Matahari sore di Desa Sukamaju sedang terik-teriknya, namun tidak sepanas suasana hati Gus Hilman. Pemuda berusia 22 tahun itu baru saja turun dari mobil, merapikan sarung instan dan kemeja kokonya yang wangi setrikaan. Ia baru tiga hari kembali dari Jakarta untuk mengelola pesantren kecil milik kakeknya di ujung desa.
"Gus Hilman!"
Suara cempreng itu memecah ketenangan. Hilman menghela napas panjang tanpa menoleh. Ia sudah tahu siapa pemilik suara itu. Keyla. Anak tunggal Pak Lurah yang menurut desas-desus warga adalah "ujian berjalan" bagi kaum pria di sana.
Keyla datang dengan motor matic-nya, berhenti tepat di depan Hilman hingga debu jalanan terbang mengenai sepatu kulit sang Gus. Gadis 17 tahun itu turun dengan gaya menantang. Ia mengenakan tank top merah ketat yang memperlihatkan bahu mulusnya, dipadu dengan celana jins pendek di atas lutut. Rambutnya yang dicat cokelat dibiarkan tergerai, basah oleh keringat yang membuatnya tampak semakin... mencolok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 18
Setelah selesai sarapan, Hilman membantu Nayla berdiri dari kursi makan. Gerakan Nayla yang masih kaku dan wajahnya yang sesekali meringis membuat Hilman tak tega. Ia terus merangkul pinggang istrinya, memberikan tumpuan agar beban tubuh Nayla tidak terlalu berat saat melangkah.
"Ayo, ke kamar dulu. Kita siap-siap," ajak Hilman lembut.
Di dalam kamar, Bunda Sarah sudah menyiapkan sebuah gamis berwarna nude yang anggun dengan kerudung lebar yang senada. Nayla melihat pakaian itu dengan dahi berkerut. Ini benar-benar bukan gayanya yang biasa memakai kaos ketat atau kemeja tipis.
"Gus... serius aku harus pakai ini?" tanya Nayla sambil memandangi gamis itu. "Panjang banget, nanti kalau aku kesandung gimana? Jalanku aja udah susah begini."
Hilman mendekat, ia mengambil kerudung itu dan mencoba memakaikannya ke kepala Nayla dengan gerakan yang canggung namun penuh perasaan. "Kamu terlihat jauh lebih cantik seperti ini, Nay. Ini bentuk penghormatanmu untuk Abah Kiai dan juga untuk dirimu sendiri sebagai istriku."
Nayla terdiam melihat ketulusan di mata Hilman. Ia pun menurut. Setelah selesai bersiap, mereka keluar dari rumah Pak Lurah. Karena jarak rumah ke pesantren cukup dekat, mereka memutuskan untuk berjalan kaki.
Setiap langkah yang diambil Nayla terasa sangat pelan. Kakinya yang masih terasa perih akibat "permainan tanpa rem" Hilman semalam membuatnya harus berjalan sedikit mengangkang. Hilman dengan sabar menyesuaikan langkahnya, tangannya tak lepas menggandeng jemari Nayla, seolah ingin memberitahu seluruh dunia bahwa gadis di sampingnya ini adalah miliknya.
Begitu mereka memasuki gerbang pesantren, suasana mendadak senyap. Para santri putra yang sedang menyapu halaman langsung berhenti dan menunduk takzim, namun mata mereka tak bisa berbohong—mereka terkejut melihat "gadis nakal" anak Pak Lurah kini berjalan di samping Gus mereka dengan pakaian syar'i.
"Assalamu’alaikum, Gus..." sapa para santri serempak.
"Wa'alaikumussalam," jawab Hilman dengan senyum wibawa.
Namun, tantangan sebenarnya muncul saat mereka melewati asrama santriwati. Di sana, sekelompok santriwati yang sedang menjemur pakaian langsung berkumpul. Mereka menatap Nayla dari ujung kaki hingga ujung kepala. Ada tatapan tidak percaya, dan banyak juga yang memancarkan rasa cemburu.
"Itu beneran istrinya Gus Hilman? Kok jalannya aneh gitu ya?" bisik salah satu santriwati yang sejak lama mengidolakan Hilman.
"Iya, kayak orang sakit. Masa baru nikah sehari jalannya udah kayak gitu," timpal yang lain dengan nada sinis.
Nayla yang mendengar bisikan itu langsung merasa panas. Sifat hyper-nya hampir meledak, ia ingin membalas ucapan mereka, namun Hilman dengan cepat mengeratkan genggaman tangannya.
"Abaikan saja, Nay. Fokus ke aku," bisik Hilman tepat di telinga Nayla, membuat wajah Nayla kembali merona.
Nayla pun tersenyum penuh kemenangan ke arah para santriwati itu. Ia sengaja semakin mendekatkan tubuhnya ke arah Hilman, bahkan menyandarkan kepalanya sejenak di bahu sang Gus sambil tetap melangkah pelan. Ia ingin menunjukkan bahwa meskipun jalannya perih, ia adalah pemenang yang mendapatkan hati (dan tubuh) Gus idola mereka.
Baru saja Nayla memberikan senyum kemenangan yang paling manis ke arah santriwati yang cemburu itu, tiba-tiba kakinya yang masih lemas dan perih kehilangan keseimbangan. Mungkin karena ia terlalu fokus bergaya, atau mungkin karena gamis panjang yang belum biasa ia pakai itu tersangkut ujung sandalnya.
"Aduh!"