Rasa sakit yang Maura rasakan saat mengetahui Rafa menikah dengan wanita lain tidak sebanding dengan rasa sakit yang kini dia rasakan saat tahu dirinya tengah hamil tanpa tahu siapa lelaki yang sudah membuatnya hamil.
Kejadian malam dimana dia mabuk adalah awal mula kehancuran hidupnya.
Hingga akhirnya dia tahu, lelaki yang sudah merenggut kesuciannya dan membuatnya hamil adalah suami orang dan juga sudah memiliki seorang anak.
Apa yang akan Maura lakukan? Apakah dia akan pergi jauh untuk menyembunyikan kehamilannya? Atau dia justru meminta pertanggung jawaban kepada lelaki itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dewi widya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Fabian turun dari mobil, malam ini dia tidak pulang ke rumahnya, melainkan pulang ke rumah orang tuanya. Dengan langkah lelah dia memasuki rumah yang pintunya belum terkunci. Hari ini jadwalnya begitu padat. Banyak orang yang datang berobat saat jam prakteknya dibuka.
Fabian tidak langsung menuju kamarnya, dia melangkah menuju dapur dan membuka kulkas mencari minuman dingin. Dia mengambil sebotol minuman isotonik dan dia teguk hingga habis.
"Ahhhh!!!" Dia merasa lega setelah cairan isotonik masuk kedalam mulut dan membasahi tenggorokannya dan akhirnya masuk kedalam tubuhnya.
"Den Bian pulang!" Seru Bik Tini saat melihat di dapur ada Fabian. Tidak seperti biasanya, karena biasanya Fabian pulang kalau disuruh saja.
Fabian menoleh dan tersenyum sekilas. "Iya, Bik." Jawabannya. "Papa sama Mama kemana? Kok sepi." Tanya Fabian karena melihat suasana rumah yang sepi padahal baru jam delapan malam. Atau memang karena didalam rumah ini hanya didiami kedua orang tuanya juga sama beberapa pembantu juga dua satpam yang berjaga bergantian.
"Bapak sama Ibu menghadiri acara pernikahan, Den." Jawab Bik Tini. "Aden mau makan? Biar Bibik siapin." Tawar Bik Tini.
"Nggak usah, Bik. Terima kasih. Aku tadi sudah makan tadi." Jawab Fabian dan pergi meninggalkan dapur menuju kamarnya yang ada di lantai dua. Kamar yang sudah lama sekali tidak dia tempati.
Sesampainya dikamar, dokter muda yang sekarang berstatus duda itu langsung masuk ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dibawah shower dengan pakaian yang masih melekat di badannya. Dia menghembuskan nafas berat dengan kedua tangan dia tumpukan pada dinding. Kepalanya menunduk kebawah seolah beban yang ada dipikirannya begitu berat.
Bebannya memang berat, karena sejak pertemuan terakhir dengan Maura tiga hari yang lalu terus membuatnya kepikiran. Maura mengusirnya, tidak minta pertanggung jawaban dari dirinya, tidak mau dia nikahi, bahkan benih yang sudah tumbuh di rahimnya diklaim sebagai anaknya sendiri.
"Sebenci itukah kamu padaku, Maura." Gumam Fabian yang entah kenapa sampai saat ini dadanya terasa sesak tiap kali mengingat Maura yang histeris dan tidak mau bertemu dengan dirinya.
"Apa yang aku takutkan akhirnya terjadi." Fabian mengusap rambutnya dengan kedua tangan dan menengadah dengan mata tertutup membiarkan air jatuh membasahi wajahnya.
Maura yang awalnya baik pada dirinya, bahkan mau mengobati lukanya waktu itu dengan ikhlas kini justru sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat setelah tahu kalau dialah lelaki yang sudah merenggut kesuciannya hingga hamil. Hanya amarah dan kebencian yang Maura tunjukkan pada dirinya.
"ARGHHH!!" Bughh! Fabian memukul dinding saat mengingat dirinya bisa mabuk. Bukan mabuk, lebih tepatnya ada seseorang yang memasukkan obat pada minumannya. Kalaupun dia mabuk, dia masih bisa mengontrol dirinya. Tapi malam itu dirinya sungguh tidak bisa menahan diri. Dia yang saat itu tidak sengaja bertemu dengan Maura yang tengah mabuk langsung menarik gadis itu ke sebuah motel yang masih satu lokasi dengan kelab malam. Hingga akhirnya perbuatan terlarang di malam itu terjadi.
"Bi!!! Bian!!! Kamu dimana? Kata Bibik kamu pulang."
Fabian membuka matanya saat mendengar suara Mamanya tengah mencari keberadaan nya. Dia akhirnya segera menyelesaikan acara mandinya dan keluar untuk menemui ibu yang sudah melahirkannya. Mungkin dia juga harus memberi tahu kepada kedua orang tuanya, apalagi Papanya mengajar di kampus milik keluarga Abrisam. Dia tidak ingin Papanya mendapatkan masalah untuk kedepannya.
Fabian keluar kamar setelah selesai membersihkan diri dan berganti baju. Dia melihat Sandi tengah membaca buku di ruang keluarga yang ada di lantai dua, dekat dengan kamarnya.
"Pa!! Mama mana?" Tanya Fabian saat tidak melihat Mamanya ada disana. Karena biasanya Shanti kalau malam selalu menemani Sandi membaca buku. Bahkan juga ikut membaca buku.
"Mama kamu bikin minum buat Papa." Jawab Sandi sambil membenarkan kacamata bacanya. "Tumben pulang." Sandi melirik putranya yang duduk tidak jauh dari dirinya.
"Pengen aja. Sudah lama tidak pulang." Balas Fabian sambil membuka sosial media mencari Instagram milik Maura. Siapa tahu dia bakal tahu apa yang Maura lakukan saat ini, mengingat dirinya tidak memiliki nomor ponsel Maura. Tapi dari kemarin dirinya tidak kunjung menemukan nama akun sosial media Maura. Entah, wanita itu memiliki akun sosial media atau tidak atau mungkin punya akun tapi tidak menggunakan nama asli, entahlah Fabian tidak tahu kalau seperti itu.
"Bi, kamu tadi kemana? Mama cari kok nggak ada." Tanya Shanti yang sudah kembali membawa dua cangkir teh herbal juga semangkuk potongan buah.
"Mandi, Ma." Jawab Fabian jujur.
"Nggak biasanya pulang. Sepi ya di rumah sendirian. Biasanya ada anak istri, sekarang apa-apa sendirian." Sindir Shanti. Dia masih kesal sama Fabian yang bercerai dengan Aurel, karena perceraian itu membuatnya susah bertemu dengan cucunya, Kasih. Harus membuat janji terlebih dahulu baru bisa bertemu dengan cucu satu-satunya karena memang dirinya baru memiliki satu cucu.
Fabian tidak menjawab, dia segera menyimpan ponselnya karena ingin menyampaikan sesuatu yang penting kepada kedua orang tuanya. "Ma!! Pa!! Fabian ingin bicara." Ucap Fabian meminta ijin.
"Ngomong aja kalau mau ngomong." Timpal Sandi yang masih fokus dengan bukunya.
Fabian mengambil nafas panjang dan dihembuskan nya perlahan, dirasa sudah sedikit rileks dia mengeluarkan suara. "Sebelumnya Fabian minta maaf sama Mama juga Papa."
Tak ada respon dari Sandi maupun Shanti. Pasalnya mereka sudah memaafkan kesalahan Fabian yang bercerai dengan Aurel. Mereka hanya kecewa saja pada Fabian yang tidak mau membuka hati untuk Aurel. Meski mereka tahu penyebab Fabian susah membuka hati buat Aurel.
"Bian telah menghamili seorang gadis."
Bagai tersambar petir di siang bolong, pengakuan Fabian sungguh membuat Sandi dan juga Shanti terkejut. "Pa!! Mama nggak salah dengar kan?" Tanya Shanti dengan terbata. Sandi hanya menjawab dengan gelengan kepala. Bahkan buku yang dia pegang tadi jatuh di pangkuannya.
"Gadis itu Maura. Putri dari Tuan Bryan, keluarga Abrisam."
Lagi-lagi Sandi juga Shanti dibuat syok dengan pengakuan Fabian. Mereka tidak bisa berkata-kata lagi. Bukan karena terlalu senang, melainkan takut karena harus berurusan dengan keluarga Abrisam yang terkenal kejam dan suka mengintimidasi lawan. Apalagi Sandi juga bekerja di kampus milik keluarga Abrisam. Bisa berakhir karirnya nanti.
"Bian sudah menemui Maura dan keluarganya. Bian juga berniat mempertanggung jawabkan perbuatan Bian."
Baik Sandi maupun Shanti tidak lagi mendengarkan apa yang Fabian katakan. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Bagaimana bisa putranya itu melakukan kesalahan hingga membuat seorang gadis dari keluarga terhormat dan kalangan konglomerat dibuat hamil. Pasti ini alasan yang membuat Aurel menceraikan Fabian. Memang pantas, pikir mereka.
"Mama kecewa sama kamu, Bian." ujar Shanti mengungkapkan kekecewaannya. "Apa sedikit saja kamu tidak pernah memikirkan perasaan Mama, Aurel dan Kasih saat kamu melakukan itu?" Shanti menangis dengan menatap marah pada Fabian. "Kenapa kamu tega menyakiti hati Mama?" Shanti yang sudah tidak tahan lagi akhirnya memilih pergi dan masuk kedalam kamarnya. Dia tidak habis pikir, Fabian tidak mau menyentuh Aurel yang berstatus istrinya sendiri tapi ini dengan mudahnya menyentuh seorang gadis hingga hamil.
Fabian hanya menunduk melihat kekecewaan di mata Shanti. Ini semua memang salahnya, salahnya yang datang ke kelab malam dan mabuk bersama Gerry dan rekan kerja yang lainnya padahal mereka seorang dokter.
"Maafin Bian, Pa!" ucap Fabian lirih.
"Papa nggak tahu dosa apa yang sudah Papa buat di masa lalu sampai memiliki seorang anak yang tidak memiliki moral dan etika seperti kamu. Papa tak hanya kecewa sama kamu, tapi sungguh sangat kecewa sama kamu Fabian."