Mencintai bukan berarti sepenuhnya memiliki karena takdir tak pernah kita tahu rencana yang Kuasa. Memiliki bukan berarti sepenuh mencintai karena cinta tulus setia hanya untuk seseorang saja.
Simak Kisah "Perindu Senja."
By : Farit Rittan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ata~Tenareten, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terluluhkan
Metallo dan Festo tidak sadar bahwa mereka telah terlambat 5 menit. Faelo yang pertama kali melihat lembaga pendidikan mereka sangat tenang membuat dirinya tergesah-gesah berlari, lantas dia tahu bahwa suasana seperti ini menandakan mata pelajaran telah dimulai
"Ayo... Jangan diam saja, pelajaran telah dimulai," Faelo membalikan badan sesaat, sebelum berlari lagi, sehingga membuat Metallo dan Festo ikut berlari bersamanya.
[Sups ...] Guru Agama(Pak Lias) yang berdiri di depan kelas, seketika kaget dengan kehadiran mereka bertiga. Seluruh pandangan pun tertuju menatapi mereka yang lari tak karuan mencari tempat duduk, tanpa menghiraukan Pak Lias.
Pak Lias yang berada di depan ruangan itupun mulai memasangkan wajah yang sangat geram, "Hey! Tidak tahukah kalian tentang etika!"dia kemuadian menatapi mereka bertiga secara bergantian, "Kalian sangat ceroboh, masuk tanpa sapa!”
Faelo menggaruk-garukkan kepalanya, ketika mendengar suara yang begitu menggelar di telinganya, "Maaf, Pak."
"Apa yang terjadi dengan dirimu, sehingga engkau merasa bagitu tak nyaman berada di sini?”
"Oh, tidak ada apa-apa, Pak,” jawab Faelo penuh dengan ketakutan, sebab dia tahu bahwa tindakannya sama sekali tidak disukai oleh Pak Lias.
"Jikalau demikian buat apa anda garuk-garuk kepala?” tanyanya lagi.
Metallo yang melihat sedikit perdebatan antara Faelo dan Pak Lias mulai memasangkan wajah yang sangat sinis kepada keduanya. Untungnya Pak Lias tak sempat melihatnya. Jikalau dia melihatnya, pasti satu pukulan sudah didaratkan Pak Lias kepadanya.
'Bapak ini...' Metallo menggelengkan kepalanya pelan, 'Mungkin tidak ada pekerjaan lain, selain mempersalahkan sesuatu yang tidak masuk akal, dan hanya menyita waktu.'
Raut wajah Faelo berubah dipenuhi ketakutan yang mendalam, "Ma... af, Pak,” ujarannya terbata-bata, oleh karena dia sendiri pernah menerima hukuman berat dari Pak Lias.
Pak Lias mengendus kesal, serta menatap Faelo dengan tajam, "Maaf... Maaf! Tak ada etika sama sekali. Sini! Berlutut kalian bertiga!”
"Iya, Pak, ” jawab mereka bertiga, dipenuhi rasa dan sesal yang mendalam. Sedangkan seluruh siswa yang berada didalam ruangan diam, tertuju menatap mereka yang mulai melangkah ke depan ruangan, untuk menjalani hukum yang mereka terima akibat telat ke sekolah.
Seperti biasanya, sebelum pelajaran dimulai kebiasaan para guru selalu memeriksa anak-anak yang tidak beribadah di hari kemarin, dan jikalau ada maka akan di berikan sangsi. Pak Lias yang dari tadi duduk kini mulai berdiri di depan mereka.
"Anak-anak, diantara kalian semua ini, yang merasa diri kemarin tidak ke gereja maju ke depan." diapun mulai berjalan menuju ke belakang ruangan untuk mengambil sapu lidi, yang berada di belakang sudut kiri ruangan mereka.
"Metallo, Pak. Kemarin dia tidak ke Gereja," pinta salah seorang gadis diantara mereka semua. DIa adalah Melani, anak kepala desa setempat.
"Lihatlah dirimu sebelum nenilaiku,” cetus Metallo, sambil memarahi dia,"Enggak, Pak. Kemarin saya beribadah,” sambungnya dengan penuh rasa takut yang mendalam.
"Sini! Berdiri kamu. Apa benar yang dikatakan Melani itu?”
Metallo sesungguhnya tidak takut sama sekali mengelabui Pak Lias, namun Ia telah mendapatkan informasi dari Indri bahwa kemarin ketika selesai beribadah, Pak Lias mengambil Absen di gereja oleh sebab itu, Pak Lias mengetahui dengan betul siapa saja yang tidak beribadah.
"Iya, maaf Pak,” jawabnya, sedikit merinding melihat kegeraman Pak Lias.
Mendengar itu, Pak Lias seketika sangat geram terhadapnya, wajahnya pun jadi memerah dengan tatapan yang berapi-api mengarah kepadanya, “Tak ada kata maaf, bagi orang kafir seperti dirimu."
Tak menunggu lama lagi dirinya pun mulai bereaksi. Digamparinya Metallo, disiksa habis-habisan dengan sapu lidi yang telah dipersiapkan, sehingga membuat Metallo tak sadarkan diri.
Suasana di dalam ruangan kelas mereka seketika menjadi kaku. Semua diam tak bernyali melihat Metallo. Indri mencucurkan air mata seketika, mengingat Metallo ialah orang yang paling ia cintai. Beda halnya dengan Mey, dia terlihat begitu tenang melihat kejadiaan itu.
Melihatnya pingsan, Indri dan beberapa temannya yang lain langsung keluar dari ruangan itu menuju ke UKS, tanpa sepengetahuan Pak Lias untuk mengambil beberapa peralatan yang dapat membantu Metallo agar segera sadar dari pingsannya. Dia begitu cepat sehingga hanya butuh beberapa detik saja untuk mengambil peralatan yang dibutuhkannya.
Hampir 10 menit Metallo tak sadarkan diri, untungnya di sekolah mereka tersedia peralatan kesehatan yang memadai. Jikalau tidak, mungkin membutuhkan waktu yang lama barulah dia sadar.
Sedikit tetesan air matanya jatuh merinai tanpa kata, ketika melihat Pak Lias yang berdir di samping kanannya.
Wajahnya masih menyimpan dendam terhadap Metallo, karena terlihat jelas tatapan sinisnya begitu kental mengarah pada Metallo, "Kenapa... Kenapa kemarin kamu tidak beribadah?"
'Apa-apaan lagi dia..' batin Faelo, mengendus kesal atas tindakan yang dilakukan Pak Lias. Dia kemudian menatap tajam Pak Lias, 'Jikalau suatu saat nanti, aku jadi guru yang mendidik anakmu... Aku akan memperlakukannya sama seperti apa, yang Bapak lakukan kepada kami saat ini.'
Perlahan Metallo mencoba tegarkan diri, dan berdiri di hadapan Pak Lias dengan senyuman yang penuh makna, "Guru ... Satu-satunya anak harapan Ibu, yang harus aku lakukan ialah sekolah dan kerja, walaupun diriku masih belia."
Kedua alis mata Pak Lias terangkat dengan tatapan sedikit sinis terhadapnya, “Apa-apaan lagi kamu.”
Metallo tak hanya diam disitu melainkan melanjutkan kembali apa yang rasakan selama ini, “Guru... Manisnya diriku hanyalah tampak luar, dalamnya derita ini tak dapat diukur. Pertolongan sepupu hanya sekejap di mata, dijadikannya hutang budi yang harus kubayar, oleh karna itulah aku jarang beribadah di gereja."
Seketika Faelo mengendus kesal, tatapannya terhadap Metallo berubah penuh amarah yang mendalam, "Apa yang engkau kata...." ujar nya terhenti, ketika Pak Lias mengangkat tangannya ke atas, saakan-akan memberikan tanda agar Faelo tetap diam.
“Memangnya, aku ini siapanya kamu. Tidak terpikirkan olehku tentang itu,” pinta Pak Lias, sembari mamandangi Metallo dengan raut wajah cemberut, dan sedikit tanya melintas dibenaknya.
Sesaat Metallo memandangi Faelo dengan senyuman yang penuh makna, sebelum mengarahkan kembali pandangannya kepada Pak Lias.
“Ingat guru... Walaupun aku ialah insan yang sangat malas beribadah di gereja, tapi keyakinanku akan-Nya tak pernah pudar. Meskipun aku jarang terlihat oleh kalian di rumah Tuhan, tapi tak pernah kutinggalkan Doa, oleh hanya karna-Nya diri ini masih menikmati kehidupan di dunia yang fana ini."
Kini Pak Lias tersentuh oleh semua yang dikatakannya, mengingat latar belakangnya tidak beda jauh dengan Metallo, sehingga satu demi satu ingatan masa kecilnya mulai terlintas dalam lamunannya. Dia kemudian memandangi semua peserta didiknya sesaat, sebelum merangkul Metallo dengan penuh kasih dan mulai memeberikan arahan kepadan Metallo, agar tetap tegar menjalani hari-hari yang dia lalui.
Seluruh siswa yang berada di dalam ruangan itupun merasa senang, sebab baru pertama kali mereka melihat tindakan Pak Lias yang demikian. Namun ada beberapa dari mereka yang tidak suka dengan Metallo, mulai menanam kebencian yang mendalam.
So : Jangan pernah menilai orang dari tampak luarnya, jikalau tak dapat kita pandang dalamnya nalurinya.
mampir juga ya.../Coffee//Coffee/
Dikelilingi kebencian
Thor, itu maksudnya bagaimana ya??