NovelToon NovelToon
Rahasia Jarum Naga Emas

Rahasia Jarum Naga Emas

Status: sedang berlangsung
Genre:Raja Tentara/Dewa Perang / Dokter Ajaib / Ahli Bela Diri Kuno / Roh Supernatural / Mata Batin / Mengubah Takdir
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: O'Liong

Fauzan Arfariza hanyalah seorang mahasiswa tingkat awal, hidup sederhana dan nyaris tak terlihat di tengah hiruk-pikuk kota. Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit, ia menelan harga diri dan berjuang mengumpulkan uang pengobatan, satu demi satu, di bawah terik dan hujan tanpa keluhan.

Namun takdir kejam menantinya di sebuah persimpangan. Sebuah mobil melaju ugal-ugalan, dikemudikan oleh seorang wanita yang mengabaikan aturan dan nyawa orang lain.

Dalam sekejap, tubuh Fauzan Arfariza terhempas, darah membasahi aspal, dan dunia seolah runtuh dalam kegelapan. Saat hidup dan mati hanya dipisahkan oleh satu helaan napas, roda nasib berputar.

Di ambang kesadaran, Fauzan Arfariza menerima warisan agung Pengobatan Kuno—sebuah pengetahuan legendaris yang telah tertidur selama ribuan tahun. Kitab suci medis, teknik penyembuhan surgawi, dan seni bela diri kuno menyatu ke dalam jiwanya.

Sejak hari itu, Fauzan Arfariza terlahir kembali.
Jarum peraknya mamp

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon O'Liong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tyrannosaurus Betina

Jeritan itu menggema di udara, memanjang dan mengguncang, seperti lolongan binatang yang disembelih di rumah jagal tanpa belas kasihan.

Mat Codet—seorang pria bertubuh besar dengan bekas luka melintang di wajahnya—merasakan seolah-olah seluruh tubuhnya sedang ditusuk, diinjak, dan dihancurkan oleh tumit sepatu tinggi yang keras dan dingin. Setiap hentakan kaki itu mendarat dengan presisi yang mengerikan, menghantam titik-titik vital yang membuat sarafnya seakan terbakar dari dalam. Energi di tubuhnya kacau balau. Napasnya tersendat, matanya memerah, dan teriakannya berubah menjadi rintihan parau yang menyedihkan.

“Aaaargh… hentikan… hentikan…!”

Namun permohonannya tenggelam dalam deru kekerasan yang tak memberi ruang belas kasihan.

Orang-orang di sekitar membeku di tempat mereka berdiri. Tak satu pun berani bergerak, apalagi ikut campur. Beberapa bahkan tanpa sadar mundur selangkah demi selangkah, seolah takut aura keganasan itu ikut menyambar mereka.

Tak ada yang menyangka bahwa gadis yang berdiri di sana—berwajah cantik, berkulit cerah, bertubuh ramping, dan berpenampilan anggun—akan menjelma menjadi sosok sebuas ini. Dalam sekejap, citra lembut itu runtuh, digantikan oleh tekanan dingin yang menyesakkan dada.

Dialah Karaeng Fatimah.

Tatapannya setajam bilah Pedang yang terhunus, penuh dominasi, tanpa ragu, tanpa simpati.

Seorang perempuan yang, ketika kemarahannya bangkit sepenuhnya, pantas disebut Tyrannosaurus Betina.

“Berhenti… berhenti sekarang juga!” teriak Mat Codet dengan suara gemetar, berusaha menahan rasa sakit yang membuat kepalanya berdengung hebat. “Aku orangnya Tony Ahda! Kau dengar itu? Tony Ahda! Jika kau berani memukulku lagi, kau tidak akan sanggup menanggung konsekuensinya!”

Nama itu dilontarkan dengan sisa-sisa kesombongan terakhir, seperti jimat pelindung yang selama ini selalu berhasil menyelamatkannya dari masalah apa pun.

Dan memang—

Gerakan Karaeng Fatimah terhenti.

Tumit sepatunya yang terangkat perlahan turun ke lantai. Keheningan mendadak menyelimuti tempat itu.

Mat Codet terengah-engah, dadanya naik turun. Wajahnya yang semula terdistorsi rasa sakit kini menunjukkan secercah harapan. Dalam benaknya, ia yakin ancaman itu berhasil. Bahkan bibirnya sempat membentuk senyum tipis penuh kemenangan.

“Bagus… bagus… kau pintar,” katanya terputus-putus. “Sekarang lepaskan aku. Kita bisa bicarakan ini baik-baik.”

Namun sebelum kata-kata itu benar-benar selesai—

Klik!

Suara logam yang dingin dan tegas bergema di pergelangan tangannya, memutus semua ilusi dalam sekejap.

“Sudah berakhir,” ucap Karaeng Fatimah dengan suara datar, tanpa getaran emosi sedikit pun.

Mat Codet membeku.

Matanya melebar, napasnya tercekat. Saat ia menunduk dan melihat borgol yang mengikat tangannya, seolah seluruh dunia runtuh di hadapannya. Darah di wajahnya seketika surut, meninggalkan kepucatan yang mengerikan.

“Tidak… tidak mungkin…” gumamnya lirih, hampir tak terdengar.

Baru saat itulah ia menyadari kenyataan yang paling menakutkan.

Perempuan ini bukan sekadar wanita biasa.

Bukan pula preman yang lebih kejam dari dirinya.

Perempuan ini adalah seorang petugas polisi.

“Bawa mereka semua,” perintah Karaeng Fatimah singkat sambil mengeluarkan ponselnya. “Tidak ada yang tertinggal.”

Panggilan itu berlangsung cepat, dingin, efisien.

Tak lama kemudian, suara sirene memecah udara. Lima hingga enam mobil polisi meluncur deras ke lokasi, lampu biru-merahnya berkilat menyilaukan. Para preman yang tersisa tak berani melawan. Satu per satu mereka diborgol, wajah-wajah penuh ketakutan dan penyesalan digiring menuju kendaraan.

Di tengah hiruk-pikuk itu, Fauzan Arfariza melangkah maju dengan langkah tenang. Sorot matanya tajam, namun raut wajahnya santai, seolah kejadian barusan hanyalah riak kecil dalam hidupnya.

“Kemenakanku yang cantik,” ucapnya ringan, “kau benar-benar luar biasa. Masalah Paman bisa kau selesaikan dengan begitu cepat.”

Ucapan itu justru membuat dada Karaeng Fatimah bergetar hebat. Energi Vital dalam tubuhnya bergejolak, hampir meluap keluar.

Ia menoleh tajam.

“Kamu…” katanya tertahan, jelas menahan diri agar tidak meledak lagi.

Ia datang untuk menegakkan hukum, bukan untuk menjadi alat orang ini. Namun kenyataannya selalu sama. Setiap kali Fauzan muncul, ia seolah terseret ke dalam pusaran masalah yang tak pernah sederhana.

Dan yang lebih membuatnya kesal—ia selalu ikut terlibat membantu.

“Jangan terlalu cepat merasa lega,” katanya dingin. “Kau ikut denganku.”

Fauzan mengangkat alis, pura-pura heran. “Aku tidak melanggar hukum apa pun. Atas dasar apa kau menyuruhku ikut?”

“Orang-orang itu datang mencarimu,” jawab Karaeng Fatimah tegas. “Itu sudah cukup alasan. Kau harus kembali dan bekerja sama dalam penyelidikan.”

Sebelum Fauzan sempat membalas, pintu restoran terbuka.

Masni Mulyadi melangkah keluar dengan tas kanvas di tangannya. Tatapannya menyapu keadaan sekitar, lalu berhenti pada Karaeng Fatimah. Sesaat kemudian, ia menarik tangan Fauzan dengan ekspresi campur aduk antara khawatir dan penasaran.

“Nak,” katanya perlahan namun jelas, “apa yang barusan Ibu dengar itu benar? Apakah gadis ini pacarmu?”

Fauzan terkejut setengah mati. “Ibu, tidak! Kami tidak punya hubungan apa pun.”

Masni menatapnya tajam. “Kau kira Ibu sudah setua itu sampai pendengaranku rusak? Aku mendengarnya dengan jelas.”

“Itu hanya tipu daya,” Fauzan berusaha tersenyum. “Untuk menakut-nakuti mereka.”

Masni menghela napas pelan, lalu menggeleng. “Ibu rasa kau malah menipu Ibu.”

Ia melangkah mendekat ke Karaeng Fatimah, senyumnya lembut namun matanya penuh selidik.

“Nak, katakan sejujurnya. Apakah kamu sedang berkencan dengan Fauzan anak ibu?”

“Eh… a-anu… Bibi…”

Karaeng Fatimah, yang tadi tanpa ragu menghancurkan preman bertubuh besar, kini mendadak kaku. Wajahnya memerah hingga ke telinga. Lidahnya terasa kelu.

“Tidak… tidak seperti itu…”

Penolakan yang terbata-bata itu justru terdengar manis di telinga Masni.

“Ah, anak muda memang begitu,” katanya sambil tersenyum penuh arti. “Malu-malu. Ibu mengerti. Fauzan itu anak yang baik, bertanggung jawab, dan—”

“Ibu!” Fauzan buru-buru memotong. “Ini sungguh tidak seperti yang Ibu bayangkan. Kita harus pergi sekarang.”

Masni akhirnya menyadari ketegangan di sekitar mereka. Ia mengangguk pelan. “Baiklah. Ibu sudah siap.”

Sebelum berpisah, Karaeng Fatimah menatap Fauzan lurus ke mata.

“Demi Bibi,” katanya dingin, “aku beri kau waktu satu jam. Jika kau tidak melapor, aku sendiri yang akan datang dan menangkapmu.”

Fauzan tersenyum kecut. “Baik… baik, Karaeng.”

Setelah mengantar ibunya kembali ke Pasar Baru, Fauzan segera memanggil taksi dan melaju menuju Departemen Kepolisian Kriminal Kota Jakarta. Begitu memasuki halaman kantor, ia langsung merasakan atmosfer yang berat, seolah bayangan gelap menggantung di udara.

Wajah-wajah para polisi tampak muram, langkah mereka cepat namun tegang.

Di ruang Wakil Kapten, Karaeng Fatimah baru saja menutup telepon. Tanpa penjelasan, ia menarik lengan Fauzan.

“Cepat ikut aku.”

“Ke mana lagi?” Fauzan mengernyit.

“Darurat. Aku jelaskan di mobil.”

Mobil sport itu melesat menembus jalanan kota. Lampu-lampu malam berpendar seperti garis-garis cahaya.

“Kita akan menyelamatkan orang,” ujar Karaeng Fatimah akhirnya. “Tiga rekanku koma. Kondisinya kritis.”

Ia lalu menceritakan Komunitas Orang Kapal, kawasan yang seharusnya menjadi surga hunian, namun berubah menjadi ladang kegilaan dan kematian.

Pembunuhan brutal. Kegilaan mendadak. Bunuh diri beruntun.

Pola yang sama.

Energi yang sama.

Fauzan menyipitkan mata. Getaran halus di Energi Murni dalam dantiannya berdenyut pelan, seolah memberi peringatan.

“Ini bukan penyakit biasa,” katanya pelan. “Ada sesuatu yang bersembunyi… sangat dalam.”

Karaeng Fatimah menatapnya tanpa berkedip. “Bisakah kau menyembuhkannya?”

Fauzan tersenyum tipis. Sorot matanya tajam seperti Pedang yang siap menebas kegelapan.

“Jika ini penyakit manusia, aku akan menyembuhkannya,” ucapnya mantap.

“Namun jika ini ulah sesuatu yang merusak keseimbangan dan kestabilan tubuh…”

Mobil itu terus melaju, membawa mereka menuju sebuah kebenaran yang jauh lebih kelam daripada yang pernah mereka bayangkan.

1
Achmad
gasss thor
Achmad
semangat Thor
Achmad
semangat Thor
Achmad
semangat Thor lanjut jangan pernah kendor
culuns
ini cerita Indonesia apa cina kok campur2
Nanang: translit ing
total 1 replies
Hary
PEREMPUAN MA GAMPANG, yg SUSAH itu DUIT...!!!
MOTTO : Menghadapi wanita tidak tau diri
KENAL, PIKAT, SIKAT, MINGGAT
O'Liong: ➕2️⃣1️⃣🤭
total 1 replies
sitanggang
novelnya mirip bgt, kek sebelah...tapi disebelah pakai nama china/Korea gitu. 🫣🫣
O'Liong
Sip
O'Liong
😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!