Devan, ketua geng motor yang disegani, tak pernah menyangka hatinya akan terpikat pada Lia, gadis berkacamata yang selalu membawa setumpuk buku. Lia, dengan dunia kecilnya yang penuh imajinasi, awalnya takut pada sosok Devan yang misterius. Namun, takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kisah tak terduga, membuktikan bahwa cinta bisa tumbuh di antara dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Kudeta Mawar Berdarah
Langit malam itu seolah ikut berduka, tertutup mendung hitam pekat tanpa satu pun bintang yang berani menampakkan diri. Markas besar Black Roses yang biasanya riuh dengan deru mesin dan musik rock, kini terasa senyap dengan ketegangan yang menyesakkan dada. Ratusan motor terparkir rapi di halaman, namun pemiliknya berdiri melingkar di dalam aula besar dengan wajah-wajah yang kaku.
Di tengah lingkaran itu, Devan berdiri tegak meskipun luka di punggungnya berdenyut setiap kali ia menarik napas. Di seberangnya, Raka berdiri dengan angkuh, memamerkan belati komandonya yang berkilat tertimpa lampu neon.
"Devan, kau sudah kehilangan taringmu!" seru Raka, suaranya menggema di seluruh aula. "Seorang ketua yang membiarkan dirinya babak belur demi seorang gadis adalah beban bagi kita semua. Hari ini, aku menantangmu dalam duel terbuka sesuai hukum mawar hitam. Yang menang memimpin, yang kalah... keluar dari kota ini selamanya."
Devan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melepas jaket kulitnya, memperlihatkan perban putih yang masih sedikit merembeskan darah di bahunya.
Ia mengambil sebilah tongkat besi pendek, senjata pilihannya. "Mari kita selesaikan ini, Raka. Agar tidak ada lagi benalu yang berani merusak akar mawar ini dari dalam."
Pertarungan dimulai dengan ledakan amarah. Raka menyerang dengan membabi buta, memanfaatkan luka Devan sebagai target utama. Sementara itu, di rumah persembunyian, Lia merasa ada yang tidak beres. Keheningan di sekitar rumah itu terasa terlalu dipaksakan.
Srakkk!
Suara ranting patah di halaman belakang membuat Lia tersentak. Baron, yang berjaga di ruang tamu, segera mencabut pistolnya. "Nona Lia, masuk ke bunker! Sekarang!"
"Tapi Baron—"
"Tidak ada tapi-tapi! Mereka sudah di sini!"
Lia berlari menuju lemari buku besar di ruang kerja yang merupakan pintu masuk bunker bawah tanah. Namun, sebelum ia sempat membukanya, pintu depan rumah hancur ditabrak oleh tiga pria bertopeng. Mereka bukan anggota The Vipers, melainkan anak buah Raka yang telah berkhianat.
Baron melepaskan tembakan peringatan, namun jumlah mereka terlalu banyak. Terjadi baku hantam di ruang tamu. Lia, yang teringat latihan dari Baron dan Devan, tidak tinggal diam. Saat salah satu penyusup mencoba meraihnya, Lia menggunakan botol keramik di dekatnya untuk menghantam kepala pria itu. Ia lalu menggunakan teknik kuncian tangan yang diajarkan Baron, memelintir lengan musuh hingga terdengar bunyi tulang bergeser.
"Nona, lari!" teriak Baron yang sedang bergulat dengan dua orang sekaligus.
Lia tidak lari ke bunker. Ia tahu jika ia masuk ke sana, ia akan terjebak jika mereka menemukan pintunya. Ia justru berlari ke dapur, mengambil botol minyak goreng dan menyiramkannya ke lantai keramik agar musuh terpeleset. Keadaan menjadi kacau. Lia berhasil meloloskan diri lewat jendela samping, namun di luar, ia sudah ditunggu oleh seseorang yang sangat ia benci.
Clara berdiri di sana, memegang pistol kecil yang diarahkan tepat ke jantung Lia.
"Mau lari ke mana, Sayang?" Clara tersenyum dingin.
"Raka sedang menghabisi Devan di markas, dan aku di sini untuk memastikan kelemahannya menghilang selamanya."
Lia menarik napas dalam, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup gila. "Kamu tidak akan pernah menang, Clara. Devan mencintaiku bukan karena aku lemah, tapi karena aku memberinya alasan untuk menjadi pria yang lebih baik. Sesuatu yang tidak pernah bisa kamu berikan."
"Cukup bicaranya!" Clara menarik pelatuk pengaman pistolnya.
Kembali ke markas, Devan sedang terdesak. Raka berhasil menyayat bahu Devan yang terluka, membuat darah segar kembali mengucur. Devan terjatuh di satu lutut, napasnya memburu. Anggota geng yang menonton mulai berbisik, mengira kepemimpinan Devan akan berakhir malam ini.
"Mati kau, Devan!" Raka mengangkat belatinya untuk serangan terakhir.
Namun, di saat kritis itu, Devan melihat liontin mawar yang terjatuh dari sakunya. Ia teringat wajah Lia, teringat janji mereka di perpustakaan. Dengan raungan yang menyerupai singa, Devan menangkis serangan Raka dengan tangan kosong, mengabaikan rasa sakit yang menyiksa. Ia memutar tubuhnya, menggunakan momentum berat badannya untuk melayangkan tendangan berputar tepat ke leher Raka.
Raka tumbang, belatinya terlempar jauh. Devan tidak berhenti. Ia menindih tubuh Raka dan memberikan pukulan bertubi-tubi hingga wajah Raka tak lagi dikenali.
"Ini untuk setiap pengkhianatanmu!" bentak Devan.
Seluruh aula hening. Devan berdiri dengan sisa tenaganya, mengambil liontin mawarnya kembali.
"Siapa lagi yang ingin menantangku?!" teriaknya. Tidak ada yang berani bersuara. Mereka semua tertunduk, mengakui keperkasaan sang Serigala Hitam yang sebenarnya.
Tiba-tiba, ponsel salah satu anggota Raka berbunyi. Devan merebutnya. Ia mendengar suara Clara di seberang telepon. "Raka, gadis ini sudah di tanganku. Selesaikan urusanmu di sana dan cepat kemari."
Wajah Devan pucat pasi. "Clara! Jika kamu menyentuhnya, aku bersumpah akan mencincangmu!"
"Oh, Devan? Terlambat," sahut Clara sebelum mematikan telepon.
Devan tidak memedulikan lukanya yang terbuka kembali. Ia menyambar kunci motornya. "Baron dalam bahaya! Lia dalam bahaya! SEMUA MAWAR HITAM, IKUT AKU!"
Ratusan motor menderu serempak, menciptakan suara guntur buatan yang menggetarkan bumi. Mereka melaju menuju rumah persembunyian. Sementara itu, di halaman rumah, Lia melihat sebuah kesempatan. Saat Clara teralihkan oleh suara deru motor di kejauhan, Lia melemparkan pasir ke mata Clara.
Clara menjerit kesakitan, tembakannya meleset mengenai pohon. Lia menerjang Clara, mereka bergulat di tanah yang becek karena hujan. Lia menggunakan seluruh tenaganya untuk menahan tangan Clara yang memegang pistol.
"Aku... tidak... akan... membiarkanmu... merusak... hidup kami!" teriak Lia sambil menghantamkan tangan Clara ke batu besar hingga pistol itu terlepas.
Tepat saat itu, cahaya lampu motor yang sangat terang menerangi halaman. Devan melompat dari motornya yang bahkan belum berhenti sempurna. Ia melihat Lia yang sedang bergulat dengan Clara. Ia segera memisahkan mereka.
Devan memeluk Lia erat-erat, sementara Baron keluar dari rumah dengan luka lebam namun berhasil melumpuhkan penyusup di dalam. Anggota Black Roses mengepung Clara.
"Bawa dia," perintah Devan dingin kepada anak buahnya. "Serahkan dia pada polisi dengan semua bukti pengkhianatan dan keterlibatannya dengan The Vipers. Aku tidak ingin melihat wajahnya lagi di kota ini."
Clara diseret pergi sambil berteriak histeris, namun tidak ada yang peduli.
Devan menatap Lia yang berantakan, penuh lumpur dan keringat. Ia menyentuh pipi Lia dengan lembut.
"Kamu selamat... maafkan aku, aku terlambat lagi."
Lia menggeleng, ia tersenyum di tengah tangisnya. "Kamu tidak terlambat, Devan. Aku yang belajar untuk tidak menunggu diselamatkan."
Malam itu, di tengah reruntuhan rumah ibunya, Devan menyadari bahwa mahkota yang ia miliki bukan lagi soal kekuasaan, melainkan soal melindungi hati yang paling berharga. Dan bagi Lia, ia bukan lagi gadis culun yang takut pada bayangan. Ia telah menjadi Ratu yang sesungguhnya, yang bertempur demi cintanya.