NovelToon NovelToon
Mitsuki Di Dunia MHA (My Hero Academia)

Mitsuki Di Dunia MHA (My Hero Academia)

Status: sedang berlangsung
Genre:Murid Genius / Naruto / Dunia Lain / Persahabatan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: I am Bot

Mitsuki mengerjapkan matanya yang berwarna kuning keemasan, menatap gumpalan awan yang bergeser lambat di atas gedung-gedung beton yang menjulang tinggi. Hal pertama yang ia sadari bukanah rasa sakit, melainkan keheningan Chakra. Di tempat ini, udara terasa kosong. Tidak ada getaran energi alam yang familiar, tidak ada jejak Chakra dari Boruto atau Sarada.

A/N : karena ini fanfic yang ku simpen sebelumnya, dan plotnya akan sama dan ada sedikit perubahaan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I am Bot, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 : Latihan

Bus sekolah melaju membelah kabut pagi yang menyelimuti pegunungan. Di dalam, suasana riuh rendah. Ada nyanyian sumbang dari Kaminari dan Kirishima, debat teoritis antara Iida dan Yaoyorozu, serta dengkur halus dari beberapa murid yang masih kelelahan karena persiapan ujian.

Mitsuki duduk di kursi paling belakang, di samping jendela. Ia menempelkan telapak tangannya pada kaca yang dingin, merasakan getaran mesin bus yang konstan. Di pangkuannya, pot sukulen kecil yang ia beri nama Mikazuki terikat kencang agar tidak jatuh.

"Mitsuki, kero," Tsuyu Asui yang duduk di depannya menoleh. "Kau terlihat sangat tenang. Padahal Aizawa-sensei bilang kamp ini akan menjadi 'neraka'."

"Neraka adalah konsep yang subjektif, Tsuyu-san," jawab Mitsuki. "Bagi sebagian orang, neraka adalah kesunyian. Bagi yang lain, neraka adalah kebisingan yang tak henti. Aku hanya sedang mencoba merasakan detak jantung gunung ini."

Tsuyu berkedip, pipinya sedikit mengembung. "Kau selalu bicara seperti penyair tua. Tapi, aku senang kau ikut. Tanpa kau, kelas ini terasa... kurang stabil."

Bus berhenti secara mendadak di sebuah area terbuka di tepi tebing yang curam. Aizawa keluar, diikuti oleh seluruh murid yang tampak bingung. Di sana, sudah menunggu dua wanita dengan kostum pahlawan yang mencolok dan penuh bulu: Mandalay dan Pixie-Bob dari tim pahlawan The Pussycats.

"Selamat datang di wilayah kami!" teriak Mandalay dengan semangat. "Waktu kalian hanya tiga jam untuk sampai di penginapan melalui Hutan Binatang buas di bawah sana!"

"Tunggu, tiga jam?!" seru Sato Rikido. "Itu jaraknya berkilo-kilo meter!"

Sebelum ada yang sempat memprotes, Pixie-Bob menyentuhkan tangannya ke tanah. Quirk Earth Flow-nya menciptakan gelombang tanah raksasa yang mendorong seluruh Kelas 1-A jatuh dari tebing.

"WAAAAAA!!!" teriakan berjemaah menggema di lembah.

Mitsuki tidak berteriak. Saat tubuhnya melayang di udara, ia melakukan putaran artistik, kakinya menyentuh dinding tebing yang miring. Dengan menggunakan Chakra untuk menempel, ia berlari turun secara vertikal dengan kecepatan tinggi, mendahului teman-temannya yang masih jatuh bergulingan.

Di dasar lembah, mereka disambut oleh monster-monster tanah raksasa yang diciptakan oleh Pixie-Bob. Di sinilah dinamika Kelas 1-A yang sebenarnya terlihat.

"Semuanya, jangan panik!" teriak Iida, mesin di betisnya mulai mengeluarkan uap. "Gunakan formasi tempur! Kelompok penyerang di depan!"

Eijiro Kirishima melompat maju, seluruh tubuhnya mengeras hingga ke titik maksimal. "Bawa mereka kemari! Red Counter!" Ia menghantam kaki monster tanah itu, meski tangannya mulai terasa kebas karena kerasnya material tersebut.

Di sampingnya, Katsuki Bakugo meledakkan monster lain dengan membabi buta. "MINGGIR, RAMBUT MERAH! AKU YANG AKAN MENGHANCURKAN SEMUANYA!"

Namun, monster-monster itu terus beregenerasi. Di sinilah peran karakter lain menjadi krusial. Momo Yaoyorozu berdiri di tengah barisan, keringat mengucur di dahinya. "Aku butuh waktu untuk membuat meriam isolasi! Lindungi aku!"

Kyoka Jiro menancapkan earphone jack-nya ke tanah. "Aku tahu titik lemah mereka! Getarannya ada di pusat gravitasi di dada kiri!"

Minoru Mineta yang biasanya ketakutan, kali ini melemparkan bola-bola lengketnya untuk mengunci pergerakan kaki monster tersebut agar tidak bisa mengejar teman-temannya. "Ambil ini! Aku juga ingin terlihat keren di TV!"

Mitsuki memperhatikan mereka dari dahan pohon tinggi. Ia bisa saja menghancurkan monster-monster itu dalam sekejap dengan Senjutsu, tapi ia menahan diri. Ia ingin melihat bagaimana teman-temannya melampaui batas kelelahan mereka. Ia melihat Uraraka yang menahan mual saat membatalkan gravitasi pada bongkahan batu besar yang menimpa monster, dan Shoji yang menggunakan lengan duplikatnya untuk menarik keluar teman-temannya yang hampir terinjak.

“Mereka tidak efisien,” batin Mitsuki. “Tapi mereka memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh ninja... mereka memiliki kepercayaan yang tidak didasarkan pada rantai komando, melainkan pada emosi murni.”

Tujuh jam kemudian jauh melampaui batas tiga jam yang ditentukan Kelas 1-A sampai di penginapan dengan tubuh yang kotor, lebam, dan kelaparan.

"Kalian terlambat," ucap Aizawa dingin, namun di balik tatapannya, ada sedikit rasa hormat. "Tapi setidaknya kalian sampai dalam satu potongan yang lengkap."

Saat makan malam berlangsung, suasana kembali ceria. Mereka melupakan kelelahan mereka sejenak di depan tumpukan nasi kari yang lezat. Mitsuki duduk di dekat Kota, keponakan Mandalay, seorang anak laki-laki kecil yang mengenakan topi dengan tanduk merah dan wajah yang penuh dengan kebencian.

Kota menatap para murid UA dengan tatapan jijik. "Pahlawan... kalian semua memuakkan. Hanya memamerkan kekuatan untuk mendapatkan pengakuan."

Mitsuki meletakkan sendoknya. Ia menatap Kota dengan mata kuningnya yang jujur. "Kenapa kau benci kekuatan, Kota-kun? Apakah karena kekuatan itu yang mengambil orang tuamu, atau karena kekuatan itu yang tidak bisa menyelamatkan mereka?"

Kota tersentak. Rahasianya dibongkar begitu saja oleh orang asing. "Kau tidak tahu apa-apa! Pahlawan hanya membawa kehancuran! Jika tidak ada pahlawan, tidak akan ada penjahat!"

"Logika yang menarik," jawab Mitsuki pelan. "Itu seperti mengatakan jika tidak ada cahaya, maka tidak akan ada bayangan. Tapi kau lupa satu hal... bayangan tidak akan pernah bisa menyakitimu jika kau tidak takut pada kegelapan itu sendiri."

Kota menendang kaki Mitsuki dan lari pergi. Mitsuki hanya melihat punggung anak itu dengan rasa penasaran yang mendalam.

Malam itu, para murid laki-laki berkumpul di pemandian air panas luar ruangan. Uap air yang tebal memberikan privasi bagi mereka untuk bicara dari hati ke hati.

"Hei, Mitsuki," panggil Denki Kaminari sambil menyandarkan kepalanya di tepi batu. "Apa kau punya rencana besar setelah kita jadi pahlawan nanti? Maksudku, dengan kekuatanmu, kau bisa jadi nomor satu dengan mudah."

"Aku tidak ingin menjadi nomor satu," jawab Mitsuki, tubuhnya terendam hingga bahu. "Aku hanya ingin melihat ke mana jalan ini membawaku. Dan mungkin... aku ingin memastikan Izuku sampai di tempat tujuannya."

Shoto Todoroki yang berada di sudut pemandian membuka matanya. "Kenapa kau begitu fokus pada Midoriya?"

"Karena dia memiliki cahaya yang murni," ucap Mitsuki. "Di duniaku... maksudku, dalam pengalamanku, orang-orang dengan cahaya seperti itu biasanya akan menarik kegelapan yang paling pekat. Aku hanya ingin menjadi bayangan yang menjaga cahaya itu agar tidak tertelan."

Katsuki Bakugo yang baru saja masuk ke air mendengus keras, menciptakan riak air yang besar. "Berhenti bicara sampah filosofis! Siapa pun yang mencoba menjadi nomor satu akan berhadapan denganku, termasuk kau, si Muka Pucat!"

Mitsuki tersenyum tipis. "Aku menantikannya, Bakugo-kun."

Keesokan paginya, "neraka" yang sebenarnya dimulai. Setiap murid diberikan menu latihan khusus untuk memperkuat Quirk mereka.

Bakugo harus terus-menerus merendam tangannya di air panas lalu meledakkannya untuk memperbesar kapasitas ledakan.

Todoroki harus menyeimbangkan suhu tubuhnya di dalam tong air sambil mengeluarkan api dan es secara bergantian untuk mencegah hipotermia atau overheat.

Kirishima dipukul terus-menerus oleh Ojiro dan Sato untuk meningkatkan kepadatan kulitnya.

Momo Yaoyorozu harus makan terus-menerus sambil menciptakan barang-barang besar untuk mempercepat proses konversi lemak.

Mitsuki diminta oleh Aizawa untuk berlatih sendirian di puncak bukit.

"Mitsuki," panggil Aizawa. "Aku tidak tahu apa batasmu, tapi aku ingin kau mencoba mengeluarkan energi itu energi yang kau gunakan saat di Hosu secara terus-menerus selama dua jam tanpa henti. Jika kau bisa mengendalikannya dalam kondisi lelah, kau akan jadi aset yang tak terkalahkan."

Mitsuki menarik napas panjang. Ia menutup matanya, memasuki mode meditasi. Energi alam meresap ke dalam pori-porinya. Garis-garis hijau mulai muncul di wajahnya.

"Senpō: Muei Hebi." (Teknik Sage: Ular Tanpa Bayangan).

Ribuan ular energi kecil keluar dari tubuhnya, menari di udara, membelah bebatuan di sekitarnya. Namun, di tengah latihannya, Mitsuki merasakan sesuatu yang salah. Udara pegunungan yang tadinya segar mulai berbau seperti belerang dan sesuatu yang terbakar.

Ia membuka matanya. Di kejauhan, di lereng bawah, sebuah asap biru yang tidak wajar mulai menyebar.

“Mereka di sini,” batin Mitsuki.

Ia melihat ke arah pemukiman kamp. Ia bisa merasakan keberadaan belasan energi asing yang penuh dengan niat membunuh. Dan salah satu energi itu... terasa sangat familiar dengan aura yang ia temui di gang-gang gelap Distrik Esu.

"Pahlawan, penjahat, dan yakuza..." Mitsuki berdiri tegak, auranya berubah drastis menjadi predator yang siap menerkam. "Sepertinya kalian tidak ingin menunggu kamp ini berakhir."

1
N—LUVV
setiap penjelasan penuh dengan hal hal ilmiah atau berhubungan dengan bidang perhitungan
N—LUVV
cerita Mitsuki yang berkeliling ke semesta anime !! bukan dunia my hero academia
N—LUVV: semangat kak..
total 3 replies
Lyonetta
udh di revisi juga cuxmay lah
Lyonetta
diupdateny lama bgt si (alan)
Lyonetta
sedang revisi/Frown//Frown/, bab 57 akan ada penjelasan
(⁠ノ⁠◕⁠ヮ⁠◕⁠)⁠ノ⁠*⁠.⁠✧
extra chapternya Thor gw mau liat reaksi Orochimaru sama masa depan mereka seperti apa !!
(⁠ノ⁠◕⁠ヮ⁠◕⁠)⁠ノ⁠*⁠.⁠✧
aku like kok
Derai
mitsuki sepertinya terlalu op untuk dunia bnha 😅
Lyonetta: yupp, mangkanya aku masukin mitsuki/Casual//Casual/
total 1 replies
Derai
Oooh, kayaknya seru. Biasanya aku ngehindarin baca fanfic indo krn entah mengapa cringe. Tapi ini kayaknya enggak deh.
Udah gitu nggak ada typo yang mendistraksi. Kereen
Lyonetta: aku juga pas nulis agak krinj juga sih soalnya mitsuki tipikal filosofi nyeleneh untuk sifatnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!