[Proses Revisi]
On IG: @ry_riuu
Ini kisah tentang seorang gadis yang mengorbankan perasaan demi sahabatnya, tanpa memikirkan kebahagiaan dirinya sendiri.
Karena pengorbanan yang dilakukannya, dia dipertemukan dengan seorang pria tampan yang selalu mengisi hari-harinya.
Hingga pada akhirnya dia pun harus mengorbankan lagi perasaannya, mengikhlaskan pria yang selalu mengisi hari-harinya itu untuk sahabatnya lagi,
Akankah pria tersebut bisa menerima sahabatnya itu? atau malah sebaliknya? atau bahkan tetap menetap pada gadis yang terus saja mengorbankan perasaannya?
-Lakukan selama itu membuatmu bahagia, tanpa pernah bertanya tentang hatiku kenapa, pertanyaan itu malah membuat hatiku semakin sesak.- Iris Anastashia.
-Jangan pernah hidup dalam kepura-puraan, jika dia menghilang kau jangan menyesali kepergiannya.- Zhein Anggara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RETAK [14]
Happy Reading🥀
Rate
Like
Comment
Vote
...Sekeras apapun lo pergi, gue bakalan tetep ngejar lo...
...-Haiden Atmaja-...
Gue udah bilang kan, kalau Haiden itu guru untuk gue bisa mengikhlaskan.
Gue emang suka sama Haiden tapi gue juga gak mau kehilangan Zhein.
Gue egois kan? Mencintai dua hati sekaligus?
Iris masih bergulat dengan hatinya sampai dia tidak menyadari keberadaan Zhein yang sudah ada di sampingnya.
"Lo suka sama Haiden?" tanya Zhein secara tiba-tiba.
Iris yang sedang bergulat dengan hatinya itu langsung terlonjak kaget dengan perkataan Zhein yang secara tiba-tiba.
"Sejak kapan lo ada disini?" tanya Iris.
"Sejak lo keluar dari ruangan Haiden." jawab Zhein.
"Lo bohong." ucap Iris.
"Lo juga bohong." ujar Zhein sambil menatap mata Iris.
"Gue? Gue bohong apa sama lo?" tanya Iris bingung.
"Bukan sama gue tapi sama Haiden, lo bilang kan kalau lo mau nyusul gue?" tanya Zhein.
Iris yang sedang melangkahkan kakinya itu langsung berhenti secara tiba-tiba.
"Lo tau dari mana?" tanya Iris.
"Gue bilang kan, kalau gue udah ngikutin lo dari waktu lo keluar ruangan." jawab Zhein. Iris hanya menghela nafasnya, dia tidak bisa membantah perkataan Zhein, itu kenyataannya, dia sudah berbohong kepada Haiden dan menjual nama Zhein untuk bisa keluar dari ruangan.
Iris kembali melangkahkan kakinya untuk pergi ke taman rumah sakit. Diikuti dengan Zhein yang berada di sampingnya.
"Seandainya gue ada di posisi lo, gue juga bakalan lakuin hal yang sama kayak lo." ucap Zhein.
"Gue gak tau harus gimana lagi." ujar Iris.
"Lo udah lakuin hal yang bener buat keluar dari masalah besar." ucap Zhein sambil menatap ke arah Iris yang sedang menatap kosong ke arah depan.
"Gue minta maaf udah ngejual nama lo." ujar Iris.
"Lo gak perlu minta maaf, kalau emang itu demi kebaikan lo." ucap Zhein.
"Gimana?" tanya Iris bingung.
Namun saat Zhein ingin menjawab perkataan Iris, ada seseorang yang menggores tangan Iris dengan pisau tajam hingga mengeluarkan darah yang menetes ke lantai.
"Tangan lo." ucap Zhein saat melihat darah menetes ke lantai.
Iris langsung melihat kearah tangannya, dia tidak merasakan perih atau apapun di tangannya, jadi dia tidak meringgis kesakitan.
Zhein menatap punggung orang yang telah menggores tangan Iris dengan pisau. Dia melihat orang tersebut berpakaian serba hitam. Saat Zhein ingin mengejar orang tersebut, Iris mencegahnya untuk tidak pergi.
"Gue harus kejar orang itu." ucap Zhein.
"Gue gak apa-apa." ujar Iris.
"Lo bisa lepasin tangan lo dari gue gak atau gue yang lepasin sendiri?" tanya Zhein dengan tatapan teduhnya.
"Sebelum lo minta itu, gue boleh minta satu permintaan?" tanya Iris sambil menatap mata Zhein.
"Apa?" tanya Zhein.
"Temenin gue, buat obatin luka yang ada di tangan sama hati gue." jawab Iris sambil tersenyum manis. Sedangkan Zhein hanya diam tak berkutik mendengar penuturan Iris yang secara tiba-tiba itu, jantungnya merasa tidak berjalan dengan beraturan, kakinya merasa lemas dan tatapan matanya semakin dalam menatap mata Iris.
Bodoh Ris! Apa yang udah lo lakuin? tanya Iris dalam hati yang masih menatap mata Zhein dan merutuki mulutnya itu yang susah di rem.
"Ayo." ajak Zhein yang mulai sadar dari lamunannya dan menggenggam tangan Iris untuk mengobati tangan Iris. Sedangkan Iris masih saja merutuki kebodohannya itu.
Semoga aja Zhein gak inget kata-kata gue. Mau disimpen dimana muka lo. ucap Iris khawatir.
semangat terus bikin karya2 nya kak💪🏻🤗