, Maya memanggil dengan nama yang diinginkannya.

Langkah Lian terhenti.

“Bunda nggak bermaksud menyakitimu,” lanjut Maya lirih. “Bunda cuma—”

“Aku nggak siap dengar apa pun sekarang, Bun,” potong Lian tanpa menoleh. “Aku mau ke kampus.”

Klik.

Pintu tertutup.

Dan Maya hanya bisa menatap punggung putrinya yang menghilang, dengan perasaan bersalah bercampur tekad yang sama kuatnya.

Udara pagi masih dingin saat Lian menyalakan motor. Jalanan belum ramai, langit masih abu-abu pucat. Gas ditarik sedikit lebih dalam dari biasanya, seolah ia ingin meninggalkan rumah—dan semua kata semalam—sejauh mungkin.

Angin pagi menerpa wajahnya, membuat matanya perih.

Atau mungkin itu air mata yang tak jadi jatuh.

“Imam pilihan bunda… sialan,” gumamnya.

Di kepalanya, suara Maya terus berputar.

Tentara. Dewasa. Bertanggung jawab.

Lian tertawa kecil, getir.

“Dan pasti kaku. Sok ngatur. Sok suci,” lanjutnya sendiri.

Ia membayangkan sosok pria asing dengan wajah dingin, seragam loreng, bicara seperlunya, dan memandang hidupnya seperti daftar pelanggaran.

No way, batinnya.

Motor berhenti di area parkir kampus saat matahari mulai naik. Beberapa mahasiswa sudah terlihat lalu lalang, sebagian masih mengantuk, sebagian sibuk dengan ponsel dan kopi pagi.

Lian melepas helm, menghela napas panjang.

Kampus biasanya jadi pelariannya.

Tempat di mana ia bisa jadi dirinya sendiri—tanpa diatur, tanpa dikontrol.

Namun pagi ini berbeda.

Langkahnya terasa berat.

“Lian!”

Sebuah suara ceria menyapanya dari kejauhan.

Nayla, sahabatnya, berlari kecil sambil melambaikan tangan. Rambut pendeknya bergoyang-goyang, wajahnya penuh semangat khas orang yang belum tahu masalah orang lain.

“Tumben pagi banget,” ujar Nayla sambil merangkul lengan Lian. “Biasanya kamu muncul kayak hantu siang bolong.”

Lian memaksakan senyum.

“Nggak bisa tidur.”

Nayla menatapnya curiga.

“Kamu kelihatan habis perang.”

“Hampir,” jawab Lian lirih.

Mereka duduk di bangku taman kampus. Lian menatap halaman depan gedung fakultas, matanya kosong. Nayla menunggu, tahu betul sahabatnya ini tidak akan bicara kalau didesak.

“Aku mau dijodohkan,” ucap Lian akhirnya, datar.

Nayla membelalak.

“…APA?”

“Paket lengkap,” lanjut Lian pahit. “Anak sahabat bunda. Tentara. Calon imam.”

Nayla terdiam sejenak.

Lalu, “Oke. Aku ulang. APA?!”

Lian menunduk, jari-jarinya saling mengait.

“Bunda pikir ini solusi terbaik buat kenakalan aku.”

Nayla mengumpat pelan.

“Gila.”

“Iya,” Lian mengangguk. “Aku juga pikir gitu.”

Namun entah kenapa, di balik amarahnya, ada sesuatu yang mengganjal.

Bukan takut menikah.

Bukan takut pada pria itu.

Melainkan perasaan bahwa hidupnya… sedang perlahan diambil alih.

Dan di saat yang sama—

di sebuah markas yang jauh dari kampus itu, seorang pria bernama Haikal Fero baru saja menerima kabar yang akan mengubah arah hidupnya selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!