Kiandra tumbuh sebagai anak yang tak pernah diakui ayahnya. Ibunya diusir, hidupnya penuh luka, dan amarah menjadi satu-satunya cara bertahan.
Di sekolah, ia bertemu Tara—perempuan yang selalu berada di sisi yang dipilih dunia. Mereka musuh, saling menjatuhkan, hingga seorang cowok bernama Daffa membuat kebencian itu semakin panas.
Semua berubah ketika Kia tahu: **Tara adalah saudara tirinya.**
Salah paham menghancurkan segalanya. Tuduhan kejam membuat hidup Tara runtuh, dan takdir mempertemukan mereka di bawah satu atap sebagai dua orang yang saling membenci. Hingga waktu memisahkan mereka.
Enam tahun kemudian, mereka bertemu kembali sebagai orang dewasa. Luka lama belum sembuh, cinta lama belum mati, dan kebenaran menunggu untuk diakui.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 – Dunia Tara Runtuh
Tara baru menyadari betapa berat kata rumah ketika ia kehilangannya.
Pagi itu, ia duduk di kamar lamanya—kamar yang selama ini ia pikir akan selalu ada. Dindingnya masih sama, lemari kayunya masih berderit saat dibuka, dan meja belajarnya masih penuh coretan pena yang belum sempat dihapus. Tapi ada sesuatu yang berbeda.
Ia tidak lagi merasa memiliki.
Mama berdiri di ambang pintu sejak tadi, memperhatikan Tara yang melipat pakaian ke dalam tas besar. Tidak ada omelan. Tidak ada larangan. Hanya keheningan yang berat.
“Kamu nggak perlu bawa semuanya,” kata Mama akhirnya, suaranya pelan. “Nanti bisa diambil.”
Tara tersenyum kecil tanpa menoleh. “Aku nggak tahu nanti itu kapan.”
Mama terdiam.
Papa tidak muncul sejak semalam. Setelah percakapan mereka yang canggung, ia mengurung diri di kamar. Tara tidak mengetuk. Ia tidak lagi punya tenaga untuk mengejar orang-orang yang selalu memilih diam.
“Kamu mau tinggal di mana?” tanya Mama.
“Tempat temen,” jawab Tara singkat. “Sementara.”
Mama mengangguk, walau jelas tidak yakin.
“Ma,” kata Tara sambil menutup resleting tasnya, “aku nggak marah sama Mama.”
Mama mengangkat wajahnya cepat. “Tapi Mama marah sama diri Mama sendiri.”
Tara berdiri. “Aku cuma… capek.”
Mama melangkah mendekat, memeluk Tara dengan ragu, seolah takut pelukan itu akan ditolak. Tara tidak membalas, tapi juga tidak menyingkir.
Pelukan itu terasa seperti perpisahan yang tidak ingin diakui.
Mobil Mama berhenti di depan rumah temannya, Rania.
Rania terkejut melihat Tara membawa dua tas besar.
“Ra?” katanya bingung. “Lo kenapa?”
Tara mengangkat bahu. “Numpang sebentar.”
Rania langsung menarik Tara masuk tanpa banyak tanya.
Di kamar Rania yang sempit tapi hangat, Tara duduk di tepi kasur. Bau deterjen yang asing membuat dadanya sesak. Ia memandang sekeliling—poster band, tumpukan buku, dan boneka kecil di rak.
Semua terasa bukan miliknya.
“Kamu bisa tidur di sini,” kata Rania. “Gue pindah ke bawah.”
“Nggak usah,” kata Tara cepat. “Gue nggak mau ngerepotin.”
Rania menatapnya lama. “Lo kenapa, Tar?”
Tara menggeleng. “Nanti.”
Untuk pertama kalinya, ia tidak ingin menjelaskan.
Hari Senin datang seperti hukuman.
Tara masuk ke sekolah dengan seragam rapi, tapi langkahnya terasa berat. Biasanya, ia berjalan dengan kepala tegak, menyadari tatapan orang-orang. Sekarang, setiap mata terasa seperti beban.
Bisik-bisik mulai terdengar bahkan sebelum bel masuk.
“Katanya dia kabur dari rumah.”
“Oma-nya marah besar.”
“Emang anak durhaka.”
“Denger-denger keluarganya bermasalah.”
Tara menggenggam tali tasnya erat.
Di papan pengumuman, namanya tidak lagi tercantum sebagai perwakilan lomba debat sekolah. Di grup kelas, admin menghapusnya dari daftar panitia acara.
Status yang selama ini melekat padanya—anak keluarga terpandang, siswi teladan, putri keluarga Pratama—mulai runtuh satu per satu.
Ia duduk di bangkunya, kosong.
Daffa melirik ke arahnya dari seberang kelas. Wajahnya ragu, seolah ingin menyapa tapi takut salah langkah.
Kia belum datang.
Entah kenapa, Tara merasa lega sekaligus cemas.
Guru BK memanggil Tara saat jam istirahat.
Di ruang yang berbau kopi dingin itu, Tara duduk dengan tangan di pangkuan.
“Kami mendapat laporan,” kata Bu Rina hati-hati, “bahwa kamu sedang mengalami masalah keluarga.”
Tara menatap meja. “Iya.”
“Sekolah ingin memastikan kamu baik-baik saja.”
Tara tersenyum tipis. “Kalau saya bilang tidak, apa yang berubah?”
Bu Rina terdiam.
“Kami juga menerima permintaan dari wali kamu,” lanjut Bu Rina, “untuk sementara, beberapa tanggung jawab sekolahmu ditangguhkan.”
“Ditangguhkan,” ulang Tara pelan.
Bukan dicabut.
Bukan dibatalkan.
Ditangguhkan—kata yang menggantung tanpa kepastian.
“Baik, Bu,” kata Tara akhirnya.
Saat keluar dari ruang BK, langkahnya goyah.
Ia menyadari satu hal yang menakutkan: selama ini, ia berdiri di atas nama besar keluarganya. Dan ketika nama itu goyah, ia ikut jatuh.
Sore itu, Tara duduk sendirian di halte bus, menunggu Rania menjemputnya.
Ia membuka ponsel, tanpa tujuan.
Nama Kia muncul di layar—bukan pesan, hanya kontak yang tersimpan sejak lama, tanpa pernah disentuh.
Tara menatap nama itu lama.
Saudaraku.
Kata itu terasa asing, seperti baju yang ukurannya tidak pas.
Ia ingin mengetik. Banyak hal ingin ia katakan.
Ternyata kita sama-sama korban.
Aku tidak tahu.
Aku juga kehilangan segalanya.
Tapi jarinya tidak bergerak.
Bagaimana jika Kia tidak peduli?
Bagaimana jika Kia lebih dulu membencinya?
Ponsel itu akhirnya ia kunci kembali.
Malam di rumah Rania terasa panjang.
Tara berbaring menghadap langit-langit, mendengar suara hujan mulai turun. Hujan selalu membuatnya merasa kecil.
Ia teringat kamar oma—hangat, rapi, penuh aturan. Sekarang, bahkan pintu itu tertutup baginya.
Ia menutup mata, tapi air mata tetap jatuh.
Untuk pertama kalinya, Tara benar-benar sendirian.
Bukan karena tidak ada orang di sekitarnya.
Tapi karena tidak ada tempat yang mau mengakuinya.
Di rumahnya sendiri, Papa duduk di ruang kerja.
Di hadapannya, berkas-berkas lama terbuka—dokumen yang selama ini ia simpan rapat.
Nama Kia.
Nama ibunya.
Tanggal-tanggal yang seharusnya tidak tumpang tindih.
Papa menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Ia telah kehilangan anaknya sendiri.
Bukan karena kematian.
Tapi karena pengecut.
Di sisi lain kota, Kia duduk di warung kecil dekat rumahnya, membantu ibunya menutup etalase.
“Kamu kelihatan capek,” kata ibunya.
Kia mengangguk. “Entah kenapa.”
Ibunya menatapnya lama, seolah ingin mengatakan sesuatu, lalu mengurungkan niat.
Kia menatap jalanan yang basah oleh hujan.
Tanpa tahu bahwa di tempat lain, saudara tirinya juga sedang menatap hujan—dengan dunia yang runtuh di bawah kakinya.
Malam itu, Tara akhirnya menulis satu pesan.
Bukan ke Kia.
Ke dirinya sendiri.
Di catatan ponselnya, ia menulis:
Kalau aku tidak punya rumah, tidak punya nama besar, dan tidak punya perlindungan… siapa aku sebenarnya?
Ia menatap kalimat itu lama.
Dan untuk pertama kalinya, ia tahu—pertanyaan itu tidak bisa dijawab dengan cepat.
...****************...
yg salah adalah org tua
terutama arman dan keluarga ny.
mash jdi teka teki,knp dgn ank perempuan ?
ank dri istri pertama perempuan,ank dri istri ke 2 perempuan, tpi knp ank dri istri ke 2 tetap di pilih dan di sayang ?
bgtu pun dgn Arman ? dri ke 2 ank ny,knp dia kaku dgn ank² ny ? sprti ad tembok yg kokoh .
cucu intan payung oma kek ny..
cihhhhh dsar laki² gak guna, ga bisa tegas,model manut ae..
tunggu aj karma mu
blm bisa komen bnyk..
ok salam kenal thor,izin membaca karya nya