NovelToon NovelToon
A.M.R.A

A.M.R.A

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Cerai / Keluarga / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Seorang Wanita Kuat-Amara. setelah hampir 15 th pernikahan ternyata suaminya ketahuan Selingkuh.

Semenjak itu Kehidupan Amara dan kehidupan rumah tangga nya berubah.

Masih Mencinta namun tak dapat bersama

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Apakah Kalian Bisa Serumah Lagi?

Udara di apartemen Amara pagi itu beraroma kue vanilla dan harapan. Dua belas lilin berwarna-warni sudah tertancap di atas kue ulang tahun berbentuk kastil—permintaan Luna yang polos, "karena aku pangeran putri yang bertahan dari naga bernama lupus".

Kue itu dibuat khusus dengan bahan rendah gula dan tanpa pewarna buatan, sesuai pantangan lupus.

Luna, yang berusia 12 tahun hari ini, duduk di sofa dengan piyama baru bergambar kucing dan bintang. Dia terlihat lebih baik. Wajahnya tidak lagi bengkak berlebihan, ruam di pipinya hampir tak terlihat.

Tapi mata yang lebih waspada akan melihat kelelahannya yang lebih cepat dari anak seusianya, dan botol-botol pil yang tersusun rapi di meja samping tempat tidurnya.

Pengobatan rutin telah berhasil menekan penyakitnya ke dalam remisi, tapi biayanya seperti parasit, menggerogoti dana tabungan kesehatan mereka dengan konsisten.

Dua miliar dari penjualan hak cipta telah menyusut dengan kecepatan yang mengkhawatirkan.

Amara, dengan celemek bergambar bunga, sedang menghias ruang tamu sederhana dengan balon dan pita. Dia mengenakan jeans dan kaos polos, rambutnya diikat sembarangan. Ada ketegangan di pundaknya, sisa dari perjuangan finansial tanpa akhir.

Rafa datang lebih awal, membawa hadiah berupa set alat melukis cat air profesional dan sebuah iPad mini untuk menggambar digital—investasi untuk hobi Luna yang aman di dalam rumah.

“Papa! iPad!” seru Luna, mata berbinar.

“Untuk gambar digital. Jadi kalau tidak kuat keluar, masih bisa gambar pemandangan dari sini,” jelas Rafa, mencium kening putrinya.

Matanya bertemu dengan mata Amara, dan mereka bertukar senyum kecil yang lelah. Mereka adalah sebuah tim yang solid sekarang, meski hanya dalam wilayah pengasuhan Luna. Di luar itu, mereka masing-masing tenggelam dalam upaya mencari pemasukan baru.

Ibu Marni tiba dengan hidangan-hidangan rumahan. Sari, setelah beberapa bulan dingin, juga datang dengan hadiah—sebuah kamera instan. “Supaya kamu bisa bikin foto kenangan tanpa harus keluar rumah terlalu lama,” katanya, memeluk Luna.

Dia dan Amara bertukang pandang singkat, ada ketegangan yang belum sepenuhnya cair, tapi gencatan senjata telah disepakati untuk Luna.

Pesta kecil pun dimulai. Hanya keluarga dekat dan dua teman Luna dari sekolah yang diizinkan orang tuanya datang.

Suasana hangat, dipenuhi tawa cerita sekolah dan lelucon konyol. Saat Luna meniup lilin, dia memandang kedua orang tuanya yang berdiri berdampingan di belakang kuenya.

“Apa harapannya, Luna?” tanya Sari.

Luna tersenyum misterius. “Rahasia.”

Setelah kue dipotong dan dibagikan, setelah hadiah dibuka, saat suasana mulai tenang, Luna tiba-tiba berbicara. Suaranya kecil namun jelas memotong percakapan orang dewasa.

“Mama, Papa… kalian sudah nggak marahan lagi, kan?”

Semua terdiam. Amara dan Rafa saling pandang.

“Sudah, Sayang. Kami baik-baik saja sekarang,” jawab Amara.

“Kalau gitu…” Luna menarik napas, seolah mengumpulkan keberanian. “Kenapa kalian nggak tinggal serumah lagi? Jadi aku nggak harus bolak-balik. Dan kalian bisa saling bantu. Biaya juga mungkin lebih murah, kan?”

Pertanyaan itu, yang dilontarkan dengan logika sederhana seorang anak 12 tahun, menggantung di udara seperti beling tajam.

Amara merasa dadanya sesak. Rafa membeku, matanya melirik ke Amara dengan cepat. Ibu Marni berdeham, tidak nyaman. Sari menatap piringnya.

“Luna, Sayang,” Amara mulai, berjongkok di depan putrinya. “Mama dan Papa memang tidak marah lagi. Kami berteman baik. Tapi… tinggal bersama itu lebih dari sekadar tidak marah. Itu tentang… perasaan yang berbeda.”

“Tapi kan dulu kalian saling sayang. Bisa nggak sayang lagi?” desis Luna, matanya mulai berkaca-kaca.

Rafa ikut berjongkok. “Kami tetap sayang kamu, Luna. Dan kami saling peduli satu sama lain. Tapi sayang antara Mama dan Papa itu… sudah berubah bentuk. Kami sekarang lebih seperti teman dekat, seperti partner yang kerja sama untuk merawat kamu.”

“Tapi aku pengen punya keluarga kayak temen-temenku,” tangis Luna, akhirnya pecah.

“Yang satu rumah. Yang makan malam bareng setiap hari, bukan cuma pas jadwal. Aku cape bolak-balik. Aku takut pas di rumah Papa, Mama kesepian. Pas di rumah Mama, Papa kesepian.”

Setiap kata seperti pukulan bagi mereka berdua. Mereka telah berusaha keras membuat sistem co-parenting bekerja, tapi ternyata bagi Luna, itu tetap sebuah pengingat akan perpecahan.

“Kami tidak kesepian, Sayang,” bisik Amara, memeluknya. “Dan jadwal bolak-balik itu supaya kamu punya waktu yang sama dengan Mama dan Papa.”

“Tapi aku nggak mau waktu yang sama! Aku mau waktu BERSAMA!” isak Luna.

Di tengah momen emosional itu, bel pintu berbunyi. Semua terkejut. Tidak ada tamu lain yang diundang.

Rafa berjalan membuka pintu. Di sana, berdiri seorang wanita. Dia mungkin seusia mereka, berpakaian sangat mahal—blazer putih, celana tailored, tas tangan Hermes. Rambut cokelatnya lurus sempurna, wajahnya cantik dengan riasan flawless. Dia tersenyum, agak ragu.

“Rafa, Maaf, aku tahu ini mungkin tidak tepat waktunya, tapi kamu bilang hari ini ulang tahun Luna, dan aku ingin memberikan ini.”

Dia menyodorkan sebuah tas kado kecil bermotif Tiffany & Co.

Rafa terlihat sangat tidak nyaman. “Val, aku… tidak bilang kamu harus datang.”

“Aku tahu. Tapi aku ingin memperkenalkan diri. Sebagai… teman.” Wanita itu—Val—melirik ke dalam, melihat kerumunan kecil.

“Hmm aku cuma ingin berkenalan dengan Luna.”

Amara, yang masih memeluk Luna, memandang ke arah pintu. Instingnya langsung memahami. Ini adalah “wanita kaya” yang beberapa kali disebutkan Ibu Marni—anak tunggal pemilik grup properti, yang tertarik pada Rafa dan “mau membantu secara finansial”.

Rafa, yang putus asa mencari suntikan dana untuk tabungan kesehatan Luna yang menipis, telah menerima pendekatannya.

“Tidak apa-apa,” kata Amara, suaranya lebih dingin dari yang dia rencanakan. “Silakan masuk. Kami sedang merayakan.”

Val masuk, membawa aura parfum Chanel yang mahal dan kepercayaan diri yang berasal dari uang. Dia menyapa Ibu Marni dengan akrab “Bu Marni, lama tidak bertemu di charity event!”, lalu mengulurkan tangan ke Amara. “Valeria. Tapi panggil Val. Kamu pasti Amara. Rafa sering bercerita.”

“Sering?” tanya Amara, menjabat tangan yang halus itu dengan singkat.

“Tentang perjuangan Luna. Aku sangat tersentuh. Jadi, ini hadiah kecil untuk Luna.”

Val menyerahkan kado itu pada Luna, yang masih berada di pangkuan Amara.

Luna melihat bungkusan mewah itu, lalu memandang ayahnya, lalu ibunya. Dia tidak mengambilnya.

“Kamu teman Papa?” tanya Luna, polos.

“Ya, Sayang. Teman baik,” jawab Val dengan manis.

Rafa terlihat ingin menghilang. “Val, ini… Sari, teman Amara. Dan Edo, kurator teman Amara.” Edo, yang baru saja tadi datang dengan seikat bunga, mengangguk sopan.

Matanya yang tajam memindai situasi dengan cepat.

Suasana pesta yang tadinya hangat kini menjadi kaku. Val mencoba mencairkan suasana dengan bercerita tentang liburannya ke Paris, tentang galeri seni yang dia kunjungi.

Setiap kalimat, meski tidak bermaksud, menggarisbawahi jurang antara dunia mereka—yang satu berjuang untuk membayar obat, yang lain berbicara tentang belanja di Avenue Montaigne.

Edo, yang diam-diam memperhatikan Amara yang wajahnya pucat dan Rafa yang gelisah, akhirnya berbicara. Suaranya tenang, memotong cerita Val tentang sebuah patung di Louvre.

“Berbicara tentang seni,” ujarnya, melihat ke arah Amara. “Saya punya usul. Mungkin ini saat yang tepat untuk membicarakannya, karena ini tentang Luna.”

Semua mata tertuju padanya.

“Komunitas seniman lokal dan saya telah berdiskusi. Kami melihat kampanye #FightForLuna yang beberapa bulan lalu viral.

Itu menunjukkan betapa banyak orang yang peduli.” Edo menatap Amara.

“ini bisa menjadi solusi alternatif yang berkepanjangan, bagaimana jika kamu membuat ‘koleksi terbatas’ merchandise? Syal, tas tote, maybe pouch. Dengan motif yang terinspirasi dari karya-karyamu yang belum terjual hak ciptanya—sketsa-sketsa kecil, pola tekstur."

"Diproduksi secara etis, dalam jumlah terbatas, dengan harga premium. Profit 100% untuk dana pengobatan Luna.”

Amara terkesiap. “Tapi… produksinya butuh modal. Dan pemasaran…”

“Komunitas kami akan membantu. Seniman-seniman lain mau menyumbang desain untuk koleksi kolaborasi. Galeri-galeri kecil mau jadi titik penjualan. Kita gunakan platform sosial media lagi, dengan narasi yang kuat: #ArtForLuna. Ini bukan amal biasa."

"Ini adalah pertukaran yang setara—orang mendapatkan karya seni berkualitas, Luna mendapatkan dana.” Edo tersenyum kecil.

“Dan kamu tetap memegang kontrol kreatif. Ini tetap karyamu. Caramu untuk tetap berkarya sambil membiayai pengobatan putrimu.”

Usulan itu menggantung di udara, seperti oksigen segar di ruangan yang pengap. Kontras sekali dengan kehadiran Val yang simbolis dari “jalan pintas” finansial lewat hubungan.

“Itu… ide yang brilliant,” bisik Sari, yang matanya berbinar. Dia melihat ke arah Amara.

“Mara, ini jalan tengah. Kamu tidak perlu menjual jiwamu lagi.”

Amara memandang Edo, rasa terima kasih yang dalam membanjiri dirinya. “Kamu… kenapa melakukan ini?”

“Karena seni seharusnya menjadi kekuatan untuk menyembuhkan, bukan dikorbankan untuk penyembuhan,” jawab Edo sederhana.

“Dan karena saya percaya pada bakatmu. Dan pada Luna.”

Rafa, yang terdiam sejak tadi, akhirnya berbicara. “Berapa perkiraan modal awalnya?”

“Kita bisa mulai dengan pre-order,” jelas Edo.

“Jadi tidak butuh modal besar. Cukup untuk produksi sampel dan fotografi. Saya akan handle fotonya,” tambah Sari, antusias.

Val, yang merasa semakin tidak relevan, mencoba menyelamatkan muka. “Itu ide yang menarik. Jika butuh investasi, grup ayah saya mungkin bisa—”

“Terima kasih, Val,” potong Rafa dengan tegas namun halus. “Tapi ini sepertinya lebih sesuai dengan… semangat komunitas. Tapi kami hargai tawaranmu.”

Penolakan halus itu jelas. Val tersenyum kaku, lalu berdiri. “Sepertinya ini urusan keluarga. Aku akan pergi dulu. Selamat ulang tahun, Luna.” Dia menepuk kepala Luna dengan cepat, lalu pergi dengan langkah cepat.

Keheningan menyusul kepergiannya.

Luna, yang memperhatikan semuanya, tiba-tanya berkata, “Om Edo, jadi nanti ada tas gambar Mama?”

“Iya. Dengan gambar-gambar cantik dari Mama.”

“Dan uangnya buat obat Luna?”

“Betul sekali.”

Luna tersenyum, untuk pertama kalinya sejak pertanyaan sulit tadi. “Aku suka itu. Jadi kayak Mama melukis buat aku.”

Amara memeluk putrinya erat, melihat ke arah Edo dan Sari. “Baik. Ayo kita lakukan. #ArtForLuna.”

Rafa mengangguk, lega terlihat di wajahnya. Lega karena ada jalan lain selain menerima “bantuan” dari Val.

Lega karena Amara tidak harus mengorbankan lagi.

Malam itu, setelah semua pulang, Amara dan Rafa membereskan sisa pesta.

“Maaf untuk Val tadi,” kata Rafa sambil mencuci piring. “Itu… bodoh. Aku sedang putus asa.”

“Aku tahu. Tapi jangan lagi. Kita menemukan cara yang lebih baik.”

“Edo… dia baik sekali.”

“Iya. Dia teman yang baik.”

Mereka diam, bekerja sama dalam keheningan yang nyaman.

“Tentang pertanyaan Luna…” ucap Rafa pelan.

“Kita harus terus yakinkan dia. Bahwa kita adalah keluarga, meski tidak dalam satu atap. Bahwa cinta kita padanya tidak terbagi, justru berlipat karena datang dari dua rumah.”

“Iya,” jawab Amara. “Kita akan lebih sering melakukan hal bersama-sama. Seperti hari ini. Tapi… dengan tamu yang tepat.”

Mereka tersenyum satu sama lain, sebuah pengertian baru terbentuk. Mereka mungkin tidak akan pernah tinggal serumah lagi. Tapi malam ini, mereka menemukan sesuatu yang mungkin lebih kuat: sebuah komunitas yang siap mengangkat mereka, sebuah cara untuk bertahan tanpa mengorbankan diri mereka yang sebenarnya, dan sebuah keyakinan bahwa selama mereka berdiri di sisi yang sama—sebagai orang tua Luna—mereka akan selalu menemukan jalan, bahkan di saat-saat paling gelap. Lilin ulang tahun mungkin telah padam, tapi sebuah api baru—api harapan dan kreativitas—telah dinyalakan.

1
Kustri
pengorbanan yg sgt besar 💪
Kustri
qu ikut prihatin🥺😭
La Rue
Kali ini benaran mewek dibuat kisah Amara ini 😭
Bp. Juenk: hehe, siap2 d bab berikutnya ya Kk. sediain tisu yg banyak.
total 1 replies
Kustri
kasian luna, msh terlalu kecil🥺
Kustri
tak tunggu UP'a
sambil ☕ thor
Bp. Juenk: siap Ka, segera di update
total 1 replies
Kustri
lanjut yaa
Kustri
wuiih... kalimat"mu luar biasa thor👍
Bp. Juenk: thanks kaka 🙏
total 1 replies
La Rue
Ruang hampa,kehilangan,cinta,kepergian dan penemuan kembali jati diri dalam hubungan dua orang dewasa yang terikat dalam pernikahan. Namun pada akhirnya hanya pengertian dan mulai belajar mencintai diri sendiri serta belajar menerima kehilangan meskipun tidak ada yang benar-benar baik-baik saja dari kehilangan. Jadi ingat lirik lagu lawas " Sometimes Love Just Ain't Enough ".
Penulisnya sukses mengaduk emosi jiwa seperti naik roller-coaster dan yang buat salut hampir tidak ada typo dalam tiap bab cerita yang disuguhkan. Semoga kisah di novel ini bisa diangkat ke film,karena asli bagus jalan cerita dan penokohan serta konflik yang ada benar-benar membuat cerita ini hidup.
Terimakasih buat penulis dan sukses selalu.
La Rue: n you too. Keep it up 👍
total 2 replies
MomRea
Author ini ceritanya gak bisa di prediksi, dari bahagia sedih lagi bahagia lagi sedih lagi... lanjut Thor
MomRea
Rafa-Sari, Amara-Edo, atau Rafa-Amara. ? teka teki othor 😊
Halwah 4g
ceritamu sangat mengubek-ubek hatiku Thor 😍
MomRea
semangat Thor terimakasih banyak up nya🙏💪
Bp. Juenk: siap terimakasih dukungan nya
total 1 replies
MomRea
"Akhir sebuah bab tapi awal sebuah cerita" mantap kalimatnya Thor 😊
MomRea
gak bisa komen karna dadaku sesak banyak banget bawangnya 🥲🥲
MomRea
ikutan berdoa Thor...semoga Rafa cepat sembuh biar bisa bermain lagi dgn Luna 😊😊😊
MomRea
Semangat Amara, restart kembali pola pikir, lihat masa depan bersama Luna 🥰
Kustri
ini rumah apa apart, koq ada lift ☹️
Bp. Juenk: 🤭ada koq Ka rumah yg pake lift. di pondok indah banyak yg pake lift
total 1 replies
MomRea
bingung juga sih rumah tangga gak ada romantis romantisnya.
Bp. Juenk: 🤣 🤣🤣 bisa Bae nih ka
total 3 replies
Kustri
☕dl amara, ngecas semangat💪
MomRea
good, buka saja semua, biar ibunya Rafa yg bertindak.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!