NovelToon NovelToon
CINTA DUA ALAM - Aku Menikahi Jin

CINTA DUA ALAM - Aku Menikahi Jin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Misteri
Popularitas:85
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Arga Maheswara, mengira bahwa kepindahannya ke rumah tua peninggalan keluarga, akan menyembuhkan luka akibat pengkhianatan istri. Namun sejak malam pertama, sosok wanita cantik bergaun putih selalu muncul di bawah sinar bulan tersenyum sendu, seolah telah lama menunggunya.

Safira Aluna. Kehadirannya yang lembut perlahan mengobati hati Arga yang hancur. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta yang tulus. Tapi ketika kebenaran terungkap, Arga terkejut Safira bukan manusia. Ia adalah jin muslimah yang terikat kutukan masa lalu, menunggu puluhan tahun untuk menemukan cinta sejatinya.

Meski menakutkan, Arga tak sanggup melepaskan Safira. Mereka menikah dalam ikatan dua alam yang terlarang. Namun cinta mereka adalah kutukan itu sendiri semakin dalam Arga mencintai Safira, semakin cepat nyawanya terkikis.

Akankah cinta mereka bertahan melawan takdir?

Atau salah satu harus berkorban untuk yang lain?

Selamat menyaksikan kisah cinta beda alam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Sebelum Akad

Malam itu adalah malam terakhir sebelum akad nikah. Malam terakhir Arga sebagai laki-laki lajang. Malam terakhir Safira sebagai jin yang bebas.

Besok, semuanya akan berubah.

Arga duduk di teras rumah dengan selimut tebal melingkupi tubuhnya. Udara malam sangat dingin, napasnya keluar seperti kabut putih. Di sampingnya, Safira duduk dengan gaun putih sederhana, rambutnya tergerai menutupi punggung.

Mereka berdua menatap langit malam yang penuh bintang. Bulan purnama bersinar terang, menerangi halaman rumah tua itu dengan cahaya keperakan yang indah.

"Cantik sekali," bisik Safira sambil menatap langit. "Sudah lima puluh tahun aku melihat langit yang sama ini. Tapi malam ini... malam ini terasa berbeda. Terasa lebih indah."

Arga menatap Safira. Cahaya bulan membuat wajahnya terlihat seperti bidadari. Cantik. Sangat cantik sampai Arga merasa dadanya sesak.

"Karena besok kamu akan jadi istriku," kata Arga sambil tersenyum.

Safira menoleh, menatap Arga dengan mata yang berkaca-kaca. "Ya. Besok aku akan jadi istrimu."

Mereka terdiam sejenak. Hanya suara jangkrik dan angin yang menemani keheningan mereka.

Lalu Safira bersuara pelan. Sangat pelan. "Arga... apakah kamu tidak takut menyesal suatu hari nanti?"

Arga tersentak. Ia menatap Safira dengan tatapan bingung. "Menyesal? Menyesal kenapa?"

"Menyesal menikahiku," Safira menjawab dengan suara yang bergetar. Air matanya mulai jatuh. "Aku... aku bukan manusia sempurna, Arga. Aku bahkan bukan manusia. Aku tidak bisa memberimu kehidupan normal. Tidak bisa memberimu anak. Tidak bisa menua bersamamu. Dan yang paling menakutkan... aku mungkin akan menyakitimu. Tanpa sengaja. Karena aku makhluk yang berbeda."

Arga menggenggam tangan Safira yang dingin dengan kedua tangannya. Menggenggamnya erat sekali. "Dengarkan aku, Safira."

Safira menatapnya dengan mata yang penuh air mata.

"Yang aku sesalkan hanya jika aku tidak berani mencintaimu," kata Arga dengan suara yang penuh keyakinan. "Aku tidak peduli kamu bukan manusia. Aku tidak peduli kita tidak bisa punya anak. Aku tidak peduli kita tidak bisa menua bersama seperti pasangan normal. Yang aku peduli adalah... aku mencintaimu. Dan cinta itu lebih berharga dari apapun."

"Tapi Arga..." Safira menangis lebih keras. "Kamu bisa mati karenaku. Ustadz itu bilang ikatan kita menguras nyawamu. Dan aku... aku bisa merasakannya. Setiap malam kita bersama, aku merasakan energi hidupmu perlahan mengalir ke tubuhku. Dan aku tidak bisa menghentikannya. Aku tidak bisa..."

"Kalau begitu ambil saja," Arga memotong dengan tegas. Air matanya ikut mengalir sekarang. "Ambil nyawaku. Ambil energiku. Ambil semuanya. Asal aku bisa bersamamu. Asal aku bisa membuatmu bahagia walau hanya sebentar."

"Jangan bilang seperti itu!" Safira berteriak sambil menangis. "Jangan bilang kamu rela mati! Aku tidak mau kamu mati, Arga! Aku tidak mau kehilangan kamu seperti aku kehilangan Arjuna!"

"Lalu apa yang harus kita lakukan?!" Arga juga berteriak dengan frustasi. "Berpisah?! Kamu mau kita berpisah?!"

"Tidak!" Safira menggeleng keras. "Aku tidak mau berpisah! Aku... aku sudah terlanjur mencintaimu! Terlanjur membutuhkanmu! Tapi aku juga tidak mau kamu menderita karenaku!"

Mereka berdua menangis di teras itu. Saling menatap dengan air mata yang mengalir deras. Dua jiwa yang saling mencintai tapi tahu cinta mereka membawa kehancuran.

Arga menarik Safira ke pelukannya. Memeluknya erat sekali. Tubuh Safira yang dingin gemetar hebat di pelukannya.

"Kita akan mencari jalan," bisik Arga di telinga Safira. "Kita akan berdoa pada Allah. Memohon keajaiban. Memohon agar Dia memberi kita jalan keluar. Kita akan berjuang bersama, Safira. Aku janji."

Safira mengangguk di bahu Arga sambil terus menangis. "Ya... kita akan berjuang bersama..."

Mereka berpelukan cukup lama sampai tangis mereka mereda. Lalu Safira melepaskan pelukan, mengusap air matanya dengan punggung tangan.

"Aku... aku ingin shalat," kata Safira pelan. "Shalat tahajud. Berdoa panjang sebelum besok kita menikah."

Arga mengangguk. "Ayo. Kita shalat bersama."

Mereka masuk ke dalam rumah. Mengambil wudhu. Lalu berdiri berdampingan di mushala kecil yang Arga siapkan di salah satu kamar.

Shalat malam itu terasa sangat panjang. Safira sujud lama sekali, bibirnya bergerak membaca doa yang bahkan Arga tidak tahu apa isinya. Tapi Arga bisa merasakan kesungguhan di setiap gerakannya.

Setelah shalat selesai, Safira duduk bersimpuh dengan tangan terangkat ke langit. Air matanya mengalir deras sambil berbisik doa.

"Ya Allah... Engkau yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Hamba mohon... mohon ampunilah hamba yang telah berani mencintai makhluk yang bukan dari alam hamba. Hamba tahu ini salah. Hamba tahu ini melanggar aturan-Mu. Tapi hamba... hamba mencintainya, ya Allah. Sangat mencintai."

Arga yang mendengar itu ikut menangis. Ia juga mengangkat tangannya, berdoa dalam hati sambil mendengarkan Safira.

"Hamba mohon... berkahilah pernikahan hamba besok. Berkahilah cinta hamba dan Arga. Jika memang kami tidak boleh bersatu, maka berikanlah hamba kekuatan untuk melepasnya. Tapi jika Engkau meridhai... jika Engkau mengijinkan... hamba mohon berikanlah kami jalan. Jalan untuk bersama tanpa harus saling menyakiti."

Safira menangis sejadi-jadinya sekarang. Tubuhnya gemetar hebat. "Dan jika Arga harus mati karena mencintai hamba... ya Allah, ambillah nyawa hamba saja. Jangan biarkan dia menderita. Hamba yang salah. Hamba yang memulai semua ini. Jadi hukumlah hamba. Bukan dia."

"Safira..." Arga langsung memeluk Safira dari samping. "Jangan berdoa seperti itu. Kumohon."

"Tapi aku tidak sanggup melihatmu mati karenaku," Safira menangis di pelukan Arga. "Aku sudah kehilangan Arjuna. Aku tidak sanggup kehilangan kamu juga."

"Kita tidak akan kehilangan satu sama lain," Arga berbisik sambil ikut menangis. "Kita akan bersama. Entah di dunia ini atau di alam sana. Kita akan bersama."

Mereka berpelukan lama di mushala itu. Menangis bersama. Berdoa bersama. Memohon keajaiban bersama.

Dan entah kenapa, malam itu terasa sangat panjang. Seperti waktu berhenti berputar. Memberikan mereka kesempatan untuk merasakan kedamaian sebelum badai datang.

Saat fajar mulai menyingsing, mereka kembali ke teras. Duduk berdampingan sambil menunggu matahari terbit.

Safira menatap ufuk timur yang mulai memerah. Wajahnya terlihat lelah tapi damai. "Besok... besok kita akan menjadi suami istri yang sah di mata Allah dan manusia."

Arga menggenggam tangannya, tersenyum meski air matanya masih menggantung di pelupuk mata. "Besok, aku akan menjadi suami yang paling bahagia di dunia."

"Dan aku akan jadi istri yang paling beruntung," Safira membalas sambil tersenyum. "Karena aku mendapatkan cinta yang tulus. Cinta yang berani mengambil risiko apapun."

"Aku mencintaimu, Safira Aluna."

"Aku mencintaimu, Arga Maheswara."

Mereka saling menatap sambil tersenyum. Dan saat cahaya pertama matahari menyentuh wajah mereka, Safira perlahan memudar.

"Sampai nanti sore," bisiknya sebelum benar-benar menghilang. "Di akad nikah kita."

"Sampai nanti," Arga membalas pada udara kosong.

Ia duduk sendirian di teras itu, menatap matahari yang perlahan naik. Hari ini adalah hari yang ia tunggu-tunggu. Hari pernikahannya.

Tapi kenapa dadanya terasa sesak? Kenapa ada perasaan cemas yang mengganggu?

Ia menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran negatif itu. Hari ini harus sempurna. Untuk Safira. Untuk cinta mereka.

Arga berdiri, masuk ke dalam rumah untuk mempersiapkan segalanya.

Tidak tahu bahwa di suatu tempat, Ustadz Hasyim, Bagas, dan Ratih sedang dalam perjalanan menuju rumahnya.

Dengan satu tujuan: menghentikan pernikahan itu sebelum terlambat.

1
Cimol krispy
wah mereka bisa sentuhan dong. bahkan pelukan
Cimol krispy
50 th berarti sejak sebelum nenek Sarinah tinggal di sana sudah ada kejadian itu ya.
Cimol krispy
Arga... ayo move on bareng mbak Kun
Leoruna: ngeri2 sedep klo Arga bisa berpaling sama mbak kun🤣
total 1 replies
Cimol krispy
Serem banget astaga. ini si Arga beneran bisa cepet move on sih kataku, dunianya langsung teralihkan sama mbak-mbak Kunti😅
Cimol krispy: iya lagi, ih
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!