"Kau benar-benar anak tidak tahu diuntung! Bisa-bisanya kau mengandung anak yang tak jelas siapa ayah biologisnya. Sejak saat ini kau bukan lagi bagian dari keluarga ini! Pergilah dari kehidupan kami!"
Liana Adelia, harus menelan kepahitan saat diusir oleh keluarganya sendiri. Ia tak menyangka kecerobohannya satu malam bisa mendatangkan petaka bagi dirinya sendiri. Tak ingin aibnya diketahui oleh masyarakat luas, pihak keluarga dengan tega langsung mengusirnya.
Bagaimana kehidupan Liana setelah terusir dari rumah? Mungkinkah dia masih bisa bertahan hidup dengan segala kekurangannya?
Yuk simak kisahnya hanya tersedia di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Aku Akan Bertanggungjawab
Bola mata Liana terbelalak, terkejut. "Apa? Jadi orang yang ada bersama saya waktu itu adalah anda?" Sebenarnya ia sudah mulai curiga semenjak Dion mengatakan bahwa kejadian waktu itu bertepatan dengan Reynan menginap di hotel Permai, tapi ia berusaha untuk membuang pikiran negatif mengenai pria itu. Ia tak berani menuduh tanpa memiliki bukti yang kuat, ditambah lagi dengan Reynan memintanya untuk datang ke kamar 305, rasa kecurigaannya semakin besar.
"Iya Liana, pria yang bersamamu waktu itu adalah aku sendiri. Tapi jujur aku tidak ada niatan untuk melecehkanmu. Saat aku masuk kamar dalam keadaan mabuk, aku mendapati keberadaan seorang wanita tengah tidur di ranjang, dan aku pikir dia wanita yang sudah ku pesan untuk melayaniku, ternyata bukan, wanita yang ku pesan terlambat, tidak kunjung datang."
Liana mengatupkan bibirnya. "Ini tidak mungkin! Mana mungkin anda pelakunya? Selama bertahun-tahun kenapa baru terungkap sekarang? Kenapa selama ini anda diam saja, Pak!"
"Saya bahkan baru mengetahuinya. Kalau saya tahu dari dulu tentu saya sudah bertanggungjawab untuk menikahimu," bantah Reynan. "Perlu kamu ketahui saja, selama ini saya tidak diam saja. Saya mencari jejaknya yang hilang. Bahkan cctv yang ada di hotel itu juga rusak," tambahnya lagi. "Kalau kamu nggak percaya kamu tanya aja sama Dion. Dia tahu semuanya tentangku!"
Liana membuang muka dengan mengusap air matanya yang tak berhenti menetes. Ia tak bisa mengambil tindakan apapun untuk situasi saat ini.
"Liana, aku benar-benar minta maaf atas kejadian itu. Sungguh aku sangat menyesal. Meskipun aku tahu itu bukan kesalahanku sepenuhnya, aku tetap akan mempertanggungjawabkan perbuatanku."
Reynan mendekat hingga menyisakan beberapa sentimeter saja. Tangan kanannya meraih lembut dan menggenggam tangan Liana. Tatapannya begitu tulus menyesali perbuatannya.
"Bapak ini berarti sudah sangat pengalaman," cibir Liana.
Reynan mengerutkan keningnya. "Pengalaman apa maksud kamu?"
"Ya pengalaman celup sana celup sini," bantahnya tak lagi sopan. Liana tak peduli dengan celetukannya yang lumayan kasar dan kurang sopan, tapi di situ ia benar-benar tak bisa membendung emosinya.
Reynan menahan untuk tidak tertawa. Semua wanita pasti bakalan berpikir seperti itu, apalagi ia memiliki kedudukan yang tinggi dan juga memiliki paras yang tampan, wanita manapun tentu tak bisa menolak pesonanya.
"Kamu berlebihan menikahiku, aku bahkan cuma sekali aja melakukannya, dan itu sama kamu doang. Bahkan sekarang aku sudah lupa seperti apa rasanya."
Blus,, wajah Liana seketika bersemu merah jambu. Dia dibuat salah tingkah dengan jawaban Reynan.
"Bohong! Semua pria juga gitu! Nggak pernah jujur. Biasanya yang pura-pura cupu ternyata suhu," celetuknya dengan mengedarkan pandangannya ke arah lain.
"Suhu apaan? Aku bahkan terpaksa melakukannya karena tidak bisa menahannya. Aku pikir malam itu tidur sama cewek panggilan, ternyata pas paginya aku ngelihat bercak merah di sprei. Aku terkejut, tak kusangka yang aku tiduri ternyata masih perawan, tapi sayangnya dia pergi sebelum aku sempat kenalan sama dia."
Reynan lega saat tahu wanita yang bersamanya waktu itu adalah Liana, wanita cantik yang beberapa hari terakhir ini selalu mengganggu pikirannya. Kini ia berupaya keras agar wanita itu mau memaafkannya, terlebih lagi mau menerima pertanggungjawabannya.
"Anda tahu tidak! Gara-gara anda saya diusir dari rumah. Saya tidak diakui keluarga lagi. Saya kelantungan seperti orang gila, Pak!" Liana masih ingat betul bagaimana ia diseret keluar dari dalam rumah dengan kopernya dilempar keluar tanpa rasa iba. Bukan hanya kehilangan kepercayaan saja, ia juga kehilangan semangat hidup. "Kalau tidak ada kak Dion yang membantu saya, entah bagaimana nasib saya."
"Maaf..., aku benar-benar minta maaf. Aku benar-benar menyesal. Aku sampai bersumpah tidak akan menikah sebelum bertemu dengan wanita itu."
Bola mata Liana membulat lebar mendengar penjelasan pria itu. Benarkah seperti itu? Atau itu hanya sebuah taktik untuk bisa mendapatkan maaf darinya? 'pikirnya tak percaya'
"Liana, kamu mau kan, maafin aku? Aku akan tebus semua kesalahanku," celetuk Reynan dengan menggenggam erat tangannya. Di situ Liana masih bimbang. Haruskah ia dengan mudah memberinya maaf setelah bertahun-tahun menderita seorang diri? Selama ini ia sudah bekerja keras sendirian hanya untuk bertahan hidup bersama kedua putranya. Selama ini tidak ada peran ayah ataupun seorang suami yang menguatkannya. Haruskah ia melupakan rasa pahitnya begitu saja?
Perlahan Liana melepaskan genggaman tangannya. Dia mengulas senyuman tipis dan berkata. "Pak, anda iji seorang pemimpin. Anda memiliki kedudukan yang tinggi sebagai direktur perusahaan. Apakah anda tidak malu merendahkan diri meminta maaf pada seorang wanita seperti saya? Bukankah dulu bapak sudah memesan wanita penghibur? Jika bapak merasa sudah membelinya kenapa harus minta maaf?"
Liana melangkah mundur beberapa jengkal. Ia benar-benar tak tahu tindakan apa yang akan dilakukannya. Ia mulai khawatir jika Reynan memiliki niatan untuk mengambil si kembar darinya.
"Pak, izinkan saya pergi dari sini. Saya sudah cukup lama berada di sini. Lagi pula tidak ada lagi yang perlu kita bahas." Dia berusaha terlihat begitu tegar meskipun sebenarnya sangatlah rapuh.
"Liana, kamu benar-benar nggak mau maafin aku?" Enam tahun setelah kejadian itu ia putuskan untuk tetap menyendiri tak pernah ada niatan untuk bermain-main dengan wanita lain. Ia bahkan selalu berharap wanita itu muncul dan memberinya maaf.
"Seandainya saja hal ini terjadi pada bapak ataupun keluarga bapak apa yang akan bapak lakukan? Apa bapak akan diam dan menganggap tidak pernah terjadi apa-apa? Apa bapak bakalan memaafkan karena dianggap kewajaran? Gara-gara anda hidup saya hancur berkeping-keping Pak! Apa bapak pikir semua itu bisa ditebus dengan kata maaf?"
Liana yang dulunya begitu pendiam dan penakut kini berubah drastis setelah tersingkirkan dari kehidupan keluarganya. Dion lah yang mengajarinya untuk berani melawan. Banyak hal yang didapat setelah bersama dengan Dion, mulai dari ketenangan, perhatian, dan tentu perlindungan. Ya, meskipun ia dikirim ke luar negeri untuk meneruskan kuliah dan melahirkan bayinya, tapi Dion tetap memantau dan memberinya perlindungan.
"Iya Liana, aku tahu kamu tak mudah untuk memberikan maaf buat aku, tapi ini juga demi anak-anak kita. Mereka butuh sosok ayah, tentu kamu tidak akan sanggup membesarkannya sendirian. Izinkan aku untuk menebusnya dengan menikahimu. Aku janji, setelah ini hidupmu tidak akan kesulitan lagi."
Liana menarik ujung bibirnya. "Anak? Anak mana yang anda maksud?"
"Ya siapa lagi kalau bukan si kembar. Mereka itu anak kandungku. Sudah seharusnya mereka hidup nyaman bersamaku."
Liana menatapnya sinis sembari berkata. "Percaya diri sekali anda meyakini kalau anak-anak saya adalah anak kandung anda. Mereka bukan darah daging anda pak, dan anda tidak perlu mempersulit diri untuk menanggung biaya hidup mereka."
"Liana! Apa maksudmu? Jelas-jelas kamu bilang sendiri kalau kamu cuma melakukannya sekali dan itu bersamaku. Bagaimana kau bisa bilang kalau mereka bukan darah dagingku?"