NovelToon NovelToon
Mitsuki Di Dunia MHA (My Hero Academia)

Mitsuki Di Dunia MHA (My Hero Academia)

Status: sedang berlangsung
Genre:Murid Genius / Naruto / Dunia Lain / Persahabatan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: I am Bot

Mitsuki mengerjapkan matanya yang berwarna kuning keemasan, menatap gumpalan awan yang bergeser lambat di atas gedung-gedung beton yang menjulang tinggi. Hal pertama yang ia sadari bukanah rasa sakit, melainkan keheningan Chakra. Di tempat ini, udara terasa kosong. Tidak ada getaran energi alam yang familiar, tidak ada jejak Chakra dari Boruto atau Sarada.

A/N : karena ini fanfic yang ku simpen sebelumnya, dan plotnya akan sama dan ada sedikit perubahaan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I am Bot, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sepuluh bulan dalam bayang bayang

Malam di Musutafu terasa lebih cerah daripada malam di Konoha. Lampu-lampu neon tidak pernah padam, menciptakan polusi cahaya yang menyembunyikan bintang-bintang. Bagi Mitsuki, ini adalah lingkungan yang aneh. Di dunia ninja, kegelapan adalah teman; di sini, kegelapan adalah sesuatu yang dianggap sebagai ancaman oleh masyarakat.

Mitsuki tidak butuh hotel. Ia menemukan tempat bernaung di sebuah atap gedung apartemen tua yang terbengkalai. Menggunakan teknik elemen tanah sederhana, ia memodifikasi struktur beton di sudut atap menjadi celah sempit yang nyaman untuk bermeditasi.

Selama beberapa hari pertama, ia melakukan apa yang paling dikuasainya, Infiltrasi.

Ia mencuri pakaian biasa dari jemuran, mengamati cara orang menggunakan kartu elektronik untuk naik kereta, dan mendengarkan percakapan di kafe-kafe. Ia belajar bahwa di dunia ini, anak seusianya seharusnya berada di sekolah. Ia juga belajar bahwa peristiwa di gang tempo hari telah menjadi viral di internet sebagai "Insiden Remaja Misterius".

"Mereka menyebutku anomali," gumam Mitsuki sambil melihat layar ponsel yang ia 'pinjam' dari seorang berandalan pasar gelap. "Sistem yang sangat kaku. Jika kau tidak terdaftar, kau dianggap tidak ada."

Dua minggu kemudian, Mitsuki menemukan apa yang ia cari.

Pantai Dagobah.

Tempat itu dulunya adalah tumpukan sampah raksasa. Namun, setiap pagi, ada suara besi beradu dan teriakan semangat. Dari balik bayangan sebuah pilar jembatan, Mitsuki mengamati Izuku Midoriya yang sedang menarik ban truk raksasa di atas pasir.

Dan di sana, berdiri pria kurus berambut pirang yang tempo hari ia lihat All Might dalam wujud aslinya.

Mitsuki tidak mendekat. Ia hanya memperhatikan. Ia melihat bagaimana All Might melatih Midoriya dengan metode yang sangat... manusiawi. Lari, angkat beban, diet ketat.

Terlalu lambat, pikir Mitsuki. Dia melatih ototnya, tapi dia tidak melatih instingnya untuk membunuh atau bertahan hidup.

Setelah tiga jam pengamatan, Mitsuki memutuskan untuk menampakkan diri. Bukan dengan ledakan, tapi dengan berjalan perlahan keluar dari bayangan pilar, tepat saat Midoriya jatuh tersungkur karena kelelahan.

"Latihanmu tidak efisien, Midoriya Izuku."

Suara itu membuat All Might tersentak. Pria kurus itu segera memasang posisi waspada, matanya yang cekung menatap tajam ke arah remaja berkulit pucat itu.

"Kau... anak dari insiden tempo hari," ucap All Might dengan suara serak. "Bagaimana kau bisa menemukan tempat ini?"

Mitsuki mengabaikan pertanyaan itu. Ia berjalan mendekati Midoriya yang masih terengah-engah di atas pasir. "Kau membangun wadah yang besar, tapi kau tidak belajar cara mengalirkan isinya. Jika kau terus begini, saat kau mendapatkan 'kekuatan' itu, tubuhmu akan hancur dari dalam sebelum kau sempat menggunakannya."

Midoriya mendongak, matanya membelalak. "M-Mitsuki-kun? Bagaimana kau tahu aku akan mendapatkan kekuatan?"

All Might segera melangkah di antara mereka, mencoba melindungi rahasia One For All. "Dengarkan, Nak. Aku tidak tahu siapa kau atau apa tujuanmu, tapi ini adalah latihan privat—"

"Aku tidak tertarik pada rahasia kalian," potong Mitsuki tenang. Ia menatap All Might, dan untuk sesaat, All Might merasakan bulu kuduknya berdiri. Itu bukan tatapan seorang anak kecil; itu adalah tatapan predator yang sudah terbiasa melihat kematian. "Aku tertarik pada dia. Dia memiliki cahaya yang sama dengan seseorang yang aku kenal. Aku ingin melihat sejauh mana cahaya itu bisa bertahan di dunia yang penuh aturan ini."

Mitsuki kemudian menoleh ke arah tumpukan sampah di sebelah kanan. Dengan gerakan tangan yang sangat cepat, ia melemparkan sebuah kunai kecil yang ia buat dari sisa besi tua. Wush! Kunai itu membelah udara dan menancap tepat di seekor tikus yang sedang mengincar sisa makanan Midoriya di kejauhan.

"Pahlawan menyelamatkan orang," ucap Mitsuki. "Tapi ninja memastikan ancaman tidak pernah sampai ke orang tersebut. Jika kalian mengizinkan, aku akan mengawasinya. Sebagai imbalan, aku tidak akan mengganggu 'sistem' kalian."

All Might terdiam. Ia adalah simbol perdamaian, namun ia tahu bahwa dunia tidak selamanya putih. Keberadaan Mitsuki adalah warna abu-abu yang tidak ia pahami.

"Kenapa kau ingin membantunya?" tanya All Might akhirnya.

Mitsuki tersenyum tipis, menatap langit pagi yang mulai membiru. "Karena di dunia ini, aku adalah bulan yang kehilangan orbitnya. Dan anak itu... mungkin bisa menjadi matahari yang memberiku arah."

Bulan keempat pelatihan di Pantai Dagobah membawa perubahan yang tidak terduga bagi Izuku Midoriya. Jika All Might adalah pelatih yang membentuk tubuhnya menjadi "wadah", maka Mitsuki adalah guru bayangan yang mengajarinya cara bernapas di tengah tekanan.

Malam itu, pasir pantai terasa dingin. All Might baru saja pergi setelah sesi latihan angkat beban yang melelahkan. Izuku terduduk lemas, paru-parunya terasa terbakar.

"Kau terlalu banyak membuang gerakan," suara Mitsuki muncul dari kegelapan di bawah jembatan. Ia berjalan mendekat dengan langkah yang tidak meninggalkan jejak di pasir.

"Ah, Mitsuki-kun... kau datang lagi," ucap Izuku sambil berusaha mengatur napas. "Maksudmu... gerakanku tidak efisien?"

Mitsuki berhenti tepat di depan Izuku. Ia memberikan sebuah botol air yang isinya terasa sangat segar—ramuan herbal ringan yang biasa diminum ninja untuk memulihkan stamina. "Di duniamu, pahlawan bertarung untuk dilihat. Kalian berteriak saat menyerang, kalian menggunakan kostum yang mencolok, dan kalian membiarkan lawan tahu apa yang akan kalian lakukan."

Mitsuki melepas jubah birunya, hanya menyisakan pakaian hitam ketat di dalamnya. "Coba serang aku, Izuku. Gunakan apa pun yang kau pelajari dari All Might."

Izuku terkejut. "Tapi... aku belum punya kekuatan! Aku hanya punya otot sekarang."

"Itu cukup," jawab Mitsuki datar. "Serang aku dengan niat untuk menjatuhkanku."

Izuku berdiri, memasang kuda-kuda tinju yang sering ia lihat di televisi. Ia berlari ke arah Mitsuki dan melayangkan pukulan lurus. Namun, sebelum tinjunya mendekat, Mitsuki sedikit memiringkan tubuhnya. Dengan gerakan yang sangat halus, ia menangkap pergelangan tangan Izuku dan menggunakan momentum anak itu untuk menjatuhkannya ke pasir.

Brukh!

"Terlalu lambat," bisik Mitsuki. "Matamu memberitahuku ke mana kau akan memukul. Nafasmu memberitahuku kapan kau akan bergerak."

Izuku bangkit lagi, mencoba lagi. Kali ini ia mencoba menendang. Mitsuki melompat mundur dengan anggun, tubuhnya seolah seringan kapas.

"Seorang pahlawan ingin menghentikan kejahatan dengan adil," ucap Mitsuki sambil menepis pukulan ketiga Izuku. "Tapi seorang ninja hanya peduli pada satu hal: Hasil. Jika kau ingin menyelamatkan orang, kau tidak boleh hanya menjadi kuat. Kau harus menjadi tidak terduga."

Mitsuki tiba-tiba menghilang. Izuku berputar, mencari keberadaan temannya itu.

"Di sini," suara itu terdengar tepat di telinga Izuku.

Izuku tersentak, namun sebelum ia bisa bereaksi, Mitsuki sudah menyentuhkan dua jarinya ke leher Izuku—titik nadi yang fatal. "Jika aku musuhmu, kau sudah mati tiga kali sejak tadi."

Izuku terdiam, keringat dingin mengucur. Ia menyadari sesuatu yang sangat kontras. All Might mengajarinya cara menjadi simbol yang gagah, tapi Mitsuki mengajarinya realitas bertarung yang mengerikan.

"Bagaimana... bagaimana cara melakukannya?" tanya Izuku dengan mata berbinar penuh rasa ingin tahu.

Mitsuki menatap tangannya. "Matikan kehadiranmu. Jangan menjadi matahari yang membakar, jadilah bulan yang memantulkan cahaya. Saat musuhmu mengira mereka melihatmu, sebenarnya mereka hanya melihat bayanganmu."

Selama bulan-bulan berikutnya, rutinitas Izuku berubah drastis. Pagi hari ia menghabiskan waktu bersama All Might, memindahkan sampah dan membangun otot. Namun saat matahari terbenam, ia berlatih bersama Mitsuki.

Mitsuki mengajarinya cara berlari tanpa suara, cara menggunakan indra pendengaran untuk mendeteksi lawan di belakangnya, dan yang paling penting: Taktik Manipulasi.

"Jika kau tidak punya Quirk, gunakan lingkunganmu," kata Mitsuki suatu malam. Ia menunjukkan cara menggunakan pasir pantai untuk membutakan lawan sejenak, atau menggunakan pantulan cahaya pada air untuk menciptakan celah serangan.

All Might, yang sering mengawasi dari kejauhan, merasa cemas sekaligus kagum.

"Anak itu... dia mengajari Young Midoriya hal-hal yang biasanya hanya dipelajari oleh agen intelijen bawah tanah," gumam All Might pada dirinya sendiri. "Metodenya dingin, tapi efektif. Midoriya tidak lagi sekadar berlari lurus dia mulai bergerak seperti... predator."

Hari Ujian Masuk UA

Sepuluh bulan telah berlalu. Pantai Dagobah kini bersih total. Izuku berdiri di atas tumpukan sampah terakhir yang telah ia rapikan, berteriak ke arah laut untuk meluapkan segalanya.

Mitsuki berdiri di dekatnya, mengenakan pakaian baru yang lebih modern sebuah hoodie gelap dan celana kargo, meskipun ia tetap menyimpan kunai tersembunyi di balik lengan bajunya. Ia telah berhasil mendapatkan "identitas" sementara melalui bantuan misterius.

"Kau siap, Izuku?" tanya Mitsuki.

Izuku menoleh. Tubuhnya kini tegap, otot-ototnya kencang, dan yang paling berbeda adalah tatapannya. Ada ketenangan yang ia dapatkan dari Mitsuki yang bercampur dengan semangat dari All Might.

"Ya," jawab Izuku mantap. "Terima kasih, Mitsuki-kun. Tanpa latihan darimu, aku mungkin hanya akan menjadi samsak tinju yang kuat."

"Jangan berterima kasih padaku sampai kau lulus," ucap Mitsuki sambil berjalan mendahuluinya. "Aku juga akan ikut ujian itu. Nezu, kepala sekolah mereka, sepertinya tertarik padaku setelah aku mengirimkan 'pesan' kecil padanya."

Izuku terbelalak. "Hah? Kau ikut ujian juga?!"

"Tentu," Mitsuki menoleh sedikit dan memberikan senyum tipisnya yang misterius. "Aku ingin melihat secara langsung, apakah sekolah yang mereka banggakan ini bisa menangani seorang ninja."

Mereka berdua berjalan menuju gerbang UA High School. Di sana, ratusan peserta didik dengan Quirk yang luar biasa sedang berkumpul. Di tengah kerumunan itu, sosok Mitsuki yang tenang dan Izuku yang kini lebih waspada menjadi pusat perhatian yang sunyi.

1
N—LUVV
setiap penjelasan penuh dengan hal hal ilmiah atau berhubungan dengan bidang perhitungan
N—LUVV
cerita Mitsuki yang berkeliling ke semesta anime !! bukan dunia my hero academia
N—LUVV: semangat kak..
total 3 replies
Lyonetta
udh di revisi juga cuxmay lah
Lyonetta
diupdateny lama bgt si (alan)
Lyonetta
sedang revisi/Frown//Frown/, bab 57 akan ada penjelasan
(⁠ノ⁠◕⁠ヮ⁠◕⁠)⁠ノ⁠*⁠.⁠✧
extra chapternya Thor gw mau liat reaksi Orochimaru sama masa depan mereka seperti apa !!
(⁠ノ⁠◕⁠ヮ⁠◕⁠)⁠ノ⁠*⁠.⁠✧
aku like kok
Derai
mitsuki sepertinya terlalu op untuk dunia bnha 😅
Lyonetta: yupp, mangkanya aku masukin mitsuki/Casual//Casual/
total 1 replies
Derai
Oooh, kayaknya seru. Biasanya aku ngehindarin baca fanfic indo krn entah mengapa cringe. Tapi ini kayaknya enggak deh.
Udah gitu nggak ada typo yang mendistraksi. Kereen
Lyonetta: aku juga pas nulis agak krinj juga sih soalnya mitsuki tipikal filosofi nyeleneh untuk sifatnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!