NovelToon NovelToon
Suamiku Ternyata Mafia Psikopat

Suamiku Ternyata Mafia Psikopat

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dark Romance / Mafia / Nikah Kontrak / Roman-Angst Mafia / Balas Dendam
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Pernikahan yang awalnya tampak sebagai jalan keluar, berubah menjadi jerat paling mematikan. Karena ia terpaksa menerima tawaran kontrak nikah dengan pria asing, demi menyelamatkan keluarganya.

Nadira Azzahra, perempuan sederhana dari Jakarta, menerima pernikahan dengan seorang pria asing bernama Leonardo Valerio demi menyelamatkan keluarganya dari kebangkrutan dan ancaman orang-orang berbahaya. Leonardo adalah pria tenang, tampan, dan nyaris sempurna. Ia tak pernah marah, tak pernah berteriak, selalu tersenyum tipis—namun justru ketenangan itulah yang perlahan membuat Nadira merasa diawasi setiap saat.

Tak ada yang menyangka, bahwa suaminya adalah pemimpin mafia internasional berdarah dingin—dan seorang psikopat fungsional.

Leonardo tidak mengenal rasa bersalah, ia membunuh dengan wajah datar. Bahkan ia menjadikan Nadira tawanan cintanya.

"Aku tidak mencintaimu seperti orang normal, Nadira. Aku mencintaimu seperti aku, memiliki sesuatu yang tak boleh hilang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Operasi Andrey

Pagi itu, aku terbangun dengan tempat tidur kosong.

Leonardo sudah tidak ada. Bahkan selimut di sisinya sudah dingin. Artinya dia sudah pergi sejak lama.

Aku duduk sambil mengusap wajah. Mimpi buruk kembali semalam. Mimpi tentang Arman yang berteriak minta tolong sambil Leonardo berdiri di atasnya dengan pistol.

Aku turun dari tempat tidur dengan kaki lemas. Berjalan ke kamar mandi. Cuci muka dengan air dingin berkali kali. Tapi bayangan mimpi itu tidak hilang.

Saat keluar dari kamar, aku dengar suara dari bawah. Suara beberapa orang bicara dengan nada serius.

Aku turun tangga pelan. Mengikuti suara itu.

Sampai di pintu ruang kerja Leonardo yang sedikit terbuka.

Aku mengintip dari celah pintu.

Di dalam, Leonardo duduk di kursi besarnya. Marco berdiri di sampingnya dengan tangan terlipat di dada. Andrey duduk di meja dengan tiga laptop terbuka di depannya. Jari jarinya menari cepat di keyboard.

"Berapa banyak yang sudah kau hapus?" tanya Leonardo dengan nada dingin.

Andrey mengetik sesuatu. Layar menampilkan deretan file file yang terhapus.

"Tujuh puluh persen bukti transaksi sudah dihapus dari server mereka," jawab suara robot dari tablet. "Dua puluh persen lagi ada di backup offline. Butuh waktu untuk akses."

"Berapa lama?" tanya Leonardo sambil menyalakan cerutu.

"Dua hari," jawab Andrey. "Aku sudah tanam trojan di sistem mereka. Begitu mereka sambungkan backup ke jaringan, aku bisa masuk dan hapus semua."

Leonardo mengangguk sambil menghembuskan asap. "Bagus. Lalu apa kau sudah lacak agen yang memimpin penyelidikan?"

Andrey mengetik lagi. Foto seorang pria muncul di layar. Pria berusia empat puluhan dengan rambut cokelat dan mata biru tajam.

"Nama nya Inspektur Armand Rousseau," jelas suara robot. "Warga Prancis. Sudah sepuluh tahun di Interpol. Spesialis kasus mafia internasional. Dia yang memimpin tim yang menggeledah vila kemarin."

Leonardo menatap foto itu dengan mata menyipit. "Alamat rumah nya?"

Andrey mengetik. Alamat muncul di layar.

"Lyon, Prancis. Rue de la Republique nomor empat puluh tujuh. Tinggal dengan istri dan satu anak perempuan usia delapan tahun."

Aku menutup mulut dengan tangan. Anak perempuan. Dia punya anak kecil.

Leonardo tersenyum tipis. Senyum yang mengerikan.

"Sempurna," ucapnya sambil menatap Marco. "Kau tahu apa yang harus dilakukan."

Marco mengangguk. "Kapan?"

"Malam ini," jawab Leonardo. "Tapi jangan bunuh dia. Belum. Aku mau dia tahu dulu apa konsekuensi nya mengusik keluargaku."

Dia menunjuk layar yang menampilkan foto anak perempuan Rousseau.

"Ambil anaknya," perintahnya dengan nada datar. "Bawa ke gudang di Milan. Kirim foto nya ke Rousseau dengan pesan sederhana. 'Berhenti menyelidiki atau kau tidak akan lihat dia lagi.'"

Tidak. Tidak. Mereka mau culik anak kecil yang tidak bersalah.

Aku mendorong pintu tanpa sadar.

Pintu terbuka dengan bunyi berderit keras.

Semua mata langsung menatap ke arahku.

Leonardo berdiri dengan cepat. Wajahnya berubah dari dingin jadi... khawatir?

"Nadira," panggilnya. "Sejak kapan kau di sana?"

Aku melangkah masuk dengan kaki gemetar. "Kalian... kalian mau culik anak kecil?"

Hening.

Leonardo berjalan mendekat. Tangannya mengusap lenganku.

"Sayang, ini urusan bisnis. Kau tidak perlu..."

"DIA ANAK KECIL!" teriakku. Untuk pertama kalinya sejak lama aku berteriak pada Leonardo. "Dia tidak ada hubungan nya dengan ini! Kenapa kalian harus libatkan dia?!"

Leonardo menatapku dengan rahang mengeras. "Karena ayahnya yang melibatkan dirinya sendiri. Dia yang memutuskan untuk selidiki aku. Dia yang datang ke rumahku. Jadi sekarang dia harus bayar harga nya."

"Dengan menculik anaknya?!" aku menatapnya dengan mata basah. "Dengan menakuti anak kecil yang bahkan tidak tahu apa apa?!"

"Kalau aku tidak lakukan ini, dia akan terus mengejar," balas Leonardo dengan nada lebih keras. "Dia akan terus gali. Terus cari bukti. Sampai dia bisa tangkap aku. Dan kalau aku tertangkap..."

Dia memegang wajahku dengan kedua tangan.

"Apa yang akan terjadi pada kita?" tanyanya dengan suara bergetar. "Apa yang akan terjadi padamu? Kau pikir Interpol akan lindungi kau? Mereka akan interogasi kau. Paksa kau kasih kesaksian. Lalu buang kau begitu saja setelah aku masuk penjara."

Air mataku jatuh. "Tapi... tapi anak itu..."

"Anak itu akan baik baik saja," potong Leonardo. "Aku tidak akan sakiti dia. Aku cuma mau ayahnya tahu bahwa ada konsekuensi. Setelah dia berhenti, anak nya akan dikembalikan. Tidak terluka."

"Kau janji?" tanyaku dengan suara gemetar.

Leonardo menatap mataku. Lalu mengangguk. "Aku janji. Tidak ada anak yang akan terluka. Aku bukan monster seperti itu."

Tapi kau monster jenis lain, batinku berteriak. Monster yang culik anak orang untuk ancaman.

Tapi aku tidak bilang itu. Hanya menunduk sambil menangis.

Leonardo memelukku. Mengusap rambutku.

"Percayalah padaku," bisiknya. "Ini satu satu nya cara. Dan aku akan pastikan semua berakhir tanpa ada yang terluka."

Dia melepaskan pelukan. Menatap Marco.

"Lakukan seperti rencana," perintahnya. "Tapi ingat. Jangan sakiti anak itu. Bahkan lecet kecil pun tidak boleh ada. Mengerti?"

Marco mengangguk. "Mengerti, Don."

Lalu dia keluar dengan dua anak buah yang menunggu di luar.

Leonardo menatapku lagi. "Kembali ke kamar. Istirahatlah. Aku akan naik sebentar lagi."

Aku hanya mengangguk. Terlalu lelah untuk protes lagi.

Berjalan keluar dari ruang kerja dengan langkah berat.

Tapi sebelum naik tangga, aku dengar suara Leonardo berbicara lagi dengan Andrey.

"Selain Rousseau, ada berapa agen lagi yang terlalu aktif?" tanya Leonardo.

"Lima orang," jawab Andrey. "Semuanya di tim yang sama."

"Kirim nama dan alamat mereka ke Marco," perintah Leonardo. "Setelah urusan Rousseau selesai, kita akan urus mereka satu per satu."

Urus. Artinya bunuh.

Aku naik tangga dengan kaki yang hampir tidak kuat menopang tubuh.

Masuk ke kamar. Menutup pintu.

Lalu jatuh berlutut sambil menangis.

Lima agen akan mati. Satu anak kecil akan diculik. Semua karena mereka mencoba lakukan pekerjaan mereka. Mencoba tangkap penjahat.

Dan aku... aku tidak bisa lakukan apa apa untuk hentikan ini.

Karena kalau aku coba hentikan, Leonardo akan marah. Akan curiga. Akan kembali jadi monster yang lebih mengerikan.

Atau mungkin dia memang sudah monster. Dan aku cuma terlalu buta untuk lihat karena terlalu bergantung padanya.

Malam itu, sekitar pukul sebelas, ponsel Leonardo berdering.

Kami sedang berbaring di tempat tidur. Dia membaca laporan di tablet sementara aku berpura pura tidur.

Dia angkat ponsel. "Ya?"

Suara Marco terdengar dari speaker. "Misi selesai, Don. Target sudah diamankan. Tidak ada perlawanan. Tidak ada saksi."

Target. Dia sebut anak kecil itu sebagai target.

"Bagus," balas Leonardo. "Kondisi nya?"

"Tidak terluka sama sekali," jawab Marco. "Dia sedang tidur sekarang di gudang. Kami kasih kamar yang nyaman dengan mainan dan makanan. Seperti yang anda perintahkan."

"Sempurna. Kirim foto ke Rousseau sekarang. Dengan pesan yang sudah kita bicarakan."

"Siap, Don."

Leonardo menutup telepon. Meletakkan nya di meja samping.

Lalu dia berbaring. Memelukku dari belakang.

"Kau dengar kan?" bisiknya di telingaku.

Aku tidak jawab. Masih berpura pura tidur.

"Anak nya baik baik saja," lanjutnya. "Seperti yang aku janjikan. Aku tidak bohong padamu, Nadira. Aku tidak pernah bohong tentang hal hal penting."

Tangannya mengusap lenganku.

"Dalam beberapa hari, Rousseau akan berhenti. Penyelidikan akan tertunda. Dan kita akan aman lagi. Semua akan kembali normal."

Normal. Tidak ada yang normal dari semua ini.

Tapi aku tetap diam. Membiarkan dia peluk aku sambil berbisik kata kata pembenaran.

Dua hari kemudian, berita muncul.

Inspektur Rousseau mengumumkan pengunduran diri dari kasus RED ASHES karena "alasan pribadi mendesak."

Penyelidikan Interpol tertunda tanpa batas waktu karena kehilangan pemimpin tim.

Leonardo tersenyum puas saat baca berita itu di tablet.

"Lihat?" ucapnya sambil menunjukkan layar padaku. "Aku bilang semua akan baik baik saja."

"Anak nya?" tanyaku dengan suara pelan.

"Sudah dikembalikan tadi pagi," jawabnya. "Diantar ke depan rumah nya dalam kondisi sehat dan tidak terluka. Bahkan kami kasih boneka baru sebagai permintaan maaf."

Permintaan maaf. Seolah menculik anak orang bisa dimaafkan dengan boneka.

Tapi setidaknya anak itu selamat. Itu yang penting.

"Lalu agen agen lain nya?" tanyaku sambat menatapnya.

Leonardo menatapku dengan tatapan yang sulit dibaca.

"Mereka sudah diurus," jawabnya pelan. "Tiga kemarin malam. Dua tadi pagi. Semua terlihat seperti kecelakaan. Tidak ada yang curiga."

Lima nyawa hilang. Lima keluarga kehilangan ayah, suami, saudara.

Karena mereka mencoba lakukan pekerjaan mereka.

Aku menutup mata. Tidak tahan menatap wajah Leonardo yang terlihat begitu tenang setelah bilang dia baru saja bunuh lima orang.

"Kau membenci aku sekarang?" tanyanya tiba tiba.

Aku membuka mata. Menatapnya.

"Aku... aku tidak tahu," jawabku jujur. "Bagian dariku membenci. Tapi bagian lain..."

Aku tidak selesaikan kalimat.

Tapi Leonardo paham.

Dia tersenyum tipis. "Bagian lain sudah terlalu bergantung padaku untuk benci sepenuhnya."

Dia menarikku dalam pelukan.

"Aku tahu aku monster," bisiknya. "Aku tahu kau tidak akan pernah benar benar terima semua yang kulakukan. Tapi aku juga tahu... kau tidak akan pernah benar benar meninggalkan aku."

Pelukannya mengerat.

"Dan itu cukup untukku," lanjutnya. "Aku tidak butuh kau mencintai semua bagian dariku. Aku cuma butuh kau tetap di sini. Tetap bersamaku. Apapun yang terjadi."

Dan aku tahu dia benar.

Aku sudah terlalu dalam. Terlalu rusak. Terlalu bergantung.

Untuk meninggalkan monster yang memelukku ini.

Bahkan kalau dunia di luar mencoba selamatkan ku.

Bahkan kalau Interpol berhasil tangkap Leonardo suatu hari nanti.

Aku tidak yakin aku mau diselamatkan lagi.

Karena sekarang aku tidak tahu lagi siapa Nadira tanpa Leonardo.

Dan itu yang paling menakutkan dari semuanya.

1
Abel Incess
tp sebenarnya ada baik"nya juga sih karna nadira tdk pernah di lecehkan
checangel_
Iya sih, taat pada suami harus, tapi jika aturan yang kau buat penuh tekanan untuk Nadira, apakah itu baik, Leon?🤧
checangel_
Luka bukan air mata 🤧
checangel_: Tapi lebih baik nggak dua²nya deh Kak /Facepalm/, karena terlalu riuh, kasian pikirannya 🤭
total 2 replies
checangel_
No! Penghulunya mana? Asal bilang sudah jadi milikmu 🤧
checangel_
Lima tahun itu berapa lama? 365×5= bersamanya yang penuh aturan dalam mengartikan cinta? 🤧/Facepalm/
checangel_
Seberat itu memang utang dalam realita 🤧, 50 Meter (Milyar) itu sebanyak apa /Sob/
checangel_
Meet with Rain again 🎶🤭
Leoruna: tetap mengalir🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!