Jihan Lekisha, seorang gadis cantik yang mempunyai rasa sosial tinggi terhadap anak-anak. Ia selalu membantu anak korban kekerasan dan membantu anak jalanan. Karena kesibukannya dirinya sebagai aktivis sosial , pekerja paruh waktu dan seorang mahasiswa ia tidak tahu kalau kekasihnya berselingkuh dengan sahabatnya. Hingga suatu hari ia melihat sang kekasih tidur dengan sahabatnya. Karena hal itu ia sampai jatuh sakit, lalu dirawat ibu bos tempatnya kerja. Tetapi ujian hidup tidak sampai disana. Siapa sangka anak bosnya maalah merusak kehormatannya dan lari dari tanggung jawab. Tidak ingin nama baik keluarganya jelek di mata tetangga, Rafan Yaslan sang kakak menggantikan adiknya menika dengan Jihan.
Mampukah Jihan bertahan dengan sikap dingin Rafan, lelaki yang menikahinya karena kesalahan adiknya?
Lalu apakah Jihan mau menerima bantuan Hary, lelaki yang menghamilinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sonata 85, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan Bercerai
Hari itu Dila baru saja bangun tidur. Ia membuka Wa tidak sengaja melihat status WA Jihan.
Selamat jalan Oma, semoga khusnul khotimah aamiin
Melihat itu, bola mata Dila membesar
“Apa Nenek Jihan meninggal? Innalillahi wa inna ilaihi raajiun." Dila buru-buru duduk lalu menelepon Jihan.
“Halo Kak Dila,” suara Jihan seperti orang menahan tangisan.
“Ji, apa nenek kamu meninggal?”
“Iya, barus saja dimakamkan.”
“ Innalillahi wa inna ilaihi raajiun. Ikut berduka Ji,” ucap Dila.
“Terimakasih Kak Dila, aku tidak punya siapa-siapa lagi,” ucapnya menangis.
“Ji, sabar ya, aku dan kami semua ada untukkmu.”
Dila berlari ke dapur. “ Ayah, Umi , Kek! Nenek Jihan meninggal,” ucap Dila saat ia berada di meja makan.
“ Innalillahi wa inna ilaihi raajiun,” ucap keluarga itu serempak.
“Kita harus datang,” ujar Pak Ali kakek Dila.
*
Kakek Dila mengumpulakan keluarganya dan meminta Hary untuk datang ke rumah. Mendengar Nenek Jihan meninggal wajah Hary semakin tertekan ia merasa semakinn bersalah.
“Jihan benar-benar hidup sendirian. Kenapa anak sebaik itu dapat masalah bertubi-tubi. Dihianati kekasih dan sahabatnya dan dirusak laki-laki lain. Aku khawatir dia melakukan bunuh diri lagi.”
“Apa maksudnya?”
Mereka semua menatap Dila. Wanita cantik itu akhirnya menceritakan semuanya, awal ia sakit karena melihat sang kekasih dan sahabatnya selingkuh. Dila juga menceritakan kalau Jihan pernah ingin bunuh diri. Karena masalah yang dihadapi.
Rafan hanya diam, ia juga tahu kalau ia Jihan sakit karena melihat kekasihnya selingkuh.
“Dia bahkan melepaskan kerudungnya sekarang,” ujar Dila.
“Astagfirullahaladzim, saya menikahkan kamu dengan Jihan agar tidak terjadi hal seperti ini,” ujar Kakek Dila ia menatap Rafan dengan tegas.
“Ayah jangan marah sama Rafan. Hary yang harusnya pihak yang salah di sini,: ujar Bu Neha.
“Jangan menyalahkan siap-siapa. Hary sudah minta maaf dan menjelaskan semuanya padaku," ucap Kakek Ali ia membela Hary.
"Karena itu kita akan menolong gadi malan ini. Saya sudah bilang sama kalian. Kakek punya hutang budi sama Nenek Jihan, saya juga sudah berjanji padanya untuk menja Jihan,” tutut Pak Ali.Mereka semua terdiam saat lelaki tua itu marah.
Pak Ali menceritakan, kalau dulu Nenek Jihan tidak meminjamkan uang padanya untuk ongkos, ia tidak bisa pergi ke pertemuan dan memenangkan tender besar. Hasi tender itulah yang membawanya membangun pabrik furniture dan bisa membuka toko sampai beberapa cabang.
Itulah sebabnya selama ini ia dan Ayah Rafan menyanyangi Jihan dan menganggapnya sebagi keluarga.
“Telepon kembali Jihan, kita akan datang ke sana,” ujar Kakek Rafan.
Dila menelepon Jihan. “Ji, Kami akan datang ke sana,” ujar Dila
“Tidak usah Kak, saya hari ini akan kembali ke Jakarta.”
“Kenapa kamu tidak istirahat saja,” bujuk Dila
Tiba-tiba Kakek Rafa meminta untuk bicara dengan Jihan, setelah mengucapkan bela sungkawa ia meminta Jihan untuk tinggal di sana sampai Neneknya tujuh hari. Jihan tidak bisa menolak akhirnya ia setuju dan tinggal di kampung
Dua hari kemudian keluarga Rafan benar-benar datang, tapi Jihan tidak ada, menurut tetangga gadis malang itu sedang ke kota untuk menjual barang-barang milik Neneknya untuk biaya acara pengajian tujuh hari kepergian sang nenek.
Saat mereka ingin pulang ternyata Jihan baru pulang, wajahnya benar pucat matanya sembab. Tetapi ia berusaha tetap tegar di hadapan keluarga sang suami.
“Aku ikut berduka cita Ji,” ujar Dila memeluk Jihan.
“Terimakasih Kak, kalian pasti lelah, mari masuk untuk beristirahat.”
Jihan membawa keluarga suaminya ke rumah sang nenek . Di sana disambut pemandangan yang sangat indah. Jihan bergegas ke dapur dan menyajikan minuman dingin untuk keluarga Rafan. Wanita itu dengan licah menyajikan makanan ala kadarnya untuk mereka. Mereka hanya diam melihat Jihan ada banyak pertanyaan di kepala keluarga Rafan tentang kehamilannya. Melihat dia benar-benar sendiri, Hary bisa merasakan kesedihan yang dirasakan Jihan..
“Duduklah sebentar Nak, kakek ingin bicara.”
Jihan duduk setelah keluarga suaminya makan makanan yang disunguhkan Jihan walau sebenarnya tidak semua memakannya, bahkan ibu mertuanya tidak menyentuh makanan yang disajikan Jihan sama sekali.
Keluarga Rafan duduk di sofa sederhana di rumah sang nenek. Jihan merapikan kerudung yang ia pakai . Saat keluarga itu datang ia mengenakannya kembali. Baru beberapa hari kehilangan Omanya wajahnya benar tirus. Rafan dan Hary sama-sama menatapnya dengan dalam.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya laki-laki tua itu menatap perut Jihan.
“Saya sehat Kek.”
“Maksudku … .” Kakek Rafan menatap Dila.
“Maksud kakek kandunganmu,Ji.”
Wajah semua orang menegang menunggu jawaban dari Jihan.
Jihan menunduk dan memperlihatkan wajah bersalah. “Maafkan saya Kek, saya yang mengurus semua pemakaman Nenek sendirian. Saya tidak punya keluarga yang diminta tolong dan saya kecapean.
Wajah semua orang langsung sedih, Hary mengalihkan wajahnya ke arah lain entah kenapa ia merasa ada bagian hatinya yan terasa sakit.
“Tidak apa-apa, mungkin belum rezeki. Kita akan kembali ke rumah dan memulai semua dari awal.”
“Kek, saya ingin membuat permintaan.”
“Iya katakan.”
Jihan meminta hubungannya dengan Rafa jangan dilanjutkan, ia meminta mereka bercerai saja. Karena keduanya tidak bisa bersama. Kakek Rafan tidak setuju karena Jihan tidak punya siapa-siapa lagi. Tapi Jihan mengatakan kalau ia bisa hidup mandiri, karena perpisahan akan membuat semuanya kembali ke tempat masing-masing.
“Jihan, sudah berjanji akan menjagamu.”
“Saya bisa mandiri Kek dan saya sudah terbiasa.”
“Tidak ada perpisahan Nak Jihan,” tolak Kakek Rafan
“Dengan kami bercerai salah satu keputusan yang tepat Kek. Pak Rafan bisa menikahi tunangannya kembali,” ujar Jihan.
“Iya itu keputusan yang tepat,” ujar sang ibu mertua. Ia mendukung keputusan Jihan.
Tapi tatapan tajam dari Pak Wilson membuat wanita itu diam, ia merapikan hijapnya dengan sikap angkuh dan mengalihkan pandangannya.
“Cobalah untuk tetap tenang,” ujar Pak Wilson mengingatkan istrinya, semua anak-anaknya hanya bisa diam melihat ayah mereka marah.
“Bagaimana dengan kamu Rafan?”
“Tidak, saya tidak akan bercerai, kalian pulang saja dan saya akan di sini.”
“Rafan, kamu harus bekerja,” ujar Ibu Neha lagi.
Rafan meminta Jihan untuk bicara berdua, lelaki itu membawanya menjauh dari keluarganya.
“Kamu tidak pernah mengatakan kalau kamu hamil, Jihan,” ujar lelaki itu mengeluarkan kertas bertanda tangan itu.
”Saya memberikan kertas itu artinya saya sudah memberi tahumu Pak Rafan.”
“Maaf,” ujar Rafan dengan tulus.
“Tidak apa-apa. Dengan begitu kita tidak membutuhkan pernikahan lagi.”
“Kita tidak akan berpisah ,” ujar Rafan.
“Maaf saya tidak ingin kembali ke rumahmu. Melihat tatapan jijik darimu membuatku selalu ingin menghilang dari sana. Bukan kemauanku seperti itu tapi tidak seharusnya kamu memperlakukan aku seperti itu Pak Rafan, Itu tidak adil bagiku,” ujar Jihan menangis terseduh-seduh di depan Rafan
“Aku tidak melakukan apa-apa Jihan. Aku bekerja bertugas mengawal pemilu, kalau aku pulang akan memakan waktu.”
“Maaf membuatmu malu. Karena itulah aku memutuskan untuk berpisah. Ibu juga menginginkan perpisahan kita, dia memintaku meninggalkanmu. Itulah yang terbaik, tolong mengerti posisiku Pak Rafan. Aku tahu kamu kasihan tapi terimakasih untuk semuanya.”
Saat Jihan menangis tersedu-sedu di depannya, Rafan hanya diam, tidak ada niat untuk sekedar mengusap air matanya atau memeng tangannya, untuk menunjukkan sedikit rasa simpatinya. Ia memang lelaki dingin yang menyebalkan.
Dari jauh Hary melihat Jihan menangis membuatnya semakin merasa bersalah.
“Jangan khawatir Jihan, aku akan membantu mulai hari ini,” ucap Hary.
Bersambung
Bantu vote, like komen dan berikan hadiah ya terimakasih
tapi kenapa mereka semua gk mengizinkan jihan & hary hidup bersama.