NovelToon NovelToon
DIINJAK UNTUK BERSINAR

DIINJAK UNTUK BERSINAR

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Anak Lelaki/Pria Miskin / Romansa / Balas Dendam / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Di balik megahnya SMA elit, Satria Bumi Aksara adalah anomali yang dipaksa bertahan dalam kepungan hinaan. Sebagai anak buruh lumpuh yang masuk lewat jalur prestasi, ia menjadi sasaran empuk perundungan; tasnya compang-camping, seragamnya memudar, dan kakinya lecet berjalan kiloan meter. Namun, luka fisiknya tak sebanding dengan remuknya hati saat melihat sang ayah terbaring tanpa daya dan ibunya mencuci puluhan kilo pakaian hingga tangannya pecah-pecah.
​Dunia Satria runtuh saat tahu beasiswa impiannya dikorupsi oleh orang-orang serakah. Di titik nadir itulah, ia menemukan "sinar" pada empat sahabat yang sama-sama terluka. Bersama Vanya, Arjuna, Nareswari, dan Adrian, Satria mempertaruhkan nyawa membongkar busuknya institusi, meski ia harus berlari tanpa alas kaki membawa ibunya yang sekarat ke puskesmas.
​Keteguhan Satria adalah bukti bahwa kemiskinan hanyalah tempaan bagi jiwa yang hebat. Setelah satu dekade penuh air mata, peluh, dan waktu tidur yang terenggut, Satria kembali sebag

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: GERAKAN "MIMPI UNTUK SEMUA"

#

Seminggu setelah pengumuman beasiswa dari Presiden, kami berlima berkumpul lagi di warung Pak Hadi.

Kali ini bukan buat makan-makan. Tapi buat rapat serius.

"Jadi... kita beneran mau bikin organisasi?" tanya Adrian sambil ngunyah gorengan.

Aku ngangguk. "Iya. Kita udah sepakat kan? Yayasan Cahaya Harapan. Buat anak-anak miskin yang butuh bantuan."

Vanya buka laptop lusuhnya. Laptop hasil patungan dulu buat ngumpulin bukti korupsi.

"Aku udah cari-cari info soal cara bikin yayasan. Ternyata ribet juga. Harus ada akta notaris, harus ada struktur organisasi, harus ada program kerja yang jelas."

Arjuna nyeruput es teh. "Gue punya kenalan notaris. Temen ayah gue. Mungkin bisa bantuin kita bikin akta."

Nareswari catat di buku tulis kecil. Tangannya masih pake perban bekas dipukulin preman dulu.

"Struktur organisasi gimana? Siapa jadi ketua?"

Kami semua diem.

Liat satu sama lain.

"Ya jelas Satria lah. Lu yang paling pinter. Lu yang paling berjuang," kata Adrian cepet.

Aku geleng. "Gak. Kita sama-sama. Gak ada ketua. Kita semua pengurus inti. Kita kerja bareng. Keputusan diambil bareng."

Vanya senyum. "Setuju. Kita gak butuh hierarki. Kita butuh kerja sama."

Arjuna ngangguk. "Oke. Jadi kita berlima jadi pengurus inti. Nanti kita rekrut relawan buat bantuin program-program."

"Program apa aja yang mau kita jalanin?" tanya Nareswari.

Aku buka catetan di hape. Catetan yang aku bikin semalam. Gak bisa tidur mikirin ini semua.

"Pertama, beasiswa. Kita kasih beasiswa buat anak miskin berprestasi. Gak besar-besar. Tapi cukup buat bantuin mereka tetep sekolah."

"Kedua, mentoring. Kita ajarin mereka. Bantuin mereka belajar. Persiapan ujian. Motivasi."

"Ketiga, bantuan hukum. Kalau ada kasus korupsi atau ketidakadilan di sekolah, kita bantuin mereka lawan."

Adrian nyela. "Keempat, kita kumpulin buku-buku bekas. Bikin perpustakaan kecil di daerah-daerah miskin. Biar mereka bisa baca gratis."

Vanya nambah. "Kelima, kita bikin website sama media sosial. Buat share info beasiswa. Buat galang dana. Buat edukasi masyarakat."

Nareswari nulis cepet. "Kelima program ini bagus. Realistis. Bisa kita mulai dari sekarang."

Pak Hadi yang dari tadi dengerin sambil nyuci piring, nyamperin kami.

"Anak-anak... Bapak bangga sama kalian. Kalian masih muda tapi udah mikirin orang lain. Ini..." Pak Hadi ngeluarin amplop dari kantong celananya. "Ini tabungan Bapak. Gak banyak. Cuma lima juta. Tapi Bapak mau sumbang buat organisasi kalian."

Kami semua terkejut.

"Pak... ini uang Bapak. Jangan-jangan Bapak butuh buat-"

Pak Hadi geleng. "Bapak udah tua. Bapak gak butuh banyak uang. Yang Bapak butuh adalah liat anak-anak kayak kalian berbuat baik buat orang lain. Itu udah cukup bikin Bapak bahagia."

Aku terima amplop itu dengan tangan gemetar. Peluk Pak Hadi erat.

"Terima kasih, Pak... terima kasih..."

***

Besoknya kami mulai gerak.

Nama organisasi kami ganti jadi "Mimpi Untuk Semua". Lebih catchy. Lebih gampang diinget.

Kami bikin akun Instagram. Akun Facebook. Website sederhana pake platform gratis.

Vanya yang jago desain bikin logo. Logo sederhana tapi bermakna: tangan yang ngulur ke atas, ngeraih bintang.

"Ini simbolnya anak-anak miskin yang tetep berusaha ngeraih mimpi mereka meski banyak rintangan," jelas Vanya.

Kami posting pertama kali. Cerita tentang perjuangan kami. Tentang tujuan organisasi. Tentang program-program yang mau kami jalankan.

"Kami percaya setiap anak punya hak untuk bermimpi dan mewujudkan mimpinya, tanpa dibatasi oleh kemiskinan atau ketidakadilan sistem. Mimpi Untuk Semua hadir untuk memastikan tidak ada lagi anak yang kehilangan harapannya."

Post itu kami share. Minta temen-temen buat share juga.

Dalam satu hari, post kami di-share ribuan kali.

Komentar berdatangan.

"Keren banget! Gue mau jadi relawan!"

"Ini yang Indonesia butuhkan! Anak-anak muda yang peduli!"

"Gue mau donasi. Gimana caranya?"

"Organisasi kalian ada di kota mana? Gue mau gabung!"

Kami kewalahan baca semua komentar. Tapi seneng. Seneng banget.

"Guys... ini respon luar biasa," kata Vanya sambil scroll terus.

"Iya. Berarti banyak orang yang sepikiran sama kita. Banyak orang yang mau bantuin," kata Arjuna.

Nareswari bikin form pendaftaran relawan pake Google Form. Dalam tiga hari, ada seratus lima puluh orang yang daftar jadi relawan.

Kami seleksi. Kami wawancara lewat video call. Kami pilih dua puluh orang yang bener-bener serius dan punya waktu.

***

Minggu pertama, kami mulai program pertama: ngumpulin buku bekas.

Kami bikin post di medsos minta sumbangan buku bekas. Buku pelajaran. Buku cerita. Novel. Komik. Apa aja.

Responnya gila-gilaan.

Orang-orang dateng ke rumah Pak Hadi yang kami jadiin markas sementara. Bawa kardus-kardus buku.

"Ini buku anak saya yang udah gak kepake."

"Ini buku-buku kuliah saya dulu. Semoga bermanfaat."

"Ini novel-novel bekas. Masih bagus kok."

Dalam dua minggu, kami ngumpulin lebih dari seribu buku.

Warung Pak Hadi penuh tumpukan kardus. Sampe susah jalan.

"Waduh... ini kebanyakan. Kita simpen di mana?" tanya Adrian bingung.

Pak Hadi ketawa. "Gak papa. Gudang belakang masih kosong. Kita simpen di sana. Nanti kita sortir pelan-pelan."

Kami gotong royong sortir buku. Pisahin berdasarkan jenis. Buku SD. SMP. SMA. Buku umum.

Capek. Tangan kotor debu. Tapi seneng.

Ini baru langkah pertama. Tapi langkah yang berarti.

***

Program kedua: ngajar gratis di kampung-kampung miskin.

Kami survey dulu. Cari kampung-kampung yang akses pendidikannya terbatas.

Kami nemu satu kampung di pinggiran Jakarta. Kampung kumuh. Gang sempit. Rumah-rumah pada rapat. Banyak anak kecil main di jalan. Kotor. Lusuh.

Kami dateng. Ketemu RT setempat. Jelasin tujuan kami.

"Bapak... kami mau ngadain les gratis buat anak-anak di sini. Gratis total. Gak ada biaya apapun. Kami cuma mau bantuin mereka belajar."

Pak RT awalnya ragu. "Beneran gratis? Gak ada maunya apa-apa?"

Aku ngangguk. "Beneran, Pak. Kami juga dulu anak miskin. Kami tau susahnya. Makanya kami mau bantuin."

Pak RT akhirnya senyum. "Baiklah. Kalau begitu... kami sambut dengan senang hati. Anak-anak di sini emang butuh bantuan belajar. Orang tua mereka gak mampu bayar les."

Kami adain sosialisasi. Ngumpulin anak-anak. Jelasin program les gratis.

Anak-anak pada antusias. Mata mereka berbinar.

"Kakak beneran mau ngajarin kami gratis?"

"Iya. Beneran."

"Wah... makasih, Kak!"

Minggu pertama, yang dateng cuma sepuluh anak.

Minggu kedua, dua puluh anak.

Minggu ketiga, empat puluh anak.

Kami kewalahan. Tapi gak masalah. Kami minta bantuan relawan lain buat bantuin ngajar.

Setiap Sabtu Minggu, kami dateng ke kampung itu. Ngajar Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPA.

Anak-anak pada seneng. Mereka aktif. Mereka semangat.

"Kak Satria, ini soalnya susah!"

"Coba deh kamu baca lagi pelan-pelan. Kak Satria yakin kamu bisa."

"Oh... iya, Kak! Aku ngerti sekarang!"

Senyum mereka. Tawa mereka. Semangat mereka.

Itu yang bikin kami terus semangat meski capek.

***

Program ketiga: bantuin anak-anak ngurus administrasi beasiswa.

Banyak anak miskin yang sebenernya berprestasi. Tapi mereka gak tau cara ngurus beasiswa. Gak tau cara bikin surat lamaran. Gak tau cara upload dokumen.

Kami bantuin satu per satu.

"Kak... aku pengen daftar beasiswa Bidikmisi. Tapi aku gak ngerti caranya."

"Gak papa. Kakak bantuin. Pertama, kamu harus siapin dokumen-dokumen ini..."

Kami ajarin mereka bikin CV. Bikin surat motivasi. Upload dokumen. Ngisi formulir online.

Dalam tiga bulan, kami udah bantuin lima puluh anak daftar berbagai beasiswa.

Dan... dua puluh di antara mereka berhasil lolos.

Mereka dateng ke markas kami. Nangis bahagia.

"Kak... aku lolos! Aku dapet beasiswa!"

"Alhamdulillah! Kakak ikut seneng!"

Mereka peluk kami. Nangis. Kami juga nangis.

Ini yang kami perjuangin. Ini yang bikin kami merasa hidup kami bermakna.

***

Tiga bulan berlalu.

Organisasi "Mimpi Untuk Semua" udah dikenal luas.

Media-media mulai meliput lagi. Kali ini bukan soal korupsi. Tapi soal gerakan kami.

**"LIMA REMAJA KORBAN KORUPSI KINI JADI PAHLAWAN BUAT ANAK-ANAK MISKIN LAIN"**

Judul berita di berbagai portal.

Wartawan dateng wawancara kami.

"Satria, apa yang memotivasi kalian bikin organisasi ini?"

"Kami... kami tau rasanya jadi anak miskin yang pengen sekolah tapi susah. Kami gak mau anak-anak lain ngerasain hal yang sama. Kami mau pastiin mimpi mereka tetep hidup."

"Vanya, kamu dulu anak orang kaya. Sekarang jatuh miskin. Gimana perasaanmu?"

"Dulu aku sombong. Aku jahat. Aku gak ngerti penderitaan orang lain. Sekarang... sekarang aku ngerti. Dan aku mau tebus dosa-dosa aku dengan bantuin orang lain."

"Arjuna, kamu Ketua OSIS. Kenapa kamu ikut gerakan ini?"

"Karena aku percaya... jabatan itu bukan buat dipamerin. Tapi buat dipake bantuin orang lain."

Liputan-liputan itu bikin organisasi kami makin dikenal.

Donasi makin banyak dateng. Relawan makin banyak gabung.

Kami buka cabang kedua di kota sebelah. Cabang ketiga di Bandung.

Gerakan ini mulai meluas.

***

Di tengah kesibukan organisasi, aku tetep fokus persiapan kuliah.

Kuliah di Fakultas Kedokteran UI. Salah satu fakultas paling bergengsi di Indonesia.

Aku beli buku-buku kedokteran second. Aku baca. Aku pelajarin istilah-istilah medis. Anatomi. Fisiologi.

Susah. Bahasa medisnya asing buat aku.

Tapi aku gak menyerah. Setiap malam sebelum tidur, aku baca minimal satu bab.

Aku juga belajar Bahasa Inggris lebih serius. Karena banyak literatur kedokteran yang pake Bahasa Inggris.

Vanya bantuin aku. Dia ngajarin grammar. Ngajarin pronunciation.

"Sat, lu harus lancar Bahasa Inggris. Nanti di kampus banyak jurnal-jurnal internasional yang harus lu baca."

"Iya, gue tau. Makanya gue belajar serius sekarang."

Adrian juga nyemangatin. "Sat, lu pasti bisa. Lu anak terpinter yang gue kenal. Gak ada yang gak bisa lu taklukkin."

Arjuna kasih tips. "Sat, nanti di kampus lu bakal ketemu anak-anak dari berbagai latar belakang. Ada yang kaya. Ada yang sombong. Jangan minder. Lu punya hak yang sama buat di sana."

Nareswari kasih buku catetan. "Ini catetan aku waktu belajar biologi dulu. Mungkin bisa bantuin lu."

Dukungan mereka bikin aku makin semangat.

***

Seminggu sebelum kuliah dimulai.

Aku lagi di markas organisasi. Lagi nyortir buku-buku baru yang baru dateng.

Hape aku bunyi. Pesan masuk.

Nomor gak dikenal.

Aku buka.

Isi pesannya bikin jantung aku berhenti sejenak.

"Kamu sudah menghancurkan karir ayahku. Aku akan balas dendam. Bersiaplah, Satria Bumi Aksara."

Di bawah pesan itu ada foto.

Foto aku lagi jalan sendirian di gang dekat rumah.

Diambil dari jauh. Kayak lagi diintai.

Aku scroll ke bawah.

Ada satu pesan lagi.

"Salam dari Bagas Pradipta."

Bagas.

Anak H. Bambang yang dulu sering ngejek aku. Sering nyiksa aku.

Sekarang... dia ngancam aku.

Tanganku gemetar pegang hape.

Vanya yang lagi di sebelah aku nyadar.

"Sat... lu kenapa? Mukalu pucat."

Aku kasih liat pesan itu ke Vanya.

Dia baca. Mukanya langsung berubah.

"Ini... ini ancaman serius, Sat. Kita harus lapor polisi."

Adrian, Arjuna, Nareswari juga dateng. Mereka baca pesan itu.

"Bajingan. Dia berani-beraninya ngancam lu," kata Adrian marah.

"Kita gak boleh diem. Kita harus lapor," kata Arjuna tegas.

Tapi aku geleng pelan.

"Gak... gak usah. Kita udah terlalu sering berurusan sama polisi. Kita udah capek. Aku... aku gak mau hidup aku terus-terusan dalam ketakutan."

"Tapi Sat-"

"Percaya aku. Aku bakal hati-hati. Aku gak akan jalan sendirian. Aku janji."

Mereka semua diem. Tatapan khawatir.

Tapi akhirnya mereka ngangguk.

"Oke. Tapi lu harus janji... kalau ada apa-apa, langsung hubungin kita."

"Iya. Aku janji."

***

Malam itu aku pulang dengan perasaan gundah.

Ancaman Bagas terus terngiang di kepala.

Aku liat ayah yang tidur pulas. Ibu yang lagi nyuci piring di dapur.

Mereka gak tau soal ancaman ini.

Dan aku gak akan bilang. Aku gak mau mereka khawatir lagi.

Aku masuk kamar. Aku ambil wudhu. Aku sholat Isya.

Setelah salam, aku duduk lama di sajadah.

"Ya Allah... aku udah berjuang keras sampai sejauh ini. Aku mohon... jangan biarkan orang-orang jahat menghancurkan mimpi aku. Lindungi aku, ya Allah. Lindungi keluarga aku. Lindungi teman-teman aku."

Aku sujud lama.

Nangis dalam sujud.

Air mata netes ke sajadah.

"Aku lelah, ya Allah. Tapi aku gak mau menyerah. Bantuin aku... tolong bantuin aku..."

***

*

1
Was pray
satria terlalu ambisius
✮⃝🍌 ᷢ ͩ 𝐁𝐋𝐔𝐄¹²²💙nury
memang kadang harapan gak sesuai dengan kenyataan
aa ge _ Andri Author Geje: good💪 benar ituh
total 1 replies
✮⃝🍌 ᷢ ͩ 𝐁𝐋𝐔𝐄¹²²💙nury
keren untuk Bagas ,tetap semangat dengan segala keterbatasannya
yuningsih titin: lanjut kak👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!