Jodoh dicari ✖️
Jodoh dijebak ✔️
Demi membatalkan perjodohan yang diatur Ayahnya, Ivy menjebak laki-laki di sebuah club malam untuk tidur dengannya. Apapun caranya, meski bagi orang lain di luar nalar, tetap ia lakukan karena tak ingin seperti kakaknya, yang menjadi korban perjodohan dan sekarang mengalami KDRT.
Saat acara penentuan tanggal pernikahan, dia letakkan testpack garis dua di atas meja yang langsung membuat semua orang syok. ivy berhasil membatalkan pernikahan tersebut sekaligus membuat Ayahnya malu. Namun rencana yang ia fikir berhasil tersebut, ternyata tak seratus persen berhasil, ia dipaksa menikah dengan ayah janin dalam kandungan yang ternyata anak konglomerat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Rumah keluarga Yasa sudah sibuk sejak pagi tadi. Keluarga inti berkumpul untuk menyiapkan pernikahan Yasa dan Ivy besok. Selain keluarga kecil Nuh, orang tua Sani juga sudah datang. Jika biasanya Alice yang paling duluan hadir dan rajin membantu setiap keluarga tersebut ada acara, hari ini gadis itu tak kelihatan batang hidungnya.
Acara digelar sederhana di rumah, tapi bukan berarti tak ada dekorasi. Tetap ada dekorasi untuk ijab kabul dan foto-foto. Di halaman juga di pasang tenda meski tamu yang diundang tak terlalu banyak, hanya tetangga, saudara dan teman dekat. Urusan makanan, pesen katering karena tak mau repot.
"Parah lo!" Nuh menoyor kepala Yasa. Dia yang baru sampai siang ini, langsung kumpul dengan Papanya dan Yasa yang ada di ruang keluarga. Yasmin sendiri, langsung ke dapur, kumpul dengan para wanita yang sedang bikin kue.
"Paan sih, Bang," Yasa berdecak kesal.
"Ternyata jadi anak baiknya cuma nyamar," cibir Nuh, menjatuhkan bobot tubuhnya di atas sofa. Di ruang tamu sendiri sedang ramai orang mempersiapkan dekorasi.
"Dia anak baik Nuh, cuma sedang sial," celetuk Papa Yusuf yang sedang memangku Vanila, anak Nuh dan Yasmin. Menyuapi anak usa 2 tahun itu puding.
"Sial apa untung jatuhnya, Pah?" Nuh malah tertawa.
"Tauk. Tanya aja tuh sama yang ngerasain," menunjuk dagu ke arah Yasa sambil mencebik. "Kamu kenal kayaknya sama si Ipi, satu angkatan sama kamu."
"Maksud Papa Ivy?"
"Ya siapa lagi," Yusuf memutar kedua bola matanya malas.
Nuh sudah tahu semua cerita lengkapnya dari sang Mama saat beliau datang ke rumahnya minggu lalu.
"Dulu sih emang ada cewek namanya Ivy di kampus, tapi entah Ivy itu atau bukan. Liat fotonya, Yas."
"Gak ada."
"Gimana sih, besok nikah foto aja gak punya. Sosmednya apa?"
"Ivy bilang kenal sama Abang, pernah liat foto Abang pas disini."
"Ya iyalah, siapa sih yang gak kenal gue. Gue kan famous."
Yasa mencebikkan bibir, "Sok terkenal."
"Bukan sok, tapi emang terkenal kali," Nuh tersenyum jumawa. "Cewek mana yang gak ngidolain gue pas kuliah dulu? Satu kampus, terutama cewek, pasti tahu gue. Jangan-jangan, dulu si Ivy juga naksir gue, makanya pas liat lo mirip gue, langsung disikat."
"Gak usah kepedean lo, Bang. Ivy gak naksir lo, tapi emaknya yang naksir."
"Emaknya?" Nuh mengerutkan kening. "Lah, kata Mama si Ivy udah gak punya ibu," menatap Yasa dan Papanya bergantian.
"Punya sekarang, Papanya baru nikah lagi," sahut Yasa.
"Beneran, Yas?" Yusuf juga baru tahu soal ini. "Masih laku itu si Agung? Kok mau-maunya perempuan sama dia?"
"Buktinya dia nikah lagi, artinya masih laku," sahut Yasa.
"Emang Papa, udah gak laku," seloroh Nuh, menahan tawa.
"Heh, jangan salah," Yusuf tak terima. "Asal kalian tahu," dia menoleh dulu ke arah dapur, takut tiba-tiba ada yang muncul. "Banyak banget wanita yang naksir Papa, yang terang-terangan bilang pengen dijadiin istri kedua. Mulai dari rekan bisnis, sampai anak kuliahan, banyak yang mau sama Papa."
"Jangan salah Pah, mereka bukan mau sama Papa, tapi mau sama duit Papa," ujar Yasa.
"Heh, Papa ini masih ganteng. Kalian berdua bisa ganteng kayak gini dari mana kalau bukan kerena turunan dari Papa."
"Apaan, orang aku ganteng karena nurun Mama," celetuk Nuh.
Bugh
Bantal sofa langsung melayang ke muka Nuh.
"Emang ada yang bilang kamu mirip Mama? Mirip Papa kali," Yusuf melotot.
"Awas saja kalau Papa ngeladenin perempuan-perempuan gatal itu," ancam Yasa. "Gak ada perempuan terbaik untuk Papa selain Mama. Cuma Mama yang mau menemani Papa dalam kondisi apapun, bahkan nanti kalau Papa jompo pun, Yasa yakin Mama pasti tetap setia. Kalau Papa milih perempuan cantik di luar sana, percayalah, Papa akan dibuang saat sudah tak dibutuhkan. Jangankan jompo, Papa sakit aja belum tentu mereka mau merawat, apalagi Papa jatuh miskin, udah auto ditendang. Liat Kakek, endingnya sama siapa, istri pertama, istri kedua mah cuma mau enaknya aja, minggat kalau dapet yang lebih baik lagi."
Anak-anak Sani tidak pernah tahu pasti cerita kakek nenek mereka. Yang mereka tahu, Mamanya anak dari istri kedua, tak tahu saja jika Mamanya aslinya cuma anak selingkuhan yang tak pernah dinikahi.
"Kok kamu jadi nyeramin Papa gini sih," gerutu Yusuf. "Papa ngerti kali. Kalau Papa mau, udah dari dulu nikah lagi, buktinya apa, Papa setia. Kalian berdua juga harus gitu, gak usah main perempuan, main uno aja, aman."
"Eh Yas, itu emak tirinya Ivy, masih muda atau sudah tua?" tanya Nuh yang tiba-tiba kepo.
Yasa menghela nafas panjang, "Seumuran Abang."
Mata Yusuf dan Nuh langsung membulat sempurna.
"Hati-hati Yas, awas lo tergoda emak tiri," otak Nuh mendadak travelling, membayangkan perselingkuhan ibu tiri yang hot, dengan menantunya. Sekarang zaman sudah edan, jangankan ibu tiri, ibu kandung saja ada yang selingkuh dengan menantu.
"Gue malah takutnya elo Bang, yang nanti tergoda emak tirinya Ivy," Yasa menahan tawa. Ia tak bisa membayangkan seperti apa besok wajah Abangnya saat bertemu sang mantan. Ia bangkit, mengambil alih Vanila dari pangkuan Papanya, menggendong sambil menciumi kedua pipinya yang cubby.
Vanila tertawa cekikikan saat kegelian lehernya dan perutnya diciumi Om Yasa.
"Anak lo laki apa cewek?" tanya Nuh.
"Ya gak tahulah Bang, orang hamilnya masih kecil. Kita jajan yuk, beli es krim," tersenyum menatap si cantik Vanila yang wajahnya mirip sekali dengan Abangnya jika dilihat sekilas. Namun jika diperhatikan lebih detail, hidung dan matanya sangat mirip Yasmin.
"Dia gak boleh makan es," larang Nuh.
"Ayok, ayok, aku mau ke minimarket," ujar Luth yang baru datang, dan terlihat lebih semangat daripada Vanila. Urusan jajan, ia memang rajanya.
"Aku ngajakin Vanila kali, bukan kamu," ujar Yasa. "Vanila, kita berdua aja ya, Kakak Luth resek, gak usah diajak."
Vanila yang ada di gendongan Yasa, menelengkan kepala ke arah Luth. "Kaka Luth ikut."
"Tuh, Vanila ngajakin aku," Luth menepuk dada, pongah. "Dia itu sayang sama aku."
"Ya udah boleh ikut, tapi bawa duit sendiri."
"Daddy... " Luth langsung mendekati Papanya, menengadahkan telapak tangan ke hadapannya.
"Gak ada duit," Yusuf merogoh kantong celananya yang kosong, menunjukkan pada Luth.
"Ayolah, cepet!" Luth menarik-narik lengan Papanya. "Duit!"
"Gak ada Luth, Papa gak ada duit," Yusuf sampai mengeluarkan bagian dalam kantong celana treningnya agar Luth percaya. "Minta sama mentri keuangan sana!"
"Pak Purbaya?"
"Mama," sahut Nuh cepat. Ya kali Pak Pur ngurusin keuangan keluarga mereka.
Melihat Luth masih merengek minta uang, Yasa malah sengaja ninggalin.
"Kak Yasa!" teriak Luth. "Tungguin! Daddy, uang cepetan!" ia masih menarik-narik lengan Papanya.
"Udah sana, nanti dibeliin sama Kak Yasa," Yusuf mendorong Luth agar segera ikut Yasa.
"Kak, tungguin!" Luth berlari mengejar Yasa.
"Yas, bawa mobil!" teriak Nuh. "Nanti Yasmin ngomel kalau Vanila lo bawa naik motor, lo berdiriin di depan. Jangan dikasih es krim, ciki, coklat, permen."
"Ribet amat!" gerutu Yasa yang sudah ada di teras tapi masih bisa dengar. "Vanila mau apa?" tanyanya pada gadis kecil dalam gendongannya.
"Es klim, Om. Sama emen," sahut Vanila yang bicaranya memang belum jelas.
"Sama ciki, sama coklat juga," Luth menimpali sambil cekikikan.
"Kompor lo!"
mereka yg g tau diri mau memanfaatkan anaknya malah ngatain yasa harus tau diri....kasian bgt yasa klo sampe denger dikatain mokondo
hasilnya buat wewek gombel ,,, jangan mau Vi jadi rampok di tempat mertua mending usaha sendiri besarin tu skincare mu ya,,