NovelToon NovelToon
A.M.R.A

A.M.R.A

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Cerai / Selingkuh
Popularitas:13.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Seorang Wanita Kuat-Amara. setelah hampir 15 th pernikahan ternyata suaminya ketahuan Selingkuh.

Semenjak itu Kehidupan Amara dan kehidupan rumah tangga nya berubah.

Masih Mencinta namun tak dapat bersama

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lamaran Edo

Angin malam membawa aroma hujan yang akan turun ketika Edo berdiri di depan pintu apartemen Amara. Dia memegang seikat peony putih—bunga favorit Amara—dan dadanya berdegup kencang, bukan karena gugup, tapi karena keyakinan.

Di sakunya, terselip sebuah kotak beludru kecil yang telah dia bawa dari Yogyakarta. Setelah melihat ketabahan Amara, dedikasinya pada Luna, dan resonansi jiwa mereka dalam seni, Edo yakin ini adalah langkah yang benar.

Mereka akan menjadi pasangan yang saling mengangkat; dia akan menjadi batu pijakan yang stabil untuk Amara terbang lebih tinggi.

Amara membuka pintu. Dia terlihat lelah, lebih lelah dari biasanya. Matanya merah, seperti baru menangis atau kurang tidur berhari-hari.

Dia mengenakan piyama katun bergaris-garis tua dan cardigan wol yang sudah mulai bolong di siku. Rambutnya diikat sembarangan.

Dia baru saja menidurkan Luna setelah membaca cerita, dan pikirannya masih penuh dengan gambar-gambar dari pabrik NOVAE dan suara mesin yang menderu.

"Edo? Kau tidak bilang mau datang," ucap Amara, terkejut.

"Aku ingin memberi kejutan," senyum Edo hangat, mengulurkan bunga. "Bisa aku masuk?"

Di dalam, apartemen terasa sunyi. Lampu temaram, mainan Luna tertata rapi di keranjang, dan di sudut ruang tamu, kanvas besar ditutupi kain terpal—proyek "The Unseen Battle" yang terhenti.

"Luna sudah tidur?" tanya Edo, mencium suasana.

"Ya. Dia hari ini agak lelah." Amara mengambil vas kaca sederhana, mengisinya dengan air, dan mulai menata peony dengan gerakan mekanis. Keindahan bunga itu justru membuatnya sedih; ia mengingatkannya pada sesuatu yang terlalu murni untuk dunia yang kacau ini.

"Amara," Edo mulai, suaranya lembut namun penuh intensitas. "Aku datang kemari malam ini karena ada sesuatu yang sangat penting ingin kukatakan."

Amara membeku. Dia bisa merasakan arah pembicaraan ini. Dia perlahan menoleh, bertumpu pada pinggiran meja makan.

"Beberapa bulan terakhir, melihatmu, mengenalmu lebih dalam... ini mengubahku," kata Edo, langkahnya mendekat. Matanya, biasanya penuh kecerdasan analitis, kini berbinar dengan emosi yang tulus.

"Aku melihat kekuatanmu, kelembutanmu, cara kau mencintai Luna, cara kau mengubah penderitaanmu menjadi sesuatu yang bermakna. Kau menginspirasiku, Amara. Dan aku tidak ingin hanya menjadi inspirasi dari jauh."

Dia mengeluarkan kotak beludru biru tua dari sakunya, lalu berlutut di atas lantai kayu yang dingin. Pose itu begitu tulus, begitu berbeda dari caranya yang biasanya santai.

"Amara, aku mencintaimu. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu, mendukungmu, mencintai Luna seperti anakku sendiri. Aku ingin kita membangun kehidupan baru, di Yogyakarta atau di mana pun kau mau."

"Di tempat di mana senimu bisa bernapas bebas, di mana Luna bisa tumbuh dengan damai." Dia membuka kotak itu. Sebuah cincin platinum sederhana dengan batu bulan pirus biru yang dipotong tak beraturan, dikelilingi oleh butiran-butiran diamond kecil yang seperti fragmen cahaya.

"Ini diambil dari warna 'cahaya emas' dalam lukisanmu. Biru ini untuk ketenangan yang kau bawa, dan bentuknya yang tak sempurna... karena aku mencintai setiap retakan dalam dirimu. Maukah kau menikah denganku?"

Udara di ruangan itu seakan tersedot keluar. Amara menatap cincin itu, lalu menatap wajah Edo yang penuh harap. Di suatu tempat di hatinya, sebuah suara kecil berteriak ya. Ya untuk pelarian. Ya untuk kehidupan yang lebih sederhana, lebih artistik, bebas dari beban Rafa dan drama Jakarta. Ya untuk seorang pria baik yang memandangnya seperti seorang maestro, bukan seorang ibu yang kewalahan.

Tapi suara itu tenggelam oleh suara yang lebih dalam, lebih kelam, dan lebih jujur. Suara yang berkata: Kau hanya ingin lari. Edo adalah pulau yang aman, bukan tujuan cinta.

"Edo..." suara Amara serak, penuh rasa sakit. "Aku... tidak bisa."

Edo tidak bergerak, senyumnya perlahan memudar digantikan kebingungan. "Aku tahu ini cepat. Kita bisa tunangan dulu, menunggu sampai..."

"Bukan soal waktunya, Edo," potong Amara, matanya mulai berkaca-kaca. Dia berjalan menjauh, memunggungi Edo yang masih berlutut.

"Ini tentang... kebenaran. Dan kebenarannya adalah, aku tidak mencintaimu. Bukan dengan cara yang seharusnya untuk sebuah pernikahan."

Kalimat itu menggantung, keras dan kejam.

"Kau... kau selalu dekat denganku. Kau tersenyum. Kau berbagi semuanya," bantah Edo, perlahan bangkit. Suaranya pecah.

"Karena kau adalah tempat yang aman!" teriak Amara, berbalik, air mata akhirnya mengalir.

"Kau adalah sahabat, pendukung, seseorang yang mengerti seniku tanpa harus mengerti diriku yang berantakan! Tapi cinta? Apa yang kurasakan padamu... itu adalah rasa syukur, Edo. Itu adalah rasa tidak ingin sendirian. Itu adalah pelarian dari kekosongan yang menganga di dalam diriku setelah segalanya hancur!"

Dia menarik napas dalam-dalam, tubuhnya gemetar. "Aku hancur, Edo. Dan kau melihat pecahan-pecahanku dan berpikir kau bisa menyusunnya kembali menjadi sesuatu yang indah."

"Tapi aku bukan mozaik yang bisa kau selesaikan. Aku... aku adalah ladang puing. Dan aku harus membersihkannya sendiri, menemukan fondasiku sendiri, sebelum aku bisa membangun apapun dengan seseorang."

Edo berdiri terpaku, wajahnya pucat. Cincin di tangannya terasa tiba-tiba sangat berat, sangat tidak berarti. "Jadi... semua ini? Kedekatan kita? Hanya... proyek rehabilitasi bagimu?"

"Tidak! Kau nyata. Persahabatan kita nyata. Tapi aku memaksakannya menjadi lebih karena aku takut. Aku takut sendirian membesarkan Luna. Aku takut tidak akan pernah dicintai lagi. Aku takut pada bayangan Rafa yang masih menghantuiku!" pengakuan itu meledak dari dadanya, kotor dan jujur.

"Mengatakan 'ya' padamu akan menjadi kebohongan terbesarku. Dan kau tidak pantas dibohongi, Edo. Kau terlalu baik."

Diam yang menyelimuti ruangan itu terasa lebih keras dari teriakan. Edo dengan lambat menutup kotak cincinnya. Bunyi klik kecil terdengar seperti pintu penjara yang mengunci.

"Jadi, di tengah semua ini... Rafa masih ada di sana?" tanya Edo, suaranya datar.

"Bukan dalam arti aku ingin kembali padanya," jawab Amara, mengusap air matanya. "Tapi luka yang ditinggalkannya, ruang yang ditinggalkannya... itu belum terisi. Dan aku tidak bisa membiarkanmu mengisi ruang itu hanya karena kau ada di sana. Itu tidak adil. Dan itu bukan cinta."

Edo mengangguk pelan, seperti seseorang yang baru saja menerima diagnosis terminal. Rasa sakitnya nyata, tapi begitu pula pemahamannya. Dia adalah seorang kurator; dia bisa mengenali keaslian dan kepalsuan.

"Kau lebih berani daripada yang aku kira," ucap Edo akhirnya, dengan senyum getir. "Kebanyakan orang akan menerima tawaran kebahagiaan yang mudah."

"Ini bukan keberanian, Edo. Ini keputusasaan. Aku terlalu lelah untuk memakai topeng lagi, bahkan topeng pengantin yang indah."

Edo memandangnya lama, seolah-olah mengabadikan gambarnya: wanita lelah, rapuh, namun teguh dalam kebenarannya yang pahit. Dia meletakkan kotak cincin di atas meja.

"Simpan ini. Atau buang. Terserah kamu," katanya. "Aku... aku butuh waktu. Untuk memproses. Proyek 'The Unseen Battle'... mungkin lebih baik aku mundur."

"Edo, jangan..."

"Aku tidak bisa, Amara," potongnya, suaranya tegas untuk pertama kalinya. "Batas-batasnya sudah kabur. Aku butuh jarak untuk mengklarifikasinya lagi."

Dia berjalan ke pintu, lalu berhenti. "Kau tahu, dalam semua pameran yang kukurasi, karya paling kuat selalu berasal dari tempat yang paling menyakitkan dan paling jujur. Malam ini, kau baru saja menciptakan mahakaryamu yang paling jujur. Sayangnya, mahakarya itu adalah penolakan terhadapku."

Tanpa menunggu jawaban, Edo keluar, menutup pintu dengan perlahan. Bunyinya seperti napas terakhir.

Amara terjatuh ke sofa, tubuhnya lunglai. Dia memandang vas berisi peony putih yang masih segar, lalu kotak beludru biru di meja. Rasa hampa yang luar biasa menelannya. Dia baru saja menolak tawaran kebahagiaan, dan yang tersisa hanyalah kebenaran yang sunyi dan menyakitkan: bahwa dia harus menghadapi dirinya sendiri, seorang diri.

 ---

Dua hari kemudian di Acara charity gala "L'Éclat for Luna" diadakan di ballroom hotel berbintang lima. Semuanya berkilauan: lampu kristal, perhiasan para tamu, senyuman yang disorotkan kamera. Val, sebagai dalang di balik layar, tampil sempurna dalam gaun panjang warna champagne, rambutnya disanggul tinggi, menjadi tuan rumah yang anggun sekaligus penuh kuasa.

Rafa, di sampingnya, mengenakan tuxedo yang dibuat khusus. Dia terlihat gagah, namun matanya seperti pelaut yang tersesat, terus mencari tanda darat. Tatapannya sering kali mengawasi Luna.

Luna, untuk pertama kalinya, tampil di acara semegah ini. Val sendiri yang memilihkan gaunnya: dress putih sederhana dengan sabuk satin biru, rambutnya dikepang rapi.

Dia terlihat seperti malaikat kecil yang rapuh. Dia diperintah untuk tersenyum, berjabat tangan, dan duduk manis di kursinya. Obat-obatan membuatnya sedikit mengantuk, dan keramaian membuatnya kewalahan, tapi dia berusaha keras untuk "membantu Papa".

Amara hadir, karena tidak mungkin tidak. Dia mengenakan jumpsuit hitam sederhana dengan potongan seperti baju kerja, tanpa perhiasan. Dia berdiri di pinggir, mengamati seperti seorang antropolog yang mempelajari ritual suku asing.

Tatapannya kosong ketika melihat Rafa dan Val berdampingan, tersenyum untuk kamera, dengan Luna di antara mereka. Potret keluarga baru. Palsu, tetapi sangat meyakinkan.

Acara berjalan lancar. Presentasi video yang menyentuh tentang perjuangan Luna (tanpa menyebut diagnosis spesifik, hanya "perjuangan melawan penyakit misterius"). Lalu, pemutaran pertama scarf edisi terbatas hasil kolaborasi L'Éclat dan "Fragments of Light".

Saat itu, kamera menyorot Amara. Dia dipaksa tersenyum tipis, merasakan mual yang sama seperti di pabrik NOVAE.

Puncak acara adalah ketika Rafa diminta berbicara. Dengan tangan sedikit gemetar, dia berdiri di podium.

"Terima kasih," suaranya pecah di awal, lalu menguat. "Malam ini bukan tentang saya. Ini tentang anak saya, Luna. Tentang keberaniannya yang membuat saya merasa sangat kecil."

Dia menatap Luna yang duduk di depan, dan untuk sesaat, semua kepura-puraan sirna. Hanya ada seorang ayah yang sangat mencintai anaknya.

"Perjalanan ini mengajarkan saya bahwa kekuatan sejati bukan tentang tidak pernah jatuh, tetapi tentang bangkit lagi setiap kali kita terhempas. Luna adalah guru saya."

Dia kemudian memuji tim medis, dan—seperti yang telah disarankan Val—dia berterima kasih pada Val. "Kepada Val, terima kasih untuk ketulusan hatimu dan untuk mewujudkan semua ini. Luna sekarang punya bibi yang hebat di hidupnya."

Sorak-sorai dan tepuk tangan. Val tersenyum, anggun mengangguk. Amara, di sudut ruangan, merasakan asam naik ke kerongkongannya. Bibi. Kata itu seperti pukulan.

Acara itu sukses besar secara finansial. Donasi mengalir deras. Scarf terjual habis dalam hitungan menit. Citra Rafa terangkat: dari pengusaha bermasalah menjadi ayah pahlawan. Citra Val sebagai filantropis cantik dan peduli semakin kuat.

Di akhir acara, saat tamu mulai bubar, Rafa mencari Amara. Dia menemukannya di teras, memandangi kota sendirian.

"Kau lihat? Luna hebat," ucap Rafa, berdiri di sampingnya.

"Ya. Dia selalu hebat," jawab Amara dingin. "Terlepas dari sirkus ini."

Rafa menghela napas. "Amara, aku tahu kau tidak setuju dengan semua ini. Tapi lihat hasilnya. Dana untuk Luna aman untuk waktu yang lama."

"Dan harga yang harus dibayar? Memperdagangkan wajahnya? Memperkenalkan Val sebagai 'bibinya'?" Amara menoleh, matanya menyala dalam gelap. "Kau tahu, Rafa, aku baru saja menolak lamaran Edo."

Rafa terkesiap, jantungnya berhenti berdetak sejenak. "Apa? Kenapa?"

"Karena aku tidak mencintainya. Karena aku tidak ingin menggunakan dia sebagai pelampung di tengah tenggelamku." Amara memandang Rafa dengan tatapan yang menusuk.

"Dan lihatlah kau di sana, berdiri di samping Val, memainkan peran keluarga bahagia. Apakah kau mencintainya? Atau dia hanyalah pelampungmu? Jembatan menuju hak asuh yang kau takuti kehilangan?"

Rafa merasa seperti ditampar. "Itu tidak adil, Amara. Aku hanya berusaha melindungi posisiku untuk Luna."

"Dan itulah perbedaan kita, Rafa," kata Amara, suaranya tiba-terasa lelah, tanpa amarah.

"Aku menolak pelampung karena aku ingin belajar berenang, meski mungkin tenggelam. Kau malah merangkul pelampung itu, dan menyeret Luna bersamamu ke dalam kapal yang mungkin salah arah."

Dia mengambil clutch hitam kecilnya. "Acaramu sukses. Selamat. Tolong antarkan Luna besok pagi ke apartemenku. Dia sudah sangat lelah."

"Amar, tunggu..."

Tapi Amara sudah berjalan pergi, gaun hitamnya menyatu dengan kegelapan malam. Rafa berdiri sendirian di teras, dihantam oleh dua fakta yang bertabrakan: kesuksesan acaranya yang gemilang, dan pengetahuan bahwa Amara telah menolak lamaran Edo.

Yang pertama terasa tiba-tiba kosong dan hampa. Yang kedua membangkitkan harapan liar yang segera dia pendam dalam-dalam, karena disertai dengan pertanyaan Amara yang mengganggu: Apakah kau mencintainya?

Dia melihat ke dalam ballroom. Val sedang membopong Luna yang tertidur di pangkuannya, tersenyum lembut pada seorang fotografer yang mengabadikan momen.

Pemandangan itu seharusnya menghangatkan hatinya, tetapi justru membuatnya merinding. Dia melihat pelampungnya, dan untuk pertama kalinya, bertanya-tanya apakah pelampung itu memiliki kait yang akan mengikatnya—dan Luna—pada dasar lautan yang tak pernah ia inginkan.

1
La Rue
Amara masih berat ujiannya, sabar ya Amar
La Rue
koq sama dengan kebiasaanku pensil bahkan sumpit biasanya jadi tusuk konde praktis 🤣🤣🤣🤣🤣
La Rue: aq bukan wonder woman seperti Amara 🤣
total 2 replies
La Rue
Babak baru bagi Amara dan Rafa akan dimulai,ehm kapan Rafa akan bertemu anaknya yang satu lagi, Adit ya kalau ndak salah ?
Bp. Juenk: soon kaka
total 1 replies
Ne Ajja
ka...aku mau tanya, kenapa Kaka pilih ngebahasain Luna manggil ke Gunawan pake "Mas"...?

karena kan jarak umur mereka jauh..

nanya aja koq 🫰
Bp. Juenk: di bab waktu sari memperkenalkan Gunawan ke Amara. memang dia di panggil nya Mas Wan Ka. kayak panggilan kecil gitu. 😄
total 1 replies
La Rue
Proud of you Luna and Amara 👏👏👏👏👏
Ne Ajja
ahhhh....big hug buat Luna...🤗🤗
Ne Ajja
tanggungan jawab kamu kaaa....
air mata aku ngalir nih...jadi bikin hidung mampet...😭😭....

cerita kamu bener2 bagus ka...
semangat nulisnya ya..semoga makin banyak yg baca karya kamu...
banyak sisi positif yg bisa diambil...
Bp. Juenk: siap terima kasih kaka, othor juga berkaca2 koq nulisnya 🙏
total 1 replies
sutiasih kasih
klo sdh bgini.... mau apa coba...
hncur ber keping"...
knapa sblm brtindak tak kaubfikirkn akibatnya rafa....
km org brpndidikn... punya karir cemerlang n tentunya bnyak dwit....
knapa km tak merangkul istrimu n mncari solusi yg trbaik n masuk akal....
eeeee mlah lbh milih lari ke pembantu...
yg bner aja rafa... msa iya km banting mental istrimu dgn brsaing sm pambantumu...🙄🙄
Ne Ajja
😭😭😭...
aku sampe ngga bisa berkata2
Ne Ajja
ahhhhh....
cerita kamu bener2 lhoo Kak.....
bikin hati aku mleyot2...
sedihnya dapat banget...

kadang.... keluarga tidak harus ada hubungan darah...😭😭
Bp. Juenk: thanks for support Kaka. 🙏
total 1 replies
sutiasih kasih
istri harus bersaing dgn pembantu....
rafa.... km mnggali kuburanmu sndiri....
brmain api pasti akn trbakar...
selingkuh = khilangan istrimu....
dasar suami tak tau diri🙄🙄
La Rue
penerimaan dan perdamaian dari masa lalu telah membuat mereka kuat untuk melanjutkan mimpi dan harapan. Senangnya melihat Amara, Luna, Rafa dan Gunawan.
Terimakasih author untuk rangkaian kisah Amara ini
Ne Ajja
kereennn..👍👍👍

beneran bagus lho ceritanya.. penggunaan kata2nya...😍😍...
Bp. Juenk: terima kasih kaka supportnya 🙏
total 1 replies
Yuki San
Mantap author, semangat terus berkarya nya 💪
Bp. Juenk: thanks supportnya kaka 🙏
total 1 replies
La Rue
I loved it 👍
La Rue
Amara kamu layak untuk bahagia 👍
Halwah 4g
ceritanya me nganu - nganu hatiku....gelo author nya..keren karya nya...di tunggu karya karya lainnya
Halwah 4g: sami sami kang author 💪
total 2 replies
La Rue
Oh My, Luna so sweet. Keep it up Amara 😊👍
La Rue
Hey,bagaimana bisa kau mengemas permasalahan dengan filosofi buah dan rempah² 🤔😁👏 Semangat untuk Amara 👍
Bp. Juenk: 🤭 thanks Kk,
total 1 replies
La Rue
Go Amara, find your way and catch your stars 👏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!