Di dunia di mana setiap tetes air mata dikonversi menjadi energi Qi-Battery, perang bukan lagi soal wilayah, melainkan bahan bakar eksistensi. Li Wei, sang "Pedang Dingin" dari Kekaisaran Langit, hidup untuk patuh hingga pengkhianatan sistem mengubahnya menjadi algojo yang haus penebusan. Di seberang parit, Chen Xi, mata-mata licik dari Konfederasi Naga Laut, dipaksa memimpin pemberontak saat faksi sendiri membuangnya sebagai aset kedaluwarsa.
Saat takdir menjebak mereka dalam reruntuhan yang sama, rahasia kelam terungkap: emosi manusia adalah ladang panen para penguasa. Di tengah hujan asam dan dentuman meriam gravitasi, mereka harus memilih: tetap menjadi pion yang saling membunuh, atau menciptakan Opsi Ketiga yang akan menghancurkan tatanan dunia. Inilah kisah tentang cinta yang terlarang oleh kode etik, dan kehormatan yang ditemukan di balik laras senjata. Apakah mereka cukup kuat untuk tetap menjadi manusia saat sistem memaksa mereka menjadi dewa perang tanpa jiwa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Eksekusi Sunyi
Suara serakan sepatu bot logam yang berat bergema di lorong pipa raksasa, menciptakan resonansi yang memekakkan telinga di ruang hampa Sektor B. Li Wei dan Chen Xi baru saja keluar dari uap metana yang menyesakkan di ruang kontrol pompa, namun ancaman di belakang mereka tidak menunjukkan tanda-tanda melambat. Udara di Pipa Induk ini terasa jauh lebih panas, dipenuhi oleh deru turbin raksasa yang memutar limbah kimia menuju pusat pengolahan.
"Tunggu, Li Wei. Jangan bergerak," bisik Chen Xi sambil menahan lengan zirah Li Wei yang bergetar.
Li Wei berhenti, napasnya terdengar berat dan tersengal melalui filter masker yang sudah hampir habis masa pakainya. "Dia ada di sana, bukan?"
"Dua puluh meter di depan, di atas jembatan penghubung turbin," jawab Chen Xi. Ia mengaktifkan analisis spasial pada perangkat di lengannya, memancarkan pendar ungu tipis yang menyapu kegelapan. "Sensor suhunya sedang memetakan uap panas di sekitar kita. Dia tahu kita di sini."
Dari kegelapan di atas mereka, sesosok bayangan melompat turun dengan dentuman yang menggetarkan lantai besi jembatan. Sersan Han berdiri di sana, zirah hijaunya yang dulu melambangkan kehormatan Sektor 7 kini tampak seperti cangkang monster. Pendar merah di matanya tidak lagi berkedip; cahaya itu membara statis, memancarkan aura dingin yang kontras dengan uap panas di sekitarnya.
"Li Wei... target... utama... eliminasi," suara Han keluar seperti gesekan logam yang berkarat.
"Han! Lihat aku!" teriak Li Wei, suaranya parau karena rasa sakit di kakinya yang retak kembali berdenyut. "Ini aku, Komandanmu! Kita pernah berjanji untuk tetap menjadi manusia di tengah perang ini, ingat?"
Han sedikit memiringkan kepalanya, sebuah gerakan mekanis yang patah-patah. "Memori... terdeteksi... enkripsi... menghapus..."
"Dia sedang dipaksa oleh sistem, Li Wei!" Chen Xi menarik Yan-Zuo, bilah pedang ungunya bergetar menciptakan dengungan frekuensi tinggi. "Chip di tengkuknya sedang membakar sarafnya untuk meningkatkan output kekuatan ke Level 3. Jika kau tidak bertindak, dia akan meledakkan jantungnya sendiri hanya untuk membunuhmu."
"Aku tidak bisa membunuhnya, Chen Xi. Dia memapahku saat di parit Sektor 7, dia memberikan ransum terakhirnya padaku!" Li Wei menggenggam gagang Bailong-Jian, namun bilahnya belum berpendar biru.
"Dan sekarang dia akan merobek lehermu karena perintah dari orang yang kau sebut Jenderal!" balas Chen Xi tajam. "Pilih, Li Wei! Martabatmu sebagai sahabat atau nyawa kita semua!"
Han menerjang dengan kecepatan yang melampaui batas manusia biasa. Sebuah pipa besi raksasa diayunkannya dengan satu tangan, menghantam lantai besi tempat Li Wei berdiri hingga melengkung. Li Wei berguling ke samping, merasakan hawa panas dari turbin yang membakar zirah punggungnya.
"Han, kumohon! Lawan itu!" Li Wei bangkit dengan tertatih, pedangnya masih tersarung.
"Sistem... prioritas... eksekusi..." Han mencengkeram leher Li Wei dengan kekuatan hidrolik yang luar biasa. Li Wei merasa oksigen di otaknya menipis seketika. Di dalam jarak sedekat itu, ia bisa melihat pupil mata Han yang bergetar hebat di balik pendar merah chip—sebuah jeritan tanpa suara dari kesadaran yang terperangkap.
"Biarkan... aku... mati..." rintih Han secara tiba-tiba, suaranya sangat kecil, hampir tenggelam oleh deru mesin. "Bunuh... aku... Wei..."
Mata Li Wei membelalak. Rasa perih yang bukan berasal dari luka fisik menjalar di dadanya. Itulah saat di mana ia menyadari bahwa Han masih ada di sana, menderita dalam penjara saraf yang diciptakan oleh Kekaisaran.
"Sialan kau, Zhao Kun!" geram Li Wei.
Tiba-tiba, pendar merah di tengkuk Han berdenyut liar, menyebarkan gelombang listrik yang membuat Han berteriak kesakitan sebelum kembali menjadi robot pembunuh yang dingin. Ia mengangkat Li Wei dan melemparkannya ke arah pipa uap yang bocor.
"Li Wei!" Chen Xi melompat, menebas udara dengan Yan-Zuo untuk mengalihkan perhatian Han. Percikan energi ungu menghantam zirah Han, namun Han bahkan tidak berkedip. Ia menghantam Chen Xi dengan punggung tangannya, mengirim wanita itu tersungkur ke tumpukan kabel yang dialiri arus bocor.
Li Wei melihat Chen Xi yang lemas dan Han yang mulai mengangkat senjatanya ke arah wanita itu. Di dalam kepalanya, suara detak jantungnya sendiri terdengar seperti dentuman genderang perang. Batasan sarafnya mulai terasa panas—sebuah fenomena yang ia kenal sebagai awal dari Neural Overclock.
"Kau ingin aku menjadi algojo?" bisik Li Wei pada dirinya sendiri. Tangannya yang gemetar kini mencengkeram Bailong-Jian dengan kepastian yang mematikan. "Baiklah. Aku akan menjadi algojo, tapi bukan untuk kalian."
Cahaya biru yang menyilaukan meledak dari bilah pedang Li Wei. Bukan biru pucat seperti biasanya, melainkan biru elektrik yang pekat, menandakan sinkronisasi saraf yang melampaui batas keamanan L4. Inilah saat pertama kalinya Dragon Heart di dalam dirinya mulai terbangun, merespons rasa sakit dan murka yang teramat dalam.
"Target... terdeteksi... ancaman... Level 4 Plus..." sistem di dalam zirah Han memperingatkan.
Li Wei bergerak. Dalam persepsinya, waktu seolah melambat. Ia bisa melihat setiap tetes air limbah yang melayang di udara, setiap percikan api dari turbin, dan setiap getaran pada kabel saraf di leher Han. Ia tidak menyerang dada atau kepala; ia membidik titik pusat chip di tengkuk Han.
"Maafkan aku, sahabatku," ucap Li Wei, suaranya terdengar dingin dan datar, seolah-olah sebagian dari dirinya telah membeku selamanya.
Bailong-Jian menebas udara, meninggalkan jejak cahaya biru yang membekas di retina mata siapa pun yang melihatnya. Bilah pedang itu memotong pipa uap sebagai pengalih, menciptakan kabut putih yang membutakan, sebelum akhirnya ujung pedangnya menembus tepat ke pusat perangkat di leher Han.
Benturan logam dan energi meledak di tengah pipa induk. Han terhenti seketika. Pendar merah di matanya padam, digantikan oleh kegelapan yang sunyi. Tubuhnya limbung, jatuh ke dalam pelukan Li Wei.
Tubuh Han meluruh ke lantai jembatan besi yang panas dengan suara dentingan logam yang pilu. Li Wei segera berlutut, menopang punggung sahabatnya itu agar kepalanya tidak menghantam jeruji yang dialiri listrik statis. Bailong-Jian miliknya masih berpendar biru elektrik yang tajam, menerangi wajah Han yang kini tampak begitu damai sekaligus hancur. Chip di tengkuk Han mengeluarkan asap abu-abu kecil, mendesis seperti suara pemangsa yang baru saja kehilangan inangnya.
"Han? Han, dengarkan aku!" Li Wei melepaskan masker zirahnya, membiarkan uap panas menyapu wajahnya yang kini basah oleh keringat dan air mata.
Mata Han terbuka perlahan. Pendar merah mekanis itu telah hilang, menyisakan sepasang mata manusia yang redup dan dipenuhi kabut kesakitan. "Wei...?"
"Ya, ini aku. Aku di sini," bisik Li Wei. Tangannya yang gemetar menggenggam tangan zirah Han yang kasar.
"Terima... kasih..." Han batuk, memuntahkan cairan hitam yang bercampur darah dari mulutnya. "Sistem itu... sangat bising... Wei. Sekarang... akhirnya sunyi."
Chen Xi mendekat dengan langkah tertatih, menunduk menatap mereka berdua dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia tidak mengatakan sepatah kata pun untuk mengejek atau memberikan instruksi taktis. Keheningan di antara mereka hanya dipecah oleh deru turbin di bawah jembatan yang seolah-olah sedang meratapi kepergian seorang prajurit.
" Wei... di sakuku... ambil..." Han berbisik dengan tenaga terakhirnya.
Li Wei meraba saku zirah Han yang sudah koyak dan menemukan foto tim lama yang tadi sempat terjatuh di gorong-gorong. Foto itu kini basah dan sebagian warnanya luntur oleh limbah kimia. Han tersenyum tipis melihat foto itu. "Kita... bukan salinan yang salah... kan?"
"Bukan, Han. Kalian adalah kebenaran yang mereka coba hapus," jawab Li Wei, suaranya tercekat di tenggorokan.
Tangan Han yang menggenggam lengan Li Wei perlahan mengendur. Napasnya yang pendek dan patah-patah akhirnya terhenti sepenuhnya. Sersan Han, prajurit yang pernah bermimpi untuk melihat langit biru tanpa polusi di Sektor 7, tewas di pelukan sahabatnya sendiri di tengah kegelapan pipa induk.
Li Wei terdiam dalam keheningan yang menyesakkan. Rasa panas di dadanya tidak kunjung padam; justru semakin membara, menyatu dengan frekuensi Dragon Heart yang baru saja bangkit. Ia merasa setiap sel di tubuhnya berdenyut dengan energi yang lebih murni, namun juga lebih dingin.
"Li Wei, kita harus pergi," ucap Chen Xi pelan, tangannya menyentuh bahu Li Wei. "Sensor panas zirahmu mulai memicu alarm drone keamanan otomatis di sektor ini."
"Beri aku satu menit," jawab Li Wei datar. Suaranya tidak lagi bergetar. Emosinya seolah-olah telah diserap oleh pedangnya.
Ia menarik chip saraf dari tengkuk Han dengan satu gerakan sentakan yang bersih. Perangkat kecil berlumuran darah itu bergetar di telapak tangannya. Tiba-tiba, chip itu memancarkan proyeksi holografis kecil yang hanya bisa dilihat oleh pengguna dengan sinkronisasi saraf tinggi.
Sebuah suara statis muncul dari chip tersebut: "Subjek 09... Status: Terminasi... Lokasi Ekstraksi Terakhir: Sektor Zona Kumuh... Bengkel Xiao Hu..."
Li Wei terpaku. Nama itu. Nama yang juga muncul di dalam penguncian radar saat mereka di menara sinyal. "Xiao Hu... dia adalah kuncinya."
"Dronenya datang!" Chen Xi menarik paksa Li Wei berdiri saat suara desing mesin terbang mulai memenuhi terowongan.
Li Wei menatap tubuh Han untuk terakhir kalinya. Ia tidak bisa membawa jenazah itu bersamanya, namun ia bersumpah di dalam batinnya bahwa darah yang tumpah di pipa ini akan menjadi bayaran awal bagi kehancuran Zhao Kun.
"Hancurkan pipa uap di sebelah kiri, Chen Xi! Kita gunakan ledakan tekanan tinggi untuk menutup jejak kita," perintah Li Wei. Nada bicaranya kini instruktif, menyerupai seorang komandan yang telah kehilangan segalanya.
Chen Xi tidak membantah. Ia melempar granat pulsa kecil ke arah katup induk turbin. "Lompat sekarang!"
Ledakan dahsyat mengguncang pipa induk. Uap panas bersuhu ribuan derajat menyembur keluar seperti naga putih yang mengamuk, menelan drone-drone keamanan dan mengaburkan pandangan siapa pun yang mencoba melacak mereka. Di tengah reruntuhan yang membara, Li Wei dan Chen Xi menghilang ke dalam celah pembuangan yang menuju ke arah permukaan Megacity.
Berjalan menjauh, Li Wei tidak menoleh ke belakang. Di tangannya, ia menggenggam chip Han dengan erat hingga sudut-sudut tajam logamnya melukai telapak tangannya. Ia telah menjadi algojo bagi sahabatnya, dan sekarang, ia akan menjadi algojo bagi seluruh sistem yang menciptakan tragedi ini.
"Aku bukan lagi prajurit Kekaisaran, Chen Xi," ucap Li Wei saat mereka merayap keluar menuju udara malam yang dingin di pinggiran kota.
"Aku tahu," jawab Chen Xi pendek. "Selamat datang di sisi gelap, Li Wei."