Hallo pembaca hebat, saya membawakan cerita baru dengan judul "PANGGIL AKU MAS!"
Kisah pemuda yang tampan, pekerja keras dan hidup mandiri. Dia sudah satu tahun hidup di ibukota, dan jauh dari keluarga.
Prasetya Wardana, pemuda 24 tahun kelahiran Boyolali dan lulusan Sarjana Informatika dari Universitas Negeri di kota Semarang.
Pasetya yang sering dipanggil dengan nama Pras itu, dia bekerja di sebuah perusahaan swasta ternama di kota Jakarta.
Pras yang sering menggunakan logat Bahasa Jawa.
Pras yang tampan banyak di gemari gadis, tapi dia juga pernah di tolak saat melamar gadis.
Mau tahu tahu kisah Prasetya Wardana?
Gadis cantik mana yang akan mendampingi Prasetya?
Apakah Pras akan terus tinggal di ibukota?
Keluarga, cinta, pekerjaan dan kasih sayang akan ada dalam cerita ini.
Cerita ini hanya karangan belaka, bila ada kesamaan nama karakter dan nama tempat, mohon dimaklumi.
Penulis berharap kepada para pembaca untuk memberikan like, koment, rate dan vote.
Terima kasih 🙏
"Panggil aku mas!" 😎 Jangan lupa "Panggil aku mas!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vie_Gv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Setibanya Di Jakarta
Menatap langit pagi di Ibukota.
Pras dan Britney sudah tiba tadi malam jam 22.15 WIB di Stasiun Gambir. Kemarin sore sekitar jam 16.00 WIB mereka berangkat dari stasiun Tawang Semarang, Rendy juga kembali bersama mereka, karena Rendy juga ada pekerjaan penting.
Pagi yang begitu cerah, Pras mengendarai motornya dengan gesit berangkat ke kantor.
Ngeeeng.......
Pagi tadi jam 6 sang istri sudah pergi. Britney secepatnya kembali ke rumah kakek dan ingin bertemu adiknya yang tersayang.
"Sayang, kamu masih marah sama kakak?" Britney sedang mengikuti Vava yang berjalan dan tidak peduli ucapan sang kakak.
Sudah hampir satu jam, Britney tidak dipedulikan Vava. Waktu Britney datang Vava sedang bersiap ke sekolah. Tapi melihat Britney datang, dia tidak jadi berangkat ke sekolah.
Vava yang masih mengenakan seragam sekolah berjalan ke arah balkon, Britney mengikutinya dan berharap sang adik tidak marah lagi.
"Vava, kamu sudah dewasa bukan anak kecil lagi." Ucap Britney yang sudah tidak sabar dan kedua mata itu saling menatap tajam.
Vava tidak pernah merasakan kemarahan Britney, dia selalu menjadi kesayangan Britney. Tapi sang kakak juga ingin menjelaskan tentang masalah mereka, Vava tidak menghiraukannya dan seolah tidak mendengar ucapan kakaknya.
"Baik, kalau kamu marah sama kakak." Jelasnya dan menatap sangat tajam.
Air mata Vava mengalir dan masih menatap tajam kakaknya. Britney paling tidak tega melihat adiknya menangis.
"Kakak minta maaf." Ucap Britney lalu memeluk adiknya dengan air mata membasahi wajahnya.
"Kamu sangat mencintai Oppa kamu?" Tanya Britney.
Vava masih diam dan tidak menjawabnya.
"Kamu suka barista Kafe Senja?" Tanya Britney.
Vava hanya menangis tanpa berkata apapun.
"Vava, kamu tidak mengerti apa kakak alami." Ucap Britney dengan pelan lalu kembali berkata "Kamu sudah besar sekarang, kakak berharap kamu mengerti hal itu."
Mereka berdua dalam kesedihan, apapun Britney berikan untuk kebahagian Vava. Tapi saat ini dia tidak bisa memberikannya, kalau hanya sebuah barang ataupun materi, Britney akan segera menuruti Vava. Tapi Vava menginginkan sebuah cinta yang tidak bisa dibeli, bahkan sekarang cinta itu hanya milik kakaknya.
"Kalian berdua disini." Ucap Vanesa yang mencari Britney.
"Tante." Ucap Britney yang masih memeluk Vava.
"Britney, kamu tidak harus seperti ini terus. Kamu terlalu memanjakan Vava." Ucap Vanesa dengan menepuk pundak Britney lalu beranjak pergi.
Di Kantor RM
Pras yang berada diparkiran motor melepas helmnya. Menatap spion motor dan merapikan rambutnya. Pras selalu merawat dirinya dan juga peduli dengan penampilan.
Nyeesss!
Senyuman manis Pras selalu membuat orang sekelilingnya jadi salah tingkah.
Pagi ini Pras tampak segar, karena bukan hanya dia sudah kembali sehat setelah sakit karena kecelakaan waktu itu, tapi juga karena rasa cinta.
Aura wajah Pras saat ini menggambarkan sosok yang sedang jatuh cinta. Sorot mata yang berbinar penuh perasaan mendalam dan senyuman manis karena suasana hatinya yang sedang berbunga-bunga.
Pras menyapa satpam yang ada didekat pintu lobby. Begitu juga pak satpam yang menyapa Pras dengan senyuman.
Pagi ini lift begitu penuh, Pras masih berdiri dan menunggu lift yang satunya.
"Pagi Pras..." Sapa Maristha yang baru datang dan berdiri disamping Pras.
"Pagi Maristha...." Balas Pras.
Mereka berdua masuk ke dalam lift berserta karyawan yang lain.
Pras sangat ramah bila bertemu orang yang dia kenal. Dia selalu murah senyum dan membuat orang bahagia.
Mereka tiba di lantai ruangannya dan berjalan masuk ruangan. Sudah ada Pak Miko dan yang lainnya, Pras yang datang dari Semarang sudah menyiapkan oleh-oleh untuk mereka semua.
Pak Miko sedang membuka kardus yang diberikan Pras dan membagikan kepada mereka semua yang ada diruangan itu. Tidak lupa oleh-oleh untuk Bu Nia, Pras sendiri yang langsung memberikannya.
"Pras, kowe mulih gur sedelo." Ucap Pak Miko
(Pras, kamu pulang cuma sebentar.)
"Iyo, ngopo suwe-suwe. Aku ora pengen cuti. Sasi ngarep aku cuti suwe. Mbakku arep dadi manten." Ucap Pras.
(Iya, kenapa lama-lama. Aku tidak ingin cuti. Bulan depan aku cuti lama. Kakak perempuanku mau jadi pengantin.)
"Dadi mbakmu wis entuk jodo?? Mengko ndang genti kowe. Ben ndang lali karo mantanmu." Ucap Pak Miko.
(Jadi kakak perempuanmu sudah mendapat jodoh?? Nanti lekas berganti kamu. Biar cepat lupa sama mantanmu.)
"Aku wis oleh jodo." Ucap Pras tapi tidak menyebutkan siapa jodohnya.
(Aku sudah dapat jodoh.)
"Wis nduwe? Kenalke karo aku. Pacarmu mesti ayu." Pak Miko seraya menepuk-nepuk pundak Pras.
(Sudah dapat? Kenalin sama saya. Pacarmu pasti cantik.)
"Mengko wae Pak. Iki isih repot." Ucap Pras lalu menarik kursinya dan menyalakan komputer.
(Nanti saja Pak. Sekarang masih repot.)
Pras masih bingung, karena di perusahaan RM sudah ada aturan larangan menikah dengan rekan kerjanya. Misalpun ada yang menikah dengan rekan kerjanya, salah satu dari pasangan itu harus mengundurkan diri dan melepaskan pekerjaannya.
Semalam dalam perjalanan pulang ke Jakarta Britney dan Pras sudah membahasnya. Pras berkata kalau dirinya tidak ingin memperkeruh suasana kantor.
Apalagi semua karyawan tahunya Britney sudah bertunangan dan orang itu bukan Pras. Apa kata mereka nantinya, kalau dengan cepat Britney berpindah haluan dan menikah dengan salah satu dari karyawannya.
Selow.....
Britney di dalam kamar merapikan beberapa dokumen pribadinya dan menyiapkan pakaiannya.
"Britney, secepat inikah kamu pergi meninggalkan kakek?" Restu dengan tatapan teduh menatap cucu kesayangannya yang akan segera pergi meninggalkan kediamannya.
"Kakek...." Britney menghampiri kakeknya dan langsung memeluknya. "Britney akan sering-sering kesini. Kakek tidak perlu cemas dengan kehidupan baru Britney."
"Iya, kakek mengerti. Ajaklah suami kamu untuk berkunjung kesini. Kakek juga ingin mengenal suami kamu." Ucap kakek Restu.
"Baik, nanti Britney akan mengajaknya kesini. Vava juga masih marah. Britney harus meredam amarahnya dulu. Mungkin beberapa hari, Britney akan tinggal disini dulu. Sampai Vava tenang." Ucap Britney.
"Iya, kakek berharap kalian berdua rukun. Kakek juga cemas, cuma kamu yang memahaminya. Vasena bahkan tidak memahami anaknya." Ucap kakek Restu lalu beranjak pergi.
Britney lupa dengan suaminya, apakah suaminya sudah di kantor. Britney mengirim chat menanyakan tentang bagaimana keadaan suaminya, apakah sudah bekerja.
Pras melihat isi chatnya, dan tersenyum. Dulu Pras selalu cuek dengan ponselnya, tapi karena sang istri berpesan agar selalu mengaktifkan ponselnya, Pras meletakan ponselnya diatas meja kerjanya.
[Aku sudah di kantor. Aku kerja dulu. Sampai ketemu nanti di kantor. 😍]
Britney membalasnya [Aku sedang bersiap.😘]
Britney yang sudah mengenakan kemeja wanita berwarna pink dan dipadukan dengan rok span selutut. Mengambil tas dan hendak berangkat ke kantor.
Vava yang melihatnya dan ingin ikut bersamanya. Britney akhirnya mengajaknya dan membuat dia senang.
*Tap...Tap.. Ta*p..
Langkah dua wanita itu beriringan, Vava hanya terdiam tapi dia ingin bersama kakaknya. Baru berjalan masuk pintu lobby, sudah ada karangan bunga bertuliskan ucapan selamat.
Selamat Menempuh Hidup Baru
Semoga Kalian Berdua Bahagia
Dari Mantan Kekasihmu
Vava mendekati karangan bunga yang cantik itu "Cukup menarik, tapi ucapannya sangat lemah."
Britney hanya memandangi dengan senyuman. Mereka berdua berjalan ke lantai atas. Britney berpesan agar Vava tidak mengganggu pekerjaannya.
Mereka sampai di ruangan Britney, tadi mereka berdua juga melewati ruangan Pras.
"Jadi Bang Pras kerja disini?" Tanya Vava.
"Iya, Mas Pras kerja disini." Jawab Britney yang sedang membuka laptopnya.
Tidak lama Tania masuk dan menyerahkan beberapa file penting. Vava hanya menatap luar gedung yang cukup tinggi itu.
"Kakak mencintainya?" Tanya Vava yang masih menatap luar, dari kaca gedung melihat bangunan yang ada disekitarnya.
"Iya, kakak mencintai suami kakak." Ucap Britney, walaupun saat ini Britney masih sering merasa canggung dengan suaminya.
"Vava tidak akan lagi mencintai Bang Pras. Tapi Vava tidak bisa menerima Bang Pras sebagai kakak ipar Vava." Tegas Vava dengan ucapannya yang pelan.
Britney hanya diam dan memahami perasaan Vava. Britney melanjutkan pekerjaannya dan Vava masih menatap luar dan hanya melamun.
.
bahagia nya Brithney...❤️