NovelToon NovelToon
Benih Titipan Sang Milyarder

Benih Titipan Sang Milyarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Slice of Life / Single Mom / One Night Stand / Crazy Rich/Konglomerat / Komedi
Popularitas:13.9k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Apa jadinya jika air ketuban pecah di malam kencan pertamamu?

Panik dan syok, itulah yang dirasakan Maggie saat menjalani kencan pertamanya dengan Kael, seorang miliarder tampan dan karismatik.

Kencan romantis itu mendadak berubah kacau ketika air ketubannya pecah di tengah acara makan malam.

Alih-alih ikut panik, Kael justru sigap mengangkat Maggie dan membawanya ke limusin mewahnya untuk segera menuju rumah sakit.

Namun, apa yang terjadi selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tidur Nyenyak Ya, Nak!

Maggie memeriksa Biann, lalu mengunci diri di kamar mandi bersama alat pompanya. Alat-alat plastik itu tertata di atas handuk, benar-benar tidak selaras dengan kemewahan emas dan marmer yang mengelilinginya.

Ia duduk di depan meja rias dekat bagian meja yang menyatu dengan dinding. Menghadap cermin, ia menurunkan tali-tipis dari bahunya dan melorotkan gaun itu.

Ia sempat mengambil risiko untuk berada di luar sana tanpa bra, juga tanpa bantalan. Bisa saja payudara itu mulai bocor kapan saja. Itu akan jadi susu tambahan dalam kisah makan malamnya bersama Kael.

Tapi itu tidak terjadi. Justru payudaranya mulai terasa lebih bisa diandalkan, selama ia tidak terlalu lama menyusui atau memompa.

Maggie merakit bagian-bagian pompa, memutar botol-botolnya ke tempatnya. Syukurlah ia mendapat hadiah pompa ganda dengan mesin penghisap yang kuat. Alat itu bisa mengosongkan kedua payudaranya dalam waktu kurang dari sepuluh menit.

Namun ia menyesal duduk tepat di depan cermin, memandangi payudaranya dengan urat-urat biru yang menonjol.

Apakah ini masih terlihat seksi?

Mungkin saja.

Namun di luar ruangan ini ada seorang pria yang sangat berkuasa dan kaya raya, yang tampaknya terbiasa dengan tubuh-tubuh seksi. Maggie ragu, kalau Kael pernah melihat payudara yang kendur dan penuh urat seperti ini di sepanjang hidupnya.

Maggie memejamkan mata, mencoba menyingkirkan pemandangan pompa yang sedang menyemprotkan susu melalui selang panjang.

Tubuhnya pulih dengan baik dan pada pemeriksaan minggu ke enam, ia sudah mendapat izin untuk berhubungan seks, sekaligus suntikan kontrasepsi, seperti yang ia rencanakan setahun lalu sebelum semuanya berantakan.

Kael ada di pikirannya saat pemeriksaan itu, tentu saja, ia membayangkan berbagai hal gila bersamanya. Dan sekarang pria itu ada tepat berada di luar kamar ini.

Suite itu punya kamar kedua. Mereka bisa pergi ke sana tanpa mengganggu Biann yang sedang tidur di ranjang-nya saat ini. Maggie bisa memaksa Kael melakukan semua hal yang sudah ia pikirkan sejak mereka bertemu dua bulan lalu.

Pompa itu mengerang. Tanda sudah memompa sampai kering.

Maggie mematikannya dan menyelipkan jari di antara kulit dan corong plastik untuk memutus hisapannya. Sekarang payudaranya bukan cuma penuh urat, tetapi juga memerah karena tersedot, kempis seperti balon berumur tiga hari, dan putingnya terasa cukup tajam untuk mencungkil mata seseorang.

Maggie tidak bisa keluar dalam kondisi seperti ini. Ia membilas semuanya tanpa tergesa, menaikkan kembali tali gaun ke bahunya. Ia merasa sudah cukup layak untuk dilihat. Lagipula, kulkasnya ada di bawah bar. Ia tidak bisa menyimpan ASI di sini.

Maggie mengencangkan tutup botol-botol susu dan memeriksa segelnya. Ini akan cukup untuk sehari. Jika ia menyusui Biann seperti biasa pukul dua pagi, lalu menyusui dan memompa lagi di pagi hari, persediaannya akan cukup untuk aktivitas besok.

Ia berjalan berjinjit melewati kamar. Biann masih tertidur lelap. Saat kembali, Kael masih duduk di meja. Kancing kemejanya terbuka hampir seluruhnya dan rambutnya acak-acakan, ia terus mengusapnya dengan tangan dan mematikan HPnya begitu melihat Maggie.

"Kamu baik-baik aja?" tanya Maggie.

"Jam kerjaku di Amerika hampir selesai," jawab Kael.

Maggie mengitari bar dan membuka kulkas kecil. "Ada masalah?"

"Enggak. Asistenku yang akan urus ini."

"Dia udah lama jadi asistenmu?"

"Dia udah sama aku tiga tahun. Teman sekamarku waktu kuliah. Lebih pintar dari aku malah. Posisi kami mungkin aja ketukar."

Maggie kembali meluncur ke kursi yang tadi ia duduki. "Hmm."

Kael tidak menatapnya, jadi Maggie melembutkan nadanya. "Kamu udah sukses."

"Itu berkat kakakku."

Maggie duduk lebih tegak. "Kamu pikir kamu gak akan bisa berhasil sendiri?"

"Bukan gitu. Sulit tanpa ada pengaruh dari Joann."

"Aku ngerti. Jennie juga otak keluarga kami."

"Kamu juga sama?"

"Gak, aku punya prinsip sendiri. Kalau sesuatu bikin aku frustrasi lebih dari sepuluh detik, aku bisa langsung cut off."

Kael menggeleng, terus memutar gelas itu di antara kedua tangannya.

Maggie ingin menyentuhnya, tetapi menahan diri. Mereka akhirnya benar-benar saling mengenal. "Menurutku, perasaanmu ke kakakmu justru tanda kalau kamu kuat. Orang-orang yang gak pernah mempertanyakan kesuksesannya, sering kali gak sadar akan kelemahan mereka sendiri dan menjadi egomania."

"Aku pernah disebut seperti itu."

"Orang-orang sukses memang mudah jadi sasaran."

Kael menggeleng. "Aku yakin bakal ada banyak gosip di pesta nanti."

"Serius?"

"Akan ada banyak penguasa yang bakal datang."

Sekarang Maggie bisa menyentuhnya. Ia condong ke depan, meletakkan jarinya di atas jari Kael untuk menghentikan gerakan gelas.

Tangan Kael hangat dan kuat. Sentuhan itu mengirimkan percikan ke tubuh Maggie.

"Mari bersenang-senang!" ajak Maggie.

Alis Kael terangkat dan pandangannya langsung bertemu dengannya, lalu meluncur ke pintu kamar Maggie yang terbuka, tempat Biann tertidur.

Maggie menarik diri. "Aku gak butuh belas kasihan," katanya, amarah menggantikan percikan yang tadi ia rasakan.

Mulut Kael menganga, "Kita masih bahas ini?"

"Kamu beliin aku gaun. Kamu bawa aku ke pesta."

"Itu karena—"

"Aku bahkan gak tahu posisiku apa? Kamu pasti mikir kalau aku lagi cari korban yang bisa aku jebak demi bayi itu, kan?"

"Maggie! Aku sama sekali gak mikir kayak gitu."

Maggie menangkap kebingungan di wajah Kael, tetapi ia tidak bisa mundur. "Aku ngerasa aku udah mempermainkan kamu, dibelikan perhiasan mewah, dan duduk satu meja dengan orang kayak kamu."

Kael meraih tangannya di atas meja, menggenggamnya. "Maggie. Dengar. Kita masih baru kenal. Aku akui, aku pingin bantu kamu. Tapi yang paling penting, aku pingin kamu ada di sini."

"Aku tahu! Tapi kamu punya banyak kerjaan. Rapat. Bisnis. Perusahaan."

"Sebenarnya, tanganku udah gak tahan buat nyentuh kamu!"

Kael dengan mudah berpindah kursi dan duduk di sebelahnya. "Tapi kamu baru aja melahirkan! Aku harus tahan semua ini sampai kamu pulih. Aku cu—"

"Diam," kata Maggie. "Diam aja!"

Kael mengusap rambut Maggie. "Maaf."

"Astaga! Diam dan cium mulutku sekarang juga, BODOH!"

Kael menatapnya sesaat. "Itu hal terabsurd yang pernah kamu bilang ke aku."

"Aku masih punya banyak lagi."

Kael menariknya mendekat, dan ciuman itu berlanjut tepat di tempat terakhir mereka duduk.

Panas dan membara, mulut Kael hangat di bibir Maggie, janggutnya yang kasar itu menggesek dagunya. Tangannya menyusup ke bawah rambut Maggie dan mencengkeram tengkuknya, menariknya begitu kuat sampai Maggie meluncur dari kursi dan jatuh di pangkuannya.

Kael mengangkat kakinya sehingga tubuh Maggie meluncur di sepanjang pahanya, ada api di antara kedua kakinya saat gaunnya terangkat.

Ketika Maggie mendarat di dadanya, menunggangi pahanya, ia merasakan betul seberapa lama Kael telah menunggu momen ini.

Maggie menarik diri dengan napas tersengal, jarinya menyelip ke rambut Kael yang liar. "Kael."

Maggie tidak sempat mengatakan apa pun lagi. Kael kembali menghancurkan bibirnya dengan ciuman liar. Salah satu tali gaunnya melorot dari bahu, dan tangan Kael langsung ada di sana, menarik bagian atasnya turun.

Lalu Kael bergerak, mencium lehernya, tulang selangkanya, lengkungan di salah satu payudaranya.

Maggie bahkan tidak sempat merasa canggung. Kael ada di mana-mana, dengan tangan yang bergerak, mulut yang menciuminya. Kael menggenggam pinggulnya dan menggerakkannya hingga Maggie menunggang sepenuhnya.

Ereksinya terasa jelas menekan tubuh Maggie melalui pakaian mereka. Maggie melingkarkan lengannya di bahu Kael, bergerak naik turun. Ia sangat merindukan hal ini.

Kael menarik tali yang lain, membuat Maggie sepenuhnya telanjang di hadapannya. Kael tahu apa yang tidak boleh dilakukan, menggesekkan lidah di sekitar putingnya. Karena itu akan menguras stok ASI yang Maggie miliki.

Tangan Kael meluncur di sepanjang pahanya, ibu jarinya menggoda tepi renda celana dalamnya. Maggie menarik napas dalam, memeluk kepala Kael ke dadanya. Segalanya pecah menjadi serpihan birahi yang membara.

Maggie putus asa, ingin merasakan batang pejantan di dalam rahimnya. Ia menginginkannya sekarang.

"Biar aku yang pegang kendali," bisik Kael. "Aku jamin, enggak akan ada Biann berikutnya."

"Kamu mau pakai kondom? Sebenarnya gak perlu, tapi aku gak keberatan, kok."

Maggie menggeleng dan menggesekkan tubuhnya pada batang pejantan itu. Ia sudah merasakan batang yang membengkak dan mengencang. Maggie siap untuk ini.

Sebuah suara rendah dan aneh pun terdengar ketika janggut Kael menggesek lehernya dan satu jarinya meluncur ke dalam liang di balik celananya.

Maggie akan mencapai klimaks hanya dengan sentuhan itu. Ia mencengkeram Kael, bergerak mengikuti ritmenya. Ketika Kael menambahkan satu jari lagi ke dalam rahimnya, suara itu terdengar lagi.

Kali ini, mereka berdua berhenti.

Biann terbangun.

Maggie menjatuhkan kepalanya ke bahu Kael. Tangan pria itu masih berada di liangnya, menunggu keputusan.

Lalu terdengar jeritan nyaring dari ruangan sebelah.

"Dia bangun," kata Maggie sambil menggigit bibirnya saat ia meluncur turun dari pangkuan Kael.

"Dia di luar prediksi BMKG!" Kael meletakkan tangannya di pinggang Maggie dan membantunya berdiri.

Maggie segera menarik kembali gaunnya dan merapikannya seperti semula.

"Perasaanku bilang kalau dia bakal melek lama. Dan sialnya, aku baru aja memompa. Mungkin aku harus menghangatkan botolnya."

Tangisan itu terdengar lagi. Maggie mengusap pipi Kael dengan punggung tangannya. "Kita lanjut?"

Kael mengangguk. "Kita lanjut."

Ia menahan tangan Maggie sampai tangisan Biann terdengar lagi.

Maggie menarik diri sejenak dan melangkah menuju kamarnya, menuju bayi yang membutuhkannya.

...𓂃✍︎...

...Bukan dia yang jahat, tapi baikmu yang salah tempat....

...────୨ৎ────...

1
Adellia❤
tau gak sih nyengirr teruss q selama baca ini sumpah ini momen paling sempurna buat momy yg baru lahiran berada di kota yg sejuk makan di pinggir jalan bayi yg tidur aroma kopi yg wangii dan... cowok ganteng di sebelah enggak perlu mati dulu buat ke surga ya maggie... 😍😍😍
Adellia❤
jangan lupa main ke candi borobudur ya kael enggak harus naik ke candi karna pasti repot bawa bian kasian juga panas stay ajah di kampoeng seni borobudur ada kuliner pertunjukan seni dan mini konser dari artis" daerah termasuk dari jatim juga loh😍😍
Adellia❤
kael... ya ampuun kasian bangett km iih gemezzz sini q bantu😂😂
Adellia❤
kebayang paniknya kael 😂😂
Adellia❤
kayak mimpi ya maggie bahkan untuk bayanginya ajah maless pergi" dgn bayi baru lahirr rasanya enggak mungkin😂😂
Adellia❤
ya ampuun tuh pesawat dah kayak apartemen komplitt km gak akan kesusahan maggie😍
Adellia❤
ya ampuun ampe nangiss q 😭😭 seorang cowok single tampan kaya raya punya jett pribadi datengin emak" baru lahiran punya bayi kecil kira" segede apa cintanya kael ke maggie😭😭
Adellia❤
hidup sesuka hati manusia lenyap dalam sekejap😂😂
Adellia❤
seriuss 200 galon?? banjir bandang donk.. 😂😂 ah jadi ingett mas" yg nyumbang ratusan milyar di sumatra kemaren dan dy bener" memastikan sumbanganya utuh sampai ke masyarakat tanpa di potong ini itu😍😍
Adellia❤: iya loh sumpah salut banget dy tuh bener" manej sendiri sumbangan dari donatur bener" utuh jadi bener" sampe ke masyarakat yg membutuhkan😍😍
total 2 replies
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
sipuuttt
lagii saii😍
Cindy
lanjut
Dwi ratna
kirain kael bpknya bian, berarti judulnya benih titipan musisi nmanya bukan milyader
Cindy
lanjut
Dwi ratna
s bian anknya kael bukan si? 😤
Cindy
lanjut
Putri Salju
lanjuutt💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!