Lo tahu kenapa lampu lalu lintas warna merah itu artinya berhenti?"
Ifa menatap cowok di depannya dengan benci. "Karena merah itu tanda bahaya."
Nicholas menyeringai, mendekat hingga napasnya terasa di kening Ifa. "Sayangnya, makin bahaya, orang malah makin penasaran, Fa. Termasuk lo."
Lathifa (IPA, kelas 12) dan Nicholas (Teknik, tingkat 3). Dua kutub yang tidak seharusnya bertemu, dipaksa bersinggungan karena sebuah ketidaksengajaan di depan pintu rumah. Bagi Ifa, Nick adalah red flag yang harus dihindari. Bagi Nick, Ifa adalah gangguan kecil yang sangat menarik untuk dipermainkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Pagi hari di sekolah terasa seperti mimpi buruk yang berjalan lambat bagi Amara. Hari ini jadwal ujian praktek Matematika—materi yang biasanya ia lahap dengan mudah—tapi konsentrasinya hancur berkeping-keping. Bayangan Nicholas yang berdiri di depan gerbang rumahnya semalam, dengan kalimat "Lo satu-satunya hal yang bener di hidup gue," terus berputar di kepalanya.
"Ra! Amara!"
Plak!
Sarah, teman satu kelompoknya, menepuk bahu Amara cukup keras hingga gadis itu tersentak.
"Aduh, Sar! Apaan sih?"
"Lo tuh yang apaan! Dari tadi gue jelasin soal pembuktian rumus volume benda putar, lo malah bengong liatin penggaris. Kita lagi ujian praktek, Ra! Kalau nilai kita anjlok gara-gara lo nggak fokus, gue laporin ke Bang Ryan ya!" omel Sarah sambil berkacak pinggang.
Amara menghela napas panjang, mencoba menjernihkan pikirannya. "Sori, Sar. Gue cuma... kurang tidur aja. Yuk, lanjut."
Meskipun akhirnya ujian itu selesai, perasaan tidak enak tetap menghantui Amara. Sepulang sekolah, ia berniat untuk langsung pulang. Berkali-kali ia mencoba memesan ojek online, tapi entah kenapa pesanannya selalu dibatalkan. Mungkin karena mendung mulai menggantung lagi, membuat para driver enggan mengambil orderan.
"Ah, ya sudahlah. Naik bus aja ke halte depan komplek," gumam Amara pada dirinya sendiri.
Ia mulai berjalan kaki menyusuri jalanan di samping sekolah yang agak sepi. Biasanya jalan ini ramai, tapi karena ada acara rapat guru, sebagian besar siswa sudah pulang lebih dulu.
Amara terus berjalan, sesekali melirik ponselnya yang masih berusaha mencari sinyal. Tiba-tiba, dari arah sebuah gang buntu di depannya, muncul segerombolan cowok—mungkin sekitar empat orang. Mereka tidak memakai seragam sekolah yang sama dengan Amara. Dilihat dari penampilannya, mereka lebih mirip preman pasar yang sedang nongkrong.
Begitu melihat Amara berjalan sendirian, tatapan mereka berubah. Ada senyum mesum dan sorot mata lapar yang membuat bulu kuduk Amara berdiri.
"Wah, liat nih. Ada neng cantik jalan sendirian," ucap salah satu cowok berambut pirang kusam sambil bersiul nakal.
Amara mempercepat langkahnya, menunduk, dan mencoba mengabaikan mereka. Namun, langkahnya terhenti saat dua orang dari mereka sengaja bergeser menghalangi jalannya.
"Mau buru-buru ke mana, Sayang? Temenin kita ngopi dulu yuk di dalem," sahut cowok yang badannya paling besar.
Amara mundur beberapa langkah, jantungnya berdegup kencang hingga terasa menyakitkan di dada. "Permisi, saya mau lewat."
"Boleh lewat, tapi bayar tol dulu dong," cowok itu mendekat. Sebelum Amara sempat menghindar, tangan kasar cowok itu sudah menyentuh dagu Amara, mengangkatnya paksa.
"Cantik juga ya kalau liat deket gini. Kulitnya halus banget," desis cowok itu.
"Lepasin! Jangan lancang ya!" teriak Amara sambil menepis tangan itu dengan jijik. Ia gemetar hebat. Ia ingin lari, tapi kakinya terasa lemas seperti jelly.
Di tengah kepanikannya, jemari Amara yang meraba saku tas sekolahnya menyentuh sesuatu yang keras dan dingin. Gantungan kunci kucing. Peluit darurat dari Nicholas.
Tanpa pikir panjang, dengan tangan yang gemetar hebat, Amara meraih peluit itu dan memasukkannya ke mulut.
TIIIIIIIIIITTTTTT! TIIIIIIIIIITTTTTT!
Suara lengkingan peluit itu memecah kesunyian jalanan, sangat nyaring hingga membuat beberapa burung di pohon terbang menjauh.
Cowok yang berada di depannya sempat tersentak kaget, tapi kemudian ia justru tertawa terbahak-bahak, diikuti oleh teman-temannya yang lain.
"Hahaha! Apaan tuh? Lo mau jadi satpam, Neng? Atau mau manggil tukang parkir?" ejek cowok itu sambil mendekat lagi, kali ini ia mencoba meraih pundak Amara. "Nggak bakal ada yang denger, Sayang. Di sini sepi."
"Jangan deket-deket!" teriak Amara lagi, matanya mulai berair. Ia meniup peluit itu sekali lagi dengan sisa tenaganya, berharap mukjizat datang.
VROOOOOOOMMMMMM!
Suara raungan mesin motor yang sangat gahar tiba-tiba terdengar dari arah tikungan. Bukan suara motor biasa, tapi suara mesin yang Amara kenali sebagai milik Nicholas.
Sebuah motor besar hitam meluncur dengan kecepatan tinggi, lalu melakukan pengereman mendadak tepat di samping gerombolan cowok itu, menimbulkan suara decitan ban yang memekakkan telinga.
Nicholas melompat turun dari motor bahkan sebelum standar motornya terpasang sempurna. Wajahnya tertutup helm, tapi aura yang terpancar darinya sangat gelap dan mematikan. Ia langsung berjalan cepat menuju Amara.
"Siapa lo?! Jangan ikut campur urusan kita!" gertak cowok berbadan besar itu.
Nick tidak menjawab dengan kata-kata. Ia membuka helmnya dengan satu tangan dan melemparkannya ke arah motor. Matanya merah, rahangnya mengeras, dan urat-urat di lehernya menonjol. Begitu melihat Amara yang pucat pasi dengan air mata di pipi, Nicholas seolah kehilangan kewarasannya.
"Gue udah bilang..." Nick bersuara, rendah dan bergetar karena amarah. "Jangan. Sentuh. Milik. Gue."
Tanpa peringatan, Nick melayangkan sebuah pukulan mentah tepat ke rahang cowok yang tadi menyentuh dagu Amara.
Bugh!
Cowok itu tersungkur ke aspal. Teman-temannya yang lain mencoba mengeroyok Nick, tapi Nicholas seperti kesetanan. Ia adalah mahasiswa Teknik yang terbiasa dengan kerasnya jalanan. Satu per satu cowok itu ia tumbangkan dengan gerakan yang cepat dan brutal. Ia tidak peduli jika ia terluka, yang ada di pikirannya hanyalah menghancurkan siapa pun yang membuat Amara menangis.
"Udah, Kak! Cukup!" teriak Amara histeris saat melihat Nick terus memukuli salah satu cowok yang sudah tak berdaya. "Kak Nick, stop!"
Nick berhenti, napasnya memburu. Tangannya berdarah karena hantaman keras. Ia menoleh ke arah Amara, sorot matanya yang tadi liar perlahan mulai melunak saat melihat gadis itu ketakutan.
Nicholas berjalan mendekati Amara, mengabaikan gerombolan preman yang kini lari kocar-kacir kesakitan. Tanpa berkata-kata, ia langsung menarik Amara ke dalam pelukannya. Sangat erat, seolah takut gadis itu akan menghilang jika ia lepaskan.
"Gue di sini, Ifa. Gue di sini," bisik Nick di telinga Amara, suaranya kini bergetar, bukan karena marah, tapi karena rasa takut yang luar biasa akan kehilangan.
Amara menangis sesenggukan di dada Nick, mencengkeram jaket kulit pria itu dengan erat. Untuk pertama kalinya, Amara merasa bahwa peluit itu bukan sekadar benda, dan Nicholas bukan sekadar pengganggu. Di tengah ketakutannya, Nicholas adalah satu-satunya kenyataan yang membuatnya merasa aman.
"Kak... mereka tadi..."
"Sshh. Udah nggak ada. Ayo pulang," ucap Nick lembut. Ia mengusap air mata Amara dengan ibu jarinya yang kasar. "Gue nggak bakal biarin lo jalan sendirian lagi. Nggak akan pernah."