Gugur dalam sebuah pemberontakan tepat di hari pelantikannya sebagai jenderal, Ellenoir malah kembali ke dunia aslinya, dunia yang sudah hancur. Dengan membawa pedang dan tekad, Elle bersumpah akan melawan kejahatan dan zombie.
Meski perjalanan panjang dan berdarah menanti, Elle siap menghadapinya, sebab Elle tidak sendirian. Disamping orang kepercayaannya, ia bertemu seseorang yang membuat hatinya berdebar. Tapi fakta yang disembunyikan oleh laki-laki ini, mampu membuat Elle kehilangan kendali atas dirinya. Sebab dialah yang bertanggungjawab atas situasi dan kondisi di dunia tersebut.
Bagaimana Elle mengatasi tantangan atas rasa sakit, dan perjuangan secara bersamaan? Mampukah ia pada akhirnya sampai ke garis akhir atas perjuangannya, atau justru mati digerus kejinya akhir dunia?
Yuk ikuti terus ceritanya ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serigala Kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Stok Daging
**
"Kak? Mana kakakku? Bagaimana keadaannya?" Tanya Darrion ketika Luca keluar dari hummer dan berjalan mendekati semua orang.
"Baik-baik saja, dia sedang membersihkan diri. Jangan menganggunya dulu, biarkan dia istirahat setelahnya." Ucap Luca membuat semua orang khususnya Darrion merasa lega. "Sembuhkan luka-luka kalian lebih dulu. Setelahnya bantu aku mengumpulkan daging." Ucap Luca berlanjut.
Ia berjalan pergi meninggalkan kerumunan dan berjalan mendekat ke arah sapi mutan putih yang sekarat karena kehilangan banyak darah. Ia menatap mata merahnya yang sayu, dan merasa sedikit kasihan. "Maaf, tapi kami juga harus membela diri, jika tidak maka kamilah yang mati." Ucap Luca berbisik.
Dunia kejam ini, memang begitu jalannya. Yang lemah akan dimakan yang kuat. Jadi, siapapun bisa membela diri untuk menyelamatkan diri sendiri. Yah, pada akhirnya akan ada yang memang dan kalah, tanpa sadar setiap orang bertanding dan berlomba menjadi kuat.
"Luca, abaikan sapi putih ini, bagaimana dengan yang hitam?" Tanya Paman Jergh padanya.
"Kuliti yang hitam, ambil semuanya untuk perbekalan, tapi jangan biarkan sapi mutan putih ini melihatnya." Ucap Luca membalas. Membuat paman Jergh mengangguk paham dan mulai eksekusi bersama Sam yang baru saja menyelesaikan pemeriksaan oleh Sasa.
Luca tetap didepan sapi mutan putih ini untuk melihat lebih jauh. Hal-hal aneh yang dirasakannya sangat jelas, tapi ia tidak mengerti dimana letak keanehannya ini. Sampai beberapa saat menatap, Elle datang dari belakang bersama anjing kecilnya yang sudah kembali ke pelukannya.
"Sapi itu sedang mengandung, ada anak sapi diperutnya." Ucap Elle memecah fokus Luca. Perhatiannya teralih, dengan mata menyipit ia menatap anjing kecil yang menurutnya jelek itu yang ada dipelukannya.
Luca berdiri, mengambilnya dari pelukan Elle dan melemparnya ke tanah. Kemudian ia tersenyum menatap Elle. "Sudah selesai membersihkan diri?" Tanyanya dengan nada sedikit mengejek.
"Uhuk! Tidak sopan." Desis Elle melotot.
Membuat senyum Luca melebar. Ia lantas menarik lengan Elle. "Ayo lihat sapi ini, bisakah kau membawanya ke ruangmu? Pelihara saja untuk stok daging, bagaimana?" Tanya Luca memberi ide.
"Ide bagus! Tapi bagaimana mengatakannya pada mereka?" Tanya Elle berbisik.
"Aku akan mengatasinya." Balas Luca dengan yakin. "Lagipula kita harus pergi dari sini, suara ledakan tadi mengundang zombie. Mereka bergerak kemari bersamaan." Ucap Luca.
"Dan kau masih bisa bersantai disini? Gila ya? Cepat beritahu yang lain! Sementara kau mengalihkan perhatian, aku akan memasukkan sapi ini ke ruangku." Ucap Elle mendesak Luca agar bergerak cepat.
Tolonglah, ia tidak ingin bertarung lagi. Meski energinya sudah kembali tapi kelelahan masih terasa, ini tidak bisa menghilang begitu saja apalagi setelah bertarung berkali-kali dalam pertarungan besar dalam beberapa hari terakhir. Seolah rasa lelahnya menumpuk.
Jadi, begitu Luca mengalihkan perhatian semua orang, Elle dengan cepat memasukkan sapi mutan putih me dalam ruang, kemudian kembali ke hummer sementara semua orang tidak memperhatikan. Yah, meski dari awal sampai akhir, tidak ada yang memperhatikannya sama sekali karena semua orang fokus pada sapi mutan hitam yang sedang dipotong-potong.
Sasa dan Lio berada didalam Van nya, yang lumayan jauh, keduanya bahkan tertidur setelah kekuatan keduanya digunakan terlalu banyak. Keduanya tidak diam dan terus membantu. Selain itu, anak kecil punya energi yang lebih kecil. Jadi energi yang dipakai sebetulnya banyak untuk ukuran anak kecil.
**
"Cepat, cepat, potong besar saja sisakan tulang-tulang itu." Ucap Sam setelah mendengar bahwa lagi-lagi gerombolan zombie mendekati mereka.
Tidak, semuanya tidak ingin bertarung lagi. Jadi, semuanya bergerak dengan belati masing-masing, mulai memotong dan menyayat daging. Jadi dalam waktu kurang dari 10 menit daging sapi sudah habis diambil, menyisakan bagian dalam dan kepala seeta tulang-tulang sapinya.
Luca melihat itu. Kemudian menatap Elle yang melongok dari dalam hummer, memberi kode pada Luca agar mengambil semuanya. Jadi, ia memerintahkan Sam agar memuat sisanya ke dalam karung besar lain, membawanya ke hummer sementara daging dibagi dua antara Van dan hummer sebab bagasi tiap kendaraan tidak punya ruang yang cukup.
Setelah semuanya memasuki kendaraan, mereka pun melaju meninggalkan peternakan dengan cepat. Meninggalkan gerombolan zombie yang datang 5 menit setelahnya. Membuat zombie-zombie yang kehilangan tujuan, berkeliaran tidak jelas disekitar peternakan.
"Huft, selamat, aku benar-benar merasa gugup tadi. Takut terjebak lagi." Ucap Darrion.
"Benar sekali tuan muda. Gerombolan itu, membuat takut. Apalagi jika ada zombie level tinggi, tamatlah sudah riwayat kita." Timpal Sam bergidik ngeri.
Sam dan Darrion berada di kursi depan sementara Elle dan Luca dikursi tengah. Sisanya berada di Van yang membuat hummer terasa lebih luas. Kursi belakang juga diisi perbekalan yang sebelumnya menumpuk penuh di bagasi. Sedangkan bagasi diisi daging hewan mutan.
"Kakakku kok belum bangun?" Tanya Darrion pada Luca, ia melihat ke belakang menatap kakaknya yang masih tertidur. Kemudian ke arah anjing kecil yang sedang tertidur yang berada ditengah-tengah antara kakaknya dan Luca.
"Kelelahan, kau tidak lihat ledakannya sebesar apa? Beruntung kakakmu masih hidup." Ucap Luca membalas dengan malas. Adik Elle terlalu banyak bicara, keluhnya dalam hati. .Sementara Elle, tidak benar-benar tertidur tapi kesadarannya menelusup masuk ke dalam sub-ruang miliknya.
Ia menatap sapi mutan putih didalam, banyak luka khususnya diperutnya. Singkatnya ia sekarat, tapi Elle tidak ingin membiarkannya mati jadi ia dengan cepat memberinya air pohon. Sehingga luka disekujur tubuhnya mulai sembuh secara perlahan.
Mooo! Mooo!
Sapi itu mengeluarkan suara, seolah berterimakasih padanya. Ia juga tidak menyerang Elle meski kekuatannya besar. Benar-benar hewan pengertian yang tahu balas budi. Elle mengangguk dengan senang.
"Kau sedang mengandung, jadi makan dan minumlah banyak-banyak, lalu lahirkan anak anak dengan lancar." Ucap Elle seraya mengelus kepalanya.
Benar, ruangnya bisa dimasuki makhluk hidup. Ia awalnya mengira terbatas pada hewan saja, tapi ternyata manusia juga bisa masuk jika ia yang membawanya. Ia ingat, Luca bisa masuk karena ia mencekal lengannya sebelumnya. Ia benar-benar tidak bisa mempercayainya. Ruangnya ternyata sudah berkembang sejauh ini. Anugerah ini benar-benar keberuntungan besar di hari kiamat.
Elle menerkanya sebelumnya karena gurun itu berubah menjadi padang rumput. Ia mencobanya dengan anjing kecil itu yang benar-benar bisa masuk. Yah, bagaimanapun, di masa depan Luca akan dibutuhkan untuk membereskan tempatnya. Ada tenaga kerja gratis, tidak perlu menghabiskan kekuatan mental untuk memindahkan beberapa barang.
"Akan sangat nyaman di masa depan!" Gumamnya senang, kemudian berjalan ke rumah bata sederhana itu. Perutnya terasa lapar, meskipun ia berbentuk kesadaran saat ini, ia tetap bisa merasa kenyang diluar.
**