Alana, pewaris tunggal imperium properti, menemukan fakta bahwa sahabat yang ia biayai kuliahnya, Siska, adalah wanita simpanan ayahnya sendiri. Apa yang dimulai sebagai drama perselingkuhan berkembang menjadi perang dingin perebutan warisan, rahasia korporasi, dan manipulasi psikologis di mana Alana harus menghancurkan dua orang yang paling ia cintai untuk bertahan hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Di Balik Pintu Mahoni
Gedung Wardhana Group berdiri angkuh di pusat segitiga emas Jakarta, memantulkan silau matahari siang melalui ribuan panel kacanya. Namun, bagi Alana, gedung ini bukan lagi simbol kebanggaan keluarga. Ini adalah benteng musuh. Tempat di mana ayahnya bermain peran sebagai raja, dan Siska—sahabat yang kini menjadi parasit—mulai menancapkan kukunya.
Alana melangkah masuk ke lobi. Hawa dingin dari pendingin ruangan sentral langsung menusuk kulit, kontras dengan terik matahari di luar. Ia mengeratkan pegangan pada tali tas kanvasnya—tas pengganti setelah ia menjual tas tangan peninggalan ibunya demi membayar jasa Burhan, pengacara yang kini menjadi satu-satunya harapan.
Kata-kata Burhan kemarin sore masih terngiang jelas di kepalanya.
*"Buktikan kalau uang perusahaan mengalir ke rekening wanita itu, Alana. Perselingkuhan adalah masalah moral, tapi penggelapan uang adalah pidana. Itu satu-satunya cara kita bisa menekan ayahmu tanpa harus menunggu pembagian warisan yang tidak pasti."*
Alana bukan akuntan, apalagi detektif. Tapi ia tahu satu hal: Hendra Wardhana adalah orang tua yang gagap teknologi. Ayahnya tidak percaya pada *cloud storage* atau *soft copy*. Semua hal penting selalu dicetak, ditandatangani dengan pena tinta basah, dan disimpan di ruang kerjanya.
Lift berdenting di lantai 25. Lantai eksekutif.
Pemandangan pertama yang menyambut Alana adalah Siska yang sedang berdiri di dekat mesin kopi, dikelilingi tiga staf junior. Siska mengenakan blus sutra berwarna *champagne*—terlalu mewah untuk ukuran staf magang, namun pas untuk seorang simpanan bos besar. Ia tertawa renyah, sebuah tawa yang dibuat-buat, sambil menunjuk layar ponselnya.
"Iya, Pak Hendra memang sebaik itu," suara Siska terdengar, sengaja dikeraskan saat melihat pintu lift terbuka. "Kemarin dia bilang proyek di Bali bakal butuh supervisi langsung. Mungkin aku harus sering terbang ke sana."
Para staf junior mengangguk kagum, tidak sadar mereka sedang memuja benalu.
Alana menahan napas, menekan gejolak mual di perutnya. Ia memilih berjalan menunduk, melewati kerumunan kecil itu menuju meja Rini, sekretaris ayahnya.
Siska sempat menoleh, matanya menyipit sebentar melihat kehadiran Alana, lalu kembali tertawa, seolah Alana hanyalah gangguan kecil yang tidak relevan.
"Siang, Mbak Rini," sapa Alana pelan.
Rini mendongak. Wajah wanita paruh baya itu tampak lelah. Lingkaran hitam di bawah matanya tidak bisa disembunyikan oleh bedak tebal. Di mejanya, tumpukan berkas menggunung.
"Eh, Mbak Alana. Mau ketemu Bapak? Bapak lagi *meeting* di luar sama klien dari Jepang. Mungkin baru balik jam tiga," jawab Rini dengan nada apologetik.
"Enggak, Mbak. Aku cuma mau ambil buku kuliahku yang ketinggalan di sofa ruangan Papa waktu aku mampir minggu lalu," Alana berbohong. Jantungnya berdegup kencang, takut suaranya terdengar sumbang. "Boleh minta tolong bukain kuncinya?"
Rini tampak ragu. Prosedur perusahaan melarang siapa pun masuk ke ruangan CEO tanpa izin, bahkan anak sendiri. Hendra sangat protektif terhadap privasinya belakangan ini.
Alana memasang wajah memelas. "Tolong ya, Mbak. Dosenku galak banget. Kalau buku itu nggak ada, aku bisa nggak lulus mata kuliah ini. Papa pasti marah besar kalau tahu aku gagal cuma gara-gara buku ketinggalan."
Menyebut kemarahan Hendra adalah kunci ajaib. Bahu Rini merosot. Ia tahu betul bagaimana temperamen bosnya. Daripada Alana dimarahi dan imbasnya kena ke Rini, lebih baik ia melanggar sedikit aturan.
"Sebentar ya, Mbak. Tapi jangan lama-lama. Kalau Bapak tiba-tiba balik, saya bisa kena SP."
Rini mengambil kartu akses dari laci, berjalan menuju pintu mahoni besar di ujung lorong. Bunyi *bip* singkat terdengar, diikuti suara kunci magnetik yang terbuka.
"Makasih, Mbak Rini. Cuma lima menit," bisik Alana.
Begitu pintu tertutup di belakangnya, kesunyian ruangan itu terasa mencekam. Aroma ruangan ini khas: campuran tembakau cerutu mahal, pembersih lantai lemon, dan... parfum mawar.
Alana mengernyit. Itu parfum Siska. Aromanya tertinggal kuat di sofa kulit, menandakan Siska sering menghabiskan waktu di sini, mungkin lebih dari sekadar urusan pekerjaan.
Alana tidak membuang waktu. Ia langsung menuju meja kerja ayahnya yang terbuat dari kayu jati solid. Ia tahu ayahnya sering meletakkan berkas-berkas "sensitif" di laci kanan bawah yang biasanya terkunci, tapi kuncinya sering diselipkan di bawah tumpukan kartu nama di atas meja.
Tangannya gemetar saat meraba bawah kotak kartu nama.
*Bingo.*
Kunci kecil berwarna perak itu ada di sana. Kebiasaan ceroboh orang yang merasa terlalu berkuasa untuk dicurigai.
Alana membuka laci itu. Di dalamnya tidak ada tumpukan uang tunai seperti di film-film, melainkan map-map berwarna biru tua. Jari-jari Alana dengan cepat membalik label map.
*Proyek Sudirman.*
*Laporan Pajak Q1.*
*Personal Expenses.*
Alana menarik map bertuliskan *Personal Expenses*. Ia membukanya di atas meja, menyalakan kamera ponselnya. Tangannya membalik halaman demi halaman dengan cepat, memotret setiap lembar yang terlihat mencurigakan.
Tagihan kartu kredit korporat. Makan malam di restoran Prancis senilai empat juta. Pembelian perhiasan di Plaza Indonesia senilai lima puluh juta—tanggal transaksinya dua hari sebelum ulang tahun Alana, tapi Alana tidak pernah menerima perhiasan itu.
Lalu, matanya terpaku pada sebuah lembar tagihan transfer bank.
*PT. Cipta Griya Sentosa.*
*Keterangan: Renovasi Unit 8B, Apartemen Green Terrace.*
*Nominal: Rp 125.000.000,-
Green Terrace. Itu nama apartemen tempat Siska tinggal. Dan PT. Cipta Griya Sentosa adalah salah satu anak perusahaan vendor yang sering dipakai ayahnya untuk urusan interior kantor.
Hendra menggunakan anggaran perusahaan untuk merenovasi apartemen selingkuhannya. Ini bukan lagi sekadar uang saku atau hadiah tas. Ini penggelapan dana perusahaan untuk kepentingan pribadi.
"Kena kau, Pa," desis Alana, suaranya bergetar antara amarah dan kepuasan.
Ia memotret bukti itu dua kali untuk memastikan gambarnya jelas. Baru saja ia hendak menutup map, suara gagang pintu yang ditekan terdengar dari arah pintu masuk.
*Klek. Klek.*
Pintu itu terkunci dari dalam—mekanisme otomatis. Tapi seseorang di luar sana sedang mencoba membukanya.
"Mbak Rini! Kenapa ruangan Bapak dikunci?"
Suara itu. Itu bukan suara Hendra. Itu suara Siska. Melengking, penuh tuntutan, dan tidak sopan.
"Eh, anu... Mbak Siska. Itu... ada *cleaning service* di dalam," terdengar suara Rini tergagap dari balik pintu, mencoba melindungi Alana.
"Siang bolong begini? Minggir, saya perlu ambil berkas untuk Pak Hendra sekarang."
Bunyi *bip* kartu akses terdengar.
Panik menyergap Alana. Ia tidak punya waktu untuk mengembalikan kunci ke tempat semula. Dengan gerakan kasar, ia melempar map kembali ke dalam laci, menutupnya, dan mengantongi kuncinya ke dalam saku jeans. Ia menyambar buku tebal apa saja yang ada di atas meja kopi—untungnya ada majalah arsitektur di sana—dan berdiri kaku di tengah ruangan tepat saat pintu terbuka lebar.
Siska berdiri di ambang pintu. Wajahnya yang semula garang berubah menjadi ekspresi kaget yang dibuat-buat, lalu dengan cepat berganti menjadi senyum meremehkan.
"Oh... Tuan Putri ternyata," kata Siska, melangkah masuk dan membiarkan pintu tertutup di belakangnya. Ia tidak memanggil Alana dengan nama. Nada bicaranya sudah berubah total dari sahabat menjadi rival.
"Ngapain lo di sini?" tanya Alana tajam. Ia memeluk majalah itu di depan dada, seolah menjadi tameng.
Siska berjalan santai menuju kursi kebesaran Hendra. Dengan kurang ajar, ia duduk di sana, menyandarkan punggung, dan memutar kursi itu perlahan. Jari-jarinya mengetuk meja kayu jati, tepat di atas laci yang baru saja Alana tutup.
"Harusnya gue yang tanya," ujar Siska santai. "Ini kantor, Alana. Tempat orang dewasa bekerja. Bukan tempat main anak manja yang kehabisan uang jajan."
Alana merasakan darahnya mendidih. "Ini kantor Papa gue. Gue berhak ada di sini kapan aja."
"*Well*," Siska berdiri, berjalan memutar meja dan mendekati Alana. Jarak mereka kini hanya satu langkah. Alana bisa mencium aroma parfum mawar itu semakin menyengat, membuatnya ingin muntah. "Papa kamu nggak suka ada orang yang mengacak-acak barangnya. Apalagi kalau orang itu nggak punya kontribusi apa-apa selain menghabiskan uang."
Siska mengulurkan tangan, merapikan kerah kemeja Alana yang sedikit kusut dengan gerakan yang seolah-olah sayang, tapi terasa seperti ancaman.
"Mending kamu pulang, Al. Cuci baju, atau apalah yang biasa kamu lakuin. Biar urusan perusahaan, dan urusan Pak Hendra... gue yang pegang."
Mata Siska berkilat licik. Ia melirik ke arah saku celana Alana yang sedikit menggembung karena kunci laci.
Jantung Alana berhenti berdetak sesaat. Apakah Siska melihatnya?
"Oh ya," tambah Siska, mendekatkan bibirnya ke telinga Alana. "Anting gue yang ketinggalan di mobil waktu itu... simpan aja buat lo. Anggap aja sedekah. Gue udah dibeliin yang berlian sama Mas Hendra."
Alana mengepalkan tangan di samping tubuhnya. Kukunya menancap ke telapak tangan hingga sakit. Rasa sakit itu yang menahannya untuk tidak menampar wajah Siska saat itu juga. Ia ingat kata-kata Burhan: *Jangan emosi. Kumpulkan bukti. Hancurkan dengan sistem, bukan dengan tangan kosong.*
"Gue nggak butuh sampah lo, Sis," balas Alana dingin, menatap mata Siska tajam. "Nikmati masa-masa ini selagi bisa. Roda itu berputar."
Alana berbalik, melangkah keluar ruangan dengan langkah lebar, menahan air mata yang mendesak keluar. Ia tidak boleh menangis. Tidak di depan Rini, tidak di depan Siska.
Di dalam saku celananya, kunci laci itu terasa dingin membakar kulit paha. Alana sadar, ia baru saja melakukan pencurian. Ia membawa kunci laci ayahnya. Tapi di saku yang lain, ponselnya menyimpan amunisi yang jauh lebih berbahaya.
Siska mungkin memenangkan pertempuran hari ini dengan arogansinya. Tapi Alana baru saja mendapatkan peta untuk memenangkan perang.
Saat pintu lift tertutup, memisahkan dirinya dari lantai eksekutif yang busuk itu, Alana mengeluarkan ponselnya. Ia mengirim pesan singkat pada Burhan.
*Saya dapat buktinya. Kapan kita ketemu?*